Flashfiction : Harapan di Penghujung Langit

A boy loading pottery into an underground kiln in Gaza city.

Harapan di Penghujung Langit

© Cherry Hee

.

Kedua kakinya yang pendek berlari cepat-cepat. Tubuh kurusnya mendesak ke tengah jalan yang penuh orang. Wajahnya yang kecil memucat, memikirkan keadaan ayahnya di rumah. Ia butuh bantuan—secepatnya.

Maka ia menarik salah satu orang dikerumunan para pejalan.

“Paman.. paman tolong aku. Ayahku tidur sejak malam tapi pagi ini ia tak mau bergerak saat aku membangunkannya. Tolong—tolong bangunkan ayahku.” Ia berucap cepat karena jantungnya berdebar tak karuan. Rasanya ia cemas sampai mau pingsan.

Tapi selepas ia mengatakan itu, paman yang ia tarik tak jawab apa-apa. Paman itu malah berlalu begitu saja—mengabaikannya.

Tidak! Tidak bisa. Mungkin paman itu juga sedang terburu-buru karena wajahnya terlihat cemas seperti dirinya.  Dia butuh orang lain yang sedang tidak terburu-buru.

Anak itu melihat sekeliling lagi. Memperhatikan wajah-wajah disekitarnya yang ketakutan.  Mereka pun berjalan terburu-buru seperti dirinya. Beberapa orang bergelimpangan di jalanan dengan wajah putih kebiru-biruan yang dia pikir itu mengerikan—karena mereka tak bergerak sedikit pun seperti keadaan ayahnya di rumah.

Ketika matanya menangkap wanita tua di ujung jalan, ia cepat berjalan ke sana dan menarik wanita itu untuk menunduk, mendengarnya.

“Bibi.. bibi tolong aku. Tolong ayahku. Tolong bangunkan dia.” Anak kecil itu merengek. Rasanya mau menangis. Tapi ia buru-buru ingat perkataan ayahnya bahwa lelaki yang kuat tidak akan meneteskan air mata.

Anak lelaki tidak boleh cengeng! tekadnya dalam hati.

Tapi bibi itu juga pergi begitu saja setelah memandangnya dengan tatapan aneh.

“Tolong.. tolong ayahku. Siapapun tolong aku.” Suaranya parau menahan tangis.

Tidak ada yang mau membantunya. Menolong ayahnya yang entah kenapa tak mau bangun. Perutnya sudah lapar dan dia ingin ayahnya merebus kentang yang sisa beberapa butir di rumah. Dia ingin makan dengan ayahnya di lantai rumahnya yang dingin. Dia ingin dengar suara ayahnya. Dia ingin ayahnya….

Kenapa tak ada yang mau membantunya?!

“Musuh datang! Musuh datang!” Tiba-tiba suara pekikan wanita dan pria memenuhi jalan. Semua orang berlari menjauh dari jalan.

Anak itu memandang ujung jalan. Ada sekelompok pria berseragam lengkap dengan benda hitam panjang di tangan. Mereka terlihat kuat dengan seragam baja di dada.

Mungkin orang itu bisa membantu ayahnya. Mungkin orang itu bisa membangunkan ayahnya.

Anak lelaki itu mendekat dengan wajah penuh harap. Baru lima langkah ia berjalan, suara letupan berdesing kencang lewat telinganya. Ia terkesiap—terkejut.

Lalu rasa sakit itu lama-lama merasuk ke seluruh tubuhnya. Ia menunduk memandangi perutnya. Merah? Baju putih lusuhnya berubah jadi merah.

Kenapa?

Ada apa?

Tubuhnya ambruk. Rasanya sakit bukan kepalang. Ia meringis ingin menangis. Tapi lagi-lagi ia teringat, ayahnya tak akan senang jika ia menangis. Maka ia tersenyum kecil ketika bayang ayahnya samar-samar terlihat dikedua pelupuk matanya yang tiba-tiba terasa berat.

Dia ingin mengatakan maaf karena tak bisa membawa seseorang untuk membantunya, tapi suaranya tak mau keluar. Bahkan untuk memanggil ayahnya ia tak mampu.

Namun seperti mengerti maksudnya, ayahnya berbisik, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Nak. Sekarang kemarilah.”

Ayahnya mengulur tangannya seperti tiap kali ayahnya mengajaknya jalan-jalan kala sore. Apa ayahnya akan mengajaknya naik sepeda untuk berkeliling kota? Tapi tubuhnya sakit sekali. Mungkin nanti ia bisa minta ayahnya untuk beli makanan. Mungkin setelah makan tubuhnya akan kembali baik.

Anak itu akhirnya mau—mengulurkan tangannya sendiri tanpa ragu. Sejenak ia lupa rasa sakit yang menyerang tubuhnya, terganti dengan seulas senyum. Bersamaan dengan matanya yang tertutup, suara desingan memekak telinga dan jerit kesakitan sayup-sayup menghilang.

.

***

Note :

Tiba-tiba tengah malam tadi pengen nulis ginian. Banyak terinspirasi dari sebuah film  tapi juga memang dulu-dulu udah punya hasrat nulis anak kecil yang ga berdaya di tengah  peperang kayak gini.

Tapi waktu denger kabar soal Gaza pagi ini kog rasanya lemes yah. Ga bisa bantu apa-apa selain doa 😥

Terus bertanya-tanya, apa hak asasi manusia itu masih ada?

Ah, semoga Allah memberi surga untuk mereka penduduk Gaza. Mungkin bukan surga dunia tapi surga akhirat yang lebih abadi dan indah tak tertandingi. 😥

 

Advertisements

6 thoughts on “Flashfiction : Harapan di Penghujung Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s