One Warm Night

ohpitaya 5

One Warm Night

Cherry Hee © 2014 

“No matter what, Hyung will always beside you. Hyung will protect you.”

.

Begitu masuk ke rumah kecilnya, Kangin melepas mantel dan menggantungkannya di belakang pintu. Sepulang dari bekerja, Kangin merasa tubuhnya tidak tahan lagi untuk ingin segera berbaring di tempat tidur. Di luar udara membeku. Salju telah turun memenuhi jalan. Sepertinya petugas pengeruk salju belum juga turun tangan. Tadi ia sampai kesusahan melangkah. Kedua kakinya yang pendek hampir tenggelam menyentuh lutut.

Kangin menyambar segelas air putih yang tersedia di atas meja ketika matanya menangkap sesuatu tergeletak di samping gelas. Sebungkus permen stroberi di atas kertas. Kangin mengambil permen itu dan melihat surat yang berisi tulisan tegak miring kecil-kecil nyaris tak terbaca.

Kangin Hyung Sungmin minta maaf

Membacanya, Kangin mengulas senyum kecil. Ia teringat kejadian tadi pagi ketika adik satu-satunya itu merengek untuk dibelikan permen. Waktu itu Kangin buru-buru untuk bekerja dan sebelumnya ia harus mengantar Sungmin ke sekolah. Tapi Sungmin terus merengek minta dibelikan permen. Padahal toko penjual permen berada jauh dari jalan yang mereka lewati. Kangin tidak ingin membuang waktunya untuk memutar jalan. Ia bisa terlambat bekerja dan akan dimarahi habis-habisan oleh majikannya yang galak. Tapi Sungmin tidak mau tahu. Dengan wajah mengeras Kangin akhirnya menyerah dan membelikannya dua buah permen rasa kesukaan Sungmin.

Saat mereka sampai di depan gerbang sekolah, Kangin langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Agak berbeda, karena biasanya Kangin akan mengusap rambut Sungmin dan memberikan semangat kepada adiknya. Mungkin hal itu membuat Sungmin sadar kalau ia telah membuat kakaknya marah.

Hingga ia rela menyimpan satu permen kesukaannya untuk Kangin.

Lamunan Kangin terpecah saat telinganya menangkap suara langkah kecil tak jauh dari tempatnya. Dari ekor matanya Kangin dapat melihat punggung Sungmin yang berjingkat lari dari balik dinding dan masuk ke kamar mereka.

Kangin menggeleng lalu membawa langkahnya ke kamarnya yang menyatu dengan kamar Sungmin. Rumah mereka terlalu kecil. Mereka harus rela berbagi kamar.

Kangin berdiri sebentar di depan pintu kamar. Ia menatap punggung Sungmin yang membelakangi pintu. Terbaring di atas lantai kayu berlapis kain tipis yang selalu mereka gunakan untuk tidur. Lantai sudah dibuat sedemikian rupa untuk menghangat di malam yang dingin seperti ini. Meski nyatanya terkadang mereka masih bisa merasakan hembusan angin musim dingin dari sela-sela jendela yang tidak dapat tertutup rapat.

Dengan perlahan Kangin membaringkan tubuhnya di sisi Sungmin. Memeluk dari belakang tubuh adiknya yang bergulung dalam selimut.

Jauh dalam hati Kangin, ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya takut akan majikannya yang bisa kapan saja memecatnya. Jika ia tak punya pekerjaan itu akan sulit baginya untuk menemukan pekerjaan lain di kota. Meski ayah-ibunya juga pekerja, Kangin tidak yakin kalau pendapatan kedua  orang tuanya cukup untuk mereka makan dan biaya Sungmin bersekolah.

Kangin sering merasa bahwa hidup ini tak cukup adil bagi anak sekecil Sungmin. Anak itu tiga tahun lebih muda darinya dan belum terlalu paham dengan kondisi keluarga mereka. Anak itu terlampau manis sampai setiap saat bisa tertawa riang tidak peduli mereka harus berjalan jauh untuk sampai di sekolah. Tidak peduli sarapan yang ia dapat hanya nasi separuh piring kecil sisa semalam. Sungmin tetaplah Sungmin, anak yang suka berceloteh sesukanya. Meski terkadang anak itu berubah menyebalkan seperti tadi pagi.

Kangin menyesal tidak menghabiskan banyak waktu dengan Sungmin. Dia pergi bekerja setelah mengantar Sungmin dan kembali pada sore hari. Padahal Sungmin hanya memiliki dirinya sebagai seorang Hyung sekaligus teman.

Tadi siang saat ia menjualkan rotinya di dekat taman kota, Kangin melihat dua kakak-beradik tengah bercanda bersama. Terlihat bahagia sekali bersama kedua orang tuanya yang terduduk di rerumputan tak jauh dari mereka.

Alangkah senangnya kalau itu juga terjadi pada dirinya dan Sungmin.

Sambil menerawang sedih, tangannya lalu terangkat dan mengelus rambut kepala Sungmin lembut.

“Belajarlah yang giat dan buat Hyung bangga. Jangan khawatir. Apapun yang akan terjadi nanti, Hyung akan selalu di sampingmu. Hyung akan melindungimu,” ucapnya serak, tidak peduli Sungmin dengar atau tidak. Setetes air turun dari matanya. Kangin segera meredam wajahnya di balik punggung kecil adiknya.

Ia janji. Janji akan melindungi adiknya dengan segenap tenaga yang ia punya.

.

Note:

Cuma ide singkat setelah melihat pic kangmin dari ohpitaya yang keren. Mungkin akan ada cerita yang lebih panjang nanti. Mungkin kk

Kalau Shindong adalah best friendnya Sungmin, Kangin itu kakak terdepan yang diam-diam peduli pada adik unyunya itu. Meski ada moment awkward di intimate note, tapi kalau dilihat di era jaman purba(?) kayak di Dont Don era, banyak sekali momen kangmin. Ada moment di atas panggung di mana Kangin meluk Sungmin dari belakang lama sekali. Karena Sungmin orangnya calm atau pendiam banget, jadi aku ngerasa bersyukur ada Kangin yang ngehibur  dia di sana.

Semacam “Hyung dont wanna let you feel lonely.” T^T

130308 with kangin

Thanks for come here O/

Advertisements

9 thoughts on “One Warm Night

  1. Heung kanginie ❤ dia selalu cocok jadi sosok pelindung/penjaga.

    Suka eonni~ semoga bener2 ada lanjutannya hehe xD

    Ah pict itu waktu sungmin kaget heechul ada di bawah :v
    dan min dg ekspresi unyunya kyk tanya ke kangin
    tp kangin cuma ngangguk karna dia udh tau sempet nengok xD

    • ini fanficnya apa, km komennya apa wkwkw
      yng aku tahu ada artikel cina nyebut pas waktu konser itu ada yng bawa barnernya hangeng. dan heenim ngelihat itu. mungkin dia keinget hangeng. jadi ga fokus kk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s