Malicious Fate

malicious fate

Ketika putih dan hitam bertemu..

.

.

Reine tumbuh dalam lingkup waktu teratur. Makan, belajar dan tidur menurut dering bel yang berbunyi beberapa kali dalam dua puluh empat jam. Tapi buku kisah tuan putri dan pangeran yang ia temukan diantara rak-rak tua telah banyak merasukinya. Hingga rasionya kadang melejit-lejit keluar batas. Ia tengah menunggu seseorang untuk membebaskannya keluar dari tempat itu.

Seperti Lyn, teman satu kamarnya, yang satu minggu lalu pergi. Kata ibu panti, Lyn diadopsi sepasang suami-istri baik hati. Berlimpah harta namun miskin sanak saudara. Punya satu anak yang tak mampu berbuat apa-apa kecuali berbaring di tempat tidur. Lyn akhirnya terpilih sebagai seorang kakak dan penerus kehormatan keluarga. Terdengar menakjubkan bagi Reine yang rindu akan kebebasan.

Malam itu Reine kembali merenung seorang diri dalam perpustakaan. Dua dari sepuluh lampu ruangan ia hidupkan. Ingat dengan pesan ibu panti, meskipun panti mereka terbilang kaya dengan uluran tangan-tangan dari luar, mereka juga perlu berhemat. Termasuk pemborosan listrik yang perlu diturunkan. Hanya ada dirinya malam itu, menjadikan ia bebas mematikan sebagian banyak lampu. Reine tidak takut gelap karena kegelapan telah jauh bersahabat dengannya.

Namun entah sebab apa, malam itu terasa berbeda. Panti terdengar senyap dari biasanya. Meski beberapa kali rungu Reine masih dapat menangkap suara Yemi—teman satu kamarnya—sedang melengking-lengking dari lantai bawah. Sepertinya Yemi masih betah duduk di ruang makan. Gadis itu sungguh-sungguh dengan niatnya menaikkan berat badan.

Memikirkan soal Yemi membuat Reine sedikit lebih tenang. Mungkin karena ia menghabiskan satu buah buku misteri membuat syaraf-syaraf otaknya terkontaminasi. Setelah mengambil napas tiga kali untuk menenangkan diri, Reine berdiri dari duduknya. Derit kursi dengan lantai seperti suara ringikan orang. Sempat terkejut, namun Reine cepat-cepat melesat ke rak buku lalu mematikan lampu ruangan itu. Menutup pintu agak terburu-buru, Reine mencoba menghibur dirinya. Mengalihkan otaknya dengan menyusun rencana untuk menyusul Yemi ke ruang makan. Satu gelas kopi susu tidaklah buruk. Reine pun tak keberatan jika harus bangun sepanjang malam. Ada setumpuk buku lagi yang ingin ia habiskan malam ini.

Suara ketukan sepatu kets Reine terdengar menggema di lorong. Ruang perpustakaan berada diantara lorong dapur dan ruang belajar. Namun tentu saja anak-anak akan lebih senang berbelok ke dapur yang mana ada meja-meja makan penuh hidangan dari pada rak-rak isi buku berdebu. Pengecualian Reine yang berbeda dari penghuni panti kebanyakan. Tanpa kunjungan wajib, Reine dengan senang hati duduk berjam-jam di sana bahkan menunggui meja penjaga menggantikan Mrs. Lim yang kecapekan.

Dua ketukan sepatu yang tadi memenuhi lorong itu kini terdengar dua kali lebih banyak dan sering. Lama-lama berlipat-lipat lebih cepat dan mendekat. Reine menghentikan langkahnya. Menerka-nerka apa itu perbuatan si usil Ryeowook dan Kyuhyun yang sedang bermain kejar-kejaran.

Kepala Reine berputar. Mengawas ujung lorong yang menuju ruang belajar. Jam belajar telah usai jadi tidak mungkin ada Ryeowook dan Kyuhyun yang masih tinggal di sana. Wajah Reine berubah ngeri ketika matanya menangkap dua bayang hitam muncul. Berlari, melesat begitu cepat sampai Reine tidak mampu menghindar.

“Diam!”

Tahu-tahu mulut Reine sudah dibekap sebuah tangan.  Sisa tangan lain melingkari punggung sampai lengannya. Reine tak bisa bergerak pun berteriak. Dalam keremangan malam, cahaya bulan masih dapat menyusup lewat celah jendela-jendela tinggi yang memagari lorong. Membiarkan Reine menikmati satu pemandangan lain di sampingnya. Sepasang mata tajam yang menggetarkan dan meneduhkan dalam waktu bersamaan. Manik mata kakao milik sosok yang tengah menyekapnya.

Tak balik menatap Reine, manik itu malah sibuk menyipit. Menyingkap kegelapan yang membungkus lorong di depan.

“Apa mereka sudah masuk?” si penyekap bersuara lagi, membuat dada Reine berdentam semakin dalam hingga membuat napas Reine putus-putus.

Satu rekannya yang ditanya segera melongok lewat jendela. Lalu membalas dengan suara tertahan. “Sudah.”

Reine menangkap gerakan cepat dari manik itu yang diartikan “Kalian maju!” oleh kedua rekannya. Mereka menurut dan maju. Hilang sampai belokan lorong. Tertinggal Reine dan si penyekap.

Merasa keheningan tak begitu menyenangkan sejak suara Yemi yang kini tak lagi memekik-mekik, Reine bergerak-gerak. Berusaha memberi sinyal kalau ia ingin mengucapkan sesuatu. Laki-laki itu paham dan melepas setelah sebelumnya menambahkan ancaman di depan telinga Reine, “Awas jika kau berteriak! Aku tidak segan menusuk pisau ini ke jantungmu.”

Setelah terlepas dan berbalik menghadap laki-laki itu, Reine baru menyadari ada kilauan besi yang laki-laki itu genggam. Pandangannya kembali naik pada sepasang kakao tajam itu. Tanpa sadar Reine menelan ludah. Laki-laki itu terlihat tak bercanda untuk menusuk jantungnya jika ia berbuat macam-macam. Apalagi mata itu terus mengintimidasinya.

Pikiran Reine mendadak kosong. Hanya ada sebaris kalimat yang bergumul di ujung lidah bodohnya. “Ap-apa yang sedang kalian lakukan di sini?”

Dari balik masker hitamnya laki-laki itu menderai tawa. Matanya menyipit kecil. Terlihat lucu jika saja tidak ada pisau di tangan kirinya dan kesan perampok pada penampilannya. “Apa kau masih butuh jawaban?”

Merasa tertantang, Reine menaikkan dagu. “Tapi pencuri mana yang masuk ke panti jika bukan kumpulan orang-orang bodoh!”

Keberanian yang bagus dan hampir membuat Reine sendiri menangis haru. Namun perkataannya tadi seperti menyulut api pada sumbu bom. Tentu saja laki-laki itu langsung mendelik tak suka.

“Kau pikir kami tidak meneliti lebih dulu sekaya apa ibu pantimu itu. Kau mungkin tak tahu ya seberapa juta yang ibu pantimu timbun di balik kasurnya.”

“Apa maksudmu?”

“Gadis kecil, kau tak perlu tahu banyak. Hanya satu hal yang perlu kau ingat. Jangan percaya pada siapapun. Dunia ini terlalu kejam untuk dirimu yang terlahir polos.” Laki-laki itu menyempatkan untuk mengasak rambut Reine sebelum melepas senyuman lewat sipit matanya. Lalu lenyap di belokan yang sama dengan kawan-kawannya.

Berselang tidak lebih dari sepuluh detik, debuman meja dan kursi yang dibanting terdengar. Diikuti suara jeritan anak-anak perempuan dan pekikan anak laki-laki—suara Yemi mendominasi. Lalu pintu yang didobrak bersama sekelompok orang yang seperti tengah berlari.

Senyap sesaat sebelum sayup-sayup tangis perlahan meledak.

Reine ingin tahu apa yang terjadi tapi tubuhnya membatu. Persendiannya mendadak kaku dan pikirannya menolak untuk tahu apa yang terjadi di sana. Sampai suara derap kaki mendekatinya. Itu Yemi yang berlari ke arahnya. Menubruknya untuk sebuah pelukan erat. Sambil tersedu-sedu suara Yemi bergetar di dekat telinganya, “Ibu panti, Reine…. Mereka membunuh ibu panti….”

Pemakaman ibu panti berjalan dengan cepat dan murung. Seluruh pegawai dan anak panti menunduk sendu begitu peti hitam itu diangkut. Seluruh pelawat terbalut kain hitam dan langit ikut-ikutan menghitam. Mendung bergerumul menambah suasana duka.

Perkataan laki-laki pemilik manik kakao terus terngiang di kepala Reine. Melihat sendiri wajah-wajah sedih di sekelilingnya membuatnya berpikir kalau pencuri itu berbohong. Tidak ada orang jahat yang ditangisi hingga sesedih ini.

“Reine.”

Sebuah tepukan di bahu membangunkan Reine. Ia baru menyadari kalau tempatnya sudah berpindah di dalam kamar. Beberapa anak bergerumul di kasur favorit milik Jane. Seperti biasa mereka tengah mendiskusikan sesuatu dan Reine sendiri bukan satu dari kelompok gadis-gadis itu.

Reine hanya punya Yemi sebagai teman dekatnya. Gadis keturunan Jepang yang punya suara paling tinggi dan yang baru saja memanggil namanya.

“Ada apa Yemi?”

Reine menghentikan kegiatan melipat bajunya dan berbalik untuk menemukan wajah sedih temannya.

“Bu Ingrid memanggilmu,” balasnya menyebut adik pemilik panti. Sepeninggal ibu panti, Bu Ingrid menggantikan posisinya sebagai kepala panti. Mimpi buruk anak-anak panti dimulai sejak saat itu. Bu Ingrid berkepribadian apa adanya. Jika wanita itu ingin meledak maka ia meledak saat itu juga. Jika ia ingin tertawa terpingkal-pingkal maka ia akan tertawa sampai kewibawaannya hilang.

“Apa ada sesuatu yang membuatmu sedih?”

Yemi menggeleng meski jelas ia terlihat ragu. Reine hanya tersenyum. Ia mencoba mengerti. Mungkin Yemi punya masalah yang tak ingin ia bagi dengan siapapun.

“Tidak apa-apa. Aku selalu ada di sampingmu jika kau lupa itu Yemi.”

Reine menarik kawannya itu ke dalam pelukan. Dan tangis Yemi pun pecah begitu Reine mengucapkan kata-kata manis itu. Ini ketiga kalinya Yemi menangis setelah Lyn dan ibu panti pergi.

“Kau tidak akan lagi ada di sampingku. Kau akan diadopsi Reine.”

Seluruh pasang mata yang ada di kamar itu menoleh. Tidak ada kalimat balasan yang sanggup Reine rangkai dalam kepalanya. Ia hanya membalas tatapan mereka dengan sendu.

Reine tidak yakin jika teman-temannya benar-benar bersedih begitu mendengar kabar itu. Ia bisa saja menangkap wajah-wajah sedih itu, tapi tak ada yang tahu apa yang mereka bisikkan di balik punggungnya. Tiga hari sebelum orang tua angkatnya datang, Reine pernah mendengar Jane dan dua temannya terkikik ketika bergerumul di taman belakang.

“Aku senang dia akan pergi.”

“Aku juga. Yemi akan jadi anak normal setelah ini.”

“Ya. Reine merupakan pengaruh buruk untuknya. Kalian lihat sendirikan kalau Yemi sekarang lebih senang membaca buku daripada berkumpul bersama kita?”

Reine tak sanggup lagi. Ia pergi dari sana dengan air mata mengaburkan pandangan. Sambil setengah merengek ia membujuk Bu Ingrid untuk cepat-cepat memanggil orang tua angkatnya. Namun kata Bu Ingrid, orang tuanya kini masih ada di Amerika. Reine harus menunggu sampai mereka menyelesaikan urusannya di sana. Sisa hari-hari itu, Yemi terus menempelinya. Cukup menghibur Reine, meskipun ia tak menceritakan ucapan buruk Jane tentangnya.

Hari itu pun datang. Pasangan suami-istri itu datang sambil terisak penuh haru. Terutama perempuan bersanggul itu, ia menangis sambil terus menyebut-nyebut nama Reine. “Reine.. anakku. Maafkan ibu, Reine. Anakku.”

Secepat hari di mana ibu panti dimakamkan, secepat itu pula Reine tiba-tiba duduk di dalam mobil yang dibawa ayah barunya. Di sebelahnya, ibunya terus memeluknya dan menciumi pipinya.

Reine diam, terlalu bingung. Ia melongok ke bawah, menggerakkan kakinya yang dipasangi sepatu Mary Jane baru berwarna merah mengkilat. Lalu gaun selutut jingga pastel yang terasa lembut membalut tubuhnya. Semua itu baru ia rasakan begitu keluar dari panti. Diam-diam Reine tersenyum. Mungkin ini yang dirasakan Lyn saat diadopsi dulu.

Rumah baru Reine terletak di tengah kepadatan kota London. Bangunan hitam tinggi itu berdiri pongah, terapit pagar-pagar besi, dikelilingi semak-semak bunga rendah dan tanaman rambat yang cantik.

Reine akan betah berdiri terkagum-kagum di depan pintu jika ibunya tak mendorong bahunya lembut.

“Masuklah Reine. Rumah ini sekarang menjadi rumahmu.”

“Selain kau punya ibu dan ayah. Di sini kau juga punya kakak.”

“Kakak?”

Ibunya mengangguk lalu mendongak ke atas tangga dan berseru, “Spencer! Spencer kemarilah. Coba lihat siapa yang datang.”

Gumaman setengah hati terdengar membalas. Reine tiba-tiba dirundung takut. Ia mungkin bisa mendapat ayah-ibu baik hati. Tapi untuk seorang kakak, Reine tak yakin kalau kali ini keberuntungan masih berada digenggamannya.

Begitu kaki jenjang itu berdiri di depannya, ibunya menepuk-nepuk kepalanya.

“Lihatlah Reine. Dia Spencer, kakak kandungmu.”

Dengan hati yang terasa menciut, Reine mendongak. Matanya membelalak. Mereka bertemu lagi. Pemilik sepasang manik kakao itu.

Masih setajam sebelumnya, sambil menatapnya, satu sudut bibir laki-laki itu terangkat lalu menyapanya, “Hai, gadis kecil.”

Reine tidak pernah mimpi seburuk itu. Jika semua yang terjadi padanya masih bisa disebut mimpi. Sayangnya tidak meski ia memohon-mohon pada Tuhan sambil meratap-ratap. Yang ada di hadapannya sungguh nyata. Kedua orang tua yang telah terpisah tujuh belas tahun dengannya. Keluarga baru beserta rumah besar yang indah menjadi miliknya utuh. Dan seorang kakak laki-laki tinggi sekaligus perampok yang pernah menyekapnya dan mungkin juga telah membunuh ibu pemilik panti.

Malam itu Reine mondar-mandir dalam kamarnya. Bergerak dari kasur super besarnya lalu ke kursi dan kembali ke kasur lagi. Ia tengah memikirkan hidupnya yang tiba-tiba berjumpalitan. Antara senang, bingung dan sedih. Tiba-tiba ia merindukan panti, Yemi, pegawai panti termasuk Bu Ingrid yang galak. Reine bahkan merindukan Jane.

Reine terisak pelan. Wajahnya menelungkup di balik lengannya yang menumpuk di atas lutut. Rindu adalah hal paling buruk yang Reine perkirakan sebelumnya. Dan benar adanya. Kerinduan selalu menyesakkan dada.

Reine turun setelah ia membasuh muka dan menyisir rambut bergelombangnya menjadi lebih tertata. Ia tak ingin makan malam pertama dengan keluarga barunya menjadi buruk. Setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih untuk ayah dan ibunya. Reine sudah banyak mendengar cerita kalau sepanjang tujuh belas tahun ini pasangan itu terus mencarinya kepelosok kota. Bahkan sampai keseluruh Inggris. Tapi siapa yang tahu, ternyata Reine tinggal di pinggir kota London, di balik bangunan panti asuhan sederhana.

Malamnya keempat kepala itu berkumpul. Spencer terduduk tenang di kursinya. Bukan suatu hal yang biasa terjadi. Sebagai laki-laki ia cukup banyak punya keinginan. Bergerak dari sana ke mari, pergi dari pagi dan pulang sampai larut malam. Tidak ada yang tahu apa yang Spencer lakukan di luar sana termasuk kedua orang tuanya. Mungkin waktu mereka sudah tersita dengan mencari adik perempuannya itu. Dan kini setelah gadis itu ditemukan, seluruh rencana-rencana buruk yang selama ini bercokol dalam kepala Spencer mendadak luruh.

Spencer akui, Reine membiusnya dipandang pertama. Ia masih ingat, tentu. Di lorong panti, tempat ia beraksi bersama teman-temannya, menjadi tempat pertemuannya dengan Reine. Spencer tidak banyak berpikir setelah malam itu. Ia bukan laki-laki melankolis yang mengagung-agungkan cinta di atas segalanya. Apalagi jatuh hati pada gadis mungil bermata polos. Spencer bahkan sudah melupakan reaksi lucu ketika ia membekap mulut gadis itu.

Sampai kini, gadis itu duduk dihadapannya. Masih membawa pandangan lugu itu yang membuat hati Spencer kembali terjatuh. Lalu terbanting begitu mengingat ibunya yang mengumumkan kalau Reine adalah adik kandung yang selama ini terpisah dengan mereka sejak gadis itu dilahirkan. Berikut cerita kasus penculikan dan pencarian yang dramatis. Sama sekali tak melunturkan kekaguman berlebihan Spencer akan betapa manisnya adik perempuannya itu.

“Ibu, bolehkah aku membawa Reine keluar?”

“Keluar ke mana Spencer?”

“Hanya berjalan-jalan.” Spencer tahu ibunya masih tak mau melepas pengawasan pada anak perempuan yang sudah tujuh belas tahun tak dilihatnya. Jadi ia cepat-cepat menambahkan, “Aku janji akan menjaganya dengan sepenuh jiwaku.” Dengan janji itu, ibunya mengangguk mengijinkan.

Ada keuntungan bagi Spencer sendiri sebagai seorang kakak. Ia bebas melakukan kontak fisik dengan sang adik. Dan Reine pun terlihat tak keberatan saat jemari panjang Spencer mengisi sela-sela jari-jari kecilnya yang dingin. Spencer tersenyum menyadari kegugupan adik perempuannya.

“London akan terlihat indah di malam hari. Apa kau tahu itu?”

Di luar dugaannya Reine mengangguk. Spencer semakin antusias bertanya. “Wow! Apa kau pernah ke London?” Spencer ingat ibu pemilik panti. Perempuan renta baik hati itu tak lebih dari si pelit yang suka mencuri. Tak lebih buruk darinya. Ia menyekap anak-anak panti dengan rayuan kata-kata manis yang berkedok. Dan tidak mungkin pula ibu panti itu membiarkan anak-anaknya menghabiskan uangnya dengan berjalan-jalan ke kota.

“Aku pernah membacanya dari buku. London punya Sungai Themes yang indah di malam hari.”

Spencer tertawa kecil ketika melihat binar-binar yang berpendar di mata gadis itu. Tanpa sadar pegangannya makin mengerat.

“Reine, apa kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?”

Tiba-tiba Reine teringat pada kisah sang putri dan pangeran yang pernah ia baca dulu. Melihat jalan hidupnya, ia jadi merasa dirinya kini seperti tuan putri. Dan apakah laki-laki yang ada di depannya kini adalah pangerannya?

Pipi Reine mendadak tersipu-sipu. “Aku tidak tahu.”

“Aku juga tidak tahu.” Spencer menggaruk lehernya sambil tertawa dengan mata menyipit manis. “Tapi setelah aku bertemu denganmu, aku tahu kalau cinta pada pandangan pertama benar-benar ada.”

Reine terdiam meski jantungnya meletup-letup menyenangkan.

“Apa kau percaya padaku Reine?”

Mata Spencer seperti menghipnotis, Reine pun mengangguk.

Keesokan paginya mereka baru keluar dari hotel. Keduanya pulang dan menemukan polisi telah memenuhi seluruh penjuru rumah.

Salah satu dari mereka mendekat lalu berkata dengan suara dalam dan pelan. “Maaf Tuan Muda, Nona. Orang tua kalian ditemukan meninggal di kamar mereka. Dugaan awal kami, mereka dibunuh oleh sekawanan perampok.”

Reine mendongak memandang Spencer. Kini ia percaya. Spencer adalah pangeran yang memperjuangkan cintanya demi dirinya seorang. Apapun yang menghalangi cinta mereka. Genggaman keduanya mengerat. Diam-diam mengucap janji di atas cinta hitam.

.

.

Note

Sebenernya ini ff untuk event tapi karena terlambat jadi ga diterima ehehe kata jurinya ff ini sepakat untuk tetap dipublish di blog mereka, tapi karena belum juga diposh aku posh di sini.

cast awalnya bukan hyuk sebenernya hihihi ayo tebak siapa? xD

Reine di sini masih jadi anak usia dini, hyuk  sekitar17tahun. gambar cewek yang aku masukun di cover sebernya ga sama dengan Reine yang di imajinasiku hehe tapi aku suka posenya jadi kepilih deh.

Advertisements

8 thoughts on “Malicious Fate

  1. Pertama-tama halooo, salam kenal.
    Aku Li.

    Tadi iseng-iseng ngeklik terus tertarik sama judul satu ini jadi mampir sampai selesai akhir heheeee.
    Anyway, aku sebenarnya suka sama keseluruhan cerita kamu. Cuma agak ‘janggal’ di beberapa bagian yang terasa tahu-tahu ‘kok udah lompat ya?’ karena nggak ada jeda. Tapi dari cara kamu kasih narasi dan deskripsi aku suka soalnya santai dan jelas, jadi sebagai yang baca aku sangat menikmati.

    Terus juga ada beberapa kalimat yang aku rasa perlu tanda koma biar kalimatnya jadi nggak membingungkan. Untuk ending…. aku suka, tapi ngerasa kurang paham. Jadi apakah si Reine ini akhirnya sama Hyuk yang kakak kandungnya atau kakak angkat, atau kenapa mereka tahu-tahu jadi bermalam di hotel dan tahu-tahu besoknya orangtua mereka jadi target perampokan. Aku suka sama karakter Reinenya sendiri, tapi entah mungkin karena preferensi aku aja atau gimana tapi karakter hyuk disini semacam kurang menyatu dengan keseluruhan cerita.

    Haduh, maaf ya baru sekali mampir tapi udah bawel banyak bacot begini ^^”9
    Nggak bermaksud apa-apa jelek kok, karena aku juga masih banyak perlu belajar. Jadi, semoga masukanku bisa sedikit membantu.

    Maaaaaf banget kalo kesannya malah bawel dan menggurui begini.

    Sekali lagi, salam kenal.

    -Li

    • hello Li!
      ga apa2 kog aku malah seneng ada yang beri masukan, jadi aku bisa belajar untuk memperbaikinya hehe

      soal ending, aku emang lebih suka nulis gaya seperti itu. membiarkan pembaca memberi kesimpulannya sendiri dengan beberapa klue2 yang aku tulis. dan karena dibatasi jumlah karakter, aku jadi langsung ke poin2nya aja tapi tetap tidak membuka semuanya secara gamblang.

      yang mau aku angkat dicerita ini adalah tentang kepolosan reine yang pafa akhirnya harus menyerah pada godaan hyuk. tahu donk apa yang dilakukan cow-cew di hotel.

      sekali lagi makasih buat reviewnya yah. maaf ceritanya masih mengecewakan. i’ll work harder! 🙂

  2. ah, awalnya agak bingung. tapi pas aku baca ulang di bagian akhir yg pak polisi memberi tahu mereka kalau ortu mereka meninggal karena perampok barulah aku paham…

    disini Lee Hyukjae jadi pria yang ‘err’ .. Reine-nya juga masih polos dan menurutku masih anak” mudah di perdaya >…..< astaga Hyuk Jae benar-benar minta ditimpuk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s