[Her Brother] Tremendous

Cover fanfic - Tremendous

Her Brother Series: Tremendous

Cherry Hee © 2015

Surga bagi kakaknya adalah segelas air minum setelah lidah terbakar cabai,

adalah tempat tidur setelah bekerja seharian,

adalah semangkuk mie instan setelah kelaparan sepanjang malam,

Sesederhana itu.. semudah itu.

Cheryl baru saja turun dari kamarnya dengan kepala terantuk-antuk. Dia ada kelas jam satu, itu berarti ia baru akan bangun di saat matahari telah meninggi tepat di atas kepala.

“Apa sarapannya sudah siap?”

Ia mengintip dapur dari tangga. Kakaknya yang bersetelan jas hitam selutut terlihat sibuk mengisi penggorengan dengan apapun yang ia dapat dari lemari pendingin.

“Yo yo baby! Come here!” sahutnya kakaknya tanpa memalingkan wajah dari nyala api kompor.

Harum sosis goreng menguar ke seluruh ruangan. Cheryl menarik lengan sweaternya sampai ke siku dan segera melompati dua anak tangga sekaligus. Kakaknya yang ia benci kadang bisa jadi orang paling hebat seperti pahlawan. Setiap hari jumat saat ia mendapat kelas siang, kakaknya sengaja pulang ke rumah untuk membuatkannya sarapan. Dan memastikan kalau Cheryl benar-benar bangun tepat siang hari, bukan sore atau malam. Untuk urusan tidur Cheryl bisa terlelap seharian penuh.

Cheryl menuang susu kardus ke gelas lalu bersuara, “Apa kau akan mengantarku hari ini?”

“Sepertinya tidak. Aku harus pergi segera saat kau menyentuh makan siangmu.”

Sambil mengerutkan dahi, Cheryl mendudukkan diri di kursi tinggi yang berada di balik konter dapur. Mengawasi wajah kakaknya yang serius dengan penggorengan.

“Nanti aku akan pulang terlambat. Ada pemotretan di luar kota. Tapi aku akan segera balik begitu selesai. Mungkin tengah malam aku baru sampai. Jangan lupa bersihkan rumah dan kunci pintu depan.”

Cheryl menguap, malas menjawab pesan yang itu-itu saja dari kakaknya.

“Apa kau tidak punya hari libur?” Cheryl mengaduk-aduk gelas susunya dengan pandangan memelas. Ia butuh berlibur setelah ujian semester ini berakhir. Tapi tak seorang pun yang bisa ia ajak karena kedua teman dekatnya sudah berencana pergi berlibur dengan keluarga masing-masing. Dan ayah ibunya sendiri masih sibuk di luar kota mengurus bisnis penjualan kain mereka.

“Sepertinya tidak.”

Cheryl mendengus mendengar jawaban itu. Tentu saja tidak. Bahkan sekarang kakaknya sudah mendirikan bisnis game center-nya sendiri. Di hari libur ia pasti sibuk mengawasi di sana.

Lamunannya terpotong saat kakaknya datang dengan sepiring penuh nasi goreng dan sosis.

“Masih ada roti bakar dan selai coklat jika kau belum kenyang. Aku pergi dulu.”

“Huh, cepat sekali?!” Cheryl memprotes dengan mulut penuh nasi.

“Aku sibuk!” Kakaknya berseru dari ruang depan sebelum suara pintu tertutup memulai keheningan rumah itu. Cheryl mendesah. Ia benar-benar tidak bisa menikmati hidupnya seorang diri. Ia benci keluar sendiri. Ia benci jalan-jalan sendiri.

Malam harinya Cheryl terbangun dan mendapati dirinya tertidur di meja belajar. Lehernya terasa kaku dan ada cetakan pensil di pipi kanannya.

Ia turun ke lantai bawah saat telinganya menangkap tawa seseorang diselingi suara dari TV. Itu kakaknya yang sudah pulang, sedang duduk nyaman di sofa dengan kaos longgar dan celana putih selutut. Rambutnya basah dan aroma sabun menguar dari badannya. Sepertinya ia baru sampai dan selesai mandi.

“Apa ini sudah tengah malam?” Cheryl mendudukkan diri di sofa tunggal dan memandang kakaknya dengan keheranan.

“Belum. Aku sengaja pulang cepat, takut kau membakar rumah atau melakukan suatu hal buruk lainnya.”

Cheryl meringis. Satu-satunya hal yang ia lakukan sejak pulang dari kuliah tadi adalah tidur.

Cheryl bersedeku, menumpuk dagunya ke punggung tangan. Membiarkan kakaknya terbahak-bahak pada acara komedi seorang diri.

“Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melihatmu menangis.” Mulut Cheryl bergerak sendiri menyuarakan isi pikirannya.

“Apa?” Heechul berhenti tertawa dan beralih memperhatikannya.

“Bahkan saat ibu dan ayah memutuskan pindah, kakak tidak menangis.”

“Itu karena aku sibuk menenangkanmu yang menangis. Kau tidak ingat ya?” Kakaknya bertanya dengan nada mengejek.

Cheryl memberengut , memilih diam. Ia sudah tidak punya kata lain untuk mengungkapkan betapa hidup kakaknya tergambar mudah. Seperti tidak ada kesedihan. Seperti tidak ada beban. Bahkan kakaknya masih bisa tertawa dengan wajah segar setelah pulang dari bekerja seharian.

Tanpa Cheryl sadari ia menghela napas panjang. Heechul yang mendengarnya kemudian melanjutkan berkata, “Jangan terlalu banyak tidur. Wajahmu jadi pucat seperti itu.”

“Aku tidak punya teman untuk diajak mengobrol dan tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan, jadi lebih baik aku tidur.”

Heechul berdecak dan sebelum kakaknya kembali membuka mulut untuk berceramah Cheryl lebih dulu menyahut. “Lagi pula tadi aku ketiduran. Aku berniat mengerjakan laporanku,” sahutnya membela diri.

Tidak ada pembicaraan setelahnya karena Heechul kembali sibuk mendengar lelucon di TV.

Cheryl membuka pertanyaan anehnya lagi. “Apa menjadi model itu menyenangkan?”

“Ya. Ya, kalau kau berpikir dipaksa tersenyum saat hatimu tidak sedang ingin itu menyenangkan.”

“Apa kau pernah mengalami hal seperti itu?”

“Tentu saja ada saat seperti itu. Hidup tidak selamanya menyenangkan, Nak.”

“Tapi kau tidak terlihat seperti itu.”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Tertarik jadi seorang model?”

Dahi Cheryl mengerut, menimbang-nimbang. Kakaknya punya kenalan banyak dan itu merupakan peluang untuk dirinya bisa dengan mudah masuk ke industri periklanan dan jadi model apapun yang ia mau. Kakaknya bisa melakukan apapun untuknya. Masalahnya ia benci kamera. Bahkan di ponselnya saja hanya ada lima foto dirinya. Selebihnya foto teman-temannya dan kakaknya yang sering meminjam ponselnya untuk mengambil gambar wajahnya sendiri.

“Sepertinya tidak.”

“Sudah kuduga.” Heechul tertawa sekali lagi, kali ini menertawainya.

“Apa kau punya rencana di liburan musim panas nanti?”

“Tidak. Apa kakak punya waktu luang?” Cheryl bertanya dengan raut berharap.

“Tidak.”

Dan sahutan itu membuat Cheryl berdecih sedangkan kakaknya terkikik jahil.

Esok paginya mereka berdua sama-sama sibuk. Bahkan sejak mata Cheryl terbuka di pagi hari, ia tidak mendengar suara berisik kakaknya dari seluruh ruang rumahnya. Ia hanya menemukan note kecil tertempel di pintu lemari pendingin. Tulisan kakaknya yang mengatakan hal persis seperti apa yang Heechul katakan kemarin.

Jangan lupa bersihkan rumah dan kunci pintu depan saat kau keluar.

Sarapan sudah kusiapkan di meja makan.

Hari itu jadwal ujian terakhir dan setumpuk laporan yang harus segera ia selesaikan. Cheryl memeras otaknya habis-habisan di perpustakaan dan baru pulang saat jarum jam menunjuk angka delapan.

Dengan perut berkeriuk dan muka kusut ia mendorong pintu setengah bertenaga.

“Aku pulang.”

Cheryl cemberut. Tentu saja tidak ada yang menyahut. Ia berusaha tersenyum mengingat ini hari terakhir penderitaannya. Setidaknya besok liburan dimulai. Ia bisa tidur sepanjang hari.

Baru berpikir tentang camilan apa yang ingin ia timbun untuk liburan setengah bulannya nanti, suara gaduh dari dapur terdengar.

Seperti suara sekumpulan laki-laki.

Cheryl bergegas mendatanginya. Dan ia berdiri melongok melihat kakaknya memakai celemek dengan tepung-tepung menempel di pipi dan rambutnya, beserta kelima wajah asing yang memenuhi dapur dan meja makan.

“Wah, dia sudah datang?”

“Hello.”

“Ini tidak seperti yang kita rencanakan.”

“Heechul, kau salah memperkirakan jadwal adikmu sendiri.”

“Ops!”

Mulut mereka bergerak secara bersama-sama hingga Cheryl tidak bisa menebak dari mulut yang mana kalimat-kalimat itu keluar.

Heechul menghentikan mereka lalu mendekat padanya dengan raut sedikit kecewa. “Kenapa kau sudah pulang?”

“Karena aku lelah. Maaf, aku tidak tahu kalau kalian mengadakan pesta di sini. Akan kupastikan aku tidak akan mengganggu.”

“Hey!” Suara-suara itu seakan memprotes ucapannya dan membuat Cheryl menoleh pada kelima lelaki itu.

Yang paling gemuk diantara mereka berusara, “Sebenarnya kami memang akan mengadakan pesta di karaoke sampai pagi. Tapi Heechul bilang adiknya akan sendirian di rumah kalau ia tidak pulang. Jadi pesta kami pindah ke sini.”

“Untuk menyambutmu dan menyelamatimu yang sudah melewati ujian semester.” Itu dari lelaki tinggi, tampan dan berkumis tipis. Cheryl membalas senyumannya dengan suka rela—melupakan seluruh masalah yang tadi membebani otaknya.

“Tapi masakannya belum siap semuanya. Kau bisa mandi dan turun kalau sudah siap.” Heechul mendorong punggung adiknya menjauh dari dapur.

Cheryl menurut saja. “Okey. Kuharap makananya sudah jadi begitu aku ke mari.”

Cheryl menyetujuinya. Kakinya segera berlalu menuju kamarnya. Di tengah tangga, Cheryl tidak bisa menahan senyuman lebar dari bibirnya. Apalagi setelah mendengar desis-desis dari arah dapur.

“Adikmu cantik juga.”

“Kenapa tidak mengenalkannya denganku sejak dulu? Sekarang aku sudah punya pacar.”

“Tutup mulut kalian atau kutendang keluar dari rumahku!”

Mereka berkumpul di ruang tengah. Makan dengan TV yang menayangkan acara komedi kesukaan kakaknya. Tapi suara para lelaki itu melebihi volume televisi.

Sedangkan Cheryl hanya sesekali ikut dalam pembicaraan mereka, itupun jika Heechul menyangkut-nyangkutkan namanya saja. Selebihnya, ia jadi pendengar. Tapi itu sudah cukup membuatnya tersenyum dan tertawa semalaman. Teman-teman kakaknya begitu menyenangkan.

Untuk pertama kali Cheryl menemukan sisi lain dari kakaknya. Sisi pergaulan kakaknya dengan orang lain selain dirinya. Dan sisi itu sama-sama bersinar. Sama-sama menariknya untuk larut dalam kegembiraan.

Cheryl jadi tersadar akan satu hal. Sesulit apapun hidupnya, setidaknya ia masih punya kakaknya sebagai penawar untuknya tetap bisa tersenyum.

.

Note:

Setelah seratus tahun tidak mengisi blog ini dengan fanfic ehehe

Selain sibuk kuliah karena sekarang sudah punya dua anak lagi. Berkunjunglah ke cherryline88 untuk baca cerpen dan flashficku. Dan ke listeningK untuk download mp3 dan lyric kpop. /promositerselubung/ 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s