#FanficProjectFor7jib – Islands – Loving You Forever [2]

elf-japan mag

 Loving You Forever [2]

by raeHEEchul

Part sebelumnya.. [1]

.

Kim Hee Chul mendesah. Setelah melihat Rae Hee melompat dari pinggir jembatan dan tidak muncul kembali, Hee Chul ikut menceburkan diri ke dalam sesuatu yang menelan tunangannya tersebut. Mengarungi labirin kegelapan yang mencekam dan dingin yang menusuk tulang, dengan cemas dan harapan semoga dirinya tidak terlambat.

Lalu saat perasaan sesak membakar jiwanya—karena tidak sepantasnya Hee Chul berada di tempat seperti ini—dia melihatnya. Gadis itu terbaring tak sadarkan diri. Tanpa berpikir lagi, Hee Chul mengangkat Rae Hee dan membawanya pergi dari termpat terkutuk itu.

Jadi disinilah dia, duduk dan menunggu gadis itu terbangun (“semoga saja dengan cepat!”) karena mereka tidak memiliki waktu yang banyak.

Hee Chul hampir saja membangunkan gadis itu dengan paksa kalau Rae Hee tidak lebih dulu membuka matanya.

Hal pertama yang Rae Hee lihat adalah wajah Kim Hee Chul dan kecemasannya. Dan sekarang menjadi lebih mudah untuk membaca pria itu. Itu—kecemasan Hee Chul dan kenyataan bahwa dirinya bisa memahami Hee Chul lagi—membuatnya tersenyum. “Jika saja aku tahu bisa melihatmu lagi seperti ini, aku sudah melakukannya sejak minggu lalu.”

“Melompat dari jembatan di air dingin membekukan sialan itu? Kupikir kau benar-benar sudah gila.”

Rae Hee tertawa kecil, memutuskan untuk bangun. Dan melihat bahwa dirinya kesulitan, Kim Hee Chul membantunya.

“Bagaimana perasaanmu?” kata pria itu setelah Rae Hee tidak berkomentar apa-apa terhadap kalimatnya sebelumnya.

“Luar biasa.”

“Karena berhasil membuatku ketakutan setengah mati atau karena melihatku sepuasmu?”

Tidak membutuhkan waktu lebih lama dari sedetik untuk Rae Hee menjawab, “Melihatmu sepuasku.”

Rae Hee mengulurkan tangan, menyentuh wajah Kim Hee Chul. Sosok yang seharusnya menjadi suaminya kemarin. Tapi Hee Chul meninggal karena menyelamatkannya. Satu minggu penuh menghadapi kenyataan itu, Rae Hee tidak sanggup lagi dan memutuskan untuk menyusul Hee Chul ke tempat di mana pria itu pergi.

“Kau tahu, bahwa aku begitu marah padamu?” kata Rae Hee dengan matanya yang berkaca-kaca. Kedua tangannya yang menangkup wajah Hee Chul, digenggam oleh pria itu. Berbagi dingin yang sama.

“Hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan untukmu.”

Seminggu yang lalu, pencegatan yang dilakukan oleh para pesaing mereka telah membuat Hee Chul meninggal dunia. Pekerjaan terakhir Hee Chul sebagai seorang arkeolog dan Rae Hee yang seorang sejarawan, akan mengguncang dunia dengan penemuan mereka. Pencarian yang mempertemukan mereka lima tahun yang lalu membuahkan hasil, hingga membuat keduanya tidak bisa menahan diri untuk menunda klarifikasi hingga upacara pernikahan mereka selesai. Artefak kuno yang menyatakan bahwa lebih dari seribu tahun yang lalu, teknologi canggih yang dikenal sebagai robot di zaman sekarang telah ada. Meski belum jelas teknologi apa itu, jelas sekali bahwa apa yang mereka berdua temukan akan membuka jalan bagi keduanya kepada kemahsyuran.

Alih-alih, membuka jalan bagi kematian kepada salah satunya.

Tan Han Geng dan istrinya; Shin Ran Rin, mengetahui kemajuan penemuan Rae Hee dan Hee Chul. Dan karena Han Geng serta Ran Rin tidak bisa membiarkan begitu saja keuntungan yang akan diperoleh oleh Rae Hee dan Hee Chul, Han Geng beserta Ran Rin hendak mencurinya. Awalnya, pria China itu mengatakan niatnya dengan baik-baik. Tapi itu justru memancing amarah Hee Chul. Teringat bahwa Han Geng juga pernah mengkhianatinya dengan mengklaim penemuannya, Hee Chul dan Han Geng mengalami pertengkaran sengit.

Saat Ran Rin menyadari hal yang mustahil terjadi bahwa Han Geng akan kalah dari kemampuan bela diri Hee Chul, Ran Rin yang memang selalu menyimpan pistol di balik sepatu botnya, mengangkat benda itu dan mengarahkannya pada Rae Hee.

Rae Hee terkejut. Tubuhnya gemetar. Suaranya tercekik.

Hee Chul melihat apa yang dilakukan Ran Rin dan setelah menendang Han Geng dengan sekuat tenaga, Hee Chul berlari ke arah Rae Hee tepat sebelum suara tembakan terdengar. Hee Chul yang sudah tepat di depan Rae Hee menerima tempat peristirahatan terakhir sang peluru, yang membawanya menuju tempat peristirahatan terakhir.

Ran Rin yang baru sadar apa yang dia lakukan langsung ditarik Han Geng pergi dan melarikan diri. Tiga hari kemudian, kedua pasangan itu ditangkap pihak berwajib.

Tapi, penangkapan pasangan penjahat itu tidak bisa mengembalikan Hee Chul ke dalam pelukan Rae Hee. Artefak yang mereka temukan telah dipublikasikan dan membuat nama Hee Chul dicatat dalam sejarah karena Rae Hee mengusahakannya. Dia tidak mau usaha Hee Chul harus hancur begitu saja.

Tapi, hanya sebatas itu pertahanan diri yang dimiliki Rae Hee. Setelah hidup dengan kenyataan menyakitkan bahwa Hee Chul telah pergi, Rae Hee memutuskan untuk menyusul.

“Aku senang kita bisa bersama lagi,” ucap Rae Hee. Ibu jari gadis itu kemudian menghapus air mata yang turun dari kedua mata indah milik Hee Chul. Pria itu berubah sedih.

Kim Hee Chul mengetahui satu hal yang menyakitkan, bahwa tempat Rae Hee bukanlah di sini. Gadis itu tidak diperbolehkan berada di sini. Bersamanya. Mereka berbeda sekarang. Tapi Hee Chul tidak sampai hati untuk memberitahu gadis itu yang sebenarnya.

Jadi, Hee Chul hanya meraih kedua tangan gadis itu dan mengecupnya bergantian. “Apa kau tahu di mana kita sekarang?”

Rae Hee mengangguk. “Aku bisa merasakannya. Suasana ini, tempat ini. Ini rumah kita.”

Rae Hee benar. Dalam proses menemukan artefak, Hee Chul menemukan sebuah pulau unik yang memiliki bentuk nyaris menyerupai hati. Pulau yang indah dengan keadaan alam yang masih natural. Setelah mengetahui bahwa tidak ada klaim apapun terhadap pulau tersebut, Hee Chul membelinya jadi menjadikan pulau itu resmi sebagai miliknya, lalu menghadiahkan HEE Island kepada Rae Hee sebagai hadiah pernikahan setelah menyelesaikan pembuatan rumah di pulau tersebut. Mereka berencana untuk menjadikan HEE Island sebagai tempat tinggal tetap. Karena kekayaan yang akan mereka terima karena artefak tersebut, Hee Chul juga sudah merencanakan untuk membeli helikopter sebagai satu-satunya transportasi yang menghubungkan HEE Island dengan pulau utama di Semenanjung Korea.

Tapi semua itu hanya tinggal kenangan.

Mereka tidak bisa lagi bermimpi akan memiliki anak-anak dan melihat anak-anak mereka tumbuh besar. Bahkan Hee Chul tidak bisa bermimpi lagi untuk bersama Rae Hee lebih dari tiga puluh menit di mulai sekarang.

Karena kesadarannya akan waktu yang terbatas, Hee Chul langsung mengajak Rae Hee untuk berkeliling, hal yang belum sempat mereka lakukan. Dan itu mereka lakukan selama hampir dua puluh menit.

“Sebelumnya, apa aku membuatmu takut?” kata Rae Hee setelah mereka akhirnya duduk di tepi pantai. Hee Chul bahkan membangunkanya sebuah persinggahan yang mengarah tepat ke matahari terbenam. Sayangnya, waktu mereka tidak sebanyak itu untuk melihat sunset bersama-sama.

Hanya tinggal sepuluh menit lagi.

“Kau membuatku sangat takut. Aku tidak berpikir kau akan benar-benar melakukannya,” jawab Hee Chul. Tangannya mengelus rambut panjang tunangannya tersebut. Rae Hee bersandar didadanya, kedua tangan gadis itu melingkar ditubuhnya.

“Kita pernah membuat janji, bukan?”

Hee Chul mendesah. “Sebenarnya, aku yang berjanji.”

Dulu, Rae Hee tidak pernah semangat dalam menjalani hidupnya. Gadis itu tumbuh besar di panti asuhan, tidak tahu asal-usulnya. Menurut pengakuan gadis itu, orang-orang datang ke kehidupannya dan membawa cahaya cinta yang selama ini diidamkan olehnya, tapi kemudian pergi meninggalkannya begitu saja. Dan itu terjadi berulang kali sampai akhirnya Rae Hee memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan sosial.

Alasan itulah yang membuat Rae Hee menjadi seorang sejarawan. Dia hanya akan berfokus untuk menemukan sisa-sisa sejarah yang hilang atau terlupakan, tanpa perlu repot arus menjalin hubungan baik dengan orang lain karena menurutnya bisa dilakukan lewat telepon ataupun email. Dan kemudian, mereka bertemu.

Saat itu Rae Hee memiliki informasi mengenani temuan Hee Chul yang pertama, yang berlanjut terhadap penemuan besar mereka lima tahun kemudian. Dulu, Hee Chul berkeras untuk bertemu Rae Hee dan dengan susah payah mengajak gadis itu untuk bekerja sama.

Saat kemudian Rae Hee memutuskan menerima ajakannya, Hee Chul memiliki kesempatan untuk mengenal gadis itu lebih dekat. Dan sesuatu di balik sosok Rae Hee, membuat Hee Chul tergerak untuk membuat gadis itu senantiasa aman dan nyaman. Juga bertekad untuk memberikan gadis itu cinta yang selama ini tidak pernah didapatkannya.

Dan saat itu, Rae Hee ketakutan. Takut bahwa gadis itu akan ditinggalkan lagi sendirian di belakang. Itu membuat Hee Chul marah. Marah terhadap orang-orang yang telah memberikan Rae Hee luka, yang amat sangat membekas.

Hingga dia berjanji, tidak hanya pada Rae Hee namun juga pada dirinya sendiri, bahwa Kim Hee Chul tidak akan membiarkan Choi Rae Hee hidup sendirian dan akan selalu menemani gadis itu dimanapun dan hingga selamanya.

Hanya saja Hee Chul tidak menyangka bahwa Rae Hee akan melakukannya. Menyusulnya alam lain hanya untuk memastikan Hee Chul menepati janjinya.

Hee Chul mengernyit saat melihat sesuatu di wajah Rae Hee. Dan tahu bahwa waktunya tidak lama lagi.

“Hee-ya, dengarkan aku baik-baik.”

Rae Hee mengernyit karena manuver kalimat Hee Chul. Tapi pria itu menatapnya dengan aneh.

“Kau membuatku takut,” ucapnya lirih.

“Kita tidak punya banyak waktu.”

“Mengapa—”

“Sst.” Hee Chul memotong protes Rae Hee dengan meletakan telunjuk di atas bibir gadis itu. “Dengarkan aku baik-baik.”

Lalu Rae Hee merasakannya. Merasakan bahwa dirinya tidak bisa menyentuh Hee Chul selama hampir lima detik penuh sebelum akhirnya bisa menyentuh pria itu lagi. Dan itu membuat Rae Hee semakin ketakutan. “Apa yang terjadi?” kata Rae Hee, refleks memeluk Hee Chul dengan erat. Tidak mau lagi kehilangan pria itu. Jika kali ini mereka berpisah, cara apa lagi yang bisa Rae Hee lakukan untuk bersama dengan Hee Chul?

Hee Chul dengan susah payah melepaskan pelukan Rae Hee hanya agar bisa menatap gadis itu. “Kau melompat dari atas jembatan, kau ingat?” tanyanya, lalu Rae Hee mengangguk dengan cepat. “Kau meninggal, itu benar. Tapi itu bukan kematianmu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau mematikan fisikmu, tapi jiwamu belum saatnya pergi. Kau melawan Sang Kematian. Aku berhasil membawamu ke sini sebelum Sang Kematian mengetahuinya. Membutuhkan waktu satu jam bagi Sang Kematian untuk mengetahui bahwa ada manusia yang menyalahi aturannya. Dan waktu kita sudah semakin menipis.”

“Hee Chul-ssi… lalu… lalu… apa kita akan berpisah… lagi?” Rae Hee sudah berderai air mata. Membayangkan bahwa dirinya berpisah dengan Hee Chul, tidak sanggup lagi. Sudah cukup di kehidupan sebelumnya, tidak di sini juga.

“Kau harus menerima hukumanmu. Kau akan dipenjara oleh Sang Kematian sampai waktu kematianmu yang sesungguhnya. Selanjutnya, kita akan tahu apakah kita bisa bertemu lagi atau tidak jika saat itu tiba.” Sebenarnya Hee Chul mengucapkannya dengan amat berat dan perih. Dia juga sama menderitanya karena harus berpisah dengan gadis itu. Tapi jelas, ini adalah sesuatu yang tidak bisa mereka lawan begitu saja. Bahkan mereka hanya bisa menurutinya. Ini aturan. Jika di dunia hidup aturan masih bisa dilawan, di sini, mereka tidak bisa.

“Kapan? Berapa lama?” tanya Rae Hee panik saat merasakan tubuhnya tidak bisa lagi menyentuh Hee Chul. Hee Chul juga demikian. Keduanya menggapai udara dan saling menembus. Sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukannya.

“Aku tidak tahu, Hee-ya, aku tidak tahu. Tapi aku perlu kau untuk tahu bahwa aku akan selalu menunggumu. Bahwa aku akan selalu mencintaimu.”

Rae Hee menangis, dan Hee Chul sadar bahwa dirinya juga menitikan airmata. Mungkin perasaan menyakitkan seperti ini yang dirasakan Rae Hee saat dirinya meninggalkan gadis itu untuk selamanya.

Lalu perlahan-lahan bagian tubuh Rae Hee menghilang. Mulai dari ujung kakinya. “Kim Hee Chul-ssi… aku takut.”

“Jangan takut, Hee-ya, kau tidak boleh takut. Aku tidak akan pergi kemana-mana dan akan menunggumu di sini, di rumah kita, Hee-ya…”

“Hee Chul-ssi…” Kini hanya tinggal bagian atas tubuh Rae Hee yang terlihat. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

Lalu keseluruhan tubuh Rae Hee lenyap begitu saja, menyisakan tetesan air mata yang terjatuh di atas pasir di depan Hee Chul. Kim Hee Chul menatap pasir itu dengan pedih dan berkata, “Aku juga.”

.

Advertisements

8 thoughts on “#FanficProjectFor7jib – Islands – Loving You Forever [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s