Flashfiction // Di Bawah Rintik Hujan Pertama

flower in the rain

Di Bawah Rintik Hujan Pertama 

Cherry Hee © 2014

“Ketika aku bertemu dengannya. Ketika tatap matanya memanggilku.. dan ketika aku mengabaikannya begitu saja.”

.

Kalau Ren tidak salah ingat, ia bertatap muka dengannya satu minggu yang lalu. Tepat di bawah rintik hujan pertama tahun itu. Tubuh itu terlihat kuyu. Tatapannya memelas memandang Ren yang melintas di depannya. Tapi Ren tak peduli. Ren bukan tipe orang yang peduli pada hal lain yang bukan urusannya. Jadi ia melewatinya begitu saja. 

Esok hari, di tempat yang sama Ren tak melihatnya. Mungkin sudah pergi, pikir Ren kala itu. Tapi ternyata dihari berikutnya, tubuh itu muncul lagi. Masih dengan tubuh kurus dan tulang-tulang menonjol yang kentara. Ia tidak kelihatan lebih baik. Tapi lagi-lagi Ren tidak mau tahu. Bukan urusannya juga karena itu tempat umum. Tempat di mana ratusan orang melintas di jalan yang sama, yang berarti ada ratusan kesempatan orang lain untuk melakukan sebuah tindakan padanya. Dan Ren memantapkan diri kalau orang yang harus melakukan semua itu bukanlah dirinya. 

Dihari ketiga, ketika hujan deras serta terpaan angin semakin menjadi-jadi, Ren melihatnya meringkuk di bawah atap sebuah toko. Tempat yang sama, dan tubuh yang sama. Tapi mata kelabu itu tidak lagi memandang Ren. Mungkin ia sibuk meringkuk menghangatkan diri dari dinginnya hujan.

Namun langkah Ren mendadak terhenti. Ada yang aneh. Tubuh itu meringkuk dengan posisi aneh. Ren mendekat, memastikan. Dan ketika ia lihat lekat-lekat, tubuh itu sama sekali tak bergerak selayaknya makhluk yang masih bernapas. 
Dengan hati yang serasa dihujam ribuan palu, Ren mengulur tangan, menyentuh bulu abu-abunya yang kuyu. Dan jantung Ren serasa dilempar ke jurang terdalam setelah tahu tubuh itu benar-benar sudah tak bernapas lagi. 

Kucing itu mati—tanpa tuan, kedinginan dan mungkin kelaparan. 

Ren merasa dirinya jadi orang paling kejam. Kenapa? Kenapa ia membisu ketika tatapan penuh pinta tolong itu memanggilnya? 

Semenjak itu, masih dengan rasa getir yang sama, tiap ia pergi bekerja, Ren tak pernah melewatkan untuk menyapa gundukan kecil di pekarangan rumahnya.

.

Note :

Flasfiction ini aku buat untuk GA novelnya mbak Hana Cuncun berjudul WHY. GAnya sudah selesai jadi ga ada kesempatan lagi buat yang mau ikutan :p Tapi sih katanya bakal ada GA lagi nanti. \O/

10376281_494490610684906_3336445455539605249_n

“WHY: Kenapa kita harus seperti ini? Diam tanpa kata, hanya saling menunggu tanpa mau menyapa.”

Penasaran sama novelnya? Beli donk hahaha

Oh ya, masih suasana 17an yah. Kepingin nulis sesuatu tapi ga mau janji di sini, karena tiap aku janji tulisannya bakal berhenti di tengah jalan kkk

Advertisements

2 thoughts on “Flashfiction // Di Bawah Rintik Hujan Pertama

  1. Kirain kakek” .. Trnyta kucing …
    Mrinding bacax ching , ikut ngrasa brslh , ….
    Kebayang mata sayux ….
    T,T
    La tu dh ngmong pengen bwt , tk tggu lo ching ….kkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s