Frozen Time

_frozen_time__by_candymax-d4u03db

Frozen Time

Cherry Hee © 2014 

.

Kedua ujung bibir Leeteuk terangkat tinggi. Kakinya bergerak di tempat, tidak bisa tenang. Oh, dia sudah tak sabar bertemu pujaan hatinya. Rasanya sudah berhari-hari mereka tidak berjumpa. Dirinya sibuk bekerja sedangkan gadis itu sibuk dalam rutinitas kuliahnya. Hari ini libur dan mereka telah berjanji untuk jalan ke luar bersama. Meski nyatanya langit mendung dan rintik hujan mulai turun, Leeteuk tidak berniat mengubah rencananya. Lagi pula ia belum mendapat pesan apa-apa dari gadis itu yang mungkin tidak ingin keluar dicuaca sesuram pagi ini.

“Sayang, buka pintunya.” Leeteuk mengetuk pintunya, memanggil-manggil kekasihnya dengan nada manja.

Ketika pintu itu terbuka, Leeteuk membuka lengannya lebar-lebar, siap menerima pelukan.  “Selamat pagi Amy sayang.”

“Hm.” Gadis itu menatapnya seperkian detik sebelum kemudian pergi berlalu begitu saja. Menyeret selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala.

Leeteuk mengikutinya dalam diam, menerka apa gadis itu sedang marah padanya? Normalnya dia akan kena pukul—yang sama sekali tidak sakit—jika ia menggodanya seperti itu.

“Kita jadi keluar, kan?”

Gadis itu tak menjawab. Ia mengambil tempat di sofa ruang tengah di dalam flat kecilnya itu. Menaikkan dan menekuk lututnya. Bersedeku lalu menidurkan tubuhnya dengan posisi kepala di lengan sofa.

“Hei! Minggu lalu kau marah padaku karena seharian hanya tidur. Kenapa sekarang jadi kau yang bermalasan begini. Ayo bangun.” Dalam sekali sentakan, Leeteuk menarik lengan gadis itu sampai tubuhnya menegak terduduk.

“Ah, hentikan. Kepalaku pusing.”

Melihat reaksi gadis itu yang terlihat tidak ada semangat sama sekali, Leeteuk memberengut. Mengecek dahi gadis itu dengan tangan kanannya yang bebas.

“Kau demam.”

“Itu bukan apa-apa.” Gadis itu menunrunkan tangan Leeteuk dari dahinya dan menarik lengannya yang masih dipegang Leeteuk. Dengan napas yang terdengar berat, ia berbaring kembali. Menaikkan selimutnya dengan gusar. “Kepalaku pusing sekali.” Nadanya terdengar seperti orang ingin menangis.

Leeteuk mendekat. Memandangi wajah gadis itu yang memucat. Tadi saat Amy  membukakan pintu untuknya Leeteuk tidak benar-benar memperhatikannya, karena wajah   gadis itu hampir tertutupi poninya yang mulai memanjang dan selimut yang ia tudungkan di atas kepalanya. Sekarang melihatnya dari dekat seperti ini membuatnya tak tega untuk mengajak gadis itu keluar.

Lagi pula guntur di luar sana terdengar menggerung kencang. Apa boleh buat. Leeteuk mendesah lalu beranjak ke dapur, mengambil segelas air putih dan obat sakit kepala yang sudah ia hafal tempatnya.

Dalam hitungan menit, Leeteuk kembali berlutut di depan gadis itu.

“Amy, bangunlah. Minum obat dulu.”

Gadis itu menggeram samar, merasa tidurnya terganggu. Segaris matanya terbuka melirik Leeteuk yang menyodorkan setablet obat padanya.

“Oh tunggu. Apa kau sudah makan?”

“Eum sedikit.”

“Sungguh? Kau tidak berbohong, kan?” Sambil membantu gadis itu duduk, Leeteuk merapikan anak-anak rambut yang mencuat liar di kepala gadis itu. Keadaannya benar-benar kacau. Ini pertama kalinya Leeteuk melihat kekasihnya semengenaskan begitu. Meski biasanya gadis itu tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Hanya benabur bedak tipis di wajah dan mengikat rambut panjangnya sederhana.

Amy mengangguk saja menjawab pertanyaan itu. Segera membuka mulutnya dan menelan obat itu dalam sekali teguk.

“Nah sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu di sini.” Dengan lembut, Leeteuk menyelimuti Amy sampai batas leher. Mengambilkan bantal sofa agar gadis itu lebih nyaman. Akan lebih baik lagi jika gadis itu tidur di tempat tidurnya. Tapi kamar adalah tempat terlarang untuk Leeteuk. Lelaki itu sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak masuk ke daerah itu meski ia bebas berkeliaran di seluruh ruang flat Amy. Dan kalau gadis itu tidur di tempat tidurnya, itu berarti Leeteuk tidak bisa bebas melihat wajah malang Amy.

“Tidak apa-apakan di sini saja. Lagi pula sofa cukup panjang untuk kau tidur dengan tenang.” Leeteuk bergumam seorang diri. Tersenyum kecil menatapi wajah gadis itu yang kini sudah tidur sepenuhnya.

Sampai ia terjatuh tidur juga di atas meja dengan wajah menghadap gadis itu. Membiarkan gemericik air jatuh deras di luar sana.

.

Leeteuk terbangun saat lampu ruangan itu dihidupkan. Kepalanya terasa pegal saat ia memutarnya untuk melihat jam dinding di ujung ruangan.

“Sial, sudah sore. Dasar tukang tidur!” Sementara ia menyalahkan dan menghardik dirinya sendiri, sesuatu turun dari punggunya.

Selimut.

“Kau sudah bangun? Hujan masih turun, kita makan di sini saja ya.”

“Kau sudah sembuh?” Leeteuk mengerjap tidak percaya. Wajah gadis itu tidak lagi pucat. Ia bahkan bergerak gesit mengembalikan bantal dan selimut ke kamar. Lalu kembali lagi ke hadapan Leeteuk dengan senyum manis.

“Kau mau makan di sini atau di ruang makan?”

“Di sini saja.” Masih setengah tidak percaya kalau obat itu begitu ampuh, Leeteuk mengekori Amy ke dapur. Dilihatnya gadis itu tengah mengaduk sesuatu yang mengepul di atas kompor.

“Ke mari. Coba ini.”

Leeteuk menurut dan mendekat. Amy menyuapkan sesendok  kuah yang sebelumnya gadis itu tiup pelan.

“Bagaimana?”

Leeteuk mengangguk-angguk puas. “Enak.”

Amy tersenyum senang. Kembali mengaduk masakannya, membiarkan lelaki itu berdiri di dekatnya.

“Kau benar-benar sudah sehat ya?”

Amy mengangkat bahunya. “Seperti yang kau lihat.”

“Aku sempat takut sekali tadi. Kau terlihat parah.”

“Benarkah?”

“Hm, mengerikan.”

“Apanya yang mengerikan?” Amy terkikik, mendongak sejenak untuk melihat wajah keheranan lelaki itu.

“Rambutmu. Rambutmu seperti tidak disisir sebulan. Mengerikan sekali.” Setelahnya Leeteuk memekik kesakitan karena cubitan kecil dan pedas dari gadis itu dipinggangnya.

“Bantu aku menaruh ini di meja. Aku akan membuat minumannya.” Seperti lelaki penurut, Leeteuk menerima sepanci sup ayam itu lalu membawanya ke ruang tengah.

Tidak lama kemudian mereka duduk di atas karpet lembut, bersisian dengan masing-masing semangkuk sup dan secangkir kopi di depan.

“Maaf ya. Gara-gara aku sakit kita tidak jadi pergi.”

“Tidak masalah.” Leeteuk bergumam di tengah kunyahannya. “Lagi pula aku senang bisa melihat sisi lain dari dirimu yang belum pernah aku lihat.”

Amy menengok, mendapati lelaki itu tersenyum jahil ke arahnya. “Maksudmu?” tanyanya penuh selidik.

Leeteuk lalu mengerak-gerakkan tangannya di atas kepala. Seperti gerakan mengacak rambut.

Amy berdecih sebal. Memukul tangan itu keras sampai nyaris menumpahkan sup Leeteuk. Tapi ia tidak peduli dan melanjutkan makannya lagi.

Tersenyum lembut, Leeteuk mengambil selimut yang tadi ia tinggalkan begitu saja. Sambil menggeser duduknya mendekat gadis itu, ia menyampirkan kain itu  ke bahu gadis itu lalu menariknya untuk menutupi bahunya sendiri. Mereka berselimut dalam satu kain.

“Apa yang kau lakukan?”

“Tidak apa-apa. Hanya berjaga agar kau tidak kedinginan.”

“Ada penghangat ruangan di sini.”

“Tapi tidak sehangat pelukanku, kan?” Leeteuk berkedip-kedip menggoda.

“Makan makananmu.”

“Baik-baik. Omong-omong, aku tidak bercanda soal kau yang terlihat mengerikan tadi pagi.”

“Yah diam!”

Hujan terdengar masih deras. Udara semakin turun, menggigil. Tapi di dalam ruangan itu, di depan semangkuk sup lezat mereka bebagi hangat dalam tawa.

Leeteuk merenung untuk beberapa saat. Gadis itu baru saja mengajarinya sesuatu. Bahwa sebenarnya cinta itu sederhana. Cukup berbagi waktu berdua, sedingin apapun, Leeteuk akan merasa hangat.

Note:

Perkenalkan pasangan baru, Leeteuk dan Amy. Sebenarnya aku mencoba mencari nama yang lebih imut lagi yang tidak terkesan kekoreaan(?) Tapi tidak nemu juga. Nama Amy ini sudah lama sih di kepalaku. Sederhana tapi imut hehe

Anyway, cerita pendek dan tidak penting ini terinspirasi waktu aku ngedengerin lagunya Jongjin. Ada yang udah denger? Kalau belum, dengerin deh. Ini lagu imut, manis dan ga ngebosenin diputer beberapa kali sekalipun >< Sebelumnya aku udah denger suara Jongjin waktu dia dan kawan-kawan bawain lagunya KRY. Ga keren-keren amat sih wkwk tapi sekarang berkembang pesat deh suaranya jadi aw aw! xD

Link Soundcloud. Kalau kalian mau ngedownload, aku sudah upload file mp3nya di 4shared

Arhm, sebenernya dari kemarin aku nyari-nyari ide cerita yang pas untuk lagu barunya Kyuhyun yang ga kalah adiktif. Tapi belum nemu meski selalu patah hati tiap denger lagu itu hahahaha

Ini denger lagu manis, malah kebayang senyum gaje Leeteuk. Kasian pan dia ga pernah kebagiaan kisah romance. So this is it!

Akhir-akhir ini hujan mulai sering turun ya. Dingin di mana-mana. Stay warm everyone! ^^

bonus pic paman paling kece yang sekarang lagi jalan-jalan di Swissu~

140914 inkigayo 1

140914 inkigayo 4

P

Advertisements

12 thoughts on “Frozen Time

  1. (cho meymey merubah tampilan nama menjadi bubblecho.*berasa di BB kkkk)
    hhahaha…. leeteuk mah orangnya hangat… si paman kece yg sabaarrrr….
    kamu punya link lagu kyuhyun yg baru ?? bagi-bagi dunk. q ndownlod gk bisa”…. galau dari kemarin …..
    huuuuh

  2. bbc ? apa itu ?
    di 4shared. udh login trs msukin email. tp masih jha gk bs. tidak sah katanya. garai greget ….
    oiyo td jg q ngklik link d atas. kedownlod sh tp gk bs d buka T.T..pdhl pnsrn sama jongjin….
    ah iya. mvnya kyuhyun bagus . tp q kurang srek sama celananya. kaki dy jd keliyatan pendek+gemuk. kyk ikan buntal *opps* hahahaha

    • bbc bubble cho hehe
      log in bisa pake twitter atau facebook kog. itu ga pake pw,
      iyakah? downloadnya udah komplit belum? 2mb itu sizenya.
      iya, mv nya aneh. dia kakinya emang gemuk kkkk mungkin harus pake daleman yng bisa bikin kaki lebih ramping gthu yah. kayak emak2 xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s