Oneshot : Boys Meeting

haru&day7

Boys Meeting

© Cherry Hee

..

Hyung. Apa yang harus kita lakukan?” Donghae bertanya pelan. Dahinya mengerut, tangannya bergelayut di lengan Heechul. Matanya sesekali mengawas cemas ke arah pintu dorm mereka.

“Kenapa kau tanya aku? Itukan perbuatanmu,” balas Heechul asal, lebih sibuk memenuhi mulutnya dengan popcorn buatan Ryeowook.

“Ryeonggu. Apa harga garam turun? Berapa kilo kau masukkan garam kepopcorn ini?”

Ryeowook yang tengah menyiapkan sandwich mencibir pelan dari dapur. “Tapi Hyung tak bisa berhenti memakannya, kan?” sahutnya. Tak dapat respon Heechul yang hanya memasang wajah polos tak peduli, ia segera menambah. “Jangan habiskan semua. Nanti malam kalau nonton bola bareng aku tak terima pembuatan popcorn lagi.”

“Oh, yeah fine.” Heechul meletakkan popcornnya ke atas meja. Lalu menyahut remot TV dan memainkannya dengan wajah cemberut. Terkadang magnae itu bertindak seperti ibu yang cerewet dan mengendalikan semua hal. Apalagi kalau sudah menyangkut makanan. Heechul tidak bisa hidup di dorm jika tak ada Ryeowook. Ia akan mati kelaparan jika si juru masak itu mengamuk dan mogok masak. Jadi lebih baik ia diam saja dan menurut.

“Hyung.” Donghae yang menempel di sisinya kembali merengek. Oh anak ini semakin membuat mood-nyaburuk sampai-sampai perutnya berkeruyuk (Tolong tanyakan pada Heechul apa hubungan mood yang buruk dan perut berkeruyuk).

“Kau cukup diam saja nanti,” desis Heechul.

“Bagaimana bisa—” Sebelum Donghae menyampaikan protesnya suara gaduh pintu yang dibuka dan sepatu-sepatu yang di lempar ke rak terdengar menyelanya.

“Kami pulang…!”

Lalu sosok Eunhyuk muncul bersama sang leader yang tersenyum lebar.

Leeteuk baru saja akan membuka mulutnya untuk menyapa sisa member yang tengah malas-malasan di ruang tengah, ketika Ryeowook lebih dulu lari padanya. Lelaki kecil itu memeluknya erat dan menyambut dengan suara parau, “Hyung kembali. Akhirnya Hyung kembali.”

Leeteuk terkekeh. “Hahaha…. Apa Ryeowook kita tidak berubah juga? Dari dulu berlebihan sekali. Kemarin kan kau ikut menyambutku balik dari camp.” Meski begitu, Leeteuk tetap membalas pelukannya.

“Kemarin kita hanya bertemu beberapa jam sebelum aku sibuk dengan jadwal seharian. Aku masih merindukanmu Hyung,” bela Ryeowook lalu menarik sang leader untuk duduk disofa di sisi Donghae. Tapi anak itu cepat-cepat berdiri dan duduk di sisi lain Heechul. Sengaja menjauh dari Leeteuk.

“Hey, my brother.”

Sekali lagi Leeteuk terkekeh geli. Ia menerima uluran tangan Heechul dan membiarkan temannya itu menarik dirinya ke dalam pelukannya.

Selepas pelukan hangat itu, Leeteuk melirik ke arah Donghae yang sedari tadi sepertinya sibuk menatapi layar TV.

“Donghae-ya, kau tidak rindu pada Hyung?”

Merasa namanya disebut Donghae menoleh. “Ah Hyung,” sahutnya kikuk. Ia lantas berdiri dan ikut memberi pelukan.

Akhirnya mereka terduduk berjajar disofa ruang tengah. Menanti camilan dan minuman dari Ryeowook.

“Ke mana yang lain? Kasian sekali Eunhyuk, kalian menyuruhnya menjumputku sedangkan kalian enak-enak di sini.”

Heechul segera menyahut. “Yang lain masih sibuk. Sedangkan tadi kami sedang bersih-bersih. Benarkan Donghae?”

Donghae yang ingat kata-kata ayahnya bahwa berbohong itu perbuatan tidak baik hanya terdiam. Pura-pura tidak dengar sambil menonton acara TV yang entah apa dia sendiri tak mengerti. Diam-diam mengabaikan plototan Heechul yang ditujukan ke arahnya.

“Bersih apanya? Sama kotornya ketika aku meninggalkan dorm ini.”

Benar saja. Kardus bekas pembungkus PS4 milik Kyuhyun masih berada di sana—di samping TV. Bahkan sekarang kardus-kardusnya bertambah dan menumpuk begitu saja. Kardus bekas ramen, kardus kado dari penggemar dan kardus berisi majalah-majalah bekas.

Leeteuk beranjak dan memulai penelusurannya. “Ya ampun ini lebih parah. Ke mana bibi dorm?”

Ryeowook  menjawab. “Bibi dorm sudah tiga hari tidak datang Hyung. Katanya ia sedang sakit.”

“Pantas saja.”

Leeteuk terus mengomel.

“Lihat. Kenapa kalian membuang kaleng minuman di sini? Apa dorm ini sudah jadi tempat sampah?”

“Celana dalam siapa ini? Kenapa kalian menggantungkannya disepedaku?!”

“Ops.” Itu suara Heechul.

“Eunhyuk-ah, kau tak suruh mereka bersih-bersih?”

Eunhyuk hanya meringis, malas membalas. Meski Eunhyuk rindu pada sang leader setengah mati, ia tetap benci kalau sudah mendengarnya berisik seperti ini.

Leeteuk masih menelusuri pojok-pojok ruangan tempat kardus-kardus itu tergeletak seenaknya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Jangan-jangan kalian menggunakan kamarku sebagai tempat sampah juga?” Leeteuk mendekati pintu kamarnya. Tangannya baru saja akan meraih pintu itu ketika tahu-tahu Heechul sudah berdiri di depannya.

“Duduklah dulu. Kau pasti lelah.” Heechul menariknya paksa untuk kembali duduk. “Kami belum sempat membersihkan kamarmu jadi malam ini kau bisa tidur dulu di kamar Donghae.”

Donghae tidak menjawab tapi matanya melotot dan keringat dingin menetes dari dahinya. Tidak ada yang menyadarinya kecuali Heechul, jadi lelaki itu cepat-cepat menambah, “Atau di lantai bawah. Masih ada sisa kamar di lantai bawahkan Hyuk?”

“Iya Hyung. Tidur di dormku saja.” Eunhyuk tersenyum lebar sekali membuatnya tampak aneh.

“Tapi ranjangnya tidak berwarna putih. Aku tidak akan tenang,” sahut Leeteuk, kecewa.

“Apa di camp kau juga meminta mereka menyiapkan ranjang warna putih, selimut putih dan dinding kamar cat putih? Lagi pula kau sudah cukup tua untuk bersikap seperti itu.”

“Tentu saja tidak!” erang Leeteuk. Agak tak terima kalau usianya di sebut-sebut. Tapi karena ini teman seusianya sendiri yang bernama Kim Heechul, ia jadi tak bisa marah atau memukulnya.

“Aku sudah menahan gejolak itu selama dua tahun. Dan sekarang setelah aku keluar tidak salahkan kalau aku minta kamar putihku lagi. Dan ini tak ada hubungannya dengan usia Heechul! Kau sendiri malah main boneka Anna,” sindirnya.

Sebelum suhu ruangan mendadak jadi memanas, Eunhyuk cepat menyela.

“Karena Ryeowook hanya memasak makanan yang tidak mengenyangkan malam ini, bagaimana kalau kita pesan makanan? Sekalian merayakan kembalinya dirimu, Hyung?”

“Kau suruh aku bayar begitu?”

“Yah, kalau Hyung punya uang lebih.” Eunhyuk nyengir.

“Tak usah pikirkan uangnya. Ayo kita beli makanan. Donghae, Eunhyuk ayo ikut.”

“Kenapa tidak delivery saja?” Leeteuk menyela.

Delivery lebih mahal. Tenang saja, kami akan segera kembali. Anak-anak akan kuminta ke sini.”

Sebelum Heechul keluar, lelaki itu menarik Ryeowook dan berbisik sesuatu padanya. Baru setelah Ryeowook mengangguk dan mengangkat jempolnya, Heechul berjalan santai keluar di mana Donghae dan Eunhyuk sudah menunggu.

Hyung benar akan mentraktir makan malam kita?” Eunhyuk bertanya saat mereka berjalan bersisihan di lorong apartemen.

“Memang tadi aku bilang begitu?”

Mendengar sahutan tak enak didengar itu Eunhyuk memasang raut curiga. “Jangan-jangan Hyung mau aku yang traktir?”

“Kenapa sedari tadi otakmu memikirkan makanan terus, hah?! Kita akan mengadakan rapat terlebih dahulu sekarang.”

“Rapat?”

Heechul mendengus sebal melihat wajah polos Donghae. Padahal tadi mukanya pucat pasi. Sepertinya anak itu lebih senang berada di luar seperti ini dari pada saat di dalam tadi.

“Rapat tentang tindakan apa yang harus kita pilih setelah Donghae mematahkan tempat tidur kesayangan Leeteuk jadi dua,” jawab Heechul dengan nada jengkel.

“Ini kan perbuatan Donghae, kenapa kita yang harus pusing?” Eunhyuk tak terima.

“Kau mau Leeteuk ngamuk dan mencekikmu lagi? Kau juga harus ikut tanggung jawab sebagai leader pengganti.”

Eunhyuk mencebik. Donghae yang merasa bersalah sampai tak bisa berkata-kata hanya menunduk lemas seperti tanaman yang seminggu tak disiram­—layu.

Mereka sampai di lantai sebelas. Begitu Heechul membuka pintu dan muncul di ruang tengah, sisa anggota yang tadi tidak muncul terlihat sedang menikmati waktu istirahatnya. Sungmin memeluk bantal raksasanya sambil mengemil kripik. Kangin tiduran disofa tunggal—kepalanya lunglai di lengan  sofa tapi langsung menegak saat melihat Heechul datang. Sedangkan Kyuhyun mengendalikan remot TV sepenuhnya.

“Kalian di sini ruapanya!” Heechul melempar bantal bergambar wajah Eunhyuk ke muka Kyuhyun.

“Hyung!” Kyuhyun mengerang tapi langsung bungkam setelah dilihatnya wajah Heechul memerah. Seperti ada asap yang keluar dari lubang hidung dan telinganya—dan itu sungguh mengerikan.

“Siapa yang tadi bilang ada jadwal syuting sampai rasanya mau mati?”

Kangin mengangkat tangan malu-malu. “Tapi aku memang lelah sampai rasanya mau mati,” belanya.

“Berhenti mengeluh. Leeteuk sudah datang di lantai atas.”

“Apa dia marah Hyung?”

“Sudah pasti.” Kyuhyun mengiyakan pertanyaan Sungmin.

“Dia belum tahu. Aku menyuruh Ryeowook untuk menahannya agar tak masuk ke kamar. Sekarang beri aku ide apa yang harus kita lakukan.”

“Aku tak bisa berpikir—terlalu lelah.” Kepala Kangin kembali lunglai.

Old man,” bisik Eunhyuk pada Donghae.

“Yaiks!—”

Heechul baru saja akan mengeluarkan sumpah serapahnya, tapi Sungmin lebih dulu menyela. “Bukankah besok hari ulang tahun Leeteuk Hyung. Kenapa kita tidak menghadiahinya saja. Kita kumpulkan uang untuk membeli tempat tidur baru.”

“Kenapa harus kita!” Eunhyuk protes.

“Diam!” Heechul memukul kepala si tukang protes dengan bantal. Lalu berpaling ke Sungmin lagi, “Ide bagus Min. Kalau begitu siapa yang mau ikut aku membeli tempat tidurnya?”

“Aku lelah,” lirih Kangin dengan wajah nelangsa.

“Aku di sini saja.”

“Kau saja dengan mereka berdua Hyung.”

Sungmin, Kyuhyun menyahut.

“Kalau kalian tak mau ikut, tolong awasi Leeteuk di lantai atas. Aku tak yakin Ryeowook bisa menahannya.”

Kangin mengangkat jempolnya, yang lain mengangguk-angguk saja.

Heechul keluar dengan Eunhyuk dan Donghae yang mengekor di belakang. Eunhyuk masih saja menggerutu membuat Donghae tak tahan untuk meninjunya. Akhirnya, mereka terus saling memukul di sepanjang jalan.

..

Mereka berakhir berjalan di depan sederet toko yang masih buka di pertengahan malam itu. Masing-masing toko memasang barang dagangannya di estalase, lengkap dengan lampu kerlap-kerlip untuk menarik perhatian.

“Kita ke sini saja.” Heechul menunjuk salah satunya. Eunhyuk melongok di depan estalase yang memajang gambar keluarga kecil—ayah, ibu, dua anak lelaki dan perempuan­—yang berbaring nyaman di atas tempat tidur.

Hyung, kenapa kau tidak segera cari gadis dan menikah?” seloroh Eunhyuk.

“Tutup mulutmu.”

Donghae memukul bahu Eunhyuk keras sebelum keduanya terkikik di belakang Heechul.

Di dalam sana mereka menemukan berbagai jenis tempat tidur. Motif-motif lucu dengan warna lembut sampai tak bermotif dengan gaya manly khas lelaki. Perlengkapan semacam selimut, bantal, guling pun tersedia.

Hyung bagaimana kalau itu.” Eunhyuk menunjuk salah satu tempat tidur dengan tudung berendra di atasnya.

“Keren!” pekik Donghae.

“Itu mahal. Kecuali kalau kalian berniat beli untuk pengantin baru.”

“Aku akan membelinya untukmu kalau kau menikah nanti Hyung.”

“Tak perlu menambah hutangmu padaku. Kau berhutang sepotong jaket mahal dan semangkuk jjajangmyun.”

Sial, bisa-bisanya ia masih ingat janji tiga tahun yang lalu, geram Eunhyuk. Mungkin mulutnya perlu pelajaran agar berhenti menggoda Hyung-nya itu.

“Sepertinya ini cocok. Tidak jauh beda dengan yang lama.” Heechul mengelus sisi tempat tidur putih itu dan mencoba menduduki tepinya.

“Lumayan. Tapi aku tak habis pikir bagaimana Donghae bisa mematahkan tempat tidur Leeteuk Hyung.”

“Sudah kubilang aku sedang dalam suasana hati yang buruk.”

“Oh aku paham. Kau berubah jadi hulk kalau sedang marah, kan?”

Sementara Eunhyuk dan Donghae berdebat tentang Donghae yang berubah jadi hulk, Heechul mencari si penjual dan menanyakan beberapa hal sebelum ia memutuskan membelinya. Heechul menuliskan alamat dorm mereka dan meminta barang dikirim besok pagi.

“Ayo anak-anak, kita pulang.”

Mendengarnya, keduanya seketika menutup mulut mereka dan mengekori Heechul yang sudah lebih dulu keluar toko.

Hyung benar beli itu?” Donghae memandanginya dengan mata berbinar seakan Heechul malaikat penyelamatnya.

Hyung perutku lapar. Ayo beli makan.”

“Uangku sudah habis.”

Sebuah Audi hitam melewati mereka, memelan lalu terhenti di depan mereka.

Tak lebih tiga detik kepala dari orang yang mereka kenal muncul dari kaca kemudi mobil.

“Heechul Hyung? Apa yang kalian lakukan di sini malam-malam?”

“Beruntung sekali kita malam ini!” seru Eunhyuk.

Ia mendekat ke mobil mahal itu. “Kami mau cari makan untuk pesta kita malam ini. Kau mau mentraktir kami, kan? Sekalian kami numpang kemobilmu.” Tanpa menunggu reaksi Siwon, Eunhyuk segera membuka pintu mobil depan. Duduk di sisi Siwon lalu menoleh lagi ke belakang dan berseru. “Ayo Hyung, Donghae-ya. Kita dapat tumpangan gratis dan traktiran dari Siwon malam ini,” serunya dengan raut berbunga seperti seorang bapak yang mengumumkan kelahiran anak pertamanya.

Dan karena Siwon berhati lapang dan tak pelit-pelit juga, ia hanya diam dan melajukan mobilnya dengan tenang.

..

Mereka baru pulang setelah masing-masing kedua tangan mereka menenteng sekantung penuh makanan—kecuali Heechul, dia menolak membawa. “Aku Hyung di sini,” katanya beralasan.

Ketika mereka masuk ke dorm suasana tiba-tiba sunyi senyap. Seharusnya tidak karena Heechul sudah meminta penghuni dorm bawah ke mari.

Atau mungkinkah?

“Kalian sudah datang hm?” Leeteuk berdiri di ambang pintu kamarnya. Pintunya masih tertutup tapi Heechul tak yakin lelaki itu belum masuk ke sana setelah melirik adik-adiknya yang terduduk rapi disofa—sedang menunduk dalam seperti murid yang menunggu hukuman.

Leeteuk menghampiri mereka dengan senyum mengerikan. Perlahan Donghae mundur, bersembunyi di balik badan tinggi Siwon.

“Coba jelaskan padaku.. bagaimana cara kalian menyimpan dan merawat barang-barangku selagi aku pergi.”

Eunhyuk menelan ludah kasar.

Siwon yang merasa masalah mereka tak semenyeramkan itu maju. “Hyung, duduklah lebih dulu. Kau membuat mereka takut.”

Leeteuk mengabaikan ajakan Siwon dan terus meracau, “Kalian tidak tahu seberapa berharganya tempat tidur itu, hah? Itu kado ibuku. Harusnya aku bawa tempat tidur itu ke rumahku, tapi tidak kulakukan karena kupikir kalian akan menjaganya dengan baik. Ternyata kalian merusaknya begitu saja!”

Pikirnya lelah sekali. Sejujurnya ia sudah menunggu hari ini datang. Hari di mana ia kembali ke dorm. Bersenda gurau lagi dengan yang lain sampai rencana menonton bola sampai pagi.

Seharian tadi ia sudah melakukan banyak hal. Latihan vokal dan menari sebelum comeback mereka. Mengurus keperluan-keperluan penting lainnya di SM. Ia lelah—lelah sekali. Tapi hatinya yang sudah kelewat senang karena akan berkumpul bersama dengan adiknya di dorm tersayang pupus begitu saja. Melihat tempat tidurnya yang tak lagi berbentuk. Rangkanya patah. Dan semua itu ulah si anak pendek bermuka lugu, Lee Donghae.

Leeteuk tak pernah dan memang tak bisa marah pada anak itu. Leeteuk memperlakukannya istimewa lebih dari yang lain. Mengingat ayah Donghae, hati Leeteuk selalu luluh. Ia terus mengingatkan dirinya sebagai pengganti ayah Donghae —yang berarti harus melindungi. Namun saat ini.. saat seluruh tubuhnya ngilu dan kepalanya mau pecah, anak itu berulah. Bukan masalah sepele buatnya. Itu adalah tempat tidur pemberian ibunya dan semuanya tahu itu.

Tapi..ah mereka merusaknya.

Leeteuk meremas tangannya. Kini ia tak tahu harus bagaimana.

Tiba-tiba suara langkah pelan mendekatinya dari belakang. Itu Donghae.

“Maafkan aku Hyung. Itu salahku.” Suaranya parau dan Leeteuk hanya mampu menutup matanya. “Aku.. saat itu. Saat itu suasana hatiku sedang kacau. Tiap kali suasana hatiku buruk aku akan langsung ke sana dan bercerita seperti yang kulakukan padamu saat masih ada. Tapi malam itu aku tak bisa menahan tanganku. Aku marah pada diriku sendiri dan merusak tempat tidurmu sampai seperti itu. Maaf.. sungguh.”

Leeteuk masih tak memandang Donghae. Lelaki itu diam lalu berjalan menjauh untuk duduk disofa. Wajahnya tampak dingin, bukan seperti Leeteuk yang biasa. Jadi mereka memilih tak menyela.

Tiba-tiba suara pintu dorm berdebam keras. Semua memandang ke arah lorong dan Shindong muncul di sana.

“Aku datang untuk makaaan!” serunya sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Wajahnya berbinar senang seperti baru menemukan harta karun.

Tapi yang lain memilih diam. Suasana jadi senyap dan canggung beberapa detik.

Shindong menarik satu alisnya ke atas dan bertanya, “Ada apa?”

Eunhyuk segera menariknya untuk berdiri di sisinya lalu membisikkan sesuatu.

Ruangan kembali sepi. Leeteuk masih duduk bersedeku.

Heechul menghela napas pelan.

Merasa dirinya yang paling dewasa dan yang paling dapat diandalkan, Heechul menghampiri Leeteuk. “Kami sudah membeli tempat tidur baru dari uang kami bersama. Mungkin itu tak akan lebih berharga dengan tempat tidur dari ibumu, tapi kami harap itu bisa membuatmu nyaman tidur.”

Hyung, maaf.” Donghae merengek di sampingnya.

“Apa yang harus kulakukan pada kalian?”

“Maafkan dia dan kita bisa makan sampai puas malam ini,” sela Heechul cepat. “Sejak kemarin ia malas makan karena memikirkan kesalahannya. Tiap kali ada yang mengajaknya bicara ia butuh lima detik untuk memahaminya. Dia tampak seperti anak bodoh, jika kau ingin tahu.” Heechul menghela napas. “Ayolah Jungsoo.”

Mereka terdiam beberapa saat.

Kemudian Leeteuk berdiri tiba-tiba. Membuat berpasang-pasang mata itu menatapi punggungnya yang menjauh ke dapur. “Makanlah.” ucapnya kemudian.

Hyung.” Donghae bersikeras untuk menempel padanya.

“Aku mau menyiapkan makanannya. Kau mau membantu? Tolong ambilkan sendok dan mangkuk.”

Dan dorm itu pun mulai disibukkan dengan persiapan hidangan tengah malam mereka. Celoteh dan tawa memenuhi ruangan. Di tengah kesibukan itu Donghae kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

Hyung.. kau benar-benar memaafkanku, kan?”

“Makanlah yang banyak. Kau butuh tenaga untuk esok hari.” Leeteuk tersenyum, mengacak rambut Donghae seperti seorang ayah pada anaknya.

Hyung, i love you.” katanya sambil tersipu-sipu.

Eunhyuk yang mendengarnya, bersuara. “Cepatlah cari gadis yang bisa kau gombali, Donghae-ya.”

“Tidak sebelum Leeteuk Hyung menemukan gadisnya.”

“Dia bukannya belum menemukan tapi bingung memilih. Terlalu banyak yang mendekat,” Kyuhyun ikut berkomentar.

“Yah! Berhenti membicarakanku seakan aku playboy.”

“Memang,” jawab mereka kompak. Leeteuk cemberut, yang lain tertawa.

Ah, begini lebih baik, pikir Heechul. Merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Besok-besok ia harus menagih imbalannya dari Donghae karena telah membantu anak itu.

 .

..

Note:

Udah lama ga nulis panjang macam ini ya. Berasa gimana deh haha

Kelemahanku kalau tokohnya banyak, bingung milih sudut pandangnya. Tapi di sini lebih aku lihatin dari sisi Leeteuk dan Heechul n_n

Karenaaa… 83line berulang tahun hurray! Happy bday old man. lol

Tak sabar 83line kumpul lagi wow wow /hebring/

Dan untuk part Donghae yang mukul tempat tidur, silahkan cari interviewnya di majalah elle. Hahhaa so inspiring

Thanks for coming everyone O/

Dan selamat berpuasa bagi yang menjalankan. ^^

Advertisements

8 thoughts on “Oneshot : Boys Meeting

  1. Kereeeeen ….. DaebaaaKkk… Leeteuk mah gk bs marah lama” ,dy kn baek hati kkk …
    Part kyuhyunx dikiiit ,,, tp gk pp,q suka karakter heechul …
    Eh chingu,itu beneran donghae matahiin tmpt tdur lEeteuk ???

    • hehe iya. ini kan bukn ff kyu. kkk
      kalau diinterview dia bilang dulu waktu masih muda(skrang udah tua lol) donghae suka mukul2 kasur kalau lg marah. itu aja fakta, selebihnya cuma fanfic ^^

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaak eonn baca ini moodku langsung naik drastis xDD gomapta ❤
    dari part/? awal udah bikin penasaran apa yang dilakukan donghae sampe dia 'layu' gitu wkwkwk
    heechulnya asdsafjasdk wkwkw xD part eunhyuk ngomong "oldman" itu bikin ngakak ga nahan wkwk
    "Dan karena Siwon berhati lapang dan tak pelit-pelit juga, ia hanya diam dan melajukan mobilnya dengan tenang" xDDDDD setdah siwon wkwk
    dan pada akhirnya teuki memaafkan donghae eaak xD
    wohooo~ \o/

    oh jadi terinspirasi dari interview kemarin itu eon? haha xD donghae suka mukulin kasur kl lagi kesel wkwkwkw xD
    eh eonn~ aku semakin jatuh cinta sama tulisanmu /eaak/ #slap asli eon TTTT
    keep writing eon! ditungu karya-karyamu yang lain \o/
    maafkan aku karna komen anehku ini /\

    • wuahhh ini komentar kedua terpanjang yang pernah aku baca hahaha
      makasih udah mampir dan ninggalin jejak panjang ini ya n_n
      iya terinspirasi dr itu hahaha

  3. Wah keren ><
    aku readers bru disini …. Pas baca awalnya ku kira akan ada pesta kejutan untuk Leeteuk Oppa tapi ternyata benar benar mengejutkan …. Hehehehe dari sebuah articel singkat bisa membuat cerita yg menarik seperti ini.
    Good Story author 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s