Twoshot HanChul [1] : The Fourth Star

The fourth Star

© Cherry Hee

..

Ada empat bintang yang bersinar dihidup Heechul. Dua bintang adalah kedua orang tuanya, satu kakak perempuannya, Kim Heejin. Satu lagi tetangganya, teman sepermainannya dan teman terbaiknya sepanjang masa, Tan Hangeng.

Anak laki-laki itu datang saat Heechul belum genap sepuluh tahun. Keluarganya pindahan dari Cina, menyewa sebuah rumah sempit tepat di samping rumah Heechul. Heechul dengar dari ibunya bahwa ayah Hangeng tengah berusaha mencari istrinya yang pergi bekerja di Seoul lima tahun lalu. Sekitar satu tahun mereka hilang kontak—di mana ibu Hangeng tidak pernah pulang atau menghubungi mereka—dengan harta benda yang sedikit ia punya, ayah Hangeng bertekad mencari tahu keberadaan istrinya. Karena tak ada sanak saudara dekat di Cina, ayah Hangeng memutuskan membawa anak satu-satunya itu ke Seoul.

Hari pertama Heechul bertatap muka dengan Hangeng secara tak sengaja saat keduanya berpapasan di sebuah gang dekat rumah mereka, Heechul tidak punya niat untuk menyapa. Sejak dulu Heechul bukan anak yang suka memperkenalkan diri atau mendekati seseorang hanya agar ia punya teman baru. Dia bukan anak ramah. Tapi meski begitu dia punya banyak teman. Entah karena Tuhan begitu baik padanya atau memang teman-temannya yang menggila padanya, pasti ada saja yang mendekat ke arahnya. mengulur tangan dan berseru padanya bersahabat “Mari berteman!”

Katakanlah Heechul terlalu percaya diri, tapi dia memang tidak butuh tenaga untuk mendapat teman banyak.

Dan seperti itulah sikapnya pada Tan Hangeng, anak Cina yang selalu memakai baju lusuh yang terlihat kebesaran di tubuh kurusnya.

“Oh, hallo.”

Heechul melirik sedikit kearah Hangeng. Anak laki-laki itu mengangkat tangan—yang ujung-ujung jarinya tidak kelihatan karena baju kebesaran itu menutupinya—sambil tersenyum lebar yang dirasa Heechul janggal.

Heechul tidak mempedulikannya. Ia berjalan lurus tanpa berbalik sekadar untuk membalas senyum anak itu.

Dua hari kemudian, mereka bertemu di taman. Heechul sibuk bermain pasir dengan kumpulan teman-temannya minggu pagi itu. Tidak seperti Heechul yang selalu menjaga kebersihan seperti biasa, hari itu ia tak begitu peduli dengan penampilannya. Tak peduli rambutnya berantakan diterpa angin musim panas. Tak peduli pada celana dan bajunya yang ternoda pasir atau pipinya yang tercoreng pasir. Dia tak peduli, dia hanya ingin main sepuasnya.

Lalu tiba-tiba anak itu datang. Berdiri di depannya dengan senyum lebar yang kemarin lalu ia lihat di gang. Masih dengan sapaan yang sama, “Hallo.”

Heechul mengernyit tak senang. Lantas berbalik memunggungi anak asing itu. Berharap anak itu menerima pesan tak bersuara darinya bahwa ia tak ingin diganggu oleh orang asing.

Tapi sepertinya tidak, anak itu tak mengerti.

“Namaku Tan Hangeng. Siapa namamu?” Dia memperkenalkan diri tanpa diminta. Heechul mendengus.

Lalu didengarnya anak itu semakin mendekat dan berjongkok di sisinya. “Bolehkah aku main denganmu?”

“Tidak!” Ia tak mau bermain dengan anak asing yang kalau bicara kedengarannya aneh. Bahasa korea anak itu agak aneh dan Heechul tidak suka itu.

Anak itu terhenyak sejenak. Mungkin terlalu terkejut mendengar suara Heechul yang tiba-tiba meninggi. Tapi ia bergeming tak menjauh. Masih berjongkok di sana, tangannya mulai terulur-ulur memainkan pasir.

“Aku bisa buat istana pasir jika kau mau.”

“Aku bisa buat sendiri,” balas Heechul cepat dan dingin.

Heechul bergeser menjauh. Mengaduk-aduk pasirnya sendiri tanpa mempedulikan anak lelaki di sisinya yang masih memperhatikannya.

Mereka baru pulang saat langit berubah kemerah-merahan. Teman-temannya membelok ke sisi jalan lain di persimpangan dan menyisakan Heechul dengan Hangeng yang berjalan di belakang. Heechul baru saja mau meneriaki anak itu “Jangan ikuti aku!” tapi ia tersadar sesudahnya, rumah mereka kan bersisian.

Lalu Heechul punya inisiatif untuk lari saja. Biar saja kalau anak itu lupa jalan pulang. Siapa peduli, pikir Heechul.

Dan ia pun benar-benar lari, tak peduli suara Hangeng yang memanggil-manggilnya.

Ia terus berlari sampai kakinya linu. Meski begitu ia merasa puas tak lihat lagi anak lusuh itu di belakangnya. Sambil tersenyum lebar, Heechul masuk ke rumah.

Namun langkahnya terhenti begitu melihat ibunya berdiri diambang pintu dengan wajah menyeramkan.

Seketika Heechul teringat, bahwa ibunya selalu mengutamakan kebersihan. Melihat Heechul seperti baru keluar dari perang pasir—celana dan bajunya kotor nyaris seluruhnya tertutupi pasir begitu pun dengan wajahnya—ibunya pasti murka.

Tanpa bicara apa-apa, ibunya menariknya ke pekarangan rumah di samping kandang Heebum—kucing mereka yang punya kandang di luar rumah seperti anjing.

Heechul merengek kesakitan karena ibunya terlalu kencang memegang tangannya. Tapi sepertinya ibunya tak peduli.

Tanpa dapat Heechul cegah, ibunya menarik seember besar dan menyiramkannya kekepala Heechul.

“Anak nakal. Hampir malam bukannya sudah bersih-bersih diri kau malah baru pulang dengan pakaian kotor seperti ini.”

“Ibu.. dingin.” sekujur tubuhnya menggigil, tapi ibunya terus menumpahkan air itu ke kepalanya. Heechul ingin menangis.

Di sela-sela isaknya, dari kejauhan di balik pagar rumahnya, ia melihat anak Cina itu memandanginya. Entah anak itu memandangnya dengan raut seperti apa, Heechul sendiri tak mengerti. Mungkin saja kasihan, atau ejekan. Jika benar anak itu sedang mengejeknya, Heechul berjanji akan membalasnya esok hari. Akan ia buat anak itu menangis, biar tahu rasa.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Heechul melihat anak Cina itu berjalan tak jauh di depannya. Cepat-cepat Heechul menghampirinya.

“Hey!”

Heechul berhasil menghentikan anak itu. Ia menoleh.

“Heechul Hyung.”

Heechul berdecih mendengar sapaannya. Bahkan sekarang anak itu berani memanggilnya Hyung dengan nada sok ramah.

“Kemarin kau senang ya lihat aku dimarahi ibu?”

“Apa?” Anak itu tanpak kebingungan, membuat Heechul semakin kesal. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

“Kau pasti senang! Sudah jangan dekat-dekat denganku!” Dengan sepenuh kekesalannya yang berkecamuk di dada, Heechul mendorong tubuh anak itu hingga terjatuh.

Hyung….” Anak itu tanpak bingung dan sedih.

Ingin mengenyahkan bayang wajah Hangeng yang terlihat merana di depan wajahnya, Heechul membuang muka. Tepat saat itu ia melihat dua anak gemuk mendekat ke arah mereka.

“Hey kau Kim Heechul.”

 

Heechul mengenalnya sebagai Kim Youngwoon dan Shin Donghee. Mereka teman sekelas Heechul, tapi ia tidak begitu dekat dengan mereka. Heechul tidak suka anak gemuk dengan lagak sok berkuasa dan mereka lebih terlihat seperti musuh baginya yang harus dijauhi.

“Apa kau yang melapor pada guru soal kami?” tanya anak yang berdiri di depan, Youngwoon.

Heechul tersenyum meremehkan. “Kalian yang memukul anak tingkat bawah bernama Kim Ryeowook itu kan? Aku tahu, jadi aku melaporkannya.”

“Berani sekali kau.” Anak yang lebih gemuk, Shindong, menggeram ngeri.

Tapi Heechul tak gentar sedikit pun. Ia maju, menantang dengan dagu terangkat.

“Shindong. Sekarang.”

“Baik.”

Shindong yang sejak tadi di belakang Youngwoon, kini maju. Mengangkat sebuah ember ke depan perutnya.

“Apa yang akan kalian lakukan?” Heechul memandang mereka curiga.

“Shindong.” Shindong mengangguk sekali, lalu tanpa Heechul sangka anak gemuk itu mengangkat embernya.

Heechul menutup matanya. Sesuatu yang cair menghempasnya cepat sampai ia jatuh ke tanah.

Cairan itu mengenai jas seragamnya. Begitu Heechul membuka mata ia menyadari itu bukan air, tapi lumpur.

“Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya, tak terima. Ia berdiri hendak mengejar kedua anak yang sudah berlari jauh dan tertawa puas itu, namun seseorang menahannya.

“Lepaskan!” bentak Heechul pada Hangeng. Anak itu benar-benar tak membantunya. Apa yang tadi ia lakukan? Diam di tempat dan menontoninya yang dikerjai seperti orang bodoh. Anak itu mungkin sekarang sudah tertawa dalam hati, meski wajahnya tak memperlihatkan hal itu.

“Kau pasti senang melihatku seperti orang tolol seperti ini?” Heechul memandang dirinya merana.

Tanpa ditahu anak itu sibuk mengaduk tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“Pakailah jasku dulu Hyung.”

Heechul terdiam melihat jas itu terulur di depannya. Lalu mendongak memandangi wajah pemiliknya.

Dia tidak sedang mengejekku, kan? pikirnya ragu.

“Ibumu pasti marah kalau kau pulang dengan seragam seperti itu?” tambahnya lagi. “Apa kau juga ingin meminjam kemejaku?”

“Tidak. Ini cukup.” Heechul melepas jasnya sendiri dan menerima jas anak itu. Setelah memberikan jas miliknya sendiri yang sudah berlumpur, Heechul pergi tanpa berkata-kata.

Sebelum langkahnya semakin jauh didengarnya anak itu berseru padanya, “Aku akan langsung mencucinya dan mengembalikan padamu besok Hyung!”

Heechul tak berbalik untuk menjawab. Namun diam-diam bibirnya mengulas senyum. Ia baru menyadarinya.. anak itu memanglah baik.

Hari-hari berikutnya dunia Heechul berubah penuh. Ia menerima kehadiran Hangeng untuk terus berada di sisinya. Menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama. Bermain pasir sampai sore—tidak terlalu sore karena Hangeng selalu mengingatkan bahwa ibu Heechul tak suka mereka bermain terlalu malam.

Dan Heechul akhirnya tahu kalau usianya selisih satu tahun lebih tua dari Hangeng.

“Tapi kau bisa memanggilku Heechul,” katanya setelah mendengar Hangeng lahir di tanggal sembilan Februari satu tahun setelah tahun kelahirannya sendiri.

“Tapi Hyung.”

“Jangan panggil aku Hyung atau kita tidak akan berteman lagi.”

“Baiklah.. Heechul.” Hangeng menyentuh mainan mobil Heechul dengan bibir mengerucut. “Tapi kenapa aku tidak boleh memanggilmu Hyung?”

Heechul tersenyum ke arahnya tanpa menjawab.

Karena kau teman baikku, bisiknya dalam benak.

Definisi teman baik bagi Heechul sebenarnya tidak begitu istimewa. Asal orang itu mau menemani ke kantin saat jam istirahat. Asal orang itu mau menemaninya mampir ke toko untuk membeli barang yang ia butuhkan. Asal orang itu mau mendengar betapa kesalnya ia ketika ibunya mulai mengomel di rumah. Dan asal orang itu mau menyayangi Heebum seperti ia menyayanginya, maka bagi Heechul orang itu adalah teman baik. Dan Hangeng melakukan semua hal tersebut.

Tapi hari itu datang, ketika hatinya direndam kecewa. Saat itu hari ketiga ia berbaring di atas tempat tidur. Heechul terserang demam tinggi sampai ia tidak pergi ke sekolah. Beberapa teman-temannya datang mengunjunginya sepulang sekolah, memenuhi kamarnya yang sempit dengan celoteh menghibur. Heechul senang bukan main, namun menyadari tak ada wajah Hangeng di sana ia lantas bertanya, “Di mana Hangeng? Kalian tak mengajaknya?”

Heechul tahu teman-temannya tidak terlalu menyukai anak itu. Meski Hangeng tidak pernah berbuat salah, hanya saja mereka menganggap aneh anak asing berkebangsaan Cina yang tiap bicara lidahnya seperti tergigit—tidak jelas.

“Kalian tidak melarangnya untuk datang ke sini, kan?” tanya Heechul curiga.

“Tidak Hyung.” Eunhyuk menjawab. “Dia.. dia…. Dia sedang apa ya?” Eunhyuk menoleh ke Donghae yang berdiri di samping.

“Dia sudah kembali ke Cina,” ucap Donghae begitu saja. Eunhyuk mendelik lalu menginjak kaki temannya itu. Donghae berteriak dan membuat kamar mereka kembali heboh.

Tidak menyadari Heechul yang terdiam geram.

Anak laki-laki itu—anak yang sudah dianggapnya sebagai teman dekat, tiba-tiba pergi saat ia sedang sakit keras dan lebih menyedihkannya lagi, ia jadi satu-satunya orang terakhir yang tahu teman baiknya pindah.

Teman macam apa dirinya?

Atau—bodohkah dirinya yang sudah menganggap anak itu sebagai teman baik?

.

Note

Karena lebih dari 2000 kata dan takut yang baca bosan jadi aku bagi jadi dua bagian. Ribet ya? Tak apalah  hehe

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Twoshot HanChul [1] : The Fourth Star

  1. Aaaaa hanchul kk hankyungie ❤ kebayang banget muka han jaman kecil yg melas/? Dan muka jutek heenim xD

    ah ok karna ini belum selesai, mau langsung baca part 2 😀

    dan ya eon, info/? aja, nama hangeng itu sebenernya cuma han geng, sama kayak zhoumi yg jg cuma zhou mi 🙂 aku jg tau ini baru beberapa bulan yg lalu hehe

  2. Kebayang muka kecil hangeng haha imuut bngt ,cakep …. Q sukaaa ….
    HEechul emg cuek,terlalu aneh tu orang , kdg q gk habis pkir ma jalan pikiranx yg agk nyeleneh lo bca fakta”x ….hahaha tp itulah unikx seorang kim heechul …
    Yah dan q selalu suka ceritamu chingu, ,,,
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s