Drabble Sungmin : Maple Tree

maple tree

Maple Tree

by Cherry Hee

.

Lee Sungmin terduduk kaku di mejanya. Pandangannya tak bergeser  sedetik pun dari halaman rumput di luar jendela sana. Wajahnya yang tak berekspresi apa-apa, menantang cahaya matahari. Tidak terlalu panas karena ini masih pagi, tapi ia sudah ada diposisi seperti itu sepanjang kelas pertama berlangsung.

Tidak ada teman yang mengajaknya bicara pun dengan guru-gurunya. Tapi tadi pagi saat baru sampai di kelas, seorang guru sempat menemuinya. Merentetinya pertanyaan basa-basi seperti, apa dirinya sudah makan? Apa tadi malam ia tidur dengan baik? Apa semua tugasnya telah ia kerjakan? Tapi Sungmin tetap diam. Seakan pohon maple di seberang halaman lebih menarik baginya dari hal apapun yang ada di kelas.

Bel istirahat berbunyi. Suara bising dari teman-temannya yang mulai bergegas ke kantin terdengar riuh. Sungmin enggan bergeser, jadi ia masih duduk tak bergerak di kursinya

“Apa kau mau makananku?” Sungmin melirik ke samping. Seorang anak berambut hitam awut-awutan berdiri di depan mejanya.

“Seperti kata ibuku, kalau kita tidak makan saat istirahat datang, kita tidak akan bisa memahami penjelasan guru di kelas selanjutnya karena sibuk memikirkan perut yang kelaparan. Makanlah.” Anak itu meletakkan kotak bekalnya dan mendorongnya sampai menyentuh kulit tangan Sungmin.

Sungmin tak kunjung bersuara, tapi matanya balas memandang anak itu. Dahinya mengernyit, masih merasa aneh dengan sikap teman satu kelasnya itu. Ia mengenalnya tentu. Namanya Lee Donghae. Anak yang duduk dibaris pertama. Sering membuat kegaduhan di kelas. Dia selalu bisa mematahkan apapun yang dipegangnya dan pernah nyaris saja mematahkan lengan seorang teman di kelas olahraga.

Sungmin tidak pernah berbicara dengannya sebelum-sebelum ini. Namun sejak satu minggu yang lalu, sejak hari di mana ibunya pergi entah ke mana, Lee Donghae bersikap begitu baik padanya. Mengajaknya berbicara dibeberapa kali kesempatan, meski pada akhirnya anak itu akan diejek teman-temannya. Karena Sungmin aneh dan tidak ada yang mau tertular aneh dengan mengajaknya berbicara. Tapi sepertinya Donghae tidak pernah mempedulikan itu.

Mulut Sungmin baru saja akan membuka untuk menolak ketika perutnya menggerung nyaring. Pura-pura tak mendengar, ia lantas mendengus dan berpaling ke jendela.

Sambil menahan kikik geli, Donghae tersenyum kecil. Sungmin berharap anak itu tidak berkomentar apapun setelah ini. Dan tenyata benar, anak itu hanya berseru, “Makan ya!” Lalu berjalan dan bergabung kegerombolan sekawanannya.

Sekolah berakhir beberapa jam kemudian. Sungmin tersenyum kecil, akhirnya ia bisa berdiri di sana, di bawah pohon maplenya. Tempat di mana biasanya ia menunggu jemputan sang ibu. Dengan hati penuh harap, ia menatap ke ujung jalan. Sungmin yakin sebentar lagi ibunya pasti akan datang dengan sepeda tua milik ayahnya.

Sebentar lagi.

Satu persatu anak-anak lain pergi dengan jemputannya. Beberapa diantaranya dijemput dengan mobil, hanya dirinya seorang yang dijemput sepeda tua. Ibunya memerlukan waktu untuk mengayuh tentu saja. Sebentar lagi, ibunya akan datang.

“Apa wanita ini yang kau tunggu?”

Tahu-tahu Donghae sudah berdiri di sisinya. Dari sudut matanya ia bisa melihat Donghae mengeluarkan sesuatu dari saku. Sebuah foto. Ragu Sungmin akhirnya menoleh. Foto Donghae yang tertawa lebar dengan seorang wanita yang memeluknya dari belakang.

Sungmin terbelalak menatapnya. Wanita yang dikenalnya ada di sana. Terlihat dekat sekali dengan Donghae.

“Dia bukan lagi ibumu, Sungmin.” Donghae berkata lamat-lamat, seakan takut Sungmin melewatkan tiap patah katanya. “Ini sudah lewat satu minggu, kan? Dia tidak pulang.”

Gigi Sungmin bergemerutuk tapi ia tak sanggup bersuara.

“Jangan lagi menunggunya. Dia sudah jadi ibuku,” desis Donghae tajam lalu berjalan menjauhinya.

Persendian Sungmin terasa kaku. Tenggorokannya seperti tercekik, ia tak mampu berteriak padahal ingin sekali memaki-maki anak itu. Ketika Donghae sudah berada di samping mobil mewahnya, anak itu berbalik, melirik Sungmin sebentar. Bibirnya bergerak kecil seakan mencemooh.

Tepat ketika kereta itu menghilang dibelokan, Sungmin tersenyum kecut. Bersama iringan gemerisik dedaunan, anak itu merunduk. Ia berteriak kencang sampai anak-anak kelinci liar berjengit dan lari menjauh.

“Ibu.” Air matanya meluncur turun. Tak dapat ditahannya lagi, akhirnya Sungmin menangis tersedu-sedu di bawah pohon maple itu. Memeluk lutut saat udara dingin berhembus menerbangkan dedaunan.

Isak Sungmin memelan. Tangannya meraba-raba ke atas. Daun maple pertama yang gugur mengenai kepalanya. Maple selain mengingatkannya pada ibu, wajah ayahnya juga selalu mengabur didaun lima jari itu. Tiba-tiba Sungmin teringat pada nada-nada lembut dari piano yang ayahnya mainkan di awal musim gugur. Ayahnya bilang ia paling suka dengan musim gugur. Karena itu musim di mana Sungmin lahir.

“Ayah.” Sungmin tahu ia tak bisa berharap ayahnya akan datang. Lelaki yang paling disayangnya itu telah meninggal.

Tapi harapnya masih tertahan di sana untuk seorang wanita kesayangannya. Mungkin bukan sekarang, bukan esok, atau hari esoknya lagi ibunya datang. Tapi suatu hari nanti, ibunya pasti akan datang.

Di tahun-tahun nanti mungkin ibunya akan menjadi semakin yang terasing. Sedangkan dia akan berubah jadi lelaki pembenci ibunya sendiri. Tapi saat ini, Sungmin hanya anak kecil yang belum genap sepuluh tahun. Jauh dalam hatinya yang bersih ia masih menanti sang ibu.

Tak jauh dari tempatnya, Donghae tertawa-tawa di sisi ibu barunya. Tangan wanita itu sesekali membelai kepalanya hangat. Sesuatu yang selama ini tak ia dapat.

Tanpa ditahu, kedua anak itu bukan berebut kasih sayang ibu, tapi tak lebih dari wanita pecinta harta semata.

Karena dunia telah merubahnya. Karena dunia membuatnya berpura-pura bersandiwara.

.

 ***

Note : 

Dari dulu pengen punya cerita berjudul Maple Tree, akhirnya kesampaian juga ❤

Salah satu pesan yang ingin aku sampaikan di sini.. dunia itu kejam, Nak~ kkkk~

Thanks for coming O/

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Drabble Sungmin : Maple Tree

  1. asdfghjklmpnbvczxqwrty >< Kak, bisa gak ini cerita nyesek sedikit lagi? Dunia emang kejam, kak, hingga kakak pun rela membuat Sungmin menjadi seperti itu 😥 Dunia kejam, dan kakak yg ada dalamnya pun kejam 😦

    Okeh, haha, daebak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s