Twoshot HanChul [2] : The Fourth Star

The fourth Star

© Cherry Hee

..

Waktu berjalan terasa cepat saat Heechul sudah tak lagi mendengar ibunya marah-marah tiap ia pulang lewat malam. Saat ia sudah tidak lagi bermain dengan pasir melainkan berkutat di depan layar komputernya.

Dan hari ini di hari libur kerjanya seorang adik kelasnya di waktu kuliah memintanya untuk bertemu.

Hyung, kau sudah ada di jalan?” Suara Cho Kyuhyun—adik kelasnya—terdengar begitu Heechul memasang earphone-nya. Kedua tangannya masih sibuk dikemudi, melajukan mobil BMW hitam miliknya.

“Aku akan akan terlambat beberapa menit Hyung. Maaf, ada sedikit hal penting di sini.”

“Apa yang kau maksud hal penting itu kekasihmu?”

“Ah! Bagaimana kau tahu Hyung?” Tawa Kyuhyun terdengar seketika. “Kau memang kenal aku baik ya. Tenang saja, tidak akan lama. Aku janji.”

Heechul menguap membayangkan dirinya menunggu adik kelasnya yang menyebalkan itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada pekerjaan lain hari ini. Jadi pikirnya tak masalah jika ia sampai di restoran terlebih dahulu dan menikmati beberapa menu di sana.

Restoran Cina tempat di mana Kyuhyun memintanya untuk bertemu itu berada di sudut persimpangan yang sering dilewati pejalan kaki maupun mobil-mobil. Tempatnya cukup ramai di hari libur seperti sekarang. Heechul merasa sayang sekali ia baru menemukan tempat ini. Ini pertama kalinya ia datang. Menikmati semua menu terkenal bukan ide yang buruk, pikirnya. Dengan wajah semangat Heechul memasuki restoran bernuansa merah hitam itu.

Baru saja langkahnya hendak ke meja kosong di sudut ruangan, mata Heechul menangkap sosok tak asing tidak jauh darinya. Tiba-tiba napsu makannya yang tadi membumbung begitu tinggi, mendadak menguap begitu saja. Heechul cepat-cepat berbalik dan keluar dari restoran itu.

“Heechul Hyung.” Suara Kyuhyun memanggilnya dari belakang. Heechul menolah padanya dengan wajah kesal.

“Maaf, kau tak jadi menungguku. Tadi ak—”

“Ayo pergi dari sini. Aku ingin ke tempat lain saja.” Potong Heechul cepat. Ia baru akan masuk ke mobilnya ketika Kyuhyun menahannya dengan raut penasaran.

“Ada apa Hyung? Kau sudah mencoba makanan di sini? Apa ada yang mengganggumu? Makanannya tidak enak?”

Mood-ku memburuk begitu masuk ke sana. Sudah cepat kau naik ke mobilku saja.”

“Tapi yang mau aku bicarakan ada di sini Hyung.” Kyuhyun menahan pintu mobil Heechul. Bersikeras menarik Hyung-nya itu untuk masuk ke dalam restoran.

“Kau ini—” Heechul baru saja akan meneriaki Kyuhyun ketika lelaki itu lebih dulu memanggil sosok di sana yang tengah sibuk melayani pembeli.

“Hangeng Hyung!”

Lelaki itu tersenyum senang. “Kau sudah datang?”

Heechul sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahwa lelaki itu masih bisa tersenyum ramah seakan ini pertemuan pertama mereka. Apa mungkin karena wajahnya yang sudah banyak berubah? Tapi kenapa bisa Hangeng tak bisa mengenalnya seperti ia mengenal lelaki itu. Sebanyak apapun Hangeng berubah dengan seragam restoran yang terlihat modis. Dan bagaimana Hangeng menata rambut sedemikian rupa hingga kini ia terlihat lebih dewasa tidak juga membuat Heechul lupa siapa lelaki itu.

“Jadi Hyung, ini Hangeng yang mau kukenalkan padamu. Kita akan berbisinis dengannya,” ucap Kyuhyun mengabaikan mata Heechul yang kini berkilat kesal.

Lelaki itu tersenyum, membuat kedua matanya tinggal sebaris. “Hello. Aku Tan Hangeng, siapa nama Anda?”

..

“Kupikir kau lupa padaku,” cibir Heechul pada  lelaki yang duduk di depannya masih dengan wajah tak berdosanya.

Setelah Kyuhyun pergi mereka memilih duduk di luar restoran menikmati angin musim semi dengan segelas green tea di tangan.  Bukan lagi untuk berbincang kerja sama mereka tentang restoran Hangeng yang kekurangan modal dan Heechul dengan segepok uang yang mau menginvestasikannya, tapi lebih ke-mengadili Hangeng yang bersikap sok tidak kenal di restoran tadi.

“Bahkan kau memperkenalkan dirimu!”

Hangeng tersedak, terbatuk-batuk sebelum menjawab dengan santai, “Aku tak mengira kalau kau masih mengingatku.”

“Sialan,” umpat Heechul pelan.

“Maaf, sungguh aku tidak tahu—”

“Apa kau tidak melihat wajah kesalku tadi?” Heechul memotongnya tak sabar, sambil menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.

Hangeng terkekeh. “Wajahmu memang dari dulu seperti itu, kan?” ucapnya berniat mengejek. Tapi kenyataannya memang benar. Heechul dalam ingatan Hangeng adalah anak lelaki dingin yang jarang menampilkan senyum. Selayaknya anak brandal, anak itu lebih bersikap sesukanya sendiri.

“Sial! Lebih baik kita tidak bertemu saja.”

“Kau seperti remaja saja. Pemarah. Tidak berubah.” Hangeng menghela napas. Entah menyerah akan sikap Heechul yang dia rasa begitu-begitu saja atau bersalah dengan sikap pura-puranya tadi.

Mulut Heechul hendak membuka untuk protes, tapi ia urungkan. Dia pun ikut menghela napas. Tersenyum kecil menatap pucuk-pucuk bunga forsythia yang mulai mengembang diantara dedaunan.

“Aku benar-benar terpukul setelah kau hilang hari itu. Sakitku makin menjadi-jadi.”

“Tapi kau masih hidup sampai sekarang.”

“Kenapa kau jadi semenyebalkan ini!” pekik Heechul tak percaya diikuti tawa keras Hangeng.

“Kau tahu aku tak semenyebalkan itu Heechul-ah.”

“Ya ya ya.” Heechul sekali lagi mendesah. Angannya memutar ke tahun-tahun yang lalu. “Sebenarnya sejak kau pergi aku berubah banyak. Banyak sekali. Aku bertambah dingin, tak peduli dan tak mudah percaya dengan orang lain.”

“Tapi kau masih punya teman-teman disekitarmu, kan? Eunhyuk, Donghae, Shindong.”

“Tentu saja. Aku terlalu terkenal untuk diabaikan.”

Tawa Hangeng meledak sekali lagi.

“Tapi aku membatasi pertemananku pada siapapun sejak itu. Kupikir teman tetaplah teman. Seberapa banyak aku menghabiskan waktu bersamanya, sebanyak apapun aku menceritakan tentang diriku, suatu saat dia akan pergi. Dan aku akan kembali tak mengenalnya, seperti orang asing.”

Hangeng tersenyum. Tidak benar-benar menyalahkan pemikiran Heechul. Karena begitulah adanya. Jarak dan waktu akan mengikis kebersamaan, hingga teman yang sudah dianggap belahan jiwa pun akan berubah jadi asing.

“Tapi sepertinya sekarang kau tidak menganggapku orang asing.”

Heechul meringis. Merasa seperti tertangkap melakukan sesuatu yang memalukan. “Mungkin.. karena kau satu-satunya orang yang kuanggap teman baik.”

“Wah, apa aku harus bangga dianggap teman baik oleh lelaki seterkenal Kim Heechul?”

“Harus!”

Dan tawa mereka pun mengisi sisa hari itu.

..

“Jadi Geng.”

“Hm?”

“Kau harus menceritakan padaku kenapa kau kembali ke Cina saat itu.”

“Ceritanya menyedihkan.”

“Tenang saja, aku akan jadi pendengar yang baik.”

..

Ada empat bintang yang bersinar dihidup Heechul. Dua bintang adalah kedua orang tuanya, satu kakak perempuannya, Kim Heejin. Satu lagi tetangganya, teman sepermainannya dan teman terbaiknya sepanjang masa, Tan Hangeng.

Dan seperti itulah selamanya.

Advertisements

6 thoughts on “Twoshot HanChul [2] : The Fourth Star

  1. Ah habis u,u feelnya dapet kok eon~ mulus/? waktu bacanya, tp entah kenapa pengen ada lanjuannya xD /slap/

    kalimat “jarak dan waktu akan mengikis kebersamaan, hingga teman yg sudah dianggap belahan jiwapun akan berubah jadi asing” uhuk itu nohok u.u /slapped again/

    maaf eon atas komen anehku ini eon u,u ditunggu karya eonni yg lainnya! Keep writing *-* fighting! XD

    • Sebenernya sikap heenim waktu ketemu hangeng ga aku buat seperti ini. Tapi kalau terlalu ngambek ntar dibilang masih abg –;
      karena ceritanya mrk udah sama2 dewasa jadi dibuat gini meski ga greget.
      wadoh kalau ada lanjutan berarti nambah utang donk. no way!
      makasih udah datang lg yah 🙂

  2. Hahay ,kyupil nongol bentar …..
    HEechul mah abg tua hahaha …….
    Mereka bner” klop,hangeng yg ramah n heechul yg dingiiin ….. Huhuuu ….n tu tk kira da sesix pas han mw cerita np tba” dy prg ke china,tk twx udah end jha hmmm – -_–
    Bwt yg bxk y epepx chingu hehehe,…

    • Hehe karena itu cuma semacam epilog aja. Kalau diterusin takutnya kepanjangan dan sampai ke mana2. Ini lebih fokus ke hubungan pertemanan mereka sih :]
      Sedang berusaha tapi apalah daya kemalasan sering melanda LOL

  3. heheh, sukaa ^_^ udah lama ga baca fanfic hanchul yang kayak gini
    suka banget hubungan persahabatan mereka
    ceritanya bagus, tapi karakternya ga terlalu dapet
    karena pendek kali ya?
    semangat nulis terus ya~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s