Brother And Me : Sungmin

130308-sungmin-9.jpg

.

Tidak ada yang lebih tahu siapa sebenarnya Sungmin, lebih dari yang Sungjin ketahui. Sungmin selalu bertingkah imut dengan dalih menggantikan peran adiknya yang terlahir kaku. Sikapnya cukup baik dihadapan ayah-ibu. Tapi siapa yang tahu, terkadang kakaknya itu bertingkah sejahat makhluk bertanduk merah.

Seperti sore itu. Sore yang biasa-biasa saja. Anak laki-laki menghabiskan liburan musim panas untuk mandi keringat di lapangan bola. Sedangkan gerombolan anak perempuan memilih menepi. Saling pamer boneka baru atau gaun bunga-bunga mereka.

Kedua Lee bersaudara ada diantara kumpulan di lapangan. Sampai salah satunya mengusik dengan keluhan melengking.

“Aku lelah! Teman-teman, aku lelah. Tolong berhenti sebentar.”

Sungmin mengangkat tangan untuk mendapat perhatian. Wajahnya kemerahan terlalu lama terpapar sinar matahari, basah oleh keringat. Rambutnya berantakan tersibak angin dan beberapa menempel di kening.

Akhirnya bola yang sejak tadi digilir sekarang terabaikan menggelinding ke sisi lapangan.

“Bisa tidak kita main permainan lain saja?”

“Seperti apa?” Satu anak yang ompong maju mendekat, merasa kesal tapi juga penasaran dengan ide Sungmin.

Selama ini Sungmin seperti seorang pemimpin diantara mereka. Ia yang menggerakkan kelompok itu untuk bermain apa. Sungmin selalu punya ide-ide baru yang menyenangkan. Contohnya seperti minggu lalu. Mereka mencuri mangga dan anjing Tuan Han. Tapi setelah itu mereka mengembalikannya. Anjignya. Mangganya tidak.

“Kita bermain petak-umpet saja.”

“Tidak buruk. Sudah lama rasanya kita tidak bermain petak umpet,” Sungjin menyetujui.

Sungmin mengangguk puas. “Kalau begitu kau yang jadi.”

“Aku?” Telunjuk kecil Sungjin menunjuk mukanya sendiri. “Kenapa aku?”

“Karena kau yang pertama bilang setuju.”

Dan seperti biasa teman-temannya bersorak setuju akan ide itu. Sungjin hanya mengerang. Sambil memberengut dan berat hati ia berdiri di depan sebuah pohon yang telah ditunjuk Sungmin. Lalu ia memejamkan mata di bawah lipatan tangan. Sungjin mulai menghitung ketika teman-temannya terkikik-kikik heboh mencari tempat persembunyian.

“Sepuluh! Siap atau tidak aku akan menemukan kalian!” seru Sungjin yang kini telah melupakan rasa kesalnya. Ia sudah bertekad untk menemukan Sungmin dan menyeret kakaknya sebagai tangkapan pertama.

Satu persatu Sungjin menemukan teman-temannya. Sambil terus berjaga pohonnya agar tidak dipegang temannya yang menerobos dari persembunyian diam-diam. Tapi sampai matahari tenggelam, Sungjin tidak berhasil menggenapkan mereka.

“Ada yang kurang ya?”

Sungjin menggigit-gigit jarinya lalu kembali menghitung jumlah tangkapannya.

“Tentu saja ada yang kurang! Kau belum menemukan kakakmu, Sungjin!”

“Benarkah?”

Sungjin tidak percaya otaknya bisa sebodoh itu untuk melupakan misi awalnya. Kali ini ia gagal dan harus mengaku kalau kakaknya bagaimana pun lebih unggul.

“Ya ya, aku menyerah. Keluarlah agar kita segera pulang!”

Mereka terdiam dan menunggu. Menengok ke kanan-kiri tapi tidak ada siapapun yang muncul.

Untuk pertama kalinya, Sungjin pulang tanpa ada Sungmin di sampingnya. Dengan bahu menurun dan kepala tertunduk, Sungjin membuka pintu depan. Berharap ibunya sedang tidak ada di rumah. Namun itu tentu saja mustahil. Ibunya selalu ada di rumah setiap sore. Menyiapkan banyak hal untuk makan malam keluarga kecil mereka.

Sambil mencari alasan yang pantas untuk diucapkan atas hilangnya sang kakak, Sungjin melepas sepatu dan berujar lesu, “Aku pulang.”

Ibunya muncul membawa sendok sayur dan berkata lembut, “Oh Sayang, kenapa kau baru pulang? Cepat mandi dan bersiap di meja makan, oke.”

Kalimat yang sudah Sungjin susun kini tercecer setelah melihat senyuman hangat ibunya. Sungguh, mana tega ia menghapus senyuman itu dengan kalimat, “Ibu, maafkan aku. Kakak menghilang dan aku tidak tahu dia ada di mana. Aku sudah mencarinya sepanjang sore.”

Sungjin tidak hanya akan menghentikan senyuman itu tapi juga membuat ibunya pingsan. Jadi Sungjin menurut dan berniat untuk mengatakannya nanti saja di meja makan.

Sungjin melintasi ruang tengah menuju kamar ketika sebuah kepala kecil menyembul di balik sofa. Sungjin baru sadar televisinya hidup. Dan suara kikikan serta remahan keripik yang tak asing.

Sungjin mengintip dan langsung terbelalak. Ia berlari ke muka Sungmin. Menutupi pandangan kakaknya. Anak yang sejak tadi ia cari dan nyaris membuat mukanya pucat di depan ibu mereka ternyata ada di sini. Tertawa-tawa sambil memangku setoples besar keripik kesukaan Sungjin.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

“Apa yang kau lakukan? Harusnya aku yang bertanya seperti itu.”

Sungjin bersedeku. Gaya yang ia tiru dari sang ayah ketika sedang memutuskan sesuatu.

“Ah!” Wajah Sungmin bersinar seakan baru mengingat hal yang luar biasa penting. “Maaf soal itu. Tidak ada orang yang benar-benar polos di dunia ini, Sungjin. Semua orang punya kebohongan. Insting menipu untuk bertahan hidup.” Sungmin terkekeh kecil. Untuk sesaat suaranya terdengar jahat.

Hari itu, untuk kedua kalinya, Sungjin ingin mengalahkan kakaknya.

Esok harinya, seperti biasa sang adik mengekorinya. Sungmin tidak merasa aneh kecuali saat Sungjin saling melempar senyum dengan teman-temannya. Perlakuan yang ia lakukan pada semua anak kecuali dirinya. Sungmin mencoba mengabaikan. Tapi untuk beberapa saat Sungmin teralihkan ketika teman-temannya bertanya padanya.

“Sungmin, kemarin kau bersembunyi di mana? Kau hebat sekali, kami sampai tidak bisa menemukanmu.”

“Benarkah? Kalian tidak bisa menemukanku?” Sungmin tersenyum polos. Ada seraut kebanggaan di wajahnya. “Kalau begitu, ayo kita main petak-umpet lagi.”

“Tapi kali ini kita harus main adil,” potong Sungjin. Anak itu berhasil mengumpulkan tumpukan tangan teman-temannya di atas tangannya sendiri.

Sungmin meringis, menimbang-nimbang. Akhirnya ia menyerah dan ikut menumpuk tangan.

Sembilan gunting. Satu batu. Sebuah kebetulan yang luar biasa.

“Kau jadi penjaga!”

Sungmin mengerang. Tapi ia tetap mematuhi peraturan. Ia segera memejamkan mata dan menghitung mundur.

“Siap atau tidak, aku akan menangkap kalian!”

Sungmin berbalik hendak mencari. Tapi sebelum ia dapat bergerak seseuatu mendorongnya kembali ke pohon. Ia tidak bisa melihat apa-apa kecuali wajah dan tangan teman-temannya. Dan tali!

“Apa yang kalian lakukan?!”

“Menghukum yang kalah!” seru salah satunya.

“Tapi aku belum memulai apapun.”

“Percuma saja kau memulai. Kau akan tetap kalah.”

“Kalian curang!”

“Ayo teman-teman, kita piknik. Aku sudah membawa makanan kecil untuk kalian,” pimpin Sungjin.

Yang lainnya bersorak selepas mengikat Sungmin. Tikar digelar. Lalu mereka duduk melingkar. Menghabiskan perbekalan yang Sungjin siapkan.

Dipohon, tali itu tak lepas juga meski yang diikat bergerak brutal. Mukanya memerah hampir menangis. Tapi ia bertahan. Gengsi.

Apalagi setelah sang adik berujar, “Kak, jangan menangis! Kau lupa ya? Semua orang punya kebohongan. Insting menipu untuk bertahan hidup,” katanya sambil asyik menjilat permen.

.

Note:

Aku pernah nonton acara sebuah penelitian sikap pada anak-anak. Mereka ditinggalkan di sebuah ruangan untuk menjaga semangkuk permen. Banyak bahkan mungkin semua anak ikut mencicip. Padahal sudah dilarang bu guru untuk memakannya. Setela ibu guru itu balik ke ruangan dan bertanya apa mereka memakannya. Mereka serempak menggeleng dan berbohong. Hahahaha..  Sifat itu sudah ada didiri kita sejak kita masih belum menyadari apa-apa.

Advertisements

One thought on “Brother And Me : Sungmin

  1. Hahahaha Sungjin membalas dendam ceritanya .. yah siapa yg tahu wajah imut nan manis Sungmin justru menyimpan segalanya seperti berbohong misalnya XDD
    tapi ga nyangka balas dendam Sungjin sadis juga ya, masa kakaknya di ikat di pohon XDD wakakakakaka.. yang sabar ya dedek Sungmin
    *kecup pipi Sungmin XDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s