Some

cover fanfic - Some

Some 

Cherry Hee © 2015

Tidak ada kalimat lain, ibu hanya peduli pada berat badanku.

Shindong hampir tersungkur ke tanah ketika kakinya bergerak cepat tersaruk-saruk di sepanjang jalan ia pulang ke rumah. Peluh membasahi punggungnya yang memanggul tas, tapi ia tak peduli akan itu. Di pelukan tangan kanannya ada sebuah map hijau. Rasanya Shindong tak terkira bahagianya mengingat isi map itu, sampai berpikir-pikir bahwa ia tak pernah sebahagia ini.

Sampai di teras rumah ia buru-buru melepas sepatunya. Mulutnya memanggil-manggil sosok yang biasanya sibuk di belakang dapur.

“Ibu! Ibu!.”

“Aku di sini.” Ibunya menyahut sambil menggoreng sesuatu, tepat seperti yang ia perkirakan.

“Ibu, lihat ini!” Senyum Shindong mengantarkan map hijau itu ke tangan ibunya.

“Aku mendapat nilai sempurna hampir di semua pelajaran. Dan wali kelas bilang aku bisa mendapat beasiswa ke SMA negeri favorit dengan nilai-nilai tinggi itu.” Shindong menjelaskan sebelum pandangan ibunya menyapu seluruh halaman kertas yang di tangannya.

Tak sabar menunggu respon ibunya, Shindong pun kembali melanjutkan, “Apa aku akan dapat makan malam spesial malam ini?”

Ibunya mendesah. Menutup map itu dan mengembalikannya pada Shindong sambil menjawab lemah, seakan ia telah mengatakan kalimat ini seribu kali dan kini ia sudah muak. Tapi tetap ia katakan pada Shindong, “Apelmu masih sisa banyak, kan? Kau harus diet.”

Setelah itu ibunya berbalik, kembali pada penggorengan dan kompor yang menyala-nyala. Apinya yang merah membuat Shindong ikut terbakar. Sesuatu mendidih dalam hatinya. Ia pun menyerah dan pergi ke kamar dengan hati berat.

Seharian itu Shindong tidak keluar dari tempat tidur dan baru bertatap muka dengan ibunya sewaktu mereka berkumpul untuk makan malam.

“Ah, lihat anak ibu. Apa kau lapar, Dayeong?”

“Hm! Aku lapar, ibu!”

Shindong mendengus melihat adiknya berseru dengan mulut maju, sumpit di kedua tangannya terangkat tinggi. Adiknya sudah tak sabar lagi.

Ibunya mulai memindahkan beberapa mangkuk isi sup jagung, gurita goreng, telur gulung dan beberapa potong ayam goreng ke meja makan. Melihat Dayeong, adiknya menjilat bibirnya tak sabar, Shindong tak mengeluh. Ia juga sangat lapar.

“Mari makan!”

Tangan-tangan ketiga kepala itu sibuk dengan sumpit masing-masing. Beradu cepat membersihkan isi mangkuk. Shindong tak ikut bergerak cepat. Ia sendiri lebih suka makan lambat, mengecap setiap kunyahannya.

Sampai sang ibu menatap datar padanya dan berujar, “Akan lebih baik kau masuk ke SMA dengan badan lebih kecil. Lihat perutmu itu. Aduh, tidak ada wanita yang akan jatuh cinta denganmu kalau begitu.”

Shindong akhirnya meletakkan sumpitnya dengan wajah sebal. “Aku masuk ke SMA untuk belajar, Bu. Bukan untuk mencari pasangan.”

Sambil memberengut ia beranjak berdiri. Napsu makannya lenyap meski perutnya belum puas terisi. “Aku sudah selesai.”

Ketika ia sampai dipertengahan tangga menuju kamar, didengarnya suara ibunya menyahut, “Baguslah. Berdietlah mulai malam ini. Ibu sudah menambah persediaan apelmu di lemari pendingin.”

Shindong tak bisa membayangkan betapa ia akan sangat senang jika mempunyai seorang ibu sebaik ibu teman-temannya. Ibu yang selalu mengusap kepalanya dan berkata, “Kau sudah melakukan yang terbaik.” Atau ibu yang khawatir saat melihat wajah murung anaknya sepulang sekolah dengan pertanyaan “Apa ada masalah?” Dan ibu yang tersenyum lembut setelah ia berbuat kebaikan, “Kau membuat ibu bangga.”

Tapi pada kenyataannya Tuhan melahirkan ia dari seorang ibu yang hanya peduli pada berat badan. Terdengar konyol. Tapi Shindong menghabiskan separuh hidupnya untuk mendengas ibunya berdecih sambil mengolok bahwa tak akan ada gadis yang menyukainya. Bahkan setelah sekian banyak hal membanggakan yang ia lakukan, ibunya tak pernah sekalipun mengeluarkan pujian.

Hidup terus mengalir membawa Shindong pada arus perubahan. Shindong kini lebih tinggi beberapa senti dan berhenti di angka 178. Berat badanya pun bertambah menjadi 75 kilo. Itu tak jadi masalah, ia tetap cinta akan tubuhnya. Tapi dari tahun ketahun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Tidak ada seorang pun yang mengejek kegemukannya sebanyak yang ibunya lakukan.

Ia sendiri masih tetap membenci ibunya. Sekalipun begitu ia tidak melewatkan waktu senggangnya tanpa membantu merawat adiknya dan menjaga sebuah toko kecil warisan keluarga.  Ia masih tahu diri. Ibunya berjuang seorang diri tanpa suami yang telah pergi meninggalkan mereka saat Shindong beranjak lima tahun.

Semua hal buruk dalam keluarganya membuat Shindong termotivasi untuk belajar lebih giat. Ia selalu berada di peringkat teratas dari urutan anak-anak pandai. Dan itu bertahan sampai Shindong duduk di banggu kuliah yang membawanya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan besar.

Tapi waktu tak juga menghapus keburukannya di mata sang ibu. Shindong pikir, di mata sang ibu, ia tak lebih dari seorang anak berlebihan berat badan yang membuatnya muak setiap mereka makan malam. Ia tak pernah melewatkan hari tanpa menemukan ibunya berdecak sambil menatapi tubuh Shindong dari ujung kaki sampai kepala seakan Shindong telah melakukan hal besar yang mengecewakan dirinya.

Ia benci ibunya. Membenci cara ibunya memperlakukan Dayeong sebegitu istimewa sedangkan pada dirinya malah sebaliknya. Membenci cara ibunya menatapinya setiap Shindong memakan sedikit jatah makan malamnya. Membenci cara ibunya mengingatkannya tiap hari bahwa berat badannya tidak terlihat seperti sedang berdiet.

Sampai di suatu malam ketika Shindong sengaja tidak datang ke meja makan, setelah seharian ia lelah bekerja keras dan memastikan ibunya mendengar pernyataan sepulang ia bekerja tadi bahwa ia tidak menyentuh makanan seharian. Shindong mengira ibunya akan berbaik hati memanggilnya untuk makan malam, tapi tidak juga terdengar suara ibunya sampai jam menyentuh angka delapan.

Shindong mengumpat turun dari tempat tidur. Menarik jas selututnya dari gantungan belakang pintu dan memakainya buru-buru.

Ibunya sedang tertawa-tawa bersama Dayeong, saat ia melintas di depan mereka tanpa berkata-kata.

“Mau ke mana kau Shindong?”

Kemarahan Shindong sudah meninggi sampai di ubun-ubun. Ia tak menjawab karena kini mulutnya hanya ingin menyerukan serentetan kalimat kasar. Ia pergi begitu saja setelah memakai sepatu dan menutup pintu geser rumahnya dengan kencang.

Shindong berakhir duduk di salah satu kedai makanan di pinggir jalan. Ia baru saja akan memesan sebotol soju ketika Sungmin muncul dengan wajah kuyu.

“Maaf, aku baru sampai.”

Shindong mendelik tak percaya. “Aku bahkan baru ingin memesan.”

Ia tertawa kecil lalu membalas, “Aku sedang berada di jalan untuk pulang saat kau menelpon.”

“Apa aku merepotkanmu?” Shindong meringis tak enak. Sungmin sendiri tidak terlihat baik-baik saja. Matanya setengah terbuka dan dasi di lehernya sudah terlepas miring. Ia terlihat berantakan dan lelah.

“Aku baru pulang bekerja. Niatnya mau lembur sampai pagi tapi badanku sudah tidak kuat lagi.”

Mereka terduduk berhadapan di bawah tenda kedai sederhana itu. Hal yang paling Shindong suka selain bahwa Sungmin selalu datang setiap ia membutuhkan, lelaki itu juga tak pernah malu untuk makan di tempat sederhana seperti sekarang. Bahkan Sungmin sering merekomendasikan kedai tteokbokki  yang enak untuknya. Dan semua itu tidak tercermin dari penampilannya sebagai seorang calon CEO muda di perusahaan ayahnya.

Shindong melirik keluar dan tak menemukan mobil Sungmin.

“Ke mana mobilmu?”

“Aku parkirkan di depan gang. Kalau masuk ke gang akan banyak orang yang protes malam-malam.”

Mereka tertawa dan Shindong merasa beruntung mengenal Sungmin.

Sungmin memanggil pelayan dan memesan dua cangkir kopi hangat setelah perdebatan kecil tentang Sungmin yang menolak untuk memesan soju. Sungmin tak mau tertangkap polisi dalam keadaan mabuk karena segelas saja ia teguk, kesadarannya akan langsung hilang. Dan karena ia tak mau minum kopi seorang diri, Shindong terpaksa memesan minuman yang sama ditambah dua porsi masing Dakkocchi dan Goguma.

Setelah mereka mendapat pesanan, Sungmin memperhatikan wajah Shindong yang sejak tadi sudah muram.

“Jadi, ada apa?”

“Aku rasa ibuku sudah keterlaluan.”

Shindong memijit kepalanya. Dan Sungmin tersenyum sedih serasa ikut terbebani.

“Dia sama sekali terlihat tak senang bahkan setelah semua yang aku dapatkan sekarang. Aku tidak tahu apa yang mengisi kepala ibuku. Aku—” Suara lelah Shindong terhenti berganti jadi hening. Bahunya menurun menyembunyikan kepalanya yang menunduk.

“Apa ibuku akan tetap seperti itu jika aku bukan siapa-siapa? Jika aku bukan Shindong yang sekarang, apa dia akan terus memintaku menjadi kurus?”

“Apa kau pernah bicara baik-baik dengannya?”

“Sebanyak apapun aku bicara dan menangis dia tak akan peduli. Obsesinya mempunyai anak kurus tidak bisa dibantah oleh siapapun.”

Sungmin memilih diam menunggu Shindong menyelesaikan ceritanya.

Pandangan Shindong ada di titik yang sama, di seberang jalan. Lalu ia melanjutkan dengan desahan berat. “Jika orang lain berpikir hidup mereka berat dengan masalah karir dan pekerjaan, sedangkan aku di sini hampir gila hanya karena ibuku memintaku menurunkan berat badanku.” Shindong tertawa mengakhirinya sebelum meneguk kopinya.

“Kenapa kau tidak mencoba diet. Itu juga untuk kesehatanmu.” Sungmin berkata dengan hati-hati dan shindong mengangguk-angguk memaklumi.

“Akhir-akhir ini aku sudah mengurangi porsi makanku, tapi mendenga ibu terus mengomel, aku jadi semakin stres dan kembali makan banyak.”

“Kupikir ibumu hanya ingin kau hidup lebih sehat. Hanya saja caranya salah.”

“Mungkin.” Shindong memandang keluar saat rintik hujan mulai turun. Mereka terduduk di sana sampai tengah malam.

Shindong pulang dengan Sungmin yang memberikannya tumpangan. Setelah melambaikan tangan dan berterima kasih, Shindong melompat turun dari mobil dan berlari kecil melewati pekarangan rumah. Ia disambut adiknya yang menangis tersedu-sedu di depan pintu.

“Kenapa kau?”

“Ibu belum pulang.”

“Apa? Ke mana?”

“Tadi ibu bilang mau mencari kakak. Katanya kakak bisa sakit kalau terkena air hujan sedikit saja, jadi dia keluar sambil membawa payung. Tapi ibu tidak kembali sampai sekarang.”

“Sudah berapa lama ia pergi?”

“Satu jam yang lalu.”

Shindong menggeram tak senang.

Itu benar. Shindong memang mudah terserang flu jika ia sedikit saja tersentuh air hujan. Sewaktu kecil ibunya tak pernah mengijinkan ia bermain di bawah hujan seperti teman-teman sebayanya. Tapi ia tak pernah menyangka ibunya akan tetap memperlakukan seperti ini di usianya yang hampir menyentuh kepala tiga.

Ia menerima payung dari adiknya dan bergegas menerjang hujan mencari ibunya. Petir menyambar-nyambar, tanda-tanda hujan akan mereda sepertinya tidak akan terjadi beberapa menit kedepan.

Langkah kaki Shindong memecah kubangan air membuat ujung celananya basah dan kotor oleh tanah. Sayup-sayup dari jauh dilihatnya bayang wanita yang ia kenal. Ia mempercepat jalannya sampai sosok itu berhenti dan mereka berhadap-hadapan.

“Ibu. Kenapa ibu pergi?!” Shindong harus berteriak karena cipakan hujan hampir meredam suaranya. Tapi teriakan itu juga untuk melepas kemarahannya.

“Kau lupa membawa payung. Tadi saat mencarimu ibu membeli ini sekalian. Persediaan di dapur habis.” Senyum itu mengembang di wajah ibunya yang sudah berpeluh akan air hujan.

Shindong melirik kantong plastik transparan yang ibunya bawa. Sekantong apel.

Sambil tersenyum masam Shindong betanya, “Apa cuma itu yang ibu pikirkan?”

Tiba-tiba sesuatu yang selama ini ia pendam bergejolak minta keluar. Sampai mulut bergerak dengan serentetan kalimat yang meninggi di tiap ujungnya. “Apa tidak ada hal yang ibu pikirkan selain ingin melihatku kurus? Apa ibu tidak mendengar bahwa aku sudah bahagia dengan apa yang ada pada tubuhku? Bu, aku juga ingin makan daging. Aku juga ingin makan masakan ibu yang lain. Berhenti menyuruhku untuk diet!”

Sentakan di akhir kalimat itu membuat ibunya membatu. Shindong terengah-engah puas. Seperti ia baru saja menumpahkan segala hal buruk yang bergumul dalam hatinya. Shindong lepas. Ia puas.

Untuk seperkian detik ibunya tampak terkejut. Tapi setelah setitik air mata turun dari pipi sang ibu, Shindong merutuk dan bertanya hal apa yang telah mulutnya serukan tadi.

“Bodoh! Anak bodoh!” Ibunya mulai memukul tubuh Shindong sambil terisak-isak. “Apa kau masih tak mengerti kalau ayahmu meninggal karena penyakit jantung? Apa kau tidak melihat kenapa ayahmu bisa sekarat di akhir hidupnya? Itu karena ia gemuk.”

Payung dan sekantong plastik lepas dari genggaman, ibunya sibuk menangis di balik tangkupan kedua tangannya. Shindong cepat-cepat memayunginya dan membiarkan punggungnya sendiri kebasahan.

“Aku tidak ingin kau pergi seperti ayahmu. Aku hanya tidak ingin melihatmu pergi. Apa kau tidak mengerti?”

Kedua bahu ibunya bergetar. Hati Shindong tergerak untuk memeluknya. Tapi ia hanya bisa menatap dalam diam. Kedua tangannya terkepal. Perasaan benci dan ego masih membumbung dalam kepalanya.

“Sudah kukatakan ratusan kali, Bu. Aku baik-baik saja. Aku bahkan masih bisa berpikir dengan otak waras. Aku bisa bergerak tidak kalah lincah dari teman-temanku. Ibu tidak tahu itu, kan? Kalau aku selalu mendapat juara di kelas dan aku juga pernah memimpin klub menari di sekolahku dulu. Ibu tidak pernah tahu karena ibu sibuk menyuruhku menjadi kurus.”

“Maaf. Maafkan ibu.” Suara tangis ibunya semakin pecah. Hati Shindong bergejolak. Ia tak lagi menahan diri untuk mendekap ibunya dalam satu pelukan.

“Tidak. Tidak ada cerita di dunia ini seorang ibu meminta maaf pada anaknya. Jangan membuatku semakin buruk di mata Tuhan, Bu.”

“Aku akan berusaha menurunkan sedikit berat badanku. Asal ibu tidak mengingatkannya setiap hari. Asal ibu mau menepuk kepalaku seperti apa yang ibu lakukan pada Dayeong. Aku juga ingin perlakukan seperti itu, Bu.”

Ibunya mengangguk dalam pelukannya.

Shindong tersenyum kecil. Beberapa beban hatinya serasa lepas ikut terbawa arus air malam itu.

.

 —

Note:

Dakkocchi : sate ayam korea

Goguma : gorengan ketela goreng

Cerita ini terinspirasi dari salah satu episode Hello Councelor (semacam acara talk show yang mendatangkan orang-orang yang punya masalah dan kepingin curhat) dan merupakan kisah nyata. Sewaktu nonton aku langsung teringat Shindong dan perlu untuk membuat ini jadi bahan cerita ahaaha

Aku membuat ini semalaman suntuk (di tengah keterpurukanku pada laporan) dengan sepenuh hatiku. Kuharap banyak orang yang membacanya XD

🙂

Advertisements

2 thoughts on “Some

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s