This Sickness Bring Happiness

150625 spao graphic 2

Donghae just need one reason to bring his smile back

Donghae terserang flu berkepanjangan berselang satu hari setelah hujan-hujanan demi mengejar jam bimbingan. Penyakit yang bagi Donghae bukan masalah besar mulanya.  Sejak masih jadi anak sekolahan, ia selalu memandang heran mengapa flu bisa jadi alasan teman-temannya untuk tidak masuk sekolah. Konyol menurutnya, hanya karena hidungmu tersumbat, kau rela mengabaikan satu hari pembelajaran.

Seperti sebuah karma, kali ini penyakit itu hadir menghinggapi tubuhnya. Memang yang kesekian kali tapi ini yang terburuk. Sejak ia bangun tidur demamnya bertambah parah. Dua lubang pernapasannya mampet dan ia harus megap-megap mengais oksigen lewat mulut. Pucuk hidungnya memerah dan tiap satu menit mengeluarkan lendir asin. Matanya seperti orang tidak tidur selama seminggu hingga rona wajah yang menghilang. Dan ia terus bertanya apa hubungan hidung tersumbat dengan kepala berat, karena demi Tuhan Donghae rasa seseorang menumpuk selusin batako di atas kepalanya. Membuatnya pucat persis seperti pasien rumah sakit berpenyakit berat.

Donghae menggerutu tiap kali wajahnya terpantul di jendela-jendela kelas yang ia lewati. Setengah tidak percaya kalau itu memang dirinya. Dipikirnya, mungkin ada wajah lain yang menghuni tubuhnya.

Alis Siwon sampai saling membelit begitu Donghae berjalan lemas memasuki kelas mereka sore itu. Tapi sebelum Siwon menyapa, laki-laki di sampingnya lebih dulu membuka mulut. “Hai, Donghae. Tumben sekali kau tidak terlihat tampan hari ini.”

Hidung Donghae semakin merah. Ingin misuh-misuh di depan muka menyebalkan Eunhyuk tapi beruntung ia punya pertahanan diri kuat untuk memendam rentetan kata kotor dalam hati saja. Jadi Donghae hanya balas tersenyum getir. “Aku kena flu.”

“Harusnya kau tidak masuk. Hari ini kelas diliburkan.”

Butuh tiga detik untuk Donghae memutuskan menyerah dan mengumpat, “Oh, sialan!”

“Pulanglah kawan. Kau terlihat butuh selimut dan kasur empuk.”

Donghae mengangguki ucapan Siwon. Ia berdiri dan berpamitan pada dua temannya itu sebelum melangkah terhuyung-huyung keluar kelas.

Tidak seorang pun menyuruhnya meminum obat karena dia kepalang tahu akan kehebohan ibunya jika ia merengek sakit kepala disambungan telepon. Di indekos khusus pria, Donghae sudah dua semester tidur seorang diri. Tempatnya bermuram durja memang dua temannya tadi. Itu pun jika mereka sedang berbaik hati untuk tidak mengejek atau menjadikan Donghae bahan bercandaan. Status jomblonya juga sering membuat Donghae kesepian meski tidak sampai mengganggu aktivitas belajarnya. Bagaimana pun ia berkuliah untuk mencari ilmu, bukan memilih-milih calon istri seperti yang ibu-ayahnya katakan.

Karena siapa tahu, justru ia mendapatan tambatan hati di luar kampus. Dan sore itu setelah ia berburu obat di apotek. Saat ia duduk di halte yang penuh sampai Donghae berniat mengubur wajahnya dalam-dalam ke palung laut paling gelap. Hidungnya tidak bisa berhenti mengeluarkan suara menyedot. Tadi sewaktu berangkat ia terburu-buru sampai lupa barang paling wajib bagi orang terserang flu. Sapu tangan! Tak sampai hati menggunakan lengan kemeja berusia satu minggunya, Donghae mengusap-ngusap pucuk merah itu dengan punggung tangan. Menahan laju cairan yang kian ingin menetes.

Ketika bus terlihat dari kejauhan merayap lamban menuju halte, geli dihidungnya menjadi-jadi. Ia meringis tertahan. Tidak mau pandangan jijik dan memelas orang-orang semakin menusuk malunya.  Tapi apalah daya, seperti saat kencing tinggal di ujung tanduk, kau tidak akan dapat menahannya lagi.

Tepat saat itu seseorang di sebelahnya mengulurkan sapu tangan. Sinyal berbahaya mendekat. Tanpa berpikir dua kali Donghae menyambar cepat sapu tangan itu dan merapatkannya ke hidung. Suaranya memang teredam tapi orang-orang itu masih saja menyempatkan waktu untuk menengok ke arahnya sebelum menaiki bus yang telah datang. Seolah memastikan kalau suara mengerikan barusan berasal dari pemuda berhidung merah yang menunduk menyedihkan.

Donghae menahan untuk tidak mengumpat untuk yang kedua kalinya hari itu, sampai penolong itu berdiri dan menampakkan punggung kecilnya yang masuk dalam himpitan para penumpang.

Donghae cepat-cepat bangkit dan berseru rendah. “Hey, sapu tanganmu!”

Beruntung penolong itu mendengarnya hingga berbalik tapi sama sekali tidak menolong tubuh Donghae yang mengejang karena dentuman tiba-tiba dari jantungnya.

“Simpan saja.”

Seulas senyum di bibir tipis milik gadis itu mungkin akan menjadi alasan Donghae untuk berucap syukur. Demi Tuhan, penolongnya adalah seorang gadis berwajah malaikat yang memaksa Donghae menelan keluhan dan umpatannya sampai tak tersisa.

Untuk pertama kalinya hari itu Donghae tersenyum.

.

.

Note:

Keadaanku tidak lebih baik dari Donghae. Yah, ini murni terinspirasi dari flu sendiri sih tapi ga tahu kenapa jatuhnya cheesy  😦

Aku sudah mendapat satu ide lagi untuk Devil. Tapi mulai ga yakin kalau semua rencanaku bakal selesai sebelum akhir bulan ini. Tapi bersyukur aku punya banyak pembaca rahasia jadi ga merasa diburu-buru haha 

Advertisements

4 thoughts on “This Sickness Bring Happiness

  1. ini… ampun penulisannya suka banget…
    penggambaran flunya ngena banget xD aku iuga flu soalnya.. /gnanya
    makasih eonni ini cantik bangetttt
    cepet sembuh + semangat nulis terus eon <333

    • hello bounce!
      hehe wah musim flu. ini orang serumah flu. awalnya cuma bapakku yng kena, terus virusnya nyebar-nyebar deh huhu. tp skrang udah mendingan setelah minum obar dari warung hehe. ga meler lagi 😀
      km jangn males minum obat juga!

  2. ini loh ya saya bisa bayangin gimana menyiksanya dapet flu di hari pertama bener2 nggak nyaman… dan ini Donghae modus ye, masa iye mau balikin sapu tangan bekas lap ingus 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s