Flashfiction // Death Walks Behind You

logo_

Death Walks Behind You

Cherry Hee © 2014

Aku selalu mengikutimu, mengendap-endap di belakangmu….

.

“Apa kau dengar itu Kak?”

“Dengar apa?” Ren menajamkan telinganya. Ia yakin di antara keremangan lampu dan senyap sepinya jalan itu, ia hanya dengar suara derap sepatu mereka berdua dan gemerisik lembut dedaunan yang terbuai angin malam.

“Suara tangisan gadis yang bunuh diri itu.”

“Apa yang sedang kau bicarakan? Jangan bercanda. Cepat pulang sebelum ayah memarahi kita.” Ren melangkah lebih cepat. Tahu sekali di seberang jalan sana ada rumah megah kosong yang tampak gelap dan seram, dan ia tak mau menoleh ke sana di tengah malam seperti ini.

Tapi perkataan Jim selanjutnya membuat ia menoleh ke belakang, tepat saat Jim sedang berhenti dan menatapi rumah kosong itu. “Aku bisa dengar suara tangisnya.” Raut wajah adiknya berubah sendu.

“Kakak tahu tidak, gadis itu membunuh kekasihnya sendiri dengan pisau misterius itu. Saat polisi menemukan mayatnya tergeletak dengan leher bersimbah darah, tak seorang pun menemukan pisau itu kecuali lembar-lembar uang yang tersebar di kamarnya.”

“Uang?” Ren kini ikut berhenti. Ikut memandangi rumah bertingkat dua itu.

“Uang hasil curiannya setelah membunuh kekasihnya.”

“Maksudmu dia membunuh demi mendapat uang itu? Uang kekasihnya?”

“Ya, kekasihnya orang kaya.”

“Aku tidak tahu kenapa orang bisa segila itu gara-gara uang. Sudahlah, ayo pulang Jim.”

Kakinya kembali melangkah mengabaikan perasaan tak enak setelah memandang rumah kosong itu. Dan karena pikiran anehnya itu, jalan di depannya terasa lebih gelap dari yang tadi. Lebih sepi dan ngeri.

“Kenapa orang bisa segila itu karena uang?” Suara adiknya di belakang memecah keheningan. “Karena uang adalah sumber kebahagiaan.”

Ren berkerut kening. Ia membalik badan untuk menanyakan apa maksud Jim. Namun ketika ia lihat raut wajah Jim yang gelap dengan tatapan mata menghujam ke arahnya, Ren sadar ia tak akan hidup sampai pagi datang.

Jim mengacung tinggi tangan kanannya yang menggenggam pisau. Sepintas Ren bisa dengar suara adiknya, sebelum matanya memberat dan dadanya nyeri sakit sekali.

“Dan aku harus membunuhmu untuk dapat merasakan kebahagiaan itu sendiri, kakakku sayang.”

Ren menangis. Bukan pada perih kematian yang tengah memeluknya. Tapi kekhawatiran jika adik satu-satunya itu menyesal dihari-hari kemudian.

.

Note :

Foto  ilustrasinya aku dapat dari twiiter dari salah satu fan noona. Karena aku banyak ngefollow fan noona jadi aku lupa siapa >< Kalau ga salah ini waktu mereka pulang dari comeback stage-nya Henry. Mereka baru pulang tengah malem dan lewat jalan ini. Hehhe

Fotonya menginspirasi sekali jadi aku buat deh ceritanya mwahaha

Judul flashficnya sendiri aku ambil dari lagunya Atomic Rooster. Aku ga tahu lagunya kayak apa, cuma tadi nongol di pencarian jadi aku comot aja hehe

Thanks for coming 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Flashfiction // Death Walks Behind You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s