Brother And Me : Shindong

aesthetic 2

Shindong sering ditanyai teman-temannya, bagaimana ia bisa tertawa sebegitu mudah. Ketika anak-anak lain masih terlalu malas untuk menyapa apalagi menyunggingkan senyum di pagi hari. Ketika siang yang menyengat menguapkan energi mereka hanya untuk mengulas senyum. Dan ketika matahari terjatuh di ujung barat, menandakan kelelahan mereka yang memuncak, sampai-sampai tak ada satu senyum pun yang tersisa. Di sana, disetiap waktunya, Shindong selalu jadi yang selalu tersenyum dan tertawa.

Pun ada Dayoung sebagai adik ikut terheran-heran. Pada pertengahan malam, kala tubuh mereka terbaring berdempetan untuk berbagi selembar selimut tipis. Angin di luar terdengar menampar-nampar tembok dan atap. Tapi seberapa besar rasa takut Dayoung pada suara angin itu, ia lebih takut pada suara pertengkaran kedua orang tuanya yang baru saja mereda.

“Kak.”

“Hm?”

Dayoung melirik wajah kakaknya. Samar-samar ia bisa melihat kedua mata Shindong sudah terpejam. Ada gurat-gurat tipis di dahi kakaknya.

“Kenapa memanggilku?” Shindong kali ini menoleh dengan mata setengah terbuka.

“Tidak. Aku hanya.. um.”

Sebenarnya mendengar pecahan piring, jeritan ibu dan serentetan kata-kata kasar ayahnya adalah hal biasa bagi mereka. Dayoung pikir, Shindong bahkan mungkin jauh lebih terbiasa karena kakaknya lahir lebih dulu. Tapi bagaimana bisa kakak satu-satunya itu masih bisa mempertahankan senyum sepanjang waktu. Berkebalikan dari dirinya yang lebih tertutup dan murung. Anak-anak di sekolahnya selalu menyebutnya pendiam—Dayoung benci fakta ini. Hanya beberapa gelintir anak yang jadi teman dekatnya.

Sedangkan Shindong sang kakak tak pernah sekali pun menunjukkan sikap lemah. Apalagi menangis seperti dirinya tiap kali mendengar suara pecahan piring.

“Hanya heran kenapa kakak tidak pernah menangis?”

“Aku pernah.”

“Aku tidak pernah melihanya.”

“Karena aku punya waktu dan tempat spesial untuk menangis.”

“Benarkah? Kapan?”

Shindong terkikik ketika mata adiknya berbinar-binar menanti.

“Di tempat istimewa dan waktu istimewa.”

“Apa bisa kakak tunjukkan padaku? Kumohon.”

“Baiklah. Asal kau berjanji tidak akan menangis lagi kalau mendengar piring dan gelas dilempar.”

Shindong mengeluarkan jari kelingkingnya. Dayoung mengeluarkan jari kelingkingnya. Dan begitulah kedua jari gemuk dan mungil itu saling bertaut beserta senyum kecil di wajah keduanya.

Sore itu, ketika seluruh anak pulang lebih awal, Shindong berjanji akan menunjukkan tempat yang katanya spesial itu. Dayoung sudah berdiri di depan kelas Shindong—setelah berlari kencang sekali dan beberapa kali hampir terjatuh di tangga—sambil meringis lebar-lebar.

“Ayo, kak. Tunjukkan tempatnya.”

“Kau siap?”

“Tentu, ya!”

Shindong ikut tersenyum melihat semangat adiknya. Ia menarik tangan adiknya untuk saling bergandengan. Dayoung terus bertanya dan nyaris tidak bisa diam sepanjang perjalanan, “Apa tempatnya jauh?” “Di mana tempatnya?”

Shindong baru bisa menarik napas lega begitu mereka menginjakkan kaki di lantai teratas gedung bekas itu. Dulunya itu gedung sekolah mereka sebelum terjadi kebakaran besar. Sekolah belum mampu memperbaiki dan sumbangan di sana-sini masih belum cukup untuk membangunnya ulang. Maka di sana tempat pilihan yang Shindong pikir cukup nyaman dan aman untuk mengeluarkan seluruh perasaannya.

“Ini keren!”

Bagian belakang gedung itu berhadapan langsung pada padang rumput luas. Sepanjang mata memandang hanya ada hijau dan kuning rerumputan.

“Apa kau siap?”

“Siap apa?”

“Um, siap menangis mungkin.”

Meskipun ragu, Dayoung mengangguk saja.Memperhatikan kakaknya yang memejamkan mata dan mulai menghirup napas panjang lalu berteriak kencang,

“IBU! AYAH! BERHENTILAH BERTENGKAR!”

Menit selajutnya disusul teriakan Dayoung. Mereka terus menjerit-jerit sampai tenggorokan mereka sakit dan mata keduanya panas lalu berair. Dan hari itu menjadi hari pertama Dayoung melihat kakaknya menangis, sekaligus hari terakhir bagi Dayong si pendiam dan si cengeng.

.

Note :

Niatnya sih projek Brother And Me ini kumpulan oneshot series untuk sjxsibling. Tapi Shindong ini cuma jadi ficlet ;o; ga pa-pa ya? ga pa-pa kan? ga pa-palah

Daaaan kenapa Shindong jadi openingnyaaaa…karena he’s bday boy! yah, walaupun telat hehe kemarin ketiduran padahal ide udah nyantol di kepala /terus aja alasan terus terusin/

Jadi sekarang cherryline punya 3 projek yang belum terselesaikan. Devil, Brother And Me, Alphabet On Member (eeer sebut saja begitu). Silahkan cek updatenya di sini, karena indeksnya udah penuh jadi harus buat halaman baru khusus untuk projek tulisan atau challenge hehe

Advertisements

2 thoughts on “Brother And Me : Shindong

  1. haaaaaaahhhnggg jadi kangen shindong eon serius T^T
    feelnya dapett, paragraf pertama itu aduh suka bnaget TT kadang aku juga mikir sama kayak dayoung, ngga pernah ngeliat dua kakakku nangis, yah ok umur mereka sekarang udah dewasa tp pas kecil dulu juga jarang.. berbanding terbalik sama adiknya yang satu ini x’) //kokcurhat
    mau nyepaam wp nya cherry eon yaaa~ maaf baru sempat berkunjung uou

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s