Endless Embrace

leeteuk

You know every story, every wound, every memory.

Her whole life’s happiness is wrapped up in you… every single second.

—Isabel, Stepmom

.

Angin musim gugur yang dingin menampar wajah Jungsoo. Ia menunduk sebentar pada ibunya yang duduk di atas kursi roda. Memastikan wanita delapan puluhan itu duduk dengan nyaman dan hangat. Syal kelabu yang menggantung di dada ibu, Jungsoo benahi hingga melingkari leher.

“Apa Ibu tidak kedinginan?”

Jungsoo bertanya begitu ia kembali mendorong kursi roda ibu. Melewati pohon-pohon yang nyaris polos. Daun-daun merah-kuningnya berserakan disepanjang jalan.

“Tidak. Sudah ibu katakan kalau jalan-jalan di taman seperti ini membuat hati ibu jadi lebih tenang.”

“Ya.” Jungsoo mengingat-ingat ibunya yang hanya bisa berbaring di atas ranjang dalam petak kamar yang tidak seberapa besar. Ibu menolak pindah ke rumah kedua anaknya. Setelah kakaknya, Inyeong, menikah dan pindah ke Busan, ibu masih bertahan di rumah kecil mereka di Seoul.

Jungsoo beruntung mendapat pekerjaan dan istri di kota kelahirannya itu hingga ia tak punya alasan untuk pindah ke luar kota juga. Meskipun tidak serumah, Jungsoo kerap kali menghampiri bekas rumahnya itu. Rumah yang membesarkankannya. Rumah yang menyisakan kenangan pada ayahnya yang duduk di kursi rotan dekat jendela sambil membuka lebar koran paginya. Ada secangkir kopi buatan ibu yang mengepul diletakkan disekat jendela. Bukti akan kesetiaan ibunya pada sang kepala keluarga.

Tidak ada kenangan manis yang Jungsoo tangkap setiap ia membuka lembar masa-masa kecilnya dulu. Yang ia dapat hanya rasa marah dan takut. Amukan ayahnya tiap malam membuatnya mendekap di kamar kakak perempuannya. Mereka berpelukan sambil terisak tiap terdengar rintih ibunya yang kena pukul mengiris hening malam.

Meskipun begitu Jungsoo punya perasaan hangat mengingat bagaimana ibunya membesarkan mereka berdua dengan lembut dan kasih melimpah. Di pagi-pagi yang sibuk, punggung kecil ibu mondar-mandir di dapur. Menyiapkan sarapan untuk ketiga perut yang kelaparan. Di sela-sela pekerjaan rutinnya itu ia akan bertanya, apa Jungsoo sudah membawa semua buku pelajarannya hari itu. Mengingatkan untuk merapikan seragam dan dasinya. Terakhir membungkus sekotak nasi isi telur dan memasukkannya ke dalam tas sekolah Jungsoo.

Ibunya meminta berhenti tepat di bawah pohon forsythia, satu-satunya pohon yang masih menyisakan daun-daun kering di beberapa cabang. Jungsoo duduk di salah satu bangku batu. Ia perhatikan wajah ibunya yang tak lagi semulus bertahun-tahun lalu. Ada guratan dalam di kedua sudut mata ibu. Tangan ibu yang dulu keras namun hangat kini berubah agak kasar dan dingin. Meskipun begitu Jungsoo masih senang merangkum tangan itu diantara kedua tangannya. Mengalirkan hangat tubuhnya agar ibu tak kedinginan.

“Jungsoo.”

“Ya?” Jungsoo berhenti memperhatikan jari-jari kusut ibu, mendongakkan wajah demi melihat binar hidup wajah ibunya.

“Apa kau bahagia?”

Jungsoo tidak tahu apa yang dimaksud bahagia ibunya barusan. Apa bahagia setelah perceraian tiga bulan yang lalu dari wanita yang telah Jungsoo nikahi sepuluh tahun dan memberikan ibunya dua cucu kembar? Apa bahagia menemukan kedua anak laki-lakinya tetap tumbuh kuat dan bahagia meski mereka hidup terpisah? Apa bahagia bahwa kini ia masih bisa mengajak ibunya ke taman di bawah langit bersih musim gugur?

Tapi dari semua kebingungannya itu, Jungsoo tahu ia harus menjawab apa. Jawaban yang membuat ibu senang.

“Ya, Bu. Aku bahagia.”

Ibu mengulurkan tangan yang bebas untuk menyentuh wajah Jungsoo. “Kau sudah melewati hidup yang berat selama ini. Sepanjang kau lahir dan dibesarkan di bawah atap rumahmu, ibu tahu kau tidak sebahagia itu.”

Ada sesuatu yang berputar-putar di perut Jungsoo ketika ia mendengar ibu berkata seperti itu. Desakan dari dalam itu bergumul lalu naik hingga menonjok ulu hatinya. Naik terus memanasi kedua mata hitamnya yang berbentuk persis turuan dari sang ayah.

Dulu Jungsoo benci wanita itu. Masa remaja selalu membangkitkan keinginan memberontak. Ketika ibu berkeras kepala mempertahankan ayah tetap dalam satu naungan atap rumah mereka. Padahal ibu bisa saja mendepak ayah ke luar karena rumah itu hak miliknya.

Jungsoo sadar, perasaannya pada ibu naik-turun sepanjang lima puluh tahun ia hidup. Tapi seperti kebanyakan orang yang telah berumur, kini ia lebih merendah untuk duduk berdua dengan ibunya. Mengobrolkan hal-hal kecil yang dulu jarang mereka lakukan.

Melihat kekalutan di wajah Jungsoo, ibu mengangguk menenangkan dengan senyuman berkembang. Tangannya menumpuk ke atas tangan Jungsoo yang masih setia membungkus jemari kanannya.

“Ibu minta maaf jika selama itu pula kau tidak bisa menikmati masa kanak-kanakmu dengan tenang.”

“Ibu jangan bicara seperti itu. Semua sudah berlalu Bu.”

“Semua sudah berlalu. Itu benar. Tapi perasaan bersalah ibu tidak semudah itu dihapus.”

Wajah ibunya tampak merenung dan Jungsoo paling benci melihat itu. Jungsoo berharap ibu tidak memikirkan masa-masa pahit hidup mereka atau apapun yang membuat kondisi jantungnya berdetak tak stabil. Bagaimana pun ibu tak boleh banyak berpikir yang berat-berat.

“Ibu ada di sini, itu sudah membuatku bahagia. Ibu ada di sampingku saat wanita kedua yang paling kucintai pergi dari kehidupanku. Ibu menyayangi anak-anakku sebesar ibu menyayangiku. Itu sudah cukup membuatku bahagia.”

“Jangan berbahagia karena ibu, karena jika ibu pergi kau tidak punya alasan lagi untuk berbahagia. Bahagialah karena dirimu sendiri Jungsoo. Setelah apa yang sudah kau alami selama ini, kau berhak bahagia.”

Jungsoo tidak berani membalas karena jika ia membuka mulut, kata-katanya pasti teredam isakan. Maka ia memilih mengubur wajahnya di bahu lemah ibunya. Mengerat pelukan pada tubuh ringkih itu.

Tahun berlalu memakan ganas tubuh ibu. Ia selalu menyadari hal itu tiap ia menggendong ibunya dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya. Dan tiap kali menyadari itu, sebagian hati Jungsoo berguguran. Jika saja kekuatan bisa dibagi sebagaimana ia membagi hangat tangannya ke jemari ibu, ia rela. Ia ingin membagi kekuatannya agar ibu sekuat dulu.

Sambil diam-diam membasahi syal ibunya, Jungsoo berujar serak, “Jungsoo akan bahagia Bu. Terima kasih.”

Terima kasih atas kasih berlimpah yang tak pernah berkurang sepanjang napas Jungsoo berhembus.

.

.

Note:

Yah jadi melow-melow githu deh. Ga tahu kenapa tiap nulis Leeteuk bawaannya nangis melulu, sorry yap. Mungkin kebawa perasaan habis baca ‘Whoever You Are, I Love You Mom’ Belum tahu itu novel gimana ceritanya tapi udah basah duluan ni mata di awal-awal halaman. Yaaaah udah deh

:,D

Happy bday old man! 

Cepet-cepet cari cewek sebelum keduluan dapet ponakan dari keluarga Lee hahhahha Tenang aja aku doain!

Akhirnya aku bisa gunain foto kece badai leeteuk di fanfic iniii. sesuai lah ya itu antara cool dan angst haha

Dan aku mau berterima kasih bagi siapapun yang sudah mampir ke sini, Aku tidak pernah menuntut komentar atau pujian. Aku tahu tulisanku jauh dari sempurna. Mungkin ada satu, dua kata yang mengganjal dan aneh. Dan aku akan sangat terbuka jika kalian mau memberitahu apa saja yang membuat tulisanku aneh. 🙂

Oh ya, bakal ada fic special untuk kalian para pembaca blogku yang unyu-unyuuu sebelum aku hiatus panjang /mungkin/ ayo tebak siapa castnyaaaa

Advertisements

2 thoughts on “Endless Embrace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s