Dianxin

geng fic

Dianxin (点心)

Cherry Hee © 2015

Dim sum itu berhasil menumbuk semangatnya, menyentuh hatinya.. dan meyakinkannya bahwa masih ada kesempatan untuk menghapus dosanya.

.

“Hangeng.. kau tidak mendengar ceritaku ya?”

Hangeng menoleh dengan wajar, mulutnya masih tersumpal satu bola bakso ikan.

“Sialan,” umpat Zhoumi setelah menemukan sosok yang sejak tadi kawannya perhatikan. Percuma saja dia mengoceh panjang-panjang.

“Namanya Jiayi. Jika kau ingin tahu itu.” Zhoumi menyandarkan punggungnya di kursi. Melipat kaki dan tangannya lalu memandangi Hangeng yang pura-pura kebingungan. “Ah tentu saja kau ingin tahu itu.”

Hangeng kembali menyeduh tehnya tenang. Selagi Zhoumi berkerut kening tak habis pikir akan kelakuannya, ujung matanya mencuri lihat bayang gadis di seberang jalan. Gadis penjaga kedai dim sum.

Hangeng bisa saja menyeberang ke sana. Berpura-pura duduk sebagai pembeli lalu berbasa-basi tanya ini itu lalu berakhir mendapat nama dan nomor ponsel gadis itu. Dia bukan lelaki pengecut untuk urusan begituan. Tapi entah kenapa gadis itu berbeda dari gadis-gadis sebelumnya. Seakan Hangeng tak punya modal apa-apa untuk diperlihatkan. Jaket kulit dan celana lusuh, penampilannya sudah seperti orang tak baik. Meski sampai kini ia tak berani menindik telinganya seperti yang Zhoumi lakukan. Takut jarum, alasannya.

“Bagaimana kau bisa tahu namanya?”

“Aku mencarikannya untukmu. Semingguan ini kau meminta makan di tempat yang sama. Kupikir kau jatuh hati dengan bibi penjual bakso ikan. Ternyata….” Zhoumi mendesah panjang.

Hangeng tertawa pelan dengan suara rendah. Rambutnya yang telah diwarnai kuning bergoyang tertiup angin jalanan.

“Aku bisa saja mencari lebih banyak lagi tentang dia untukmu. Tapi aku ingin malam ini kau bisa fokus dulu pada pekerjaanmu.”

“Tentu saja.” Hangeng meletakkan cangkir tehnya ke atas cawan dengan suara kencang. Gejolak semangatnya telah kembali.

Tidak ada yang banyak disiapkan untuk ia bekerja. Setelan yang sama dari setumpuk pakaian di dalam petak besinya. Setelah siap ia melompat turun dari jeruji besi tempat ia tidur yang berada paling atas. Berjinjit-jinjit melewati sekumpulan laki-laki tua penghuni kamar sempit bersama dirinya. Mereka duduk di lantai, saling berbagi makanan. Disekitarnya berdesakan barang-barang mereka termasuk panci, pakaian, kipas duduk kecil dan barang murahan lain.

“Mau pergi bekerja?” Salah satu laki-laki kurus beruban bertanya.

Hangeng mengangguk. “Aku pergi dulu Paman.”

“Cepatlah pulang! Aku akan menyisakan nasi untukmu!”

Hangeng menjawabnya dengan senyuman.

Hangeng pernah sekali menjelaskan bahwa dirinya bekerja di pabrik elektronik dan mendapat sif malam. Setelah itu para laki-laki yang sudah dianggapnya ayah sendiri itu tak pernah menanyainya lagi. Suatu keberuntungan karena Hangeng tak ingin menumpuk kebohongan lebih banyak.

Mobil jip butut milik Zhoumi telah menunggu. Hangeng melompat ke jok depan samping pemiliknya. Jok belakang telah diduduki rekan mereka, Henry.

“Jadi malam ini kita mau ke mana?”

“Tidak keluar dari wilayah Kowloon. Semakin cepat kita menyelesaikannya semakin cepat kita berpesta.” Zhoumi mengerling dengan seringai jahat. Di belakangnya Henry bersorak tak sabaran.

Mereka sampai di salah satu rumah susun bercat putih. Pagar besi di tiap berandanya dipenuhi jemuran. Tidak jauh beda dengan tempat Hangeng tinggal, meski keadaanya lebih berlipat keruh dari rumah susun itu.

Hangeng terus mengikuti Zhoumi naik ke lantai tiga. Suara orang-orang berbicara di balik pintu terdengar sepanjang mereka berjalan. Henry bergumam kesal betapa mereka berisik dan kenapa tak bisa jadi lebih pelan sedikit.

“Kalian minta uangnya. Jika dia tidak memberikan, rebut saja. Tenggat waktunya sudah lewat, dia pantas untuk mendapatkan pukulan.”

Sementara Zhoumi mengawasi dari luar pintu, Hangeng dan Henry diperintah untuk bergerak. Pintu dibuka diketukan ke lima. Laki-laki botak muncul dari balik pintu.

“Ah, Tuan.” Matanya membelalak begitu ia bertemu pandang dengan Hangeng.

“Kami butuh seribu dollar yang kau pinjam dari bos kami.”

“Aku tahu. Tapi bisakah kau beri waktu lebih lama lagi. Satu minggu saja, Tuan. Kumohon”

“Kau pikir bos kami cukup dermawan lagi setelah meminjamkanmu lima ribu dollar!” Henry menggeram tak puas.

Laki-laki tua itu rubuh begitu Hangeng menyentak maju. Ia terbaring dengan suara serak memanggil-manggil. Tidak kuasa ketika Hangeng dan Henry menggeledah setiap sudut, memungut beberapa lembar dollar dilipatan baju dan kolong kasur.

“Tidak banyak.” Henry mendengus. Memberikan hasil temuannya pada Hangeng.

“Bosku pasti menyesal sudak memberikan pinjaman ini padamu.” Hangeng mengakhirinya dengan tendangan keras di ulu hati.

Hangeng sudah cukup dewasa untuk tahu batas baik dan buruk. Dan dia sadar sekali apa yang selama ini ia lakukan adalah sebuah kejahatan. Setiap kali meluruskan punggungnya di balik kasur petak besinya, ia menyesal. Orang-orang yang mereka peras tak jauh miskin dengan dirinya.

Menyedihkan, si miskin membunuh si miskin yang lain untuk bertahan hidup. Dan memang ya,  semua ini demi bertahan hidup.

Hangeng berguling ke kanan. Kakinya terpaksa ditekuk karena kandang itu tak layak untuk tubuhnya yang menjulang. Tapi itu sudah jadi kebiasaan. Ia hampir tak pernah mengumpat lagi setiap bangun tidur dengan seluruh otot kaku ataupun kulitnya yang memerah digigiti kutu.

Malam ini selain menyesali kejahatannya, ada hal lain yang memenuhi kepalanya.

Jiayi.

Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa ia masih punya nyali untuk menunjukkan muka di depan gadis itu dengan seluruh dosanya yang menumpuk.

Keesokan paginya, Hangeng masih setia ditemani Zhoumi duduk di seberang kedai dim sum. Namun kali ini Hangeng harus kecewa. Gadis itu tidak terlihat di balik kaca lebar kedai itu.

“Dia tidak berangkat hari ini.”

“Apa?”

Raut keras Zhoumi melemas. Menunjukkan tawa geli mendengar pertanyaan bodoh kawannya.

“Jiayi tidak berangkat hari ini.”

Hangeng mendesah. Masih tidak percaya laki-laki di depannya tahu segala hal.

“Aku punya banyak kawan dan jaringan,” balas Zhoumi seperti baru saja membaca pikiran Hangeng. “Dan gadis itu bukan hal yang sulit.”

Ia merogoh beberapa lembar dollar dari sakunya. Menaruhnya di atas meja dan memerintah, “Pergilah ke tempat kemarin. Kita butuh banyak uang lagi. Bos belum puas dengan hasil kemarin.”

“Tapi dia sudah tidak punya apa-apa lagi.”

“Barang-barangnya. Apapun yang bisa dijual.”

Zhoumi menyesap habis tehnya dan beranjak. Sebelumnya ia berkata sambil menunjuk uang yang ia tinggalkan. “Aku masih ada urusan. Pergilah ke sana dengan taksi.”

Di balik wajah kakunya, sebenarnya Hangeng berat hati datang ke sana lagi. Ia tidak terbiasa untuk bergerak seorang diri. Dan lagi, tanpa alasan jelas, ada perasaan aneh saat melihat mata laki-laki tua itu.

Hangeng melangkah sampai ke pintu yang kemarin mereka datangi. Kali ini pintunya tidak tertutup rapat. Ada cela sedikit untuk mengintip. Sayup-sayup dari dalam suara tangis terdengar. Hangeng ragu untuk bergerak.

Seorang bibi muda keluar dari pintu samping. Terseok-seok memakai sandalnya lalu menghampiri Hangeng. “Permisi.”

Hangeng melangkah mundur memberi ruang bibi itu untuk masuk. Sebelum ia masuk, bibi itu berbalik lagi memandang Hangeng.

“Oh, apa kau teman Jiayi?”

Hangeng menggeleng. Apa nama Jiayi begitu pasaran?

“Tidak ya?” Bibi itu bergerak risau. “Tapi bisakah kau panggilkan ambulan? Ayah Jiayi sakit keras. Dia butuh pertolongan segera.”

“Brengsek kau Zhoumi! Kau sudah tahu kalau laki-laki itu ayah Jiayi, kan?”

Zhoumi tertawa di seberang telepon. “Seingatku kau tidak bertanya padaku di mana alamatnya dan siapa saja keluarganya.”

“Aku ingin berhenti.”

“Apa?”

“Katakan pada bos aku sudah muak.”

“Apa cinta membuatmu selemah itu, kawan?”

“Kau bisa menertawaiku karena kau belum pernah merasakan penyesalan menyentuh hatimu.” Hangeng menutup sambungannya tanpa menunggu jawaban dari seberang.

Suara ambulan dan tangis bersahut-sahutan terdengar sampai lantai atas. Hangeng melihatnya dari pagar besi, bagaimana ia telah berhasil melukai gadis yang ia sukai.

Siang mulai terik. Hujan menyisakan rintik-rintik.

Gadis pelayan itu sibuk berkeliling melayani meja-meja pembeli. Wajahnya terbasuh keringat lelah, tapi senyuman ramahnya tak pernah hilang. Ia mendekat begitu satu tangan terangkat dari salah satu meja.

“Anda mau pesan apa tuan?”

“Bisakah aku pesan sepiring dim sum saja?”

“Tentu.” Ia mencatat pesanannya baik-baik. “Apa anda juga mau pesan minuman?”

Laki-laki itu terdiam sejenak. “Tidak.”

“Kebetulan di jam makan siang seperti ini kami berbagi satu gelas teh hijau gratis. Apa anda mau?”

“Baiklah. Terima kasih.”

Jiayi pergi ke meja kasir sebelum masuk ke ruangan dalam. Ia berbisik pada temannya yang menjaga meja kasir. “Aku yang akan membayar teh tuan itu.”

.

Tiga buah dim sum daging tersaji cantik di atas piring. Hangeng memakannya perlahan, menikmati satu persatu dengan puas. Meski ia hanya dapat menikmati tiga buah dim sum, itu sudah lebih dari cukup.

Tiga buah dim sum yang berhasil menumbuk semangatnya, menyentuh hatinya dan meyakinkannya bahwa masih ada jalan untuk menghapus dosanya.

.

 ***

Note :

Simple banget yah, hehe. Ide awalnya pengen buat Hangeng si preman jatuh hati sama pelayan resto githu. Tapi ga bisa buat yang menye2.  Well, kapan-kapan nulis cast Hangeng lagi deh.

Dianxin (点心) lebih dikenal dim sum, dalam istilah bahasa kantonis berarti ‘makanan kecil’ ada juga yang bilang bermakna ‘menyentuh hati’.  Ide dasar ceitanya sudah dapat sebelum Hangeng ultah sih, tapi karena kebanyakan cari info sana-sini jadi agak lama. Dan sepertinya aku belum bisa ngeluarin semua fakta dim sum dari cina ini.

Info tentang dim sum bisa dibaca di sini 🙂 Dan rumah kandang yang aku sebut sebagai tempat tinggal Hangeng, info lengkapnya ada di sini.

Di fanfic kyuhyun Bus 21 aku lupa ngasih link infonya tentang Bus 21 ya. Bus itu beneran ada di Jerman, tepatnya di Aachen  Coba cek di sini jika kalian ingin tahu, sekalian modal sebelum jalan-jalan ke Jerman haha

Sankyu~

Advertisements

6 thoughts on “Dianxin

  1. ini gmn coba,q lupa komenq kayak gmn kemarin …q cum inget dim sumnya q bayangin kayak somay hahahaha…..
    huhuhu~ ….. pacar kmu kalo ujan suka ngilang y..kasih rante po’o biar anteng d tempat kkkk~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s