Call My Name

japan mag 10

Call My name

Cherry Hee © 2015

Itu kau. yang masih seindah kita terakhir bertemu,

yang memanggil namaku semerdu nada lagu

.

Kangin dapat mengubah seribu satu lirik menjadi nada bermelodi dengan pianonya. Ia terlahir untuk itu. Sejak kecil kemampuan menangkap bunyi-bunyiannya diasah sampai peka.  Sekarang ia bekerja sebagai penulis lirik-lirik duka maupun gembira. Lalu menjadikannya satu lagu berirama. Kangin senang akan pekerjaannya. Ia mencintainya, secinta ia pada kehidupannya.

Pagi itu tidak seperti jadwal-jadwal hari biasa, Kangin sudah bersiap dengan kemeja putih berlapis jas hitam. Rambutnya yang sehitam arang sedikit mengilap setelah dioles jel. Sambil bercermin, ia mendapati sosok bayangan di depannya terlihat muram.

Tidak ada yang salah dengan undangan reuni hari itu. Dia senang bisa bertemu wajah-wajah teman lama. Hanya saja, ia terlalu pengecut bertatap muka dengan satu wajah yang dulu mengisi hari-harinya seperti pelangi. Wajah yang dulu sering mendatanginya dalam mimpi.

Apa dia semanis dulu? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah bersuami dan berapa anaknya? Di mana ia tinggal? Apa di rumah suaminya?

Dan Kangin menyadari, ia belum siap mendengar apapun tentang gadis itu.

Sambil menghela napas keras, Kangin mengeratkan jas dan meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak terlalu banyak berpikir. Memangnya sejak kapan ia jadi lelaki melankolis yang suka mengenang masa lalu. Ia bukan jenis orang yang ingin memutar waktu. Tidak ada yang perlu kembali. Patah hatinya cukup sekali. Jika ada yang ia sesali, mungkin dia hanya ingin meminta maaf pada gadis-gadis yang dulu pernah ia kencani. Salah satunya, gadis yang nanti ia temui.

Beberapa saat kemudian Kangin sudah duduk di depan kemudi. Sebelum itu, ia mengecek ponselnya yang sejak tadi beberapa kali berdering. Dua panggilan tidak terjawab dari Leeteuk, temannya yang selalu bersikap sok bijak dan dewasa. Satu pesan dari Jongwoon, berisi sindiran yang membuatnya memutar bola mata jengah.

Kangin melajukan mobilnya dengan tenang tanpa menghiraukan teman-temannya itu. Dia tersenyum kecil mendapati teman-temannya tidak berubah. Masih seusil lima tahun yang lalu.

Mobil akhirnya berhenti di depan bangunan putih berpilar-pilar tinggi. Di sekeliling bangunan itu terkepung bunga-bunga ditanam rapi. Semak-semak setinggi pinggang dipotong sedemikian rupa, membuatnya tampak asri.

Sambil bertanya-tanya siapa yang mengatur acara itu, Kangin keheranan pada tempatnya. Orang macam apa yang membuat acara reuni di tempat yang sering dijadikan pesta pernikahan?

Ia kembali melangkah melewati jalan setapak lurus memanjang yang membawanya sampai pada sebuah tanah lapang cukup luas tepat di samping gedung. Ternyata acaranya dibuat outdoor. Terlihat lebih santai dan tidak kaku. Di sana beberapa temannya telah berkumpul. Sambil diiringi musik, suara tawa mereka beradu menimbulkan semangat tersendiri bagi Kangin.

Beberapa kali namanya dipanggil. Sambil sesekali berbasa-basi dengan beberapa teman, Kangin berkeliling mencari dua wajah teman karibnya.

“Hai, Kangin!” Ia berputar cepat dan di sana dua manusia terbaik yang dulu pernah dikenalnya melambai ke arahnya. Tersenyum secerah dulu.

Kangin mendekat. Bersalaman dan memeluk keduanya erat.

Ia kembali memperhatikan wajah mereka dari dekat. Mengamati perubahan dua temannya yang lama berpisah. Leeteuk yang tertua diantara mereka tidak banyak berubah. Wajahnya seramah dulu. Cekung kecil sesekali terlihat di pipi kirinya saat ia tersenyum lebar. Dan satu temannya yang lain, Jongwoon, kini tampak agak menyusut—lebih ramping. Meski lelaki beristri itu terlihat lebih terawat dan sehat.

“Akhirnya kau tidak punya alasan untuk membatalkan pertemuan kali ini ya.”

Kangin berdecih main-main. “Hei, siapa yang dua bulan lalu beralasan sibuk mengurus bayinya?”

Leeteuk tertawa dan menepuk-nepuk bahunya.

“Mungkin beberapa bulan nanti aku juga akan beralasan seperti itu.” Jongwoon menimpali sambil tersenyum miring.

“Kau akan punya anak?” sahut Leeteuk menyimpulkan.

Jongwoon mengangguk-angguk. “Ya, akhirnya.”

“Yah, akhirnya!” Kangin berseru kencang sebelum menubruk temannya itu dalam sebuah pelukan lagi. Diikuti Leeteuk hingga mereka bertiga berpelukan dan berputar-putar seperti sekumpulan anak kecil. Kegaduhan kecil itu berakhir dengan tawa mereka.

“Jadi Kangin, kapan kau akan menyusul?” Leeteuk bertanya saat euforia mereka mereda.

Kangin mengibaskan tangannya. Menyambar satu gelas bersoda dan meneguknya pelan sebelum menjawab tenang. “Itu bertanyaan basi, kawan. Apa kau tidak punya pertanyaan lain yang lebih menantang?”

“Lihat, Kangin kita tidak berubah,” Leeteuk menggeleng sambil memasang wajah berduka. Lalu menambahi, “Kau harus mengingat usiamu. Sekarang kau tidak punya alasan untuk tidak mencari gadis baik, kan? Kau berkecukupan dan aku yakin paman Kim ingin cepat-cepat menimang cucu. Aku bicara seperti ini bukan aku ingin memojokkanmu. Sebagai teman, aku ingin kau mendapat kehagiannmu. Bagi lelaki, mempunyai seorang keluarga adalah kebahagiaan yang tidak tertandangi oleh apapun. Hidupmu akan lebih sempurna.” Leeteuk berbicara seperti itu dengan mata yang berkilau-kilau, seperti ada puluhan bintang di sana.

Kangin tersenyum kecil. “Ayahku tidak pernah mempermasalahkannya, meski akhir-akhir ini ibuku yang lebih ribut. Tapi yah, aku mengerti. Kau memang temanku yang paling baik.” Kangin berkedip, melempar kode pada Jongwoon dan membuat mereka berdua terkikik diam-diam.

Sedangkan Leeteuk telah sibuk memutar kepalanya menyapa teman-temannya yang lain. Sampai ia menoleh pada Kangin lagi dengan wajah menggoda. “Dia datang, Kangin.”

Sebelum Kangin bertanya siapa yang Leeteuk maksud, lelaki itu sudah lebih dulu berpaling lagi dan berseru, “Hai Youngji!”

Seketika tubuh Kangin jadi kaku mendengar nama itu disebut. Gadis itu benar-benar datang—tentu saja ia datang Kangin! Youngji salah satu gadis populer dengan kepandaiannya. Ia satu-satunya gadis yang Kangin pikir memiliki masa depannya akan secerah matahari pagi. Tidak diragukan lagi, Youngji bisa mendapat apapun di dunia ini dengan kemampuan prestasinya yang di atas rata-rata.

“Hai semua.”

Kangin berusaha melengkungkan bibirnya yang membatu. Gadis itu berdandan manis tapi tetap santun. Balutan gaun krem lembut sulutut dan lengan pendek dengan renda-renda bunga kecil di kerahnya. Ia terlihat cantik secara natural.

“Kau terlihat baik. Bagaimana kabar bibi dan paman di rumah?” Kangin berusaha bertanya sebiasa mungkin. Kedua temannya diam memperhatikan dan saling melempar pandang.

“Baik. Mereka masih memperlakukanku seperti bayi.” Youngji terkikik kecil. Kangin terkesiap. Gadis itu jadi berkali-kali lipat lebih manis ketika tertawa seperti itu.  “Kau sendiri apa masih sibuk dengan pianomu?” Gadis itu berbicara dan tersenyum normal. Tanpa sadar Kangin yang sejak tadi menahan napas bisa kembali menghirup udara penuh kelegaan.

Ia mengangguk sekali lalu menjawab, “Ya, begitulah.”

“Mau menyumbangkan lagumu untuk kami?”

“Apa?”

“Aku panitia acara ini. Akan menyenangkan kalau kau mau menyanyikan satu lagu untuk kami. Benarkan?”

Leeteuk dan Jongwoon yang sejak tadi diam memperhatikan, mengangguk-angguk ketika gadis itu berpaling meminta persetujuan. “Ya, kedengarannya itu ide bagus.”

“Meski Kangin jarang bernyanyi, kupikir suaranya tidak  buruk-buruk juga,” balas mereka bergantian.

Kangin meringis. Di saat-saat seperti ini ia merasa kedua temanya lebih suka melihatnya terjun ke jurang.

Setelah sedikit paksaan dan imingan makan malam gratis oleh kedua temannya, Kangin terduduk di depan piano putih. Di atas panggung rendah di depan teman-temannya. Mereka meyambutnya dengan tepukan antusias. Sedikit menyemangati hati Kangin yang mengecil. Dia memang pemain piano tapi untuk urusan menyanyi di depan banyak orang, Kangin tidak punya kepercayaan diri besar.

Ia kembali melirik satu gadis yang masih memperhatikannya di sana. Memberinya semangat lewat matanya. Tiba-tiba Kangin teringat sebuah lagu lama yang ia buat. Sambil menegakkan punggungnya dan melemaskan jari-jarinya, ia berpikir apa tidak apa-apa ia membawakan lagu itu di depannya?

“Jangan banyak berpikir, cepat mainkan!”

Teriakan Leeteuk membuahkan tawa. Kangin terbangun dari keraguannya. Jarinya lalu bergerak, menghapal sendiri tempat-tempat yang harus dipijak.  Suara Kangin ikut masuk ke dalam melodi lembut itu. Tawa yang tadi terdengar perlahan mereda. Kangin tersenyum puas. Semua mata sudah teralih padanya termasuk gadis itu. Tapi ia tak berani menatap ke arah gadis itu berada sampai lagu berakhir. Meski gadis itulah sumber inspirasi lagu ciptaannya itu.

Iya, dia pengecut. Dan untuk pertama kalinya, Kangin berharap waktu berputar sekali lagi. Kembali ke masa di mana lagu itu belum tercipta.

Acara itu berakhir dengan meriah. Mereka pulang dengan perasaan puas.

Sesampainya di tempat mobilnya terpakir, seseorang memanggil namanya. Kangin menoleh dan mengenal wanita tua itu sebagai ibu Youngji.

“Bibi. Sudah lama tidak jumpa.” Kangin membungkuk lalu menjabat tangan wanita itu.

 “Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat lebih kurus sekarang.” Wanita itu menepuk-nepuk pipinya.

“Lebih baik kurus dari pada gemuk oleh penyakit, Bibi.”

“Siapa yang bilang. Orang-orang justru akan menilai kau berpenyakitan jika sekurus ini.”

Kangin tersenyum. Wanita itu tidak berubah. Ia bahkan masih suka menepuk pipinya seperti anaknya sendiri. Mendapati hal itu, Kangin bernapas lega. Sepertinya apa yang ia takutkan tadi tidak terbukti.

“Ayo datang ke rumah kami. Youngji baru saja mendapat pekerjaan baru di perusahaan yang lebih besar. Bibi menyiapkan beberapa makanan enak hari ini.”

“Benarkah? Ah, aku takut mengganggu.” Kangin menggaruk tengkuknya. Terkadang ia pikir ibu Youngji lebih menyukainya dari pada Youngji sendiri.

Tanpa dapat menolak, ibu Youngji menariknya ke mobilnya dan mendudukkan dirinya di kursi belakang bersama Youngji. Ibu dan ayah Youngji sendiri duduk di kursi depan.

“Maaf.” Di sampingnya Youngji berbisik sambil melirik kedua orang tuanya.

“Sebenarnya tadi aku sudah mencegah ibu, tapi kau tahu sendiri—”

“Tidak masalah. Aku senang bisa bertemu dengan mereka lagi.” Seakan senyuman Kangin menular, Youngji pun ikut tersenyum.

Menit-menit berlalu dengan hangat. Kangin benar-benar disambut seperti seorang anak yang sudah lama tidak pulang.

Matahari sudah meninggi ketika mereka duduk mengelilingi meja makan. Ibu Youngji tidak main-main tentang beberapa masakan enak. Dari penampilan dan harumnya saja Kangin sudah dapat merasakan kenikmatan makanan-makanan itu. Selain baik hati, ibu Youngji memang koki terbaik. Bahkan mengalahkan ibunya sendiri.

Setelah makan Kangin duduk di kursi taman belakang sambil menyeduh teh. Di sampingnya ada ayah Youngji yang penampilannya tidak berubah banyak. Dengan kacamata dan perutnya yang tidak penah membuncit. Rambut kepalanya agak menipis di bagian depan, tapi aura keramahan dan kewibawaannya tidak sedikit pun berkurang.

“Apa kau sudah menikah Kangin?” Kangin hampir tersedak ketika pembicaraan mereka tiba-tiba berganti topik.

“Belum paman.”

“Wah, kenapa? Kukira kau sudah. Aku dengar dari Youngji, banyak teman-temannya yang sudah menikah bahkan sudah punya satu dua anak.”

“Iya, itu benar. Tapi akhir-akhir ini aku masih sibuk dengan pekerjaan.”

“Pekerjaan tidak bisa jadi alasan untuk kau menundanya. Itu karena hatimu sendiri yang belum siap.”

“Mungkin. Mungkin juga karena belum ada yang mau, paman.”

“Siapa bilang? Aku yakin banyak gadis-gadis yang mau denganmu. Bahkan anakku pernah jatuh cinta setengah mati padamu,” sahut ayah Youngji dengan nada gurau.  “Kau mau mendengar sebuah rahasiaku?”

“Rahasia?” Kangin menunggu dengan keheranan.

“Ya. Rahasia tentang Youngji yang masih menyukaimu.”

“Paman bisa saja. Tidak mungkin. Sebenarnya aku sudah melukainya begitu banyak sampai-sampai aku merasa tidak layak untuk masuk ke rumah ini lagi.”

“Kau berpikir seperti itu? Tapi paman dan bibi masih menyukaimu.” Wajah ayah Youngji melembut. “Youngji. Anak itu sudah banyak memberi kami banyak kejutan. Dia seperti hadiah terbesar yang Tuhan kirim untuk kami. Dia pandai dan penurut. Tidak ada yang lebih bahagian bagiku melihatnya sukses sekarang. Tapi semua itu masih membuat kami khawatir. Tanpa seorang lelaki di sampaingnya untuk menjaganya. Kami akan lebih lega jika ia sudah berkeluarga.  Pekerjaan seorang ayah akan jadi lebih ringan jika anaknya dijaga suaminya. Dan kau satu-satunya lelaki yang aku percaya.”

Kangin menelan ludahnya gugup. “Aku sering bertanya-tanya kenapa paman dan bibi begitu menyukaiku.”

Ayah Youngji tertawa menanggapinya. “Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi kau lelaki pertama yang berani datang ke hadapanku dan memperkenalkan diri sebagai kekasih anakku. Kau juga lelaki pertama yang masuk dalam cerita panjang di meja makan kami. Aku bisa merasakan anakku benar-benar menyukaimu.” Ayah Youngji menyeduh tehnya lagi. Satu helaan apas terdengar sebelum ia kembali bersuara. “Meski kami sedikit kecewa kau memutuskannya. Kami menerima alasanmu untuk berlajar di luar kota dan fokus di bidangmu. Dan karena kau tak ingin pilihanmu itu menghambat jalan anakku, kau meninggalkannya dan membiarkannya bangkit sendiri. Tapi kau tahu, aku senang. Karena kau melakukan itu, anakku jadi anak yang kuat. Semua keinginannya bahkan telah tercapai.”

“Aku merasa malu karena itu paman.” Kangin menunduk. Merasa dirinya terlalu banyak menerima kebaikan dari keluarga gadis itu.

“Tidak. Kau juga berpengaruh dalam kehidupannya. Kau memberinya kekuatan dengan cara sendiri. Ia berjalan sejauh ini untuk membuktikan dia bisa seperti apa yang kau inginkan. Dia gadis kecil kami yang hebat, iya kan?”

Kangin mengangguk. “Dia memang hebat.”

“Jika kau berpikir dia sudah melupakanmu, kau mungkin salah. Sampai sekarang ia masih menutup hatinya pada semua orang. Kupikir, dia masih mengharapkanmu.”

Ada celah dihatinya yang kembali terisi kenangan masa-masa manis itu. Membuat Kangin rindu sampai-sampai ia ingin gadis itu lagi. Tapi Kangin cepat-cepat menepisnya. “Itu tidak mungkin paman.”

“Aku memang tidak tahu isi hati anakku. Tapi aku pernah membuka ponselnya. Dia masih menyimpan nomor lamamu. Beberapa kali ia ingin mengirimu pesan tapi berakhir dikotak penyimpannan tanpa pernah dikirim. Aku sedih melihatnya.”

“Kangin, paman tidak memaksamu untuk kembali. Paman hanya ingin meluruskan semuanya. Apa yang kau pikirkan selama ini salah.”

“Terima kasih paman.”

Langkah-langkah di belakang mereka mendekat. Hingga kepala Youngji menyembul dari balik pintu. “Apa yang ayah bicarakan dengan Kangin?”

“Urusan lelaki.” Ayah Youngji dan Kangin saling melempar pandang sebelum tertawa renyah bersama.

“Kuharap ayah tidak menakut-nakutimu tadi.”

“Tidak tidak. Paman tidak sejahat itu.”

Kangin memperhatikan Youngji yang melajukan mobil, mengantarnya pulang ke apartemen. Sebelumnya Kangin meyakinkan gadis itu kalau mobilnya yang tadi ia tinggal bisa ia urus nanti. Lagi pula malam ini ia akan keluar dengan Leeteuk dan Jongwoon.

“Sudah sampai.” Youngji mengintip ke bangunan apartemen Kangin. “Aku tidak tahu kau pindah ke sini?”

“Ya. Itu karena kau tidak pernah menghubungiku.”

Kangin tersenyum melihat gadis itu bergerak salah tingkah.

“Boleh kupinjam ponselmu?”

“Untuk apa?”

“Kalau kau ingin nomor baruku.”

Youngji menyerahkan ponselnya ragu. Tapi pada akhirnya ia membiarkan ketika Kangin memencet beberapa nomor di sana dan membuat ponselnya sendiri bergetar.

“Simpan nomorku baik-baik. Jangan sungkan untuk menghubungiku lebih dulu, oke.” Kangin mengedip. Lalu keluar dari mobil dengan hati lebih ringan.

Ia masuk ke dalam apartemennya setelah sebelumnya melambai pada mobil yang masih terparkir diam.  Ia ingin membuktikan apa yang telah ayah Youngji katakan. Membiarkan gadis itu bergerak lebih dulu adalah strateginya kali ini.

Kangin baru merebahkan punggungnya ke kasurnya yang empuk setengah berangan. Pikirannya melayang, apa saja yang ia temui sepanjang hari itu. Adalah dua temannya yang telah beristri meninggalkan dirinya yang sendiri. Bertemu kekasih lama dan calon mertua—jika bisa disebut begitu—yang baik hati. Seperti hidupnya tak sesusah yang ia kira. Lalu, apa yang ia ragukan? Ketika ia berpikir begitu, saku celananya bergetar. Senyumnya tidak berhenti mengembang melihat satu nama menghias layar ponselnya.

Ia membayangkan, serindu apa gadis itu padanya sampai punya keberanian untuk menghubunginya lebih dulu.

“Kangin.”

“Ya, Youngji?”

Jika waktu tak sudi berputar, maka Kangin akan menciptakan waktunya sendiri. Waktu yang dulu pernah ia rasakan bersama gadis itu.

.

Note:

Happy bday my lovely old man Kangking!

Ide selintas setelah semalaman jatuh tidur dan lupa ulang tahun Kangking hehe

Kalian bisa mendengar lagu yang aku maksud di dalam cerita ini >> di sini <<

Untuk Sungmin yang kemarin juga bertambah usia sebenarnya aku sudah menulisnya, tapi itu untuk salah satu lomba. Ga menang karena aku nulisnya ngebut kepepet deadline (kebiasaan buruk) dengan ide seadanya dan ending yang berasa jelek pake banget. Aku butuh menulis cerita baru dan akan mengepostnya di sini nanti. ^^

Bonus pic kangking jaman unyu hahaha

cute kangin

kim kangking

Advertisements

5 thoughts on “Call My Name

  1. Aih~ selalu langsung bikin mood naik tiap baca tulisan eonni kk
    suka eonni, ini soft romance yg keren…

    Penggambaran tempat, orangnya aku juga suka…
    Keep writing eon o/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s