So Us

eunhae brothership

Dumb & Dumber : So Us

“Kita teman baik. Benarkan, Donghae?”

Bibir Donghae maju beberapa mili. Atensinya tak berpaling dari papan tulis lalu buku catatan balik ke papan tulis lagi. Hanya cukup dengan ujung matanya ia dapat menangkap sinyal kalau Eunhyuk sedang dalam mood bosan dan ingin mengganggu. Dan pertanyaannya barusan merupakan satu pertanda kalau Eunhyuk ingin melibatkan dirinya dalam tindakan tidak mengenakan. Apapun itu, Donghae terbiasa untuk mengiyakan semua permintaan teman semejanya. Sudah kebal akan akibat yang akan mereka tanggung nanti.

Seperti dulu saat mereka masih jadi anak baru di tingkat SMP. Eunhyuk menjarah permen karet langsung dari mulut Donghae dan menempelkannya pada ujung rok lipat seorang guru—jangan tanya bagaimana Eunhyuk bisa melakukannya. Mengakibatkan mereka berdua menghabiskan jam pertama di luar kelas dengan satu kaki terangkat.

“Ada yang bisa kubantu Tuan Lee?” Dan kali ini Donghae pun ikut lagi dalam permainan kawannya itu. Dia sendiri juga sudah terantuk-antuk mendengar ocehan pak tua Shin di depan kelas dan tangannya sudah linu-linu setelah menulis satu jam tanpa henti.

“Aku butuh bantuanmu untuk memberikan surat ini pada Yoojin, Tuan Lee.”

Kedua alis Donghae berjungkit. Ia sedikit mengangkat dagu untuk mengintip deret kalimat yang tengah Eunhyuk buat, tapi si penulis cepat-cepat menutupinya dengan telapak tangan. Donghae tidak akan mau tahu isi surat itu jika saja penerimanya bukan gadis bernama Yoojin.

Donghae akui dia memang bebal. Dan ia juga tak keberatan jika dipanggil pengecut apalagi dalam urusan cinta dan wanita. Berkebalikan dengan Eunhyuk yang serba, “Ayo!” Donghae selalu lebih dulu menunduk muka dan berujar lemah, “Aku tidak akan bisa.”

Namun kali ini beda ceritanya jika benar apa yang Eunhyuk tulis itu adalah surat pernyataan cinta, kata-kata rayuan atau apalah itu yang bermaksud untuk mendekati Yoojin. Itu berarti dia kalah satu langkah—atau mungkin seribu langkah—di belakang Eunhyuk. Bisa jadi ini menjadi akhir perjuangan Donghae untuk mendapatkan gadis mungil itu. Yoojin, cinta pertamanya sejak masuk SMP. Sepanjang empat semester itu pula Donghae menyembunyikan segalanya termasuk dari laki-laki paling ia percaya setelah ayah dan kakaknya. Laki-laki itu yang sedang duduk di sampingnya sambil mengulas senyuman disetiap ayuhan penanya.

“Nih, berikan padanya.”

Eunhyuk menggeser kertas putih yang terlipat rapi itu ke arah Donghae. Senyumnya merekah penuh percaya diri. Seolah ia punya seratus persen kemungkinan cintanya diterima.

“Sekarang?”

“Tidak, nanti kalau dia sudah pulang,” balas Eunhyuk datar.

Donghae makin memberengut membayangkan Eunhyuk benar-benar akan kencan dengan Yoojin. Ingin hati menyobek kertas itu, namun tangannya bergerak pasrah. Ia mengangsurkan kertas itu ke meja samping dan berbisik, “Tolong berikan ini pada Yoojin.”

Melompati lima tangan berbeda, akhirnya surat itu sampai ke tangan yang dituju. Alis gadis itu saling bertaut begitu memegang kertas itu. Ia membukanya perlahan sambil sesekali berbisik pada teman sebangkunya. Lima detik kemudian gadis itu menjadi patung.

Setelah itu Donghae tidak sanggup lagi. Ia kembali memperhatikan papan tulis lalu buku catatan, papan tulis, buku catatan, papan tulis. Memaksa kepalanya untuk tidak memutar kebelakang melihat reaksi gadis itu.

Puk!

Kertas itu mendarat di mejanya. Mungkin itu surat balasan dari Yoojin. Donghae menggesernya ke depan Eunhyuk. Pura-pura tak berminat meski ia cukup penasaran.

“Dia menerimanya!” pekik Eunhyuk tertahan.

“Apa?”

“Dia menerima ajakan kencan denganmu Donghae!” Mata Eunhyuk berbinar-binar seperti bohlam lampu baru.

“Hah?”

“Bersiaplah besok akhir pekan, jemput dia pukul tujuh.”

Donghae menyambar kertas itu dan membacanya lamat-lamat berulang-ulang.

Aku ingin mengajakmu makan malam di luar besok akhir pekan. Ada yang ingin aku bicarakan. Apa kau punya waktu? Kau boleh mengatur waktunya kapan aku bisa menjemputmu.

Donghae

Di bawahnya, tertulis cantik khas goresan Yoojin.

Ya. Pukul tujuh, ok.

Yoojin

Sisa hari itu Donghae terus memuji, “Kau memang teman baikku, Eunhyuk-ah!” Sampai-sampai Eunhyuk muak dibuatnya.

Donghae baru menyadari selain Eunhyuk adalah teman baiknya yang tahu segala, dia juga seorang pejuang cinta yang pemberani.

Namun masalahnya..

“Eunhyuk-ah! Eunhyuk-ah!”

“Hm?”

“Memang apa yang ingin aku bicarakan padanya?”

.

Note:

Ada banyak hal yang terjadi selama satu bulan agustus kemarin. Pahit, asem, manis, sekaligus aku bisa belajar di perpustakaan karakter dan banyak hal baru yang aku temui. Meskipun rasa pahitnya lebih mendominasi sih huhuhu

Oh, jangan ingatkan aku pada hutang-hutangku yang menumpuk untuk blog ini.

Hi kembali dan terima kasih untuk kalian yang masih membuka-buka blog ini meskipun aku diemin sebulanan kemarin yah. Ini ff comeback, semoga menghibur hehe

Advertisements

5 thoughts on “So Us

  1. ahhh Eunhyuk teman yang baik .. udah ketar-ketir duluan si Donghae membayangkan Eunhyuk dan Yoojin jadian kkk

    ya ampun tuan Lee kau bisa mengatakan isi hatimu ish kau ini .. jangan jadi pria bodoh deh =_____= ayo berjuang >○<

    • hello amaya.
      tokoh yoojinnya terkesan lewat doank dan sukanya donghae ke dia belum aku jabarkan mendalam. krna ini drabble. sorry ;w;
      tp mkasih ya atas kunjungan dan komennya 🙂

  2. omgg unexpected ending! kirain donghae bakal patah hati eh eh ternyata eunhyuk mulia bgt punya ide kyk gitu hahaha keren keren *thumbs up up up*

  3. omgg unexpected ending! kirain donghae bakal patah hati eh eh ternyata eunhyuk mulia banget punya ide kayak gitu hahaha keren keren! *thumbs up up up*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s