Detik Terakhir

tsunami

Detik Terakhir

Cherry Hee © 2014

Dilo bergegas merapikan rambutnya yang basah. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Pakaiannya sudah melekat lebih rapi dari biasa. Sembari memandang wajahnya di kaca, ia menyiapkan senyuman tertampan untuk hari itu. Atau lebih tepatnya untuk seorang gadis.

Dilo mengecek jam tangannya dan melihat angka satuan berkedip di sana. Untuk kesekian kali, ia menetapkan keberaniannya bahwa dia sudah siap. Ada hal penting yang akan ia lakukan hari itu. Sebuah pengakuan perasaannya. Dilo terkikik sendiri menyadari semangatnya yang menggebu.

Setelah ini ia harus naik ke lantai sebelas, satu lantai dari tempatnya menginap.

Beberapa saat kemudian, ia sudah siap dengan sepatu terikat di kedua kakinya. Berjalan menuju pintu dan baru saja akan membukanya ketika suara ledakan keras terdengar. Dilo berbalik dan nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat dari jendela besar kamar hotelnya.

Ombak dari pantai setinggi pohon kelapa bergulung mendekat.

Kaki Dilo bergerak cepat. Ada satu nama yang terlintas di kepalanya dan ia tidak punya waktu untuk bertanya kenapa nama itu yang membayanginya. Bibir Dilo merapat, dalam hati merapal doa-doa yang ia ingat.

Dengan debaran kuat yang melanda jantungnya, Dilo tahu ia harus menuruni tiga lantai. Dalam ketakutan yang tidak mampu ia redam, Dilo berlari menuruni tangga melawan arus kerumunan orang yang ingin naik ke lantai lebih tinggi.

Sesampaminya di lantai itu, diantara sisa napas yang ia miliki, Dilo merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia melihat gadis itu berdiri kaku di sana. Di depan salah satu jendela lorong lantai tujuh.

“Apa yang kau lakukan di situ?!” Dilo harus berteriak karena suara deburan ombak begitu kencang. Atap-atap rumah di sekitar mereka terseret, balok-balok kayu terombang-ambing, berpusar cepat, terhempas ke dinding dasar hotel.

“Dilo.” Gadis itu membalik badan dengan muka pias seperti orang linglung.

Dilo menarik tangan gadis itu. “Ayo kita naik ke lantai atas.” Membungkus tangan dingin itu dalam genggamannya.

Mereka kembali bergegas naik ke lantai atas bersama orang-orang yang menyelamatkan diri. Diantaranya Dilo melihat wajah-wajah tak asing. Teman sekelasnya dan gurunya. Tapi mereka semua terdiam. Beberapa sibuk bergumam menyebut nama Tuhan.

Dilo menarik tubuh gadis itu di dekatnya begitu mereka sampai di lantai teratas. Mereka dan sekelompok besar orang-orang yang selamat menatapi pantai dalam kebisuan. Membiarkan ibu-ibu berteriak memanggil anak, suami memanggil istri, dan jerit kekalutan jauh di bawah sana. Tidak ada yang dapat mereka ulurkan untuk membantu.

“Reine.”

Gadis itu mendongak. Matanya berkaca-kaca dan tangannya gemetar dalam genggamannya.

“Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.”

Dilo tidak mengerti kenapa harus gadis itu yang ia dekap. Bahkan ia melupakan nasib gadis pujaannya di tinggal di lantai sebelas. Kenapa harus Reine, teman baiknya sejak tingkat sekolah dasar yang ia selamatkan.

Meski begitu, Dilo sadar apa yang dilakukannya benar. Untuknya, keberadaan Reine lebih penting dari siapapun. Penting, melebihi gadis pujaannya.

Note:

Cerita kecil ini untuk mengenang ratusan ribu nyawa yang terlepas sepuluh tahun yang lalu. Semoga mereka mendapat tempat ratusan ribu kali lebih baik dari yang mereka dapat di dunia

Advertisements

2 thoughts on “Detik Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s