Oneshot : Islands

with sungmin min

Islands

Cherry Hee © 2014

Seberapa banyak danau yang kuseberangi..

Seberapa luas samudra yang kulewati..

Aku masih mengingatmu jelas, sebagai teman terbaik yang pernah kumiliki….

.

Sungmin terdiam dalam kebekuan malam itu. Kerinduaanya merasuk, meremukkan dadanya perlahan. Sampai-sampai tetes air mata itu menggenang di pipinya. Tubuhnya meringkuk semakin dalam, mendekap album tua itu. Bahunya bergetar hebat meski suara tangisnya tak terdengar.

Oh, ia sangat rindu­. Pada temannya yang berhati sepolos salju. Pada teman terbaik yang pernah ia punya.

Pada teman yang dengan kejamnya ia tinggal seorang diri.

Ia masih ingat itu. Seraut wajah penuh salah Shindong ketika ia mengikuti teman-temannya untuk menjauh. Merasa risih seakan anak itu baru membunuh orang.

Sungmin masih ingat itu. Dosanya di masa lalu. Dan Sungmin hanya bisa menyesal tanpa sanggup mengulang waktu.

***

Daari dulu hidup Sungmin sempurna sekali. Dia punya ayah-ibu yang menyayanginya sepenuh hati. Adik laki-laki yang lucu. Dan orang-orang disekitarnya yang memperhatikan dan mengelu-elukan kepandaian otaknya. Mungkin itu semua hadiah dari Tuhan atas sikap rendah hati dan kesopanannya. Tapi terkadang hidup yang terlalu sempurna membuat sebagian orang merasa bosan. Begitu pun Sungmin.

Dia bosan hidup sendiri tanpa teman. Sebenarnya dia bukanlah anak yang suka memilih-milih teman. Dia hanya sulit  mengutarakan perasaanya terang-terangan. Sungmin lebih suka menyimpan rasanya untuk dirinya sendiri. Alasannya, ia pikir tidaklah penting bagi mereka untuk mendengar keluhannya.

Dia lebih sering jadi pendengar dari pada pencerita. Diantara kebisingan teman-teman kelasnya, ia selalu jadi yang penikmat suasana. Duduk manis di bangkunya sambil sesekali tersenyum dan menertawai aksi konyol mereka.

Sampai di suatu hari, di kelas dua sekolah dasar, Sungmin menemukan seorang anak duduk di pojok kelas. Shindong, anak pindahan yang baru datang pagi itu. Sebelum itu Sungmin tidak terlalu memperhatikannya. Tapi melihat betapa anak itu gigih mengeja huruf di buku penuh gambarnya di jam istirahat, Sungmin tergelitik untuk mendekat. Sungmin tidak suka melihat anak kesepian, karena ia tahu betapa tidak enaknya menjadi sendiri di tengah keramaian seperti kelasnya.

Maka Sungmin mendekatinya dan mengambil duduk di sisi anak itu. Memperhatikan jari-jari gemuk Shindong menunjuk tiap kata. Sungmin yang telah lancar membaca waktu itu, perlahan mengajarinya. Mengoreksi ejaan Shindong yang keliru dengan sabar.

Sejak saat itu lah mereka tak terpisah. Sungmin bagai malaikat penolong untuk Shindong. Dan pembawaan Shindong yang ceria merupakan hiburan bagi kesendirian Sungmin. Mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Ada saat di mana Sungmin murung tanpa semangat. Dan Shindong akan jadi orang pertama yang mendekatinya. Bukan untuk bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” Shindong lebih suka berkata, “Hari cerah yang terlalu sayang dihabiskan untuk bersedih. Ayo, temani aku makan!” Dan mereka berakhir di meja kantin, menertawai apapun yang bisa mereka tertawai.

Mereka tumbuh bersama.

Shindong tumbuh sebagai bahan olokan teman-temannya. Shindong yang bodoh, Shindong yang butuh berjam-jam hanya untuk mengerjakan sepuluh soal aljabar. Shindong yang sering mengerutkan dahi dan menggaruk kepalanya disepanjang kelas berlangsung.

Di sisi itu, Sungmin yang semakin bersinar tidak membuat Shindong tersingkir. Sungmin selalu menyempatkan waktu untuk menemaninya belajar bersama.

Seseorang pernah menanyainya kenapa ia bisa bisa berteman dengan anak bebal itu sedangkan dirinya adalah anak terpintar di sekolahnya. Sungmin hanya tersenyum dan membalasnya lirih, “Aku hanya tidak ingin melihatnya kesepian.”

Karena dirinya sendiri kesepian. Dan dengan Shindong lah ia bisa membagi sepi itu bersama.

Waktu pun bergulir menyimpan potongan kisah-kisah mereka sampai musim gugur itu datang. Kelasnya tiba-tiba dihebohkan berita  pencurian. Wali kelas mendatangi kelas mereka dengan wajah kaku. Laporan kehilangan uang di dapat dari teman kelas mereka Lee Hyukjae. Pembelajaran pun terpaksa dihentikan demi pemeriksaan dadakan.

“Semua, keluarkan barang kalian di atas meja.” Sungmin mengeluarkan isi tas punggungnya seperti apa yang diperintahkan wali kelas. Ia telah selesai memastikan tidak ada barang asing di dalam tasnya ketika matanya menangkap sosok Shindong maju ke depan kelas. Wali kelasnya mengatakan sesuatu padanya lalu Shindong berjalan kembali ke bangkunya dengan wajah memucat.

“Ada apa?” Sungmin bertanya ketika anak itu melewati mejanya.

“Aku ingin ke belakang tapi wali kelas melarangku,” sahutnya pelan. Entah sesakit apa Shindong menahannya sampai raut wajahnya sepucat itu.

“Kau baik-baik saja, kan?”

Shindong tak menjawab, hanya mengangguk kecil sedang matanya mengawas ke depan.

Wali kelas mereka mendatangi tiap meja satu persatu. Selesai memeriksa meja Sungmin, wali kelasnya maju ke meja Shindong. Dan semua mata memasang keheranan ketika wali kelasnya berujar, “Kenapa kau tidak mengeluarkan barang-barangmu Shindong?”

Wajah gemuk itu menunduk.

“Shindong.”

“Saya yang mengambilnya.” Beberapa anak memekik yang lain berbisik-bisik menyela.

“Diam Anak-anak. Shindong, ikut Ibu ke kantor dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Kelas hening ketika Shindong berjalan ke luar ruangan. Saat langkahnya melewati bangku Sungmin, Shindong berhenti sejenak dan melempar pandang meminta maaf.

Sungmin terdiam karena ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan pada kawan baiknya itu. Shindong memang tak pandai, tapi anak itu tidak pernah melakukan ulah  yang melanggar aturan. Ia tidak pernah sekalipun datang terlambat di jam kelas. Shindong juga selalu mengerjakan tugasnya dan mengumpulkannya tepat waktu. Ia baik dan berkelakuan sopan. Sungmin sangat mempercayainya.

Tapi kejadian itu serasa menampar Sungmin. Kepercayaannya selama ini sia-sia. Bagaimana mungkin Shindong mencuri uang yang jumlahnya tidak sedikit itu.

Hal itu juga semakin menyemangati seisi sekolah untuk mengolok Shindong. Dan tidak seorang pun tahu, itu adalah hari terakhir Shindong muncul di sekolah mereka.

Sungmin pikir Shindong butuh waktu untuk menenangkan diri atau mungkin itu sebagai hukuman seperti yang teman-temannya bicarakan. Maka Sungmin lebih memilih diam dan memberikan ruang untuk Shindong merenungi kesalahannya.

Tiga hari sesudahnya masih dengan sisa rasa kesal, Sungmin menyerah dan mendatangi rumah Shindong. Tapi ia tak menemukan siapa-siapa di sana. Shindong pindah satu hari sebelumnya dan tidak satu pun tetangganya tahu ke mana keluarga Shindong pergi. Yang mereka tahu, ibu Shindong sakit keras hingga membuat ayah Shindong menjual segala yang ia punya termasuk rumah kecil mereka.

Meninggalkan Sungmin yang terendam dalam penyesalan.

***

“Rapat akan dimulai lima menit lagi, Pak. Saya hampir jantungan tadi. Tidak biasanya bapak datang kesiangan seperti ini.”

Sungmin meringis mendengar ocehan asistennya. Semalam ia menangis hebat sampai menghabiskan separuh malamnya.

“Maaf,” balasnya kecil.

Langkahnya lebar-lebar di lorong kantor yang mulai ramai dengan kegiatan. Tanpa mengurangi kecepatannya berjalan, sesekali Sungmin mengangguk dan tersenyum setiap para pegawai membungkuk hormat padanya.

Diantara orang-orang itu, ada satu wajah yang tidak menyapanya. Sungmin yakin orang itu bukan karyawannya karena seragamnya seperti petugas dari jasa pengiriman barang.

Kaki Sungmin terhenti tiba-tiba.

“Pak.” Asisten yang ikut behenti di belakangnya berekspresi tak sabar. Mereka sudah tak punya waktu lagi. Tapi Sungmin tak peduli, ia berbalik dan langsung melihat orang itu yang ternyata juga berhenti di tempatnya. Menghadap ke arahnya.

“Pak, kita hampir terlambat.”

Suara si asisten tak dianggapnya, karena kini ia mengambil langkah maju. Tanpa ia mampu tahan lagi, tangannya merengkuh tubuh gemuk itu—mengabaikan erang kesakitan orang itu karena kakinya baru tertimpa kardus yang ia bawa.

“Shindong.” Ia  tengah menahan tangisnya hingga suaranya terdengar parau.

“Sungmin.”

“Kau masih mengingatku?”

“Bagaimana aku bisa melupakanmu Sungmin. Kau teman terbaikku.”

Mendengarnya Sungmin menyembunyikan wajahnya di balik bahu hangat itu.

“Maaf.”

“Ah, sudah berapa lama aku tidak melihatmu? Ternyata kau masih sekecil dulu.”

“Dan kau masih segemuk dulu.”

Suara tawa mereka menyatu, mengusik ketenangan lorong itu.

with sungmin 9

***

Note :

Akhirnya selesai ni tulisan yang dari dulu saya cita-citakan. Sebenernya ini mau aku masukan dalam projek 7jib, tapi telat hehe

Banyak yang ga perhatiin mereka (ShinMin) karena terlalu asyik merhatiin otp fav-nya masing-masing. Tapi aku sendiri selalu menemukan betapa Sungmin selalu nyaman di dekat temannya ini. Kalau diperhatiin Sungmin itu tipe orang yang tertutup. Dia lebih suka jadi hyung yang mendengar curhatan adik-adinya. Tapi kehadiran Shindong yang seumuran sama dia, membuatnya punya sosok yang bisa ia panggil ‘teman’. Interaksi mereka apa adanya. Shindong yang sering berdiri di samping Sungmin. Kadang bisik-bisik, kadang ketawa dalam dunia mereka sendiri. Shindong seperti punya zona nyaman yang membuat Sungmin betah tinggal di sampingnya.

Sayangnya fakta dan video moment mereka masih jarang, sih. Mungkin karena dua-duanya kadang tersisih dari member lain atau mungkin keduanya sama-sama ga terlalu suka buka-buka2an. Hehe Meski sebenernya banyak moment mereka saling care satu sama lain kalau kalian lebih jeli.

For me, they have such a sweet relationship.  Ga kalah manis sama EunHae deh 😀

Semoga ini bukan fanfic terakhirku untuk Shindong sebelum dia pergi wamil yah.

Anyway, kemarin2 aku susah banget buat nuangin ide. Terkadang menuangkan ide itu lebih susah dari waktu mencari ide itu sendiri. Karena ini berhubungan dengan bagaimana pembaca bisa paham dan merasakan apa yang ingin penulis sampaikan.

Terus aku tengok2 sendiri pembaca blogku yang tidak ada peningkatan banyak. Mulai deh aku mikir, mungkin ada yang salah dengan tulisanku. Membosankan atau bertele-tele atau mungkin terlalu gamblang. Aku sering menemukan penulis yang pandai merangkai kata dalam sebuah cerita pendek misal lah drabble/flashfiction, tapi tulisan dia berubah membosankan kalau sudah panjang seperti cerpen atau novel. Aku pikir mungkin aku temasuk bagian dari orang-orang itu :<

Aku bisa saja mengoreksi tulisan orang lain, karena aku punya penilaian dari feeling yang aku dapat. Tapi kalau tulisan sendiri, semua feeling sudah berasa pas. Jadi aku ga bisa ngoreksi apa itu membosankan atau ga.

Aku sudah suka menulis sebelum aku kenal sj dan fanfiction. Karena itu, kalau pun aku berkesempatan menulis novel, aku pengen nulis  novel yang bisa dibaca semua orang. Bukan dari kalangan kpoper saja atau sekelompok orang saja.

Karena itu aku butuh belajar banyak soal menulis ini. Aku bukan orang yang gila review, tapi kalau tulisanku buat kalian kurang nyaman, bisakah kalian bilang ke aku? Aku akan sangat berterima kasih jika ada yang mengkritikku  🙂

Advertisements

8 thoughts on “Oneshot : Islands

  1. lyt fotox emang ming nyaman bangt ma ndong”. tp q lytx ming kayak adek kecil sindong haha abz mukax imut bngt …..>,<
    klau mslh tulisan kamu . mnrtq sh bagus smw . bgus bgt malah . tp kmbali jg pada mood si pembaca . kalo dy bacax ps gk mood y mgkn feelx gk dpet trs bosn dh …soalx q kdg" gt hehe …yg lain bilang daebak" .tp q ndry pasang muka datar -_-….
    trs pa lg y .. bhasa yg kmu pakek gk ribet .mudah d phami cum kurang panjang ajha hahaha (maunya aq sendri tu ) kalo d tivi" . model cerita kamu tu kyk ftv . sekali tayang selesai . knp gk cob bwt chapter ?? ntr lo dh banyak d jadiin novel dh … ^_^
    maav y lo da kata"q yg nyinggung kamu . intix tulisan kmu udh bagus ….

    • wah wah, ini komenan meymey yang paling panjang *___* /keprok2 pake sendalnya siwon/
      Mwehehe kalau githu baca aja cerita komedi kalau km lagi badmood. kadang aku gthu. Jangan yng sedih, itu akan buat km makin terpuruk(?) kkk
      Nah itu salah satu masalahku. Aku ga bisa konsisten kalau buat chapter. Lihat aja tulisan seriesku, ga ada satupun yang kelar. Hhahaha ;o; Karena mungkin aku kurang persiapan, jadi di tengah jalan cerita aku kehilangan arah tujuan(?)
      Ga ribet karena dasarnya aku ga pintar berpuitis ehehe
      Ga ada yang salah kog. Aku tunggu komentar2nya jika ada tambahan lagi 😀

  2. Mmm.. Mungkin ini terlalu pendek eon, aku ngga terlalu dapet feelnya.. Seperti terburu-buru. Tapi iyasih ini oneshot tapi tapi ya gtu kecepetan kayaknya ><v aku ngga terlalu bisa ngeritik eon, soalnya nyatanya aku ga tau apa2 tentang nulis, yg kutau cuma baca baca baca u,u

    tapi aku suka sih.. Nice story _<

    • ini udah 1000kata lebih. mau aku tambahin takutnya yng baca ngantuk ntar mwhehehe. lain kali aku buat yng pnjng deh. atau yng pendek tpi ga keliahtan buru2nya xD

      review tulisan orang itu ga perlu jadi penulis hebat kog. cukup jadi pembaca yng budiman itu udah cukup 😀

  3. sandal siwon ????…..merk ap ??? swallow kh ???? hahahaha…
    gk harus puitis yg penting dapet mksd critax … klu dpkr” ini emang ciri khas kamu. model” sekali tayang …..
    q gk bs ngritik …. cum ini yg da d otakq ps bca note kamu …
    blum da peningkatan pmbca mgkn krn belum bxk yg tw blog kamu ….
    ttp smngt donk y …..kkkk~

    • sekali tayang? hahahha
      iya, aku emang jarang promo blog. hehe ga bisa promosi. tp buat apa promosi kalau tulisannya buruk, kan ga bakal laku juga yow xD
      yep! semangka~!
      makasih sudah jadi pembaca setiaku, yng datang tak diundang, pergi tak diusir yah ~ kkk

  4. Boleh aku jujur? Dua kalimat terakhir Kak Cherry, bikin aku nangis 😥 Serius gak boong 😥
    Mungkin karena aku bacanya terlalu serius, ditambah aku jadi inget Shindong yang nangis waktu itu karena hal yang hampir sama, aku tersentuh, terlepas dari aku yang memang cengeng 😥

    Daebak! Kakak bisa bikin tulisan yang sederhana, tapi artinya bener2 ngena. POL banget deh ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s