When We Split Up For A While

smtown 1

“Dear Daddy, no matter where i go in life, you’ll always be my number one man.”

.

Ini bukan yang pertama bagi Sungmin untuk pergi jauh dari tanah kelahiran. Bahkan pekerjaan menuntutnya tak bisa tinggal penuh sebulan di Korea. Ada saja alasan untuk pergi; konser, undangan dari sebuah event besar, drama musikal.

Tapi Sungmin tak pernah memperkirakan kalau semua ini akan jadi berlipat berat ketika ia punya alasan untuk tetap tinggal. Makanan-makanan enak khas Perancis, Stravinsky Fountain dan Sungai Seine yang ia kunjungi sejenak dengan teman-temannya hanya membuatnya seribu kali lebih merindu.

Sungmin berharap sekali saja ia bisa mengajak gadis itu. Tapi siapa pun tahu kalau pekerjaan ini tak bisa ditinggal begitu saja. Ia sudah menandatangani kontrak di atas kertas putih—yang jelas bagi Sungmin tak memberikannya waktu untuk bersantai-santai menikmati semua itu bersama sang belahan jiwa.

Itu membuat raut muka Sungmin terlihat suram sejak ia menginjak kaki di Paris.

“Apa makanannya tidak enak Hyung?” Ryeowook baru selesai menghabiskan millie feuille-nya ketika ia menyadari wajah Sungmin tertekuk muram. Nadanya tenang tapi Sungmin menangkap seraut khawatir dari muka Ryeowook.

Sungmin tersenyum kecil. “Tidak. Ini enak sekali malah.”

“Lalu kenapa Hyung sejak tadi diam saja?”

“Sungmin Hyung dari dulu memang begitu. Bukan seperti kau yang banyak mulut.” Kyuhyun ikut bergabung meski tangannya sibuk mengorek isi escargot.

Ryeowook kembali bertanya setelah melempar delikan pada si bungsu itu, “Jadi kenapa Hyung kelihatan tidak senang?”

Lagi-lagi suara dari mulut lain yang menyahut. “Itu sudah jelas Sungmin sedang rindu. Kau ini Ryeowook, memang tidak peka atau kurang pengalaman sih.”

Ryeowook melirik Kangin yang sejak tadi mengobrol seru tentang bisbol dengan manajer dan Leeteuk. Kini terlihat semua perhatian teralih pada Ryeowook dan serempak melemparinya tatapan, “Kau ini, seperti itu saja tidak tahu!”

Alis Ryeowook berjungkit. Lalu ia bertanya-tanya hal apa yang paling membuatnya payah. Begitu ia mendapat jawaban, pipi Ryeowook dijalari warna kemerahan dan bertanya dengan malu-malu.

“Apa ini soal asmara?”

“Kim Ryeowook!”

“Apa?”

Kyuhyun hampir saja melempar sendoknya ke wajah tak-kenal-dosa yang Ryeowook pasang, tapi ia menahan lalu menjawab dengan sabar. “Dia rindu pada Sunghwa.”

.

“Kenapa Hyung tak menghubungi Sunghwa saja?” Ryeowook masih bermaksud hati ingin menghibur Sungmin saat mereka sudah berada di dalam bus. Bersiap-siap menuju venue tempat mereka akan gladi bersih.

“Di sana masih tengah malam Ryewook. Aku tidak ingin membangunkannya.”

Ryeowook mengangkat bahu. “Siapa tahu ibunya masih bangun dan mau video call agar kau bisa melihat wajah tidur Sunghwa. Itu lebih baik dari pada tidak mendengar suaranya sama sekali, kan?”

Sungmin masih memikirkan ide Ryeowook ketika ponselnya berkedip pertanda sebuah panggilan masuk.

“Oh, dia malah memanggilmu lebih dulu Hyung.” Ryeowook yang melihat nama itu pertama kali terkikik di sampingnya.

Dan Sungmin berjingkat sekali lagi ketika ia menemukan asal panggilan itu.

Begitu Sungmin menerimanya, mata bulat bening itu langsung bersitatap dengannya. Pipi gempal merah muda gadis itu memenuhi layar, membuat Sungmin meringis menahan panas yang menjalari kedua matanya.

Sungmin tidak tahu kalau melihat wajah yang paling ia rindukan lewat layar ponsel akan membuatnya sebahagia ini.

“Hallo Daddy.”

“Hallo.” Sungmin menarik sudut-sudut bibirnya. Anak perempuannya harus melihat senyum terbaiknya.

“Daddy.”

“Ya, Daddy di sini. Kenapa Sunghwa belum tidur?”

“Sunghwa tadi bangun karena nyamuk-nyamuk nakal mengigit kaki Sunghwa. Dan karena itu Sunghwa jadi ingat Daddy.”

Sungmin tertawa geli. Mungkin karena kebiasaannya mengigiti pipi Sunghwa, gadis kecilnya itu jadi menyamakannya dengan nyamuk.

“Apa sekarang Sunghwa masih digigit?”

“Tidak. Mom sudah mengusir nyamuk-nyamuk itu. Apa Daddy akan pulang hari ini?”

“Hmmm bukan hari ini, sayang. Tapi besok.” Melihat senyuman Sunghwa menyurut, Sungmin cepat-cepat menambahkan. “Apa yang Sunghwa inginkan untuk oleh-oleh?”

Sunghwa bergumam tampak berpikir. Ada suara bisik-bisik di sana, lalu Sunghwa tersenyum lebar. “Kata Mom, Daddy pulang dengan selamat itu sudah oleh-oleh terindah di dunia.”

Sungmin tidak kuasa untuk menahan kikikannya. Ryeowook yang sejak tadi memperhatikan ikut tertawa menepuk-nepuk punggung Sungmin.

“Tapi Sunghwa tidak setuju, sih. Sunghwa memang ingin Daddy pulang dengan selamat tapi harus membawa oleh-oleh juga.”

“Jadi apa yang Sunghwa inginkan? Daddy akan mendengarnya baik-baik.”

“Sunghwa ingin menara Eiffel!”

Sungmin tersenyum. Matanya yang berair berkerlap-kerlip diterpa matahari yang menembus jendela bus.

Ah, bahkan jika anaknya ingin sebungkus gugus bintang, Sungmin rela terbang bermil-mil tahun cahaya untuk memetiknya.

Karena sebesar seperti itulah keinginan seorang ayah untuk melihat senyum bahagia dari anak perempuannya.

.

.

Note:

Millie feuille : semacam kue renyah yang dilapisi krim 

Escargot: kalau di sini disebut keong. tapi bukan keong racun yah hehe

Untuk seluruh ayah terhebat sedunia, khususnya untuk ayah juara nomor satu; paeee 😀 

.

nulisrandom2015

Advertisements

3 thoughts on “When We Split Up For A While

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s