Sweet Reality

cover fanfic - Sweet Reality

⌈original pic by rwpicgif⌋

Sweet Reality

Who’s need a crown, when you got the throne

Cherry Hee © 2015

– – –

Sejak Jihyun mengenal apa itu cinta—meski sepenuhnya belum memahaminya—ia punya harapan akan mendapat pasangan yang tinggi, berbahu bidang dan bersuara berat yang menghanyutkan.

Tapi kenyataan berbanding terbalik dengan impian. Kim Ryeowook tidak terlahir sebagai lelaki tinggi 180 senti. Meski jika mereka berjalan bersama ia hanya setinggi telinga lelaki itu, Jihyun masih berharap Ryeowook bisa lebih tinggi, setidaknya ia bisa sejajar bahu lelaki itu. Pasti mereka akan terlihat lebih lucu.

Ryeowook juga tidak memiliki suara berat yang dalam. Ketika lelaki itu berbicara, suaranya akan terdengar paling beda karena tidak ada lelaki lain yang memiliki suara tinggi dan kecil seperti dia.

Jihyun sering bertanya-tanya diantara malam-malamnya yang panjang. Bagaimana ia bisa jatuh hati pada Ryeowook yang jelas tidak masuk dalam daftar tipe lelaki idealnya.

Lalu sosok Cho Kyuhyun keluar dari impiannya dalam bentuk nyata. Kyuhyun memiliki kaki yang panjang. Saat mereka berhadapan kepala Jihyun bahkan bisa ternggelam di balik bahu lelaki itu. Kyuhyun juga mempunyai suara yang berat dan lembut. Suara yang hampir tiap malam menemaninya. Jahatnya, Jihyun menyukai hal itu.

Seperti malam ini ketika Jihyun sibuk bergelut di depan komputer. Berusaha keras untuk menciptakan berbaris-baris kalimat penuh teori untuk laporan terkutuknya, ponselnya bergetar di samping tangannya. Pertanda seseorang mengiriminya pesan.

Jihyun berusaha untuk tidak tersenyum ketika nama itu terbaca sebagai si pengirim pesan.

[Kyuhyun]
Sunday, 10.32 PM

Sedang apa?

Sebelum tangan Jihyun bisa menyentuh layar ponselnya untuk menjawab, lelaki itu sudah mengirimnya pesan lain.

[Kyuhyun]
Sunday, 10.32 PM

Apa aku mengganggumu?

Jihyun cepat-cepat membalas.

[Jihyun]
Sunday, 10.31 PM

Tidak juga. Ada apa?

Tidak menunggu lama, balasan lelaki itu datang.

[Kyuhyun]
Sunday, 10.32 PM

Baguslah. Aku hanya sedang bosan saja 😀

Jihyun terdiam sejenak. Meredakan dentuman jantungnya yang tidak normal untuk beberapa saat.

[Jihyun]
Sunday, 10.35 PM

Jadi kau hanya mengingatku saat bosan?

Jihyun ingin menambah emotikon cemberut tapi itu akan membuatnya terlihat manja. Ia sepenuhnya sadar ada sosok penting lain di luar sana. Tapi bayang Ryeowook terpecah begitu lelaki itu membalas dengan sebaris kalimat pendek.

[Jihyun]
Sunday, 10.36 PM

Salah. Aku selalu mengingatmu setiap saat.

Jihyun menenggelamkan kepalanya ke balik lipatan lengannya yang tertumpuk di meja. Bagaimana bisa ia merasa senang saat ada orang lain menggodanya. Dan tidakkah Kyuhyun ingat kalau ia sudah dimiliki lelaki lain? Jelas lelaki itu tahu. Pertemuan pertama mereka di perpustakaan saat ia sedang bersama Ryeowook.

Oh ya ampun, bahkan Jihyun ingat tentang pertemuan mereka sedangkan ia tidak ingat sama sekali pertemuan pertamanya dengan kekasihnya sendiri.

Tentu saja! Karena ia tidak pernah memperkirakan Ryeowook akan menjadi kekasihnya. Lalu, apa sekarang ia mengharapkan Kyuhyun akan menjadi kekasihnya suatu saat nanti.

Jihyun berusaha membuang pikiran buruknya lalu membalas lelaki itu.

[Jihyun]
Sunday, 10.38 PM

Cepat-cepatlah cari gadis. Aku yakin tidak ada yang menolakmu.

Ponselnya berbunyi tak lebih dari sepuluh detik

[Kyuhyun]
Sunday, 10.38 PM

Tentu saja. Aku terlalu tampan untuk diabaikan.

Jihyun mendengus. Ia sedang mengetik balasan ketika layar ponselnya menunjukkan sebuah panggilan. Jihyun menekan tombol terima dengan jantung melompat-lompat.

“Kenapa menelponku?”

“Apa aku tidak boleh mendengar suaramu?”

Berusaha untuk lebih keras, Jihyun menjawabnya dengan suara kesal, “Kyuhyun. Carilah gadis lain di luar sana. Mereka tidak—”

“Mereka memang tidak akan menolakku. Tapi gadis yang menarik perhatianku pastilah menolakku.”

Alis Jihyun menyatu.

“Siapa?”

Jihyun harap gadis yang Kyuhyun maksud bukan orang yang ia kenal. Tapi suara Kyuhyun terdengar jelas di telinganya ketika lelaki itu berkata, “Kamu.”

Jihyun menghela napas. Kyuhyun jelas-jelas sedang mengajaknya untuk berpaling.

“Kyuhyun, please.”

Jihyun masih cukup waras. Hubungan tiga bulannya dengan Ryeowook masih terlalu awal untuk diakhiri. Bukan bermaksud apa-apa, tapi Ryeowook lelaki yang baik. Jihyun tak akan tega untuk melepasnya sekarang.

Oh, sebutlah Jihyun gadis jahat yang membuat Ryeowook tergila-gila padanya lebih lama, lalu suatu hari nanti ia akan melempar jauh lelaki itu demi seorang Cho Kyuhyun.

“Kenapa?” Suara Kyuhyun terdengar seperti iblis yang sedang menggodanya.

“Kau tidak boleh seperti itu.” Jihyun mencicit. Hatinya mendadak ragu untuk menolak.

“Kenapa tidak boleh?”

“Kau tahu sendiri. Aku sudah punya—”

“Tolong jangan sebut namanya saat kita berbicara.”

Jihyun menutup erat kedua matanya.

Sejak kapan Kyuhyun jadi agresif seperti ini. Baik, beberapa minggu ini Kyuhyun memang jelas sedang melakukan pendekatan padanya. Tapi ini pertama kali Kyuhyun berbicara tajam dan menolak menyebut-nyebut nama Ryeowook diantara mereka.

Apa Kyuhyun segila itu?

“Kyu.”

“Maaf. Aku pasti terlihat buruk di matamu. Sungguh ini diluar kendaliku.” Suara berat Kyuhyun tiba-tiba terdengar lebih dalam. Jihyun terhanyut mengikuti arus yang dibuat Kyuhyun untuknya. “Aku tidak bisa mengusir bayanganmu sejak kita bertemu. Saat itu aku sadar hubunganmu dengan Ryeowook lebih dari sekadar teman. Tapi kau terlalu menarik Jihyun. Dan aku tidak bisa berhenti untuk terus memikirkanmu.”

Bibir Jihyun terkesiap. Matanya berair entah sejak kapan. Lalu satu tetes air mengalir begitu saja ke pipinya. Ia membekap mulutnya. Mengingat bahwa semua ini salah besar. Ini tidak benar. Apa yang akan Ryeowook katakan jika tahu ia membiarkan ada lelaki lain yang sedang mendekatinya? Apa Ryeowook akan menyumpahinya sebagai gadis nakal berhati busuk? Atau Ryeowook akan pergi menjauhinya tanpa kata-kata dan tidak akan pernah mau berbicara dengannya lagi?

Perkiraan-perkiraan itu menakutinya. Meremas hatinya dalam kegelisahan yang tidak berkesudahan.

“Kyuhyun. Aku mengantuk. Maaf, aku tutup dulu ya.”

Jihyun tidak peduli jika suaranya terdengar parau. Ia memutus hubungan mereka tanpa menunggu lelaki itu melayangkan protes.

Semangat untuk menyelesaikan tugasnya meluap begitu saja. Jihyun mematikan laptopnya dan melempar tubuhnya ke tempat tidur. Ia terisak semakin keras di balik bantal ketika ponselnya kembali berdering.

Selamat malam Jihyun.

Jangan bermimpi bertemu denganku karena besok juga, tanpa kau bermimpi, kita akan bertemu 🙂

Sebaris pesan pendek itu terkirim dari nomor Ryeowook.

– – 

Keesokan harinya seperti biasa, tiap senin sepanjang tiga bulan ini, Ryeowook menghampiri rumahnya dengan sepedanya. Lelaki itu memakai jaket putih polkadotnya yang membuat tubuh kecilnya tenggelam. Terlihat semakin kecil.

Sambil tersenyum secerah mentari pagi itu, ia menyapa Jihyun lembut. “Sudah siap?”

Jihyun menjawab di atas sepedanya sendiri. Mengikat rambut pendeknya ke samping lalu berseru, “Yap, aku siap!”

Kelas mereka sama-sama dimulai di pagi hari. Kesempatan bagi mereka yang intesitas pertemuannya kelewat jarang. Ryeowook sudah masuk semester akhir. Ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan dari pada menemui sang  pacar. Karena itu mereka tak ingin melewatkan  lima belas menit perjalanan seorang diri.

Sesekali sepeda mereka berjajar di pinggir jalan untuk mengobrol. Membiarkan angin musim semi menerbangkan kegelisahan mereka jauh demi sebuah percakapan.

Sampai sekitar dua ratus meter dari kampus mereka, sepeda Jihyun tidak bisa berjalan lagi.

“Ada apa?” Ryeowook berhenti dan memundurkan sepedanya untuk mendekat.

“Sepertinya roda sepedaku terkena benda tajam di jalan.”

“Benarkah?” Ryeowook turun dan memeriksa sepeda Jihyun. Ia menemukan ban sepeda itu kempes dan total tidak bisa lagi dipakai.

“Kau pergilah dengan sepedaku. Aku akan membawa sepedamu untuk diperbaiki.”

“Tapi bagaimana dengan kelasmu?”

“Terlambat sedikit tidak masalah.” Sebelum Jihyun menyela, Ryeowook menambahkan lagi, “Kirim aku pesan jika kelasmu sudah selesai. Nanti kita pulang bersama.”

“Bukankah kelasmu hanya sampai siang?” Biasanya mereka pulang sendiri-sendiri karena kelas Ryeowook berakhir dua jam lebih awal dari Jihyun.

“Aku akan ke perpustakaan. Ada tugas yang perlu kukerjakan.”

“Tapi kau bisa pulang dulu jika kau ingin nanti. Tidak perlu menungguku.”

“Aku bilang tidak apa-apa.” Ryeowook tertawa kecil melihat gurat tak tega di wajah Jihyun. Ia tahu Jihyun bukan orang yang suka ditunggu. Itu akan membuatnya terburu-buru.

“Bahkan jika kau pulang malam aku akan menunggumu.” Ryeowook mendorong punggung Jihyun sampai gadis itu naik ke sepedanya.

“Baiklah. Aku duluan ya.”

Ryeowook mengangguk masih dengan senyum. Membuat Jihyun ikut tersenyum. Lelaki itu sungguh akan melakukan apapun demi dirinya. Hanya dirinya.

Jihyun baru saja sampai di kelas. Dosennya belum masuk dan hanya beberapa teman-temannya yang sudah datang. Jihyun akan duduk di salah satu bangku di barus paling depan ketika sebuah suara memanggilnya dari ujung kelas.

“Jihyun! Duduklah di sampingku.”

Jihyun mendesah dalam hati. Tidak bermaksud kasar, Jihyun tersenyum kecil. “Aku ingin duduk di depan saja.”

Tanpa banyak bicara, Kyuhyun berdiri dan melesat cepat mengambil kursi di sisi Jihyun.

“Aku ingin mengajakmu ke pesta ulang tahun temanku sore ini. Mau tidak?” ucapnya langsung membuat Jihyun mendelik.

“Kyuhyun?!”

Betapa keras kepalanya lelaki itu. Bukankah semalam ia sudah menolaknya. Setidaknya itu menurutnya kecuali jika lelaki ini tidak peka atau tutup mata pura-pura tak ingat.

“Hanya sebentar saja.” Kyuhyun memajukan ujung bibirnya. Tangannya terlipat di depan muka. Dia merajuk?

Jihyun meremas-remas kepalan tangannya, pertanda bingung.

“Baiklah.”

Jihyun baru menyesali persetujuannya begitu ia menginjak ruang penuh lampu berkedip-kedip itu. Untuk pertama kalinya ia masuk ke sebuah klub sepanjang dua puluh tahun ia hidup. Dan pengetahuan baru baginya bahwa di jam empat sore, klub sejenis itu sudah buka.

Jihyun ingin sekali menutup kedua telinganya saat musik berdesing-desing berisik. Tapi tangan kanannya tergenggam erat oleh lelaki itu. Kyuhyun tidak melepasnya sama sekali sejak mereka masuk lima menit yang lalu. Dan Jihyun tidak bisa menyerukan penolakan karena Kyuhyun terus saja sibuk menjawab sapaan teman-temannya.

Kyuhyun lelaki yang populer. Jihyun tidak tahu harus senang atau apa mengetahui hal itu.

Pada akhirnya mereka sampai di sisi yang lebih lenggang. Kyuhyun menariknnya ke salah satu sofa yang terisi tiga lelaki.

“Hai Kyuhyun.” Salah satu diantaranya berdiri menepuk punggung Kyuhyun. Dua sisanya menarik Kyuhyun untuk duduk di samping mereka. Jihyun ikut duduk di ujung sofa. Empat lelaki itu pun mulai larut dalam obrolannya menyenangkan.

Sedangkan Jihyun membisu di tempat. Kepalanya sesekali berputar-putar memperhatikan. Satu persatu orang berdatangan, semakin menambah gerombolan orang yang berdansa di lantai utama. Beberapa orang memilih duduk di sofa yang mengelilingi ruangan itu. Mereka juga terlibat perbincangan seru. Beberapa ada yang sudah mabuk. Pelayan-pelayan pun sibuk hilir mudik bergantian membawa gelas-gelas minuman. Jihyun tidak luput untuk ditanyai, tapi ia menolaknya dengan halus. Sama sekali tidak ingin ambil resiko untuk hilang kendali dalam tempat seperti itu.

Musik semakin keras dimainkan. Jihyun tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana, rasanya seperti sudah berjam-jam. Jihyun mengecek jam di ponselnya. Sudah lebih dari satu jam ternyata. Jihyun semakin gusar saat menemukan pesan-pesan dan panggilan tak terjawab dari Ryeowook. Jihyun tahu itu, tapi ia memang mengabaikannya sejak tadi.

Jihyun bersumpah ini terakhir kali ia pergi keluar bersama Kyuhyun tanpa lelaki itu tahu.

Lagi pula tempat ini sama sekali bukan tempat yang seharusnya ia datangi. Ini bukan tempat untuk seorang Jihyun yang menyukai ketenangan.

Jihyun menoleh pada Kyuhyun, berniat untuk mengajaknya pulang sekarang. Tapi Kyuhyun sudah setengah tertidur di bahu temannya. Terlihat mabuk sekali. Matanya hanya tinggal sebaris ketika ia berucap padanya, “Jihyun, kemari. Datanglah padaku.”

Suaranya hanya terdengar seperti igauan di tengah hiruk pikuk klub itu. Teman-temannya yang juga mabuk menertawainya. Jihyun meringis, tidak senang.

Salah satu teman Kyuhyun yang berambut nyaris botak mendekat, mencolek bahunya. “Hai, apa kau kekasih Kyuhyun?”

Bau alkohol tercium dari napas lelaki itu. Jihyun berpaling tak suka. Lelaki itu tidak juga menyerah, semakin menggeser tubuhnya pada Jihyun.

“Putuskan dia dan lakukanlah denganku.”

Jihyun mendelik. Apasih maksud lelaki itu?!

Sudah tak bisa bersabar lagi, Jihyun berdiri hendak lenyap dari sana. Tapi gerakannya terhenti. Lelaki asing itu sudah lebih dulu menarik tangannya.

“Tolong lepaskan!” Jihyun memastikan kalau suaranya terdengar tegas, tidak tercampur dengan katakutan yang kini melanda hebat di hatinya.

“Kau cantik sekali. Ayo kita habiskan malam ini bersama.”

“Kumohon, lepaskan aku.” Kali ini Jihyun merengek. Ia mencoba mencari pembelaan dari Kyuhyun tapi lelaki itu sudah tergeletak tak bergerak di lengan sofa. Kedua teman Kyuhyun yang lain berdiri. raut wajah mereka membuat Jihyun mengantisipasi.

Dengan sisa keberaniannya Jihyun menendang tulang kering lelaki di depannya. Tepat sebelum dua lelaki lain menangkapnya, Jihyun berlari. Menyembunyikan tubuhnya diantara lautan manusia.

Tersengal antara lelah dan takut, Jihyun akhirnya menemukan pintu keluar. Ia berpaling ke belakang. Mungkin mereka masih mengejarnya. Jihyun pun berlari lagi sampai kakinya terasa linu. Sialnya ia tidak sedang memakai sepatu. Kakinya perih tergores di dalam hak tiga senti.

Jihyun berpeluh. Air matanya luruh. Ia menjatuhkan diri di bangku taman. Hari sudah malam dan tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Jihyun tak perlu malu untuk menangis kencang-kencang.

Tubuhnya masih gemetar. Ia bahkan terkejut saat ponselnya berdering di saku celananya.

“Jihyun, kau di mana?”

“Aku….” Jihyun mendekap mulutnya. Suara lelaki itu melelehkan hatinya. Seperti perasaan saat menemukan setitik air di padang pasir setelah berminggu-minggu. “Aku tidak tahu di mana.”

Jihyun tidak bercanda. Ia tidak tahu ke mana saat tadi Kyuhyun membawanya dengan mobil.

“Aku tidak tahu ada di mana.” Suara Jihyun bergetar dan itu sudah cukup membuat Ryeowook sadar gadis itu sedang dalam tidak baik-baik saja.

“Aku akan segera ke sana! Aku bisa… melacak posisimu.. dari GPS.”

Suara lelaki itu terputus-putus seperti tengah berlari. “Ryeowook.”

“Ya?”

“Maaf. Maafkan aku.” Jihyun membiarkan tangisannya keluar.

“Hey Jihyun.. tenanglah. Aku akan segera datang, oke. Tetap di sana.. dan tunggu aku.”

Jihyun mengangguk-angguk sambil mengusap kasar air matanya. Tahu lelaki itu tak akan melihat, ia menambahkan, “Ya. Ya, aku akan menunggumu.”

Aku akan menunggumu. Seperti kau selalu menunggu untuk tetap di sampingku.

Jihyun tidak lagi butuh bermimpi. Karena dalam kenyataannya ia sudah mendapat lelaki sesempurna Ryeowook.

Oh, sekarang Jihyun tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memeluk lelaki kecil itu.

.

 – – –

Note:

Taraaaa. Tepok tangan untuk saya yang telah mendapat ilham dan menulis 2000kata dalam satu hari. XD

Ternyata emang bener kalau ada niat dan kemauan, satu hari pun jadi. Dan harusnya istilah ini juga berlaku untuk laporan terkutukku.. please X,D

Untuk quotenya mungkin agak tidak nyambung yah. Tapi anggaplah itu seperti, “Siapa yang butuh pacar tampan, jika kau sudah mendapat pacar yang setia?” Pacar tampan tapi sikap tidak tampan itu hanya akan terlihat seperti pajangan. Bangga untuk diperlihatkan tapi tidak untuk dikenalkan. :)) *ini bukan curhat karena aku sendiri belum pernah mengalaminya* lol

Aku menikmati sepanjang menulis cerita ini. :)) Semoga ada yang baca sampai di note ini. Semoga tidak ada orang yang menutup halaman ini karena tidak melihat nama biasnya disebut di sini XD

Advertisements

2 thoughts on “Sweet Reality

    • hehe sebenernya belum punya pengalaman aja, tapi yang namanya penulis harus punya jiwa ‘sok’ XD dan itu juga hasil pengamatan sih.
      semoga bermanfaat juga buat ines 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s