Hidden Words

Hidden Words

Hidden Words

Cherry Hee © 2014 

“You are beautiful….
..the things you do are beautiful…”

.

“Kau ada di mana?” Kyuhyun mengetuk ujung pulpennya di meja, menunggu suara di ujung telepon menjawabnya.

“Aku.. ada di perpustakaan.” Kyuhyun mengernyit dahi. Apa karena ada di perpustakaan suara gadis itu jadi sepelan begitu? Maklum saja, Kyuhyun tidak sering-sering berada di tempat tumpukan buku-buku itu. Jadi dia tidak tahu seberapa dilarangnya berbicara keras di perpustakaan. Tapi di luar alasan itu, dia merasa ada yang aneh dengan gadis di seberang sana.

Kyuhyun bertanya lagi setelah mengusir jauh rasa penasarannya.”Kelasmu sudah berakhir?”

“Ya.”

“Mau kuantar pulang?”

“Ah tidak. Aku harus mengerjakan tugas-tugasku dulu. Mungkin baru selesai sampai sore.”

Kyuhyun melambaikan tangan pada teman-temannya yang lebih dulu keluar kelas sebelum menjawab gadis itu dengan penekanan bahwa ia tidak mau ada penolakan. “Tidak masalah, aku bisa menunggu. Aku ingin mengantarmu.”

Mereka bukan pasangan yang tiap saat bersama, berdempetan seperti surat dan perangko. Saera juga tipe gadis pemalu yang tidak suka diperlakukan terlampau istimewa. Tapi melihat gadis itu sibuk sejak pagi tadi dan menolak ajakan sarapan dengannya, membuat Kyuhyun makin ingin bertemu. Rindu? Mungkin.

Kyuhyun tersentak dari lamunannya begitu Saera menjawabnya lagi. “Tapi Kyu, sungguh aku tidak apa-apa pulang sendiri. Aku tidak suka ditunggu. Itu akan membuatku tidak berkosentrasi mengerjakan tugasku karena aku pasti akan terburu-buru. Aku tidak mau kau menunggu terlalu lama.”

“Kau ini….” Lelaki itu menengok ke jendela kelas. Mendung hitam terlihat bergulung-gulung dari jauh. Sedangkan langit yang menaungi daerah kampusnya masih terang di sinari Matahari siang. “Nanti sore akan hujan. Kau yakin tidak mau pulang bersama?”

“Ya, pergilah. Lagi pula sebentar lagi jadwal latihan vokalmu.”

Kyuhyun berdecak kagum. “Kau sampai hafal jadwalku.”

“Tentu saja! hampir tiap hari kau memamerkannya padaku.”

“Aku tidak pamer. Aku memang paling bersinar di kelas vokal. Kau akan tahu kalau melihatnya sendiri.”

“Tidak perlu. Aku selalu melihatmu dari bangku penonton tiap kau pentas.”

“Ah, kau benar.” Tiba-tiba Kyuhyun terbayang bagaimana gadis itu memandangnya diantara ratusan penggemar yang mengelukan namanya. Gadis itu tidak berteriak, bahkan saat ia mendekat dan mengedip genit ke arahnya—yang akan langsung diteriaki para gadis lain, merasa merekalah yang sedang ditatapi olehnya. Gadis itu hanya akan memandangnya. Tersenyum manis dari jauh. Sesekali menggoyangkan kepalanya mengikuti lagu yang ia bawa. Benar-benar tipe gadis yang tenang dan pandai menyembunyikan kegilaan.

“Baiklah. Kalau latihanku sudah selesai aku akan menelponmu nanti.”

Hwang Saera mendesah lirih menatapi langit yang perlahan menghitam. Mendung telah datang, sebentar lagi dipastikan hujan akan turun. Kyuhyun benar. Seharusnya ia pulang bersama lelaki itu tadi. Meminjam buku-buku yang ia butuhkan dan mengerjakan di apartemennya akan jadi pilihan yang benar. Tapi mengingat seperti apa dirinya tadi, ia butuh waktu sendiri. Ia tidak ingin bertatap muka dengan lelaki itu.

Saera menyandarkan kepalanya ke kursi. Menunduk tanpa benar-benar membaca buku di tangannya. Suara-suara itu masih terdengar jelas di telinganya. Ia bahkan masih ingat tawa gadis-gadis itu yang membuat hatinya serasa dicabuti sedikit-demi sedikit.

Mereka membicarakan hubungan dirinya dan Kyuhyun. Meski ini bukan topik baru bagi Saera. Gadis itu sudah mengabaikannya dan tidak membicarakannya pada siapapun termasuk Kyuhyun. Saera merasa itu tidak perlu. Tidak ada yang harus dikhawatirkan, karena nyatanya dia yang menjalankan hubungan ini. Dan orang-orang yang sibuk mendiskusikan kehidupannya itu tidak tahu apapun tentang dirinya dan Kyuhyun secara langsung.

Tapi lama-kelamaan apa yang Saera dengar jadi seperti sebuah bayangan mengerikan. Kenyataan bahwa Saera bukanlah gadis cantik populer apalagi jadi urutan nomor satu diantara mahasiswa terpintar membuat hatinya tersudut perih.

Jika dibandingkan lelaki itu….

Saera menerawang memandang langit. Satu wajahnya ia tempelkan dikedua tangan yang melipat di atas meja. Memandang sedih pada wajah Kyuhyun yang tergambar samar di antara awan-awan gelap.

Sebelum ia mengenal Kyuhyun sedekat satu bulan ini, tidak ada deskripsi lain yang lelaki itu dapatkan selain kata sempurna. Dia pintar, dapat dekat dengan siapapun, dan punya suara yang lembut. Saera tidak pernah melewatkan satu pun penampilan Kyuhyun dulu. Katakanlah ia termasuk dari penggemarnya. Tapi ia tak pernah bermimpi berada dekat dengannya.

Kyuhyun terlampau sempurna. Terlalu bersinar. Dan Saera yang sudah terbiasa di kegelapan seorang diri, merasa berada disekitaran lelaki itu bukanlah tempatnya. Tempat itu hanya untuk gadis-gadis cantik dan pintar seperti Kim Minyeong.

Diantara kelima gadis cantik yang pernah Kyuhyun kencani, Minyeong satu-satunya gadis yang terasa pas berada di sisi lelaki itu. Minyeong adalah gadis pertama yang Kyuhyun kencani semasa kuliah. Saera dengar mereka sudah berteman semenjak SMA. Ditahun pertama kebersamaan mereka, pasangan itu jadi yang paling sering dibicarakan diseluruh kampus. Tentang betapa tampan dan cantiknya mereka. Betapa gadis itu semakin menyempurnakan pesona Kyuhyun jika mereka berjalan bersama di lorong kampus. Keduanya masuk di kelas vokal dan sering pentas sepanggung di acara kampus. Saera mengakui sendiri betapa sempurnanya suara mereka berdua yang menyatu dalam irama.

Mereka putus pertengahan tahun lalu. Dengan berakhirnya mereka, semua orang ikut kecewa. Kecewaan itu semakin memuncak di akhir tahun ini, ketika Kyuhyun memilihnya sebagai kekasih. Gadis yang hanya dipandang sebelah mata. Sekarang, ia semakin dipandang sinis.

Saera menghela napas untuk kesekian kali. Memikirkannya lagi dan lagi, membuat hatinya lebih mendung dari langit saat ini. Sambil mengikat kembali rambut sebahunya yang berantakan, ia berpikir lebih baik berkemas dan cepat pulang. Menidurkan pikirannya dari kecamuk perasangka tak enak.

Saera kembali melirik layar ponselnya ketika ia baru keluar dari perpustakaan. Tidak ada panggilan atau pesan dari lelaki itu. Bibir Saera semakin melengkung ke bawah. Mungkin dia masih sibuk latihan.

Saera semakin mempercepat langkahnya. Ia harus berjalan sekitar sepuluh menit ke gerbang depan untuk menunggu bus. Sialnya bahkan sebelum Saera berhasil keluar dari atap kampusnya, hujan lebih dulu turun. Deras sekali.

Dingin, meski ia telah memakai kemeja merah berlapis sweater biru gelap. Saera mengeratkan kedua tangannya di depan dada. Ia berdiri di sana untuk beberapa saat.

Lalu ia merasakan ada seseorang berdiri didekatnya. Membentangkan payung dan menggoyangkannya di depan muka Saera, seperti tengah mencela. “Malang sekali dirimu. Aku punya payung dan kau tidak.”

Sebelum Saera mendongak untuk melempar tatapan kesal pada orang itu, sebuah suara lebih dulu menyapanya. “Akhirnya kau keluar juga.”

“Kyuhyun?”

Seharusnya ia tidak di bangunan ini karena tempat latihan vokal berada di gedung sebelah. Apa lelaki itu sengaja menunggunya?

“Ayo pulang bersama.” Kyuhyun mengangkat payungnya dan tersenyum lembut ke arahnya.

Untuk beberapa saat Saera mengerjap, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah ingat akan niatnya untuk menjauh dari lelaki itu, Saera berusaha mengeluarkan suaranya yang terasa mengumpul di tenggorokan. Susah keluar.

“Aku tidak mau,” suaranya serak. Dan dia hanya menunduk, menghindar dari tatapan terkejut lelaki itu.

“Maksudku, aku mau menunggu hujan reda saja.”

Saera menatap ke sekeliling, berusaha untuk tidak terlihat peduli akan jawaban lelaki itu selanjutnya.

“Baiklah, aku juga akan menunggu hujan reda.”

“Apa? Kyuhyun, kau harus pulang,” erang Saera putus asa.

“Kenapa?”

“Karena kau pasti lelah setelah berjam-jam latihan vokal.” Dan karena berada didekatmu itu menyakitkan.

“Kau sendiri pasti lelah setelah berjam-jam duduk di depan buku-buku menjenuhkan itu.”

Hih, lelaki ini keras kepala sekali. Saera sebal dibuatnya.

Sebelum Saera mengeluarkan kekesalannya, lelaki itu lebih dulu berbicara dengan suara rendah. Wajahnya berubah serius.

“Kenapa seharian ini kau menghindariku?”

“Apa maksudmu?” Saera menatap balik Kyuhyun. Berharap agar raut cemasnya tidak terbaca lelaki itu. “Kita memang jarang bertemu di kampus, kan? Kau tahu sendiri kita masing-masing sibuk.”

“Aku tahu. Tapi mendengar penolakanmu seharian ini, rasanya tidak masuk akal. Kau menolak makan pagi bersama, pulang bersama, dan sekarang kau mau menolak satu payung bersama denganku.”

“Tidak masuk akal? Aku sedang berusaha untuk mengisi otakku dengan materi kuliah. Aku bodoh, Kyuhyun. Aku bukan sepertimu yang sekali dengar perkulihaan, langsung bisa kau ingat sampai besok. Aku harus berjuang mati-matian untuk mengingat semua. Untuk mempelajari semuanya.”

Saera menurunkan wajahnya. Memalingkan wajah ketika suara-suara menyakitkan itu terdengar di telinganya lagi. Cacian tentang dirinya yang tak pantas menjadi kekasih lelaki itu. Hatinya mendadak berat. Dan ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak turun.

“Saera….” Kyuhyun tercekat di tempatnya. Lelaki itu pasti terkejut. Saera yakin maksud Kyuhyun baik tadi dan bukan ingin melihatnya menangis seperti orang bodoh.

“Aku tidak apa-apa.” Saera menghapus air matanya. Hanya ada beberapa tetes meski matanya telah memerah. “Aku butuh istirahat, mungkin.”

Saera mengusap dahinya yang basah dan tersenyum. “Baiklah kau mau pulang sekarang, kan? Ayo.” Saera lebih dulu berjalan ke teras depan. Tapi suara langkah lelaki itu tak terdengar. Saera berbalik dan mendapati Kyuhyun masih berdiri di sana. Memandang ke arahnya.

“Kyu?”

“Tidak. Kau belum mengatakan semua padaku. Ada yang kau sembunyikan padaku.” sahutnya dengan wajah menuduh.

Saera menggeleng. Kata-katanya habis tiap kali lelaki itu memandangnya. Seperti dunia berhenti berputar dan suaranya diambil begitu saja. Dulunya terasa indah sekali. Tapi kini, ada rasa tak nyaman. Entah karena masalahnya atau tatapan Kyuhyun yang seakan menghujamnya dengan tuduhan.

Kyuhyun mendekat dan berdiri di depannya. “Kau menyembunyikan sesuatu padaku.”

“Tidak.”

“Katakan!”

“Kyu, aku mohon.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Nadanya memelas seakan Saera baru saja melakukan kesalahan besar. Jelas sekali lelaki itu sedang terluka.

Saera membeku.

“Kau selalu menyembunyikan masalahmu untuk dirimu sendiri. Kita sudah satu bulan bersama dan kau masih saja seperti ini. Kenapa?”

Saera tidak sanggup menjawabnya. Benar. Saera selalu egois untuk menyimpan ceritanya sendiri.

“Aku berusaha untuk memahamimu tapi kau….”

Lelaki itu berdecih membuat keberanian Saera tiba-tiba naik. “Kalau begitu kenapa kau tidak menghentikan semua ini?”

“Apa?” Kyuhyun bertanya karena ia benar-benar tak mengerti maksud gadis itu.

“Kenapa kau tidak melepasku saja. Kau bosan denganku, benarkan?”

“Kau tidak yakin tapi berani sekali bicara seperti itu.” Lelaki itu terlihat marah. “Apa yang orang-orang itu katakan padamu? Apa mereka mengganggumu hingga kau berpikir aku sudah tidak ingin denganmu?” Saera ingin membuka mulutnya untuk membela diri, tapi lelaki itu memotongnya.

“Kau percaya pada ucapan mereka dan melupakan apa yang aku katakan padamu?”

Apa lelaki itu sudah mendengarnya? Cemooh orang-orang terhadapnya?

“Aku menyukaimu. Sampai sekarang aku masih menyukaimu. Jangan menyuruhku untuk menjauh karena aku tidak akan mau.”

“Tapi.. kenapa?”

“Dulu, sebelum aku mengenalmu aku selalu membayangkan punya pasangan cantik, tinggi, putih, dan pintar. Tapi setelah tidak sengaja bertemu denganmu beberapa kali, aku lupa dengan keinginanku itu.” Tatapan Kyuhyun melembut.

“Aku melihatmu membelikan permen kapas pada seorang anak yang cemas menunggu jemputan ibunya. Aku juga melihatmu membawakan belanjaan seorang nenek yang aku baru tahu ia tetangga flatmu. Aku melihatmu saat kau mengulurkan tanganmu untuk membantu temanmu yang sedang kesusahan membawa tumpukan buku. Aku melihatmu tersenyum diantara sekelompok anak-anak di taman. Dan semua itu cantik. Lebih cantik dari gadis-gadis berpaha putih,” ucapnya dengan nada kelakar.

Saera masih diam mendengar. Namun setelah kalimat itu berlanjut, jantung Saera serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. “Sepertinya Tuhan berusaha untuk memperlihatkan seorang gadis ciptaannya yang berhati selembut kapas. Dan membuatku jatuh cinta setengah mati padanya.”

“Sejak aku mengenalmu, aku takut sekali kau mengubah hatimu ke lelaki lain. Tapi sekarang ketakutanku bertambah. Kau menyuruhku untuk pergi menjauh, itu terdengar lebih mengerikan.”

“Maaf.” Saera ingin menangis tersedu-sedu penuh haru lalu memeluk lelaki itu. Tapi sepertinya itu terdengar berlebihan. Ia bukan tipe gadis yang bergerak terlebih dahulu.

Tapi tiba-tiba lelaki itu mendekat dan melingkarkan lengan ke bahunya. “Dari pada di sini kedinginan, lebih baik kita berjalan dan mencari tempat yang lebih hangat. Sepertinya kafe depan punya menu makanan yang mengenyangkan. Apa kau mau menemaniku?”

“Ya?”

“Hei, aku bukan om om yang sedang menggoda gadis manis untuk diajak ke hotel, loh.”

“Kyuhyun!”

“Habisnya kau menatapku seperti itu.” Kyuhyun terkekeh senang. Senang melihat raut tegang gadis itu mengendur.

Dan tanpa mau menerima penolakan lagi, Kyuhyun menarik gadis itu ke bawah payungnya. Berlari kecil diantara rintik hujan sore itu.

“Kau tidak tidur?” Suara lelaki itu langsung terdengar begitu ia mengangkat panggilannya dalam sela dua kali deringan.

“Hm.”

“Tidurlah, sudah malam.”

Saera memutar bola matanya malas. Memandang mencela langit-langit kamarnya yang gelap. Bagaimana ia bisa tidur kalau lelaki itu menerornya dengan pesan-pesan tidak penting. Sekarang, dia malah menelpon di tengah malam buta.

“Biasanya kau tidak membalas pesanku secepat itu.” Lelaki itu tahu sekali kebiasaannya. Bukannya dia sedang mengabaikan pesan-pesan yang Kyuhyun kirimkan. Dia hanya tidak ingin terlihat terlalu menanti pesan dari lelaki itu.

“Aneh,” gumam lelaki itu.

Saera mengiyakan dalam hati.

“Apanya yang aneh?”

“Sesuatu terjadi? Kau tidak sedang merindukanku, kan?” Itu kalimat godaan, tapi nada lelaki itu terdengar serius.

“Sepertinya begitu.”

“Kau tahu tidak?”

“Huh?” Sialan! Lelaki itu mengabaikan kejujurannya. Saera merutuki dirinya yang terlalu agresif.

“Kata orang-orang hubungan disatu bulan pertama pacaran adalah masa-masa paling indah.”

Saera tidak menjawab karena ia yakin lelaki itu tidak butuh balasan apapun.

“Sepertinya benar. Aku bisa merasakannya sendiri. Kau mau tidak membiarkanku merasa sebahagia ini untuk bulan-bulan ke depan? Tahun-tahun ke depan?”

“Kyuhyun.”

“Kau mau, kan?”

“Terserah! Tidurlah.”

“Wow terima kasih sayang. Aku tahu itu berarti kau mau.”

“Aku tutup teleponnya.”

Saera mendengus, meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Lalu memegangi pipinya memerah samar.

Ia tidak akan bisa tidur sekarang. Terlalu bahagia rasanya.

Mulai sekarang ia tidak akan menghindar omongan orang tentangnya. Dia akan mendengar sebagai masukan untuk perbaikan dirinya. Bukan untuk orang-orang itu, tapi untuk melayakkan dirinya bersanding dengan Kyuhyun.

Note :

Sejujurnya aku ga terlalu suka untuk make visual cewek buat mereka. Ulzang cewek terlalu cantik bwahaha. Tapi tapi kalau emang diperlukan atau emang pic-nya cocok dikasih muka ceweknya, ya bisa aja. Tapi selama mukanya ga perlu, kalian cukup visualisasikan di imajinasi kalian, sesuai dengan apa yang aku tulis. 🙂 Yah meski sekarang belum banyak deskripsi yang aku tulis. Biarkan waktu yang menjawab(?)

Bonus pic! Pic kyuhyun favoritku sepanjang masa. kkk

130

Advertisements

11 thoughts on “Hidden Words

  1. Tjieeeeeeeee kkkkk
    suka eonni ❤
    bener ini, jangan terlalu memikirkan kata orang, kita yg menjalani, jadi yaudah /?

    Selamat untuk postingan ke 100 eonni~~~ /telat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s