Hee Couple – Deep Under Barclayville (Part 1)

deep under barclayville

Cherry Hee © 2014

Hee Couple – Deep Under Barclayville (Part 1)

Tidak penting sebanyak apa orang mempercayaiku. Masalahnya, sebesar apa aku mempercayai diriku sendiri.

Keterangan cast :

  • Casey Kennard (Kim Heechul)
  • Dee Cavendish (Choi Raehee)
  • Matthew Cavendish (Shindong)
  • Spencer Cavendish (Lee Hyukjae)
  • Andrew Wright (Choi Siwon)
  • Dennis Park (Leeteuk)
  • Aiden Wood (Donghae)
  • Jordan Bailey (Kangin)

… cast akan bertambah dipart selanjutnya.

Mr. Kennard membalas wajah memberengut anaknya dengan senyum bijak. Dia tahu apa yang anak lelakinya itu rasakan. Dia pernah muda. Pernah menjalani masa di mana ingin memberontak dari segala peraturan yang ada. Gejolak untuk lepas dari jerat perintah yang tidak ia suka. Meski begitu, Mr. Kennard tidak akan membiarkan anaknya terus-terusan santai di zona aman. Anaknya harus tahu dari keluarga mana ia terlahir, apa yang harus ia perbuat dan apa saja yang terlarang.

Di seluruh penjuru London, keluarga Kennard cukup terkenal dengan aksi kepahlawanan sang kepala keluarga. Mr. Kennard memiliki insting tajam dalam memecahkan kasus pembunuhan yang merajalela di kota sibuk itu. Dengan keahliannya itu, tidak sedikit orang mulai mencari tahu keluarganya. Mengamati dan tak segan mengomentari privacy mereka dalam perbincangan malas sore hari di meja bar.

Hingga semua orang tahu Mr. Kennard memiliki seorang anak lelaki yang tidak bisa diharapkan meneruskan jejak kepahlawanannya. Casey Kennard, lelaki sinis itu sudah banyak dikenal orang dengan sikap tidak pedulinya.

Meski begitu, Mr. Kennard sama sekali tidak pernah menaikkan nada suara tiap kali anak itu berbuat sesukanya. Seperti ketika waktu mereka berada di tengah investigasi seorang wanita tua yang tewas di kamar mandi di rumahnya. Mr. Kennard dengan sabar menyuruh anak itu datang ke sana untuk memberi bantuan dalam mencari jejak pelaku. Tapi belum ada sepuluh menit anaknya mendesah bosan, berujar seenaknya bahwa wanita itu mati karena terpeleset. Lalu meninggalkan tempat begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu.

“Ayah menyuruhku datang ke desa pelosok itu?” Casey Kennard bertanya sekali lagi, seakan apa yang barusan ayahnya katakan adalah sebuah bualan besar.

Mr. Kennard mengangguk-angguk. Mata ramahnya berkilat jernih diterpa cahaya lilin.

“Tapi aku bahkan tidak pernah mendengar nama desa itu sebelumnya.”

“Aku tahu anakku. Tenang saja, akan kupastikan kau menikmati waktumu di sana. Kau bisa membawa Nathan bersamamu.”

“Apa?” Casey mendengus sebal. “Aku tidak butuh anak kurus itu.”

“Kau membutuhkannya untuk menjaga pola makanmu.”

Casey akan membuka mulut untuk kembali protes, ketika pintu tempat kerja ayahnya diketuk. “Permisi Tuan. Saya membawakan teh Anda.”

“Masuklah Nathan.”

Begitu pintu terbuka, pelayan lelaki itu menunduk pelan. Lalu masuk menyeberangi ruangan dan meletakkan bawaannya di depan Mr. Kennard.

Mata Casey menyipit memperhatikan. Mendumal akan keberadaannya yang tidak diakui. Pelayan itu hanya membawakan minuman untuk ayahnya sedang ia yang sudah duduk di sana lama tidak dibuatkan apapun sama sekali.

“Apa Tuan Muda ingin saya buatkan minuman juga?”

“Tidak!” sahut Casey terlalu keras.

Nathan terkesiap dengan wajah memucat, tapi sebelum keadaan semakin dingin, Mr. Kennard kembali bersuara. “Nathan, aku baru saja memberi anakku tugas untuk memecahkan kasus ke sebuah desa di barat Inggris. Aku mempercayaimu untuk ikut bersamanya. Tolong jaga dia untukku.”

Pelayan itu tampak terkejut. Tapi ia buru-buru menunduk patuh. “Baik Tuan.”

.

Casey berusaha untuk tidak membanting pintu ruang kerja ayahnya ketika ia keluar dari sana. Kakinya bergerak kaku menuju ruang tengah dan ia menemukan ibunya tengah duduk bersandar pada kursi di sisi perapian. Kakinya terangkat lurus, ditompang kursi kecil yang lebih rendah. Tangannya memegang buku tebal entah apa. Mrs. Kennard memang suka membaca dan Casey tidak dapat menemukan alasan apa yang menariknya dari lembar-lembar usang itu.

“Sayang, kenapa mukamu murung begitu? Kemarilah.” Mrs. Kennard melambaikan tangannya dengan anggun. Mengajak anaknya untuk mendekat. Dengan berat hati Casey mengikutinya. Mengambil tempat di depan Mrs. Kennard.

“Kau sudah mendapat tugas dari ayahmu?”

“Ibu tahu?” Casey mengalihkan wajahnya dari perapian. Berganti menatap ibunya dengan penuh selidik.

“Ibu tidak bisa menahannya. Kau tahu ayahmu keras kepala.”

Diam-diam Casey mendengus kecil. Dia tahu ibunya tidak benar-benar menahan kehendak ayahnya. Mereka sama saja. Bersekutu untuk mengarahkan dirinya ke lahan yang tidak ia harapkan.

“Ibu tidak khawatir kutinggal lama nanti?” Casey menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Berusaha terlihat tenang meski gejolak kemarahannya masih membumbung di dada.

“Khawatir tentu. Tapi aku percaya Nathan bisa menjagamu.”

Ibunya berujar seperti itu seakan pelayannya yang bernama Nathan itu adalah seorang baby sister kepercayaan. Casey menggeleng tak percaya.

“Ibu yakin kau bisa menyelesaikan kasus ini cepat. Dengan perasaan tak sukamu itu, kau akan segera kembali.”

“Aku harap begitu. Aku mau tidur dulu, Bu.”

Casey beranjak dan akan berjalan ke lorong menuju kamarnya, ketika suara ibunya menahannya. “Casey. Ibu percaya padamu, sayang.”

Satu ujung bibir Casey terangkat. Ia tak lagi menjawab dan kembali melangkah dengan hati yang semakin berat.

.

Keesokan harinya, Casey bangun lebih awal. Bukan karena rajin, tapi dia memang tidak benar-benar tidur semalaman. Ia terus berjaga oleh segala kekalutan yang menghantuinya. Dia tidak biasanya seperti ini. Tapi entah kenapa, mengingat kedua orang tuanya percaya akan kemampuan yang ia sendiri tak tahu, membuat semuanya semakin gelap. Jalan di depannya gelap dan suram. Di belakangnya, tidak ada jalan mundur. Casey tidak punya pilihan. Ia harus memecahkan kasus ini. Nama keluaganya sedang dipertaruhkan. Atau mungkin paling buruknya, ia sedang mempertaruhkan namanya sendiri sebagai satu-satunya anak keluarga Kennard.

“Selamat pagi Tuan Muda.” Suara dari luar terdengar. Casey mengenalnya. Pelayan pendek itu. “Sarapan sudah siap. Silahkan ke lantai bawah.”

Casey tidak menyahut sampai langkah kaki itu menjauh pergi. Ia memperbaiki tatanan rambutnya yang panjang keriting sebelum menarik satu jas hitam selutut dari dalam lemari. Memakainya sambil memeriksa bayangannya sendiri dicermin. Kerah tinggi jas itu menutupi lehernya. Menjaganya agar tetap hangat, meski sebenarnya ia sedang merasakan kepanasan oleh amarah.

Casey menyeberangi ruang makan dan melihat kedua orang tuanya telah siap di depan sajian pagi itu. Tapi Casey tidak berhenti. Lelaki itu terus berjalan ke ruang depan. Tadi Nathan melaporkan padanya bahwa kereta kudanya telah dipersiapkan. Casey tak ingin membuang waktu lagi. Lebih cepat sampai di sana, lebih cepat ia berpisah dengan mereka.

“Sayang, kau tidak sarapan?”

“Tidak.” Casey menjawab dengan senyum paksa. “Ayah, ibu, aku pergi dulu.”

Mr. Kennard berdehem pelan lalu ikut bersuara. “Kau harus makan. Perjalananmu akan jauh.”

“Karena itu, aku tidak ingin membuang waktuku.” Casey berbalik menghadap Nathan yang sejak tadi berdiri di belakangnya. “Ayo pergi sekarang.”

Begitu selanjutnya Casey berjalan ke teras depan tanpa peduli suara-suara langkah di belakangnya. Ibunya pasti sedang mengikutinya.

“Sayang, kau tidak mau memeluk ibu dulu?” Casey memejamkan matanya ketika mendengar perkataan itu. Keterlaluan, pikirnya. Sampai kapan ibunya memperlakukannya seperti bayi.

Maka dengan senyum palsu di wajahnya ia berbalik dan maju memeluk wanita itu dengan lembut. “Aku pergi dulu, Bu.”

“Jaga dirimu baik-baik dan cepat kembali.”

Casey mengangguk. Lalu menoleh pada ayahnya yang semenjak tadi diam tersenyum menatapnya.

“Buat kami bangga Casey.”

Casey membungkuk kecil sebelum benar-benar pergi masuk ke kereta kudanya yang membawanya ke tempat baru yang sama sekali tidak ia harapkan.

Kereta kuda itu melintas membelah pepohonan yang berjajar padat. Langit hampir saja menghitam tak terlihat oleh rimbunnya ranting dan dedaunan. Kereta sudah keluar dari jalur kota London.

Casey memperhatikannya lewat jendela di sisinya. Ia bersedeku dan memejamkan matanya, membiarkan kertas-kertas itu tergeletak di pangkuannya. Dia baru saja mempelajari catatan pembunuhan dari desa itu yang ayahnya berikan untuknya sebagai petunjuk.

Ia belum memulai apapun, tapi rasanya sudah lelah sekali. “Aku tidak percaya apa yang sedang kulakukan,” gumamnya rendah.

Atap-atap rumah yang melancip tinggi dan cerobong-cerobong asap berbatu mulai terlihat. Nathan tersenyum puas. Setelah menempuh perjalanan dua hari yang melelahkan akhirnya mereka sampai di desa itu.

Tidak beberapa lama kemudian, kereta berderak melewati jalanan desa. Penduduk berwajah muram mengawasi gerak mereka. Nathan sesekali tersenyum, tapi wajah mereka seperti sedang memakai topeng dengan ekspresi suram, tidak ada senyuman yang membalasnya.

Kereta berhenti di depan bangunan batu berlantai dua. Sebuah papan kayu terpasang di depan pagar tanaman yang mengelilingi bangunan. Berukir dan terbaca sebagai Penginapan Cavendish.

Casey turun begitu Nathan membukakan pintu kereta untuknya. Ia berdiri di sana sejenak, memperhatikan sekelilingnya. Ia mengamati dinding batu yang kehijauan ditumbuhi lumut dan tanaman merambat. Pekarangannya ditumbuhi tanaman rumput sepinggang yang hanya menyisakan jalan kecil menuju ke pintu. Terlihat seperti rumah tak terurus jika saja ia tidak melihat cahaya kemuning dari jendela-jendela kecil dan cerobong asap yang mengepul tipis ke langit yang gelap.  Mengingatkan Casey pada wajah-wajah penduduk yang menyambutnya dengan padangan dingin dan muram. “Tempat macam apa ini? Orang-orang aneh dan nama desa yang aneh.. **bark. Bark?” Casey mengeja nama yang ia ingat di kepalanya.

Nathan yang telah berdiri di sampingnya membalas sopan. “Barclayville Tuan.”

“Oh, terserah.”

Casey mengibaskan tangan kanannya tak peduli. Lalu mengiring langkahnya menuju penginapan itu. Meninggalkan Nathan di belakang yang terseok menyeret dua koper besarnya.

Wajah pertama yang ia lihat adalah seorang lelaki gemuk yang berdiri di belakang meja bar. Lelaki itu tengah sibuk tertawa dengan seorang lelaki beralis tebal yang duduk di depannya. Begitu mata bulat itu menoleh ke arahnya, ia membentangkan kedua tangannya dan berseru. “Oh oh, Tuan Muda Kennard, selamat datang!”

Tubuh bulatnya menyisip keluar dari pintu kecil pembatas bagian dalam meja dengan pengunjung, lalu  buru-buru mendekati dua tamu barunya.

“Saya Matthew Cavendish, pemilik penginapan ini. Saya sudah menunggu kedatangan Anda dari kemarin.” Lelaki itu tersenyum hingga kedua matanya menyipit.

“Matthew, aku mau pamit pulang.” Lelaki beralis tebal yang sejak tadi terdiam di kursinya bersuara.

Pemilik penginapan berbalik menghadapnya dan melambai. “Oh baiklah Jordan. Berhati-hatilah di jalan. Jangan sampai pembunuh itu menangkapmu.”

“Tidak lucu, Matthew.”

Ketika lelaki itu melewati Casey, ia mengangkat topinya dan menyapanya dengan senyuman tipis.

“Dee! Tolong bawakan barang bawaan tuan-tuan ini ke atas.” Matthew berseru lagi.

“Ya?” Seorang gadis menyahut dari ujung ruangan. Satu-satunya gadis di sana, bergaun coklat dan celemek abu-abu, yang tengah membersihkan beberapa meja yang sebelumnya tidak Casey perhatikan ada di ruangan itu. Ternyata tempat itu bukan hanya sebagai penginapan tapi juga semacam bar.

Gadis itu telah berdiri di depannya dengan muka tidak bersahabat. Mata gadis itu menelisik mantel perjalanan Casey yang sudah kusut lalu naik memperhatikan rambut kepalanya yang keriting.

“Siapa mereka Ayah?”

“Jangan bersikap seperti itu. Mereka tamu jauh dari London. Bawakan barang-barang mereka ke kamar atas.”

“Aku sedang sibuk maaf. Spencer bisa melakukannya.” Gadis itu berbalik hingga Casey dapat melihat rambut panjang  gadis itu yang sebagian terkepang dan terikat di belakang.

“Maaf hahha dia memang seperti itu pada pendatang baru apalagi orang-orang dari kota. Maaf atas ketidaksopanannya, Tuan.”

Itu pertama kalinya seorang wanita tidak menaruh hormat padanya, namun Casey berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak ingin menghabiskan tenaga di hari pertamanya hanya untuk mengomel. “Di mana kamarku?”

“Ya?” Sang pemilik penginapan mendongak dengan salah tingkah.”Oh ya. Spencer.”

Lelaki seusia Nathan keluar dari ruangan dalam. Berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar.

“Tolong bawakan barang tuan-tuan ini dan tunjukkan kamar mereka di lantai.”

“Baik. Silahkan.”

Meski badan lelaki itu terlihat kurus di balik baju putih lusuhnya, tapi kedua tangannya cukup kuat untuk mengangkut dua koper besar mereka dalam sekali angkat. Membuat Nathan terkesiap dan memandang iri ke arahnya.

Sebelum mereka naik ke tangga kayu menuju lantai atas, Matthew Cavendish berkata lagi, “Apa Anda ingin menu khusus untuk makan malam nanti Tuan? Kami mempunyai daging kalkun yang sangat enak.”

“Tidak. Biarkan pelayanku yang menyiapkan makanan untukku.”

Nathan tersenyum kecil dan menyahut. “Setelah membereskan barang-barang tuan muda, saya akan segera turun untuk memasak. Tolong siapkan bahan-bahannya saja.”

Matthew terdiam tiga detik memandangi dua tamunya dengan kening berkerut, tapi lalu menunduk patuh. “Baiklah kalau begitu.”

Pagi hari, kamarnya diributkan oleh suara gaduh ketukan pintu. Casey mengabaikannya dan semakin menenggelamkan dirinya di balik selimut.

“Tuan muda. Ada pembunuhan di rumah Bibury itu.”

Casey tersentak bangun begitu suara Nathan terdengar jelas. Ia mendapati pelayannya itu berdiri di sisi ranjangnya.

“Apa?”

“Pembunuhan ketiga.” cicitnya dengan raut pias.

Untuk beberapa saaat Casey butuh waktu untuk mencerna omong kosong apa yang pelayannya bicarakan di pagi buta. Sampai Casey tersadar bahwa ia sedang tidak tidur di kamarnya. Lelaki itu segera bergegas melapisi baju tidurnya dengan mantel hitam tanpa sebelumnya mau repot-repot mandi atau menyisir rambutnya. Ia berangkat ke rumah yang disebut dengan seekor kuda yang telah dipersiapkan Spencer. Nathan mengikutinya dari belakang dengan menaiki kuda yang lebih kecil.

Spencer dan kudanya berada di depan sebagai penunjuk jalan. Pagi masih awal, kabut tipis menutupi sebagian jalan. Mereka menembus kesunyian dengan derap kaki kuda yang menghentak-hentak. Begitu sampai di sana, kerumunan kecil orang-orang yang berdiri merapat disekitaran pagar rumah itu menyambutnya.

Casey menyerahkan tali kekang kuda itu pada Nathan, sebelum seorang lelaki bertubuh besar dan tinggi berjalan buru-buru mendekatinya. “Apa Anda Tuan Kennard?”

“Ya. Aku dikirim ayahku untuk menyelidiki kasus ini. Apa ini pembunuhan ketiga?”

“Saya kepala keamanan di sini, Andrew Wright.” Mereka berjabat tangan dan Casey bisa merasakan genggaman kuat lelaki itu. Casey menilai pastilah orang itu berkepribadian tegas dan berani. Jika benar, Casey akan merasa sangat senang mendapat teman kerja sepertinya.

“Ya Tuan. Sebelumnya ada dua korban yang meninggal di tempat yang sama bernama Dennis Park dan Aiden Wood.” Mereka berjalan menyeberangi halaman luas rumah tua itu. “Keduanya adalah tuan tanah dan bawahan. Tuan Dennis adalah pemilik peternakan terbesar di sini sekaligus pemilik sebagian tanah di desa ini. Ia sering berkeliling bersama Aiden di desa untuk menarik pajak dari para penyewa tanah.”

“Benarkah? Bukankah tanah desa ini dihadiahkan dari ratu inggris untuk penduduk?”

“Ya, tapi itu dulu. Kepemilikannya berubah dan Tuan Dennis membelinya lalu ia menyewakannya pada penduduk.”

“Oh, jenis lelaki yang banyak dibenci orang,” gumam Casey.

Lantai kayu rumah itu berderit bergitu mereka menginjak kaki di sana. Casey memperhatikan korban ketiga itu. Korban lelaki itu terduduk di depan pintu rumah dengan kaki lurus. Posisinya agak miring ke kanan dengan tangan kanan tertindih. Kepalanya miring menyedihkan.

“Korban ketiga ini bernama Jordan Bailey. Dia teman baik Dennis Park.”

“Siapa orang pertama yang menemukannya?”

“Seorang wanita tua yang mendatangi bukit ini. Dia sedang mencari rumput untuk makan ternaknya ketika dia melihat korban dalam posisi seperti ini. Dia menemukannya sekitar dua jam yang lalu”

Casey mengangguk mendengarnya lalu berjongkok di depan korban, mengamatinya dari jarak dekat. Bibirnya memucat biru. Pinggir mulutnya menetes cairan putih bercampur warna coklat seperti lendir.

“Dia lelaki yang mendatangi penginapan Cavendish kemarin sore.”

“Anda melihat lelaki ini sebelumnya?”

Casey tidak mempedulikan pertanyaan itu. “Nathan, sarung tanganku.” Pelayannya mengulurkan sepasang sapu tangan putih padanya.

Setelah sapu tangan itu terpasang, tangan Casey terulur pada kerah baju lelaki itu. “Apa ini noda kopi?”

Andrew mendekatkan kepalanya. Matanya menyipit memperhatikan bercak warna coklat yang mengotori kerah putih korban. Dia lalu mengangguk dan menyahut, “Aku tidak tahu. Tapi kurasa ya.”

“Keracunan?”

“Korban pertama dan kedua juga di temukan di tempat yang sama dan dalam kondisi yang sama. Kemungkinan pembunuhnya sama.”

“Jadi, rumah siapa sebenarnya ini?” Casey berdiri dan melihat langit-langit rumah itu yang sebagian pojoknya ditutupi sarang laba-laba.

“Rumah ini milik keluarga Bibury. Selama empat puluh tahun tidak pernah ditinggali karena seluruh anggota kelurganya meninggal. Mereka dirampok dan dibunuh di tengah perjalanan menuju kota. Selama itu juga tidak ada satupun penduduk yang berani mendekat ke sini. Karena beberapa dari mereka bersaksi pernah mendengar dan melihat hantu.” Andrew memelankan suaranya saat menyebut kata terakhir. Membuat Casey berdecih.

“Kalau begitu aku akan memeriksa ke dalam rumah ini.”

“Apa?” Andrew terbelalak, terkejut.

“Apa?”

“Tapi rumah ini terkutuk Tuan. Tidak ada satu pun yang masuk ke dalam.”

Casey melepas sarung tangannya dan menyerahkannya pada Nathan. Begitu lelaki tinggi itu berucap seperti itu, Casey menoleh dengan galak. “Maaf saja. Itu kepercayaan kalian penduduk desa ini, tapi tidak untukku. Aku orang London.”

“Iya. Tapi.”

“Kalau kau tidak mau menemaniku, biar aku yang masuk ke sana dengan pelayanku.”

“Tuan.” Nathan memanggilnya takut-takut.

“Apa?”

“Sebaiknya Tuan pulang ke penginapan terlebih dahulu. Tuan belum membersihkan diri dan sarapan.”

Wajah Casey melemas. “Baiklah. Kurasa aku memang perlu makan.” Casey pergi dari sana tanpa peduli lagi pada kepala keamanan itu. Sambil menaiki kudanya dengan malas, ia menyesal dengan pikirannya sendiri bahwa kepala keamanan itu tegas dan berani.

.

“Apa ini?”

Dalam perjalanan Casey berdiri di pinggir lapang yang berada di tengah-tengah desa itu. Dua buah kayu tinggi ditancapkan di tengah lapang. Di atasnya dipasang sebuah kayu secara melintang. Di kayu ketiga itu, Casey melihat ada tali dipasang terikat di sana.

Spencer ikut menghentikan kudanya. “Desa kami mempunyai hukum yang ketat. Bagi siapapun yang terbukti membunuh, mereka akan dijatuhi hukuman gantung dengan benda ini. Di sini, di saksikan seluruh penduduk desa.”

Nathan mendelik dan menggeleng tidak percaya. “Kedengarannya seram sekali.”

Casey tidak mengalihkan tatapannya dari kayu gantung. Ia bertanya lagi, “Apa pernah ada yang dijatuhi hukuman di sini?”

“Ya, sekali.” Spencer menjawabnya lirih.

Casey tidak lagi bertanya. Tiba-tiba rasa cemas melandanya. Kepercayaan diri yang tadi disandangnya leyap begitu saja. Pikirannya berkecamuk, bagaimana jika nanti dia menemukan pembunuh yang salah lalu orang tidak berdosa itu digantung di sini, di depan seluruh penduduk desa yang mempercayainya. Casey mendesah dengan pikirannya sendiri. Itu pikiran paling pengecut dari seorang detektif.

“Aku tidak percaya apa yang sedang kulakukan.”

Nathan menyadari wajah tuannya yang melemas. “Apa Tuan Muda baik-baik saja?”

Bibir Casey tetap merapat, membuat Nathan berseru dengan semangat. “Semua orang percaya pada Tuan. Karena itu juga Mr. Kennard mengirim Anda ke sini. Tuan pasti bisa.”

“Tidak.” Lelaki itu membalas dengan suara berat. “Tidak penting sebanyak apa orang mempercayaiku. Masalahnya, sebesar apa aku mempercayai diriku sendiri.”

Nathan terdiam. Begitu pun dengan Spencer. Ketiganya seakan melihat kematian jelas di depan matanya, di tempat eksekusi itu.

Note :

Bagi yang belum tahu, fanfic ini dibuat untuk mengikuti event dari kak Yuanithe Raeheechul.

Dari cover sampai tulisan, sebenernya aku ga punya kepercayaan diri untuk ngepostnya. Ada dua tiga hal yang berkejaran di kepalaku. Aku tipe yang susah nulis kalau lagi galau, apalagi galau karena tugas kuliah hehe.

Tapi sudahlah.. sudah terlanjur ikut event ini. Akan sangat disayangkan kalau aku menyerah sebelum mencoba. Tulisannya baru setengah jalan dan deadline terakhir adalah besok. Well, aku mencoba menikmati rasanya dikejar waktu yang semakin menyempit hehe

Semoga menikmati. Bubuhkan komentar kalian jika kalian punya kesan atau pesan, pahit ataupun manis 😉

Advertisements

17 thoughts on “Hee Couple – Deep Under Barclayville (Part 1)

  1. Pas aku liat covernya, trus liat entuh cewek. Aku udah tahu castnya bakalan Choi Rae Hee xD

    Dan dugaan ku bener.
    PD aja kali Cherr, ceritanya bagus kok. Aku suka sikap Casey yang cenderung dingin, sangar.

    Tapi Casey keren dengan rambut ala keritingnya. Aku ngebayanginnya sambil ketawa xD

    Gak pakek mandi???????? XD

    Good job untuk Eventnya,
    Keep writing 😀

  2. Aku hadir di sini kak, membubuhkan komentarku mengenai cerita yang kakak tulis.
    Awal mula aku membacanya, ini memang seperti novel terjemahan yang sering kali kubaca. Dengan apik kakak membawakan nuansanya yang kental. Penokohan dari masing2 karakter juga kuat.
    Ketika casey memasuki desa yang ia tempuh selama dua hari perjalanan, penggambaran desa itu mengingatkanku pada setting film the woman in black. hehehe. when arthur must memecahkan sebuah masalah pembunuhan sebuah keluarga kaya raya. kan pas kedatangannya itu juga tidak disambut baik oleh penduduk.
    wuhuuhuu~ intinya aku gak sabar dengan kelanjutan kisah ini. semoga kakak sukses menguatkan di cerita detektif dan percintaannya ya kak 😀

    • iyakah? aku suka novel terjemahan dan sebelum nulis ini aku baca novel terjemahan karya Amanda Quick. Udah lama aku ga nulis cerita sepanjang ini, apalagi ini aku kebut dalam satu hari. Jadi masih berasa ada yang kurang githu. Kata2nya juga sederhana. Mungkin karena pengaruh setting aja, jadi kelihatan kayak novel terjemahan :/
      tulisannya belum selesai padahal deadline nanti malam hehe
      anyway, makasih udah datang yah 🙂

  3. whehehe~ komennya rameee…… tp q belum bca ceritanya hahahaha … *tutup muka
    yea akhirnya nongol cerita berpart. setelah kisah hantu yg entah sekarang d gantung di mana sama authornya*plakk*,aku harap cerita ini gk bikin batu lumutan. hahahahahaha *kabuuurrrr.besok jha y tk bca*

  4. Hallo… aku readers baru di sini..
    Klu berhubungan sama detektif kaya gitu aku suka ingeet sama detektif conan #gaknanyakallii hehe

    Ceritanya buat aku penasaran siapa dlang dari pembunuhannya?? Mmm namanya juga awalan …. aku gk sbaar baca lanjutannya dan mau baca FF kmu yg lainnya 🙂

    Oh ya goodluck sama eventnya yah 🙂

    • hello juga 🙂
      iya ini emang buat event, tapi aku gagal. ceritanya belum selesai sebelum deadline orz
      Dan aku ga tahu bakal aku lanjut lagi apa ga. tapi makasih yah udah berkunjung. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s