[Her Brother] Fabulous

cool3

Her Brother Series: Fabulous

Cherry Hee © 2014

Kakaknya yang norak, sedikit gila dan sering berkelakuan jahat, ternyata tidak jauh mirip dengan malaikat pelindung. 

previous story: Pagi Petang

.

Cheryl sedang mengecek kembali jawaban yang tadi ia tulis dilembar ujian terakhir hari itu, sembari sesekali mendesah dan memegang keningnya. “Apa aku hanya menjawab satu nomor dengan benar?” gumamnya sambil membolak-balikkan catatannya. “Dasar bodoh!” erangnya tertahan ketika ia sadar ia benar-benar payah dalam materi kuliah itu.

Gadis itu sedang duduk dengan kedua temannya di bawah pohon pinus. Tempat yang damai, lebih damai dari perpustakaan karena setiap orang belajar dengan tenang di sana. Di antara pepohonan bersama angin sejuk yang sesekali berhembus lewat.

Tapi keheningan itu tidak bertahan lama sampai suara bisik para gadis di sana mengusik.

“Woah, siapa itu?!” Aerin teman Cheryl ikut memekik.

Baerim temannya yang gemuk menyambung, “Tampan sekali!”

Cheryl menggeleng mendengar kelakuan teman-temannya. Selalu seperti itu tiap melihat objek yang tampan sedikit. Penasaran siapa kali ini yang menjadi sasaran mereka, akhirnya Cheryl mendongakkan wajahnya dari kertas-kertas terkutuk itu. Dari kejauhan ia melihat wajah itu. Dalam sekali kedipan ia langsung mengenali siapa lelaki yang menarik perhatian  gadis-gadis di sana.

Lelaki berbalut kaos hitam dilapasi jas biru yang terlihat mahal dengan potongan rambut poni yang agaknya tidak seperti kebanyakan—karena lelaki itu model. Dan kacamata hitam di siang yang tidak terlalu terik. Terdengar sederhana dan… norak. Tapi Cheryl juga tidak mengerti kenapa mereka terkagum pada sosok itu. Apa istimewanya? Atau mungkin lelaki itu terlalu mencolok dengan gaya berjalan yang aneh. Seperti model.

Sambil menduga-duga seperti itu, tangan Cheryl buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas. Aerin gadis berkacamata kotak mengernyitkan dahi dan bertanya, “Mau ke mana kau?”

“Aku baru ingat aku punya urusan penting. Aku harus pergi.” Sambil berkata seperti itu ia lantas berdiri, menyandang tasnya kepunggung dan akan mengambil langkah seribu sebelum suara itu menghentikannya.

“Cheryl! Kim Cheryl!”

“Sial,” desis Cheryl tanpa sudi berpaling ke wajah si pemanggil.

Cheryl dapat merasakan kedua temannya memandangi dirinya dan lelaki itu bergantian.

“Kau sudah selesai, kan? Ayo pulang.” Lelaki itu menarik tangannya hingga mereka berhadap-hadapan.

Aerin menarik kacamatanya yang melorot dan cukup tidak yakin dengan adegan di depan matanya. Dia berpikir, bagaimana bisa Kim Cheryl yang terkenal ‘sendiri’ sejak masuk semester satu dan hanya mengenal segelintir teman lelaki, bisa mempunyai kenalan lelaki sekeren itu? “Cheryl, kau mengenalinya?”

“Sayangnya ya?” Cheryl meringis masam.

“Ada apa dengan wajahmu?” Lelaki itu memberengut. Begitu ia mengalihkan pandangannya pada dua gadis yang mengamatinya dengan kagum, lelaki itu tersenyum dan berseru semangat. “Hallo teman-teman Cheryl. Aku Kim Heechul. Kakak terkeren, tertampan dan terbaik Cheryl.”

Kedua temannya melongok seperti baru saja mendengar petir yang mengubah mereka menjadi batu. Setelahnya sunyi, hanya terdengar suara gemerisik daun tertiup angin.

Sebelum teman-temannya sadar, Cheryl segera menarik kakaknya dari sana. “Kami mau pergi, bye bye!”  Dia mengapit lengan Heechul dengan kedua tangannya dan menariknya menjauh.

Sampai kedua temannya mengamuk jauh di belakang.  “Kenapa kau tidak pernah bercerita kau punya kakak yang keren Cheryl!”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Cheryl sudah melepas kakaknya. Kini ia bersedeku dan memandangi kakaknya tajam. Karena oh demi apapaun, selama ia kuliah, lelaki itu tidak pernah berbaik hati mengantarnya apalagi menjemputnya. Heechul selalu beralasan harus berangkat pagi-pagi sekali, sedangkan jam kuliah Cheryl terlalu siang. Di siang maupun sore saat Cheryl pulang, dia pasti beralasan sibuk, sibuk dan sibuk. Cheryl tidak pernah menghubunginya untuk menjemputnya sejak saat itu.

Heechul mengerjap seperti tidak terjadi apa-apa lalu menjawab dengan tenang, “Tentu saja untuk menjemput adikku.”

“Aku tidak percaya.”

“Aku mau mengajakmu makan siang. Kau belum makan, iyakan?”

Heechul bertanya dengan lembut, membuat Cheryl memicing dan berkerut kening. “Pasti ada sesuatu yang terjadi ya. Kau baru ditolak seorang gadis?”

“Yak!” Heechul berseru geram. “Tentu saja tidak. Tidak ada sejarah di buku kehidupan seorang Kim Heechul yang namanya ditolak. Yang ada aku yang banyak menolak.”

“Terserah. Sebenarnya aku tidak ada selera untuk makan.”

“Oh ya, kenapa?”

Heechul menariknya ke tempat mobilnya dipakirkan.

“Tidak apa-apa.” Cheryl merasa beruntung karena kini ia berjalan di belakang lelaki itu. Karena jika tidak, pastilah kakaknya dapat melihat wajah bohongnya, lalu lelaki itu akan memulai bermain tebak-tebakan hal apa yang membuat Cheryl malas makan. Apa itu masalah teman yang menyebalkan atau dosen yang minta dicekik atau uang saku yang kurang? Sampai Cheryl tidak dapat mengelak lagi kalau kakaknya itu menemukan satu alasan bahwa itu karena ia melewati ujian hari ini dengan tidak baik. Dan jika itu benar-benar terjadi, hari Cheryl akan berubah jadi mendung dan ia terpaksa mendengar ceramah Heechul yang seberisik guntur.

Sebelum Heechul berbicara lebih lagi, Cheryl cepat-cepat membahas topik lain. “Bagaimana kalau kita pergi ke restoran tteokbokki di—”

“Heechul Oppa!” ucapan Cheryl terpotong. Seorang gadis berambut pendek menghampiri mereka.

Dari samping Cheryl dapat melihat kakaknya tersenyum lebar. Dan ia tidak dapat untuk tidak mendecih jijik.

“Han Ahrin?” Heechul melepas kacamatanya begitu gadis itu berdiri di depannya.

“Senang rasanya Oppa masih mengingatku.”

Cheryl memalingkan wajah dan memutar kedua matanya. Baginya bertemu gadis itu lebih buruk dari mendengar ocehan Heechul.

“Kau mau ke mana?”

“Aku mau pulang Oppa.”

“Oh, apa kau masih  tinggal di rumahmu yang dulu? Kalau iya, ikutlah dengan kami. Kami juga lewat jalan rumahmu.”

Cheryl mendelik. Siapa bilang mereka akan melewati jalanan rumah gadis itu. Dia berencana untuk pergi ke restoran di seberang barat sedangkan rumah gadis itu berada jauh ke selatan.

Tapi gadis yang menurut Cheryl tidak tahu malu itu malah menjawab dengan mata berbinar. “Apa tidak apa-apa?”

“Tentu saja.”

Cheryl tidak dapat menolak ketika gadis itu duduk di kursi depan dan membuat dirinya sendiri di kursi  belakang.  Cheryl yakin kakaknya tadi melihat ekspresi tidak sukanya saat gadis itu menyapanya. Tapi kakaknya tidak mau tahu. Tanpa persetujuannya, Heechul malah menawarkan tumpangan pada teman lamanya itu.

Tidak bisa dipercaya.

Sepanjang jalan dua orang itu berbincang seperti teman lama yang baru bertemu. Sesekali Ahrin entah maksud apa, menarik Cheryl ketopik perbincangan mereka. tapi respon Cheryl hanya mengangguk, mendengus dan tertawa sinis.

Cheryl sedang memberikan peringatan pada gadis itu. Dia juga bisa berubah jadi moster sekali ia dihianati. Gadis itu. Teman yang dulu paling ia percayai tapi diam-diam merebut pacarnya. Meski Cheryl sudah perlahan menghapus rasa sakitnya, tapi siapa yang sudi memaafkannya begitu saja.

“Sekali lagi terima kasih Oppa.” Ahrin sudah berdiri di luar mobil. Kepalanya menoleh ke jok belakang dan bertemu pandang dengan Cheryl. Masih dengan senyuman, ia melambaikan tangan dan berkata, “Cheryl, sampai bertemu besok.”

Cheryl tidak menanggapinya. Ia hanya memandangi gadis itu tajam sampai Heechul melajukan mobilnya dan menghilang di tikungan.

Heechul mengintip dari kaca depan. Wajah adiknya benar-benar terlihat menghibur. Bibirnya maju dan beberapa kali mengoceh tanpa suara. “Duduklah di depan.”

“Tidak,” sahutnya tanpa nada.

“Aku bukan sopirmu.” Heechul ikut menjawabnya datar.

“Kau juga bukan sopir gadis itu.”

Heechul menghela napas panjang. Ia tahu sebab apa adiknya itu murung.

“Aku mau pulang.”

“Niatku memang begitu. Jam istirahatku sudah habis. Aku harus kembali ke studio.”

Cheryl tersentak dan ia berteriak saat itu juga. “Kim Heechul!”

Tawa Heechul meledak di balik kemudi.

.

Ada jutaan tempat di dunia ini yang bisa Ahrin datangi. Tapi Cheryl tidak tahu kenapa gadis itu memilih kembali ke Seoul. Parahnya gadis itu seperti bayangan mengerikan yang masuk lagi ke kehidupannya.

Cheryl merenung di ruang tengah rumahnya yang sepi. Kedua orang tuanya masih sibuk di luar entah ke mana. Dan kakaknya belum pulang. Ia sendirian, terduduk di depan TV yang menyala dan dipangkuannya ada semangkuk besar popcorn manis. Dua kaleng minuman bersoda tergeletak di depannya. Masing-masing isinya lenyap setengah.

Cheryl sedang kalut. Dan tidak ada yang dapat menghiburnya kecuali makanan.

Pintu depan bersuara seperti ada yang membukanya. Cheryl terlalu malas bergerak, ia menerka mungkin itu salah satu dari keluarganya. Dan benar saja, suara Heechul langsung terdengar begitu lelaki itu masuk ke ruang tengah.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan?”

Cheryl tidak menjawab. Karena sudah jelas ia sedang makan dan menonton TV. Apa itu kurang jelas di mata kakaknya?

Tidak peduli pada Cheryl yang mengabaikannya, Heechul mengambil duduk di sampingnya. “Ayo jalan-jalan ke luar. Kita makan malam.”

Cheryl mengorek telinganya dan memandang kakaknya sambil mengernyit seperti mau muntah. “Tidak,” jawabnya.

“Apa? Kenapa?”

“Seharusnya aku yang bertanya kenapa? Seharian ini kau seperti orang sakit. Pura-pura berhati baik mengajakku makan tapi pada akhirnya mencampakkanku di jalan.”

“Itu kan bukan salahku. Jalan kantorku dan rumah tidak satu arah. Dan aku tidak punya waktu untuk berputar.”

Cheryl mengangkat tangan, tidak menerima alasan.

“Apa popcorn ini yang kau makan seharian?” Heechul melirik sisa makanan adiknya dengan wajah dibuat sedih. “Aku tahu kau lapar. Jadi jangan menolak.”

Lalu Heechul mengecek jam yang melingkar keren di pergelangan tangannya. “Waktumu hanya lima menit untuk ganti baju. Mulai dari sekarang.”

Cheryl menatapnya dengan sengit. Tapi ia tidak mau menolak. Ini hal langka yang pernah terjadi disepanjang hidupnya. Kim Heechul mengajak makan malam yang itu berarti ia akan mendapat makanan enak dan gratis pula. Cheryl tahu, dompet kakaknya itu tebal.

Jadi ia melompat dari sofa dan bergegas ke kamarnya. Mengganti bajunya secepat yang ia bisa dan mengikat rambut hitamnya begitu saja.

Selesai itu, kakinya berlari kecil ke ruang tengah. Mulutnya sejak tadi tidak melepas senyum. Ia berseru dengan menggebu-gebu, “Ayo berangkat!”

Tapi tidak ada yang menyahut di sana. Didengarnya ada suara-suara dari pintu depan. Ia berjalan ke sana dan mengintip dari punggung Heechul.

“Ada apa ia datang ke sini?”

“Oh.” Heechul berbalik. “Kau sudah siap?”

Cheryl mengangguk tapi rautnya masih penasaran. “Kenapa dia ke sini? Mau bertemu denganku?”

“Tidak juga. Ayo kita pergi. Aku tidak suka membuang-buang waktu.”

“Kau selalu membuang waktu liburmu dengan mengurung di dalam kamar dan bermain game.”

“Ah, kau benar.”

Mereka tertawa kecil, berjalan beriringan menuju mobil. Dalam hati Heechul merasa puas. Senang rasanya melihat gadis kecilnya tertawa.

Dan ia berjanji, senyuman itu akan melekat awet di wajah adiknya. Ia akan membuat adiknya nyaman dan bahagia.

Karena Cheryl adik satu-satunya yang ia miliki. Dan ia akan melindunginya dengan segenap kasih sayang yang ia punya sebagai seorang kakak.

.

Epilog:

Heechul mengganti-ganti chanel TV-nya dan sedikit kesal karena tidak ada acara yang seru. Sembari menunggu adiknya yang dia yakin akan berdandan melebihi dari waktu yang ia tentukan.

Ketukan di pintu rumahnya mengusiknya. Mulutnya terbuka baru akan meneriakkan nama adiknya untuk membukakan pintu—seperti kelakuannya biasa, menyuruh-nyuruh adiknya—Namun ia tersadar, hari ini ia ingin jadi kakak yang baik. Maka ia bangkit dan membukakan pintu.

Di sana ia menemukan Han Ahrin berdiri dengan kedua tangan menenteng sebuah kotak makan kecil.

“Selamat malam Oppa.”

“Ya? Kau mau bertemu Cheryl?”

Gadis itu menggeleng. “Aku mau memberi ini padamu. Karena Oppa sudah mengantarkanku ke rumah tadi.”

Heechul menerimanya. “Oh, begitu.”

Bibir Heechul melengkung ke samping. Membuat gadis itu menatapnya takut-takut, meski masih dengan senyuman yang dipaksa tetap ada.

“Aku ingin minta maaf, adiku agak susah memaafkan orang. Karena masa lalu memang tidak mudah dilupakan. Dari pada susah-susah membuat kue untukku, lebih baik kau memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada adikku. Dan kurasa, dia tidak akan membiarkan jika tahu kau menyukaiku.”

Heechul meregoh secarik surat dari saku celananya. Surat itu sudah tak berbentuk lagi. Terlipat-lipat sampai menjadi kecil. Heechul menyerahkannya dengan bentuk seperti itu.

Ahrin tercekat. Itu surat yang ia tinggalkan di mobil Heechul.

“Aku mau pergi dengan adikku. Maaf, aku tidak bisa mengajakmu masuk ke dalam.”

Ahrin menunduk, tidak berani mendongak. “Baiklah, aku pulang dulu, Oppa.” Dia berlalu dengan suara mencicit.

Heechul terus mengawasi gadis itu sampai menghilang. Lalu ia tersenyum. Ia tahu apa yang dilakukannya benar.

.

Note :

Hehehe yeah. Adiknya Heechul bernama CHERYL. BUKAN CHERRY (dicapslock biar ga ngamuk)

Sebenernya dulu, dulu-dulu sekali aku kepinginn punya kakak sebaik Leeteuk. Tapi entah kenapa sekarang berubah haluan jadi Heechul (Leeteuk: Dasar tidak setia!)

Tapi siapa sih yang menolak pesona duo old man ini v^^v

Anyway ini judulnya Her Brother, tapi nanti ada seri-seri yang berjudul githu. Ala Heebum Series dan Kuroshitsuji hahaha

Advertisements

7 thoughts on “[Her Brother] Fabulous

  1. Aahh sukakkk~ 😀 mau doong bikinin Her Brother versi Siwon-Jiwon *o* Akhir2 ini aku lg suka bgt sama mereka ㅋㅋㅋ *plak plak plak *siapa eloh nyuruh2 XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s