#projectfanficfor7jib [Mid-season]

140901 elfjapan update 4

Cherry Hee © 2014

“Musim akan cepat berubah asal kau mau merubahnya. Asal kau mengabaikan rasa sakitnya.”

.

Minggu pagi di kota Dali China, matahari tidak terlalu terik sebenarnya. Sedikit mendung namun hawa panas cukup terasa. Atau mungkin Hua Ling satu-satunya manusia di sana yang merasa kepanasan.

Dirinya bersepeda hampir lima belas menit. Mengayuh kesetanan sampai beberapa kali ia hampir menabrak turis di jalan.Lalu tersengal kehabisan napas. Keringat pun mengucur di dahi, membuat poninya agak lepek. Oh, bencana. Ia punya janji tiga puluh menit yang lalu tapi ia lupa gara-gara film favoritnya diputar di salah satu saluran tv. Hua Ling sendiri tak suka menunggu, ia pun selalu menekankan agar tak membuat orang lain menunggu. Tapi sepertinya khusus hari ini, orang itu dapat sial. Hua Ling benar-benar lupa.

Setelah kakinya terasa linu, kayuhannya terhenti di depan kafe mungil itu. Hua Ling melirik ke arah jendela besar transparan kafe itu dan langsung mendapat senyum janggal dari lelaki yang duduk di sana.

Gadis itu buru-buru masuk setelah sebelumnya menyisir rambutnya dengan jari dan merapikan jaket biru muda miliknya.

“Maaf, aku terlambat.” Hua Ling mengambil duduk di samping lelaki itu. Menyambar minuman yang ada di atas meja dan meminumnya tanpa permisi.

Lelaki itu bukan orang asing. Gui Xian adalah satu dari sekian lelaki yang dikenalnya sebagai teman.  Dulunya mereka bertetangga tapi semenjak Gui Xian pindah distrik mereka jadi berpisah. Namun jarak sama sekali tidak mengikis tali pertemanan mereka sedikit pun.

“Kau kelihatan tidak marah.” Hua Ling menyimpulkan. Lelaki di depannya itu memang tidak sedang memasang raut seram. Dia malah tersenyum sebegitu manisnya. Berbanding terbalik dengan Gui Xian yang biasanya penuh seringai. Apa lelaki itu hanya memasang topeng? Tapi untuk apa ia berpura-pura tak marah?

“Kau terlihat kacau.” Hua Ling hampir tersedak. Itu jelas bukan kalimat pujian. Tapi lelaki itu mengucapkannya dengan nada seperti, “Kau terlihat cantik.” Dan senyum itu sama sekali tak luruh dari wajahnya.

“Kau sakit atau apa? Kepalamu terbentur?” Kalau memang iya Hua Ling akan senang hati untuk memukul kepala lelaki itu agar kembali normal.

“Tidak.” Gui Xian mengambil kembali cangkir minumannya dari tangan Hua Ling. Meyeruput pelan coklat hangatnya santai, mengabaikan Hua Ling yang sedang bergidik ngeri ke arahnya.

“Aku tahu kenapa kau terlambat.”

“Benarkah? Karena aku naik sepeda. Karena kafe yang kau pilih ini jaraknya jauh dari rumahku, aku jadi buru-buru dan sialnya sekarang kakiku pegal,” sahut Hua Ling kesal.

“Bukan, bukan itu.” Gui Xian menggeleng, matanya terpejam.

Sok imut! Hua Ling mengeram sebal dalam hati.

“Pipimu merah dan tidak biasanya kau mengikat rambutmu. Dan apa itu? Kenapa matamu jadi besar?”

“Tidak usah lihat-lihat.” Hua Ling segera memalingkan wajah, kesal.

“Kau terlambat karena terlalu lama berdandan. Apa kau pikir kita sedang kencan?”

“Oh, hentikan!”

Gui Xian terkekeh.

Obrolan mereka terhenti sebentar ketika seorang pelayan datang. Hua Ling memutuskan memesan minuman yang sama dengan Gui Xian.

Lelaki itu tidak menggodanya lagi, tapi senyuman menggelikan itu masih melengkung jelas. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Menikmati jalanan pagi yang mulai sibuk dengan segelas coklat di tangan masing-masing.

“Aku sedang memikirkan permintaanmu semalam.”

Hua Ling terbatuk lagi. Melirik takut-takut lelaki di sampingnya. “Kau menganggapnya serius? Aku bercanda lo semalam.”

“Aku tidak.”

Hua Ling beringsut mundur ketika lelaki itu balik menatapnya dengan mata berbinar aneh. Hua Ling tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat mata sebening itu. Atau selama ini ia tidak pernah memperhatikan mata temannya sendiri.

“Serius, kau sedang sakit atau apa huh? Kau aneh.” Hua Ling mengusap-usap pundaknya sendiri. Tubuhnya tiba-tiba merinding.

Gui Xian mengabaikan itu dan berucap ringan. “Aku mau menjalani masa percobaan pacaran denganmu.”

Hua Ling berdecih. Merutuk dirinya sendiri yang membuat perjanjian gila itu.

Semalam dirinya sedang dilanda rindu setengah mati pada mantan pacarnya. Dan Gui Xian satu-satunya nama yang muncul dikepalanya. Pada akhirnya lelaki itu jadi sasaran curhatannya ditelpon. Lalu Gui Xian berpetuah bahwa dunia ini tidak selamanya melahirkan laki-laki jahat tukang selingkuh. Hua Ling yang termakan petuah lelaki itu akhirnya mendapat pencerahan untuk membuat sebuah tantangan pada dirinya dan Gui Xian.

“Percobaan pacaran selama dua minggu, itu hanya omong kosong. Jangan terlalu dipikir.” Hua Ling kembali menimpali. Kali ini selera makannya jadi hilang. Mendadak bayang-bayang mantan kekasihnya menggenang di atas permukaan minumannya. Menyeramkan!

“Tapi semalam aku tidak sedang bercanda. Lagi pula ini sebatas percobaan, kan? Kau bisa memutuskannya setelah dua minggu nanti. Jika kau tidak bisa menerimaku kita akan kembali berteman. Itu mudah.” Gui Xian menjelaskan tanpa beban. Sedangkan gadis itu semakin dirundung pilu.

“Kau tahu kan kalau aku susah jatuh cinta.” Hua Ling meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja. Tidak berdaya ketika rasa marah bercampur rindu kembali menghujam hatinya.

Gui Xian diam memperhatikan, tanpa niat menyela.

“Aku sering merasa aneh sendiri kenapa orang-orang bisa mudah berpacaran lalu di tengah hubungan mereka putus. Esok harinya lagi mereka sudah dapat pacar baru. Putus lalu jatuh cinta lagi, pacaran dan putus lagi. Maksudku kenapa orang begitu mudah jatuh cinta? Apa cinta semacam permainan? Jika kalah kau bisa mencobanya lagi dan lagi sampai berhasil digaris finish?”

“Mungkin,” balas Gui Xian agak geli. Hua Ling dengan pikiran polosnya dan cara bicaranya yang menggebu-gebu merupakan hiburan tersendiri untuknya.

“Ini pertama kalinya aku punya pacar, kau tahu itu, kan? Dan pertama kalinya aku diputus. Aku hanya….” Hua Ling menghela napas. Terlalu lelah untuk sekadar menjelaskan kecamuk hatinya.

“Kau hanya perlu menikmati masa-masa patah hatimu itu dengan bersenang-senang.” Gui Xian membuka suara. “Tidak ada yang memaksamu untuk jatuh cinta secepat orang-orang yang kau bicarakan itu. Aku hanya memintamu untuk tidak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi. Ikuti saja berjalannya waktu. Musim akan cepat berubah asal kau mau merubahnya. Asal kau mengabaikan rasa sakitnya.”

Gadis itu menegakkan kepalanya hingga tatapan mereka beradu. Gui Xian masih dengan raut tenangnya dan Hua Ling yang dipenuhi kekaguman sekaligus keheranan.

“Kau bicara seperti kau pernah patah hati saja,” seloroh gadis itu. Hatinya mulai goyah.

“Memang. Aku bahkan patah hati sebelum memulai semuanya,” sahut Gui Xian santai.

Patah hati selama kau berpacaran dengan lelaki itu, dengus Gui Xian diam-diam.

“Jadi?” Gui Xian menyeruput coklatnya lagi.

“Jadi apa?”

“Jadi kau mau menjalani percobaan berpacaran denganku?”

“Kedengarannya aneh.” Hua Ling terkekeh geli.

“Mau atau tidak?”

“Kenapa jadi kau yang mendesak?”

“Kebetulan aku sedang baik hati saja. Sebelum ini aku sudah menolak lima tawaran berpacaran dari gadis-gadis di kampus. Untuk kali ini aku merelakan waktuku untukmu. Kau beruntung.” Gui Xian berkedip genit.

Hua Ling tak bisa menahan tawanya sampai hampir menumpahkan coklatnya ke sweater biru lelaki itu.

“Asal nanti setelah dua minggu, kau mau jujur. Jika kau jatuh cinta padaku, kau harus mengatakannya.”

“Sepertinya akan sulit.” Hua Ling berkata lirih bermaksud bercanda.

“Kalau begitu aku akan membuatmu jatuh cinta padaku.”

Gadis itu terkesiap. Barusan lelaki itu tidak sedang menyeringai atau melakukan gerakan sedang bercanda, kan?

“Gui Xian.”

“Ya?”

“Kau suka padaku?”

“Apa terlihat jelas?” Gui Xian mengakhirnya dengan tawa. Menarik gadis itu untuk ikut tertawa bersamanya. Mereka sudah sepakat.

Tapi dua minggu, empat minggu atau empat bulan, bagi Gui Xian tidaklah ada artinya. Selamanya gadis itu tetaplah musim kesukaannya. Musim yang selalu ia jaga dihatinya sebagai musim favorit. Meski nanti ia terserang sakit olehnya.

.

 ***

Note :

Curi waktu diantara depresi penggarapan laporan KKL. Siapapun tolong sayaaaaa 

Silahkan baca karya-karya lainnya di #ProjectFanficFor7jib ^^

Advertisements

17 thoughts on “#projectfanficfor7jib [Mid-season]

  1. Aaaa gyugyu xD karakternya lope banget xD
    itu kalimat yg dari “tp dua minggu, empat minggu” smpe yg terakhir “meski ia terserang sakit olehnya” ughhhh ❤ asdfxgtpmjg

    daebaak eon! Ditunggu fic lain dr 7jib ini nn/ fighting! 'o'9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s