Home

home

Henry For Home

“Loh, Henry! Kenapa ke sini?” Alis Grace menyatu di tengah dahi. Seingatnya tadi Henry mengirimi SMS kalau dia baru selesai latihan basket sore ini dan akan langsung pulang. Tapi lima belas menit setelah itu si pengirim pesan malah berdiri di depan pintu rumahnya. Sambil nyengir lebar sekali—meski dahi dan pipinya masih basah terbilas keringat dan Grace mamandang itu sebagai hal yang menarik.

Henry tidak menjawab apa-apa. Masih mempertahankan senyumannya sambil mengangkat bahu.

“Kau pasti lelah, kenapa tidak langsung pulang ke rumah?”

“Sekarang aku sudah pulang.”

“Hah?”

Laki-laki ini mungkin sedang mengalami gangguan kejiwaan karena terlalu depresi pada pertandingan yang dua minggu lagi akan diadakan. Atau parahnya sesuatu yang besar dan berat baru saja menimpuk kepalanya sampai-sampai rumah Grace diklaim sebagai rumahnya. Yang benar saja, mereka belum menikah!

Namun sebelum analisis-analisis aneh Grace berlanjut, laki-laki itu menurunkan kadar cengirannya menjadi senyum lembut dan tatapan secemerlang matahari siang lalu berkata dengan suara rendah, “Grace. Kau adalah rumahku. Tempatku pulang dan melepas lelah.”

.

Note:

chee to the sy lol

Advertisements

5 thoughts on “Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s