Twoshot [2] : The Way I Love You

The Way I Love You

 

by Cherry Hee

The way i love him is different with you all love him…

.

Keesokan harinya aku menyibukkan diri di perpustakaan. Sebenarnya sudah tak ada jadwal kelas lagi, tapi tugas-tugas yang berderet panjang di catatan membuatku mau tak mau tertahan di sini. Aku bahkan berniat menginap di perpustakaan kota malam nanti. Sedikit merutuki kebodohanku mendapat nilai tak memuaskan di tes kemarin, Akupun berusaha agar tak ketinggalan di materi selanjutnya. Dan jalan akhirnya aku harus mati-matian belajar seharian.

“Hello Nona Hwang.”

Aku terlonjak. Sejak tadi menunduk tak peduli sekitar, tapi tiba-tiba suara itu datang dan berdesir di telingaku. Aku menoleh cepat. Cho Kyu-Hyun berdiri di sisiku dengan cengiran lebar.

“Sedang belajar?”

“Jangan berbasa-basi padaku. Aku sibuk, pergilah jika kau tak ada urusan penting padaku.”

“Kau mau mengusirku untuk kedua kalinya?” Ia memandangku dengan wajah merana dibuat-buat.

“Sepertinya kau punya rencana malam ini?” Ia melirik ke meja dekat kami di mana tasku yang menggemuk dan sebuah jaket tersampir di atasnya.

“Yeah, ada beberapa materi yang belum aku pahami. Aku perlu mempelajarinya malam ini di sini.”

Kyu-Hyun mengangguk-angguk setelahnya. Ujung bibirnya naik beberapa mili.

“Ada urusan apa?” tanyaku lagi dengan pandangan curiga.

“Tidak. Aku hanya ingin meyakinkan kalau semalam kau benar-benar tidak sedang bermimpi ketika kutanya apa kau mau jadi pacarku.”

Aku menutup buku tebal yang sedang kubaca dengan suara keras. Lalu kembali menatapnya dengan mata menyipit.

“Kau kira cinta datang semudah itu? Dasar lelaki hidung belang.” Aku cepat-cepat menyingkir menuju rak lain. Dan tanpa merasa malu ia mengekoriku. Untung saja perpustakaan sedang sepi. Jika tidak, lebih baik aku ditelan bumi dari pada dicurigai sebagai kekasih gelap Cho Kyu-Hyun.

“Lelaki hidung belang? Siapa maksudmu?” Ia berdiri di sampingku, pura-pura membaca buku.

Beberapa kali bertemu baru kali ini aku memperhatikan bau parfumnya. Aku tidak bisa mendeskripsikannya karena aku bukan pemerhati parfum-parfum mahal. Yang jelas, aromanya membuatmu betah berada di sisinya. Seperti angin segar di tengah musim panas. Meski begitu, aku masih menjaga jarak padanya.

“Sudahlah. Aku bukan gadis yang bisa kau kejar-kejar lalu kau tinggal setelah kau dapat. Cari yang lain saja jika kau mau main-main,” kataku sambil lalu selagi aku sibuk berjinjit-jinjit mencoba meraih sebuah buku di rak tertinggi.

Dari sudut mataku, aku bisa melihatnya mendekat. Lalu tangannya yang panjang terulur di sisi tanganku. Mengambil buku begitu mudah dan memberikannya padaku dengan wajah sok.

“Jadi kau pikir aku main-main padamu? Dan kau pikir aku jatuh cinta padamu begitu saja?”

Aku pura-pura tak dengar. Sibuk membolak-balik halaman sambil menunduk dalam, menyembunyikan wajahku yang memerah setelah tadi dipermalukan gara-gara tinggi badan.

“Kau tahu? Aku tidak percaya dengan cinta pandangan pertama. Sulit dipercaya mereka menyebutnya cinta hanya karena mereka terkagum oleh wajah atau penampilan. Omong kosong sekali, kan?”

“Perkataanmu semalam lebih omong kosong,” selaku. Tapi ia tak peduli dan terus mengoceh.

“Mungkin kau tidak sadar selama ini, aku diam-diam memperhatikanmu.”

Sekuat tenaga kuusahakan untuk tidak mendongak dan melempar tatapan berang padanya.

“Aku mencari tahu nomor ponselmu, alamat lengkap rumahmu, hari ulang tahunmu, kesukaanmu dan tempat-tempat mana yang menjadi favoritmu. Aku bahkan tahu kau hidup seorang diri di rumah, dan pamanmu yang pengrajin itu tinggal beberapa meter dari rumahmu. Semua.. semua tentangmu aku tahu. Dan aku mencari tahu dengan usahaku sendiri.”

Hatiku berdesir aneh sekali. Tapi cepat-cepat kuabaikan dan ganti memekik tertahan. “Kau memata-mataiku!”

“Itulah yang akan dilakukan laki-laki jika ia sungguh tertarik pada seorang gadis,” jelasnya dengan wajah sok bijak.

“Ada berapa gadis yang sedang kau mata-matai?”

Ia terbatuk pelan. “Ya ampun. Bisakah kau berpikir positif tentangku sebentar saja?”

“Aku hanya bertanya.”

“Oke.” Aku mendengarnya menghela napas panjang. “Hanya kamu. Kemarin dan sekarang, hanya kamu yang kumata-matai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Mungkin kau menerimaku.. jadi aku tak perlu memata-mataimu. Karena aku bisa langsung menanyaimu tanpa malu,” katanya tanpa nada main-main.

Aku menyerah. Mendongak dan balik memandanginya. Tatapannya sudah berubah, matanya jadi melembut.

“Aku sungguh-sungguh menyukaimu.” Lalu ia melempar senyum kecil yang membuat dasar perutku tergelitik. Aku terkikik tanpa dapat kutahan.

“Apa aku sedang melucu?” tanyanya agak jengkel.

“Tidak—maaf. Melihat senyummu dari dekat ternyata menarik juga,” sahutku masih membekap mulutku untuk tidak meledakkan tawa.

“Ah—kau mulai tertarik padaku,” katanya penuh percaya diri.

“Jangan bermimpi.”

“Hey.. kau belum menjawabku.” Ia segera mengikutiku begitu aku melangkah kembali ke meja dengan sebuah buku di tangan.

“Pergilah.”

Kepalaku sudah pusing bukan kepalang dengan deret istilah-istilah asing di buku yang kupegang, kuharap itu saja tanpa sosok bising di sampingku.

“Baiklah. Aku juga punya jadwal setelah ini. Maaf sudah mengganggumu.”

Kalimat terakhirnya berhasil buatku tergugu. Aku tak membalas pun mendongak melepas perginya.

Ketika ruang penuh buku itu kembali senyap, aku tersadar, suaranya agak buatku rindu.

***

Beberapa hari setelahnya, setelah ujian-ujian terlewati, huru-hara para mahasiswa yang mengejar-ngejar dosen demi memastikan nilainya baik-baik saja, dan segala keributan yang ada, akhirnya aku bisa benapas lega. Lega karena nilaiku tidak terbilang buruk,  meski bukan yang terbaik setidaknya aku masih bisa melanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Masih ada waktu dan harapan.

Dan kelegaan terbesar, ketika lelaki itu tak lagi muncul di depanku.

Di hari ujian pertama di mana seharusnya kami seruang, ia tak datang karena kudengar ia ada jadwal konser di Jepang. Tapi dia pasti punya akal, ikut ujian lain hari pasti. Hingga di hari akhir ujian, selama lebih dari satu bulan—terhitung sejak pertemuan kami di perpustakaan—aku tak melihatnya.

Sesekali ia mengirmiku pesan pendek. Bukan keluhan ataupun pernyataan basa-basi merayu, ia hanya membagi kebahagiaannya padaku. Seperti di hari ia mendapat penghargaan bersama kawan-kawan segrupnya dan saat ia dipuji seorang senior sebagai mc muda yang sukses. Aku turut senang tentu, tapi aku tak balas satu pun dari pesan-pesannya itu. Entahlah, terlalu malu dan takut.

Aku baru saja keluar dari gerbang kampus ketika sosok serba gelap itu mendatangiku. Mantel selutut, topi yang terpasang terlalu rendah hingga nyaris menutupi matanya dan masker colat hitam motif kotak-kotak. Sambil menyandang tas ia menunggu tak tenang di kursi dekat taman. Buru-buru berdiri ketika bertemu pandang denganku.

“Sudah lama tak bertemu. Apa kau tak rindu padaku?” Meski wajahnya tak kelihatan penuh, aku masih bisa menangkap kilat jahil itu di matanya.

“Oh, kau tidak rindu padaku tentu. Kau tidak pernah membalas pesan-pesanku yang kelewat sedikit itu.” Ia menunduk. Masih menyampingiku yang melangkah lebar-lebar.

“Kau mau ke mana?”

“Apa yang kau lakukan di sini dengan pakaian seperti itu? Bagaimana jika ada yang mencurigaimu dan penggemarmu tahu siapa kau?” desisku tak mencoba menutup-nutupi sikap tak ramahku.

“Justru aku seperti ini biar tak ada yang tahu. Aku mau kau menemaniku ke suatu tempat,” ajaknya kepalang riang.

Lalu dia menarikku paksa masuk ke mobilnya yang terparki di seberang jalan.

Aku terus menggerutu dan dia dengan tenang menjawab, “Tenang saja aku tidak menculikmu atau berbuat macam-macam. Anggap saja ini sebagai bayaranku karena selama ini kau sudah membantuku.”

Sepanjang perjalanan aku terdiam sedang dia mengoceh menceritakan segala hal yang menurutnya menarik. Seperti suasana konser yang riuh di Beijing beberapa hari yang lalu. Katanya Dong-Hae sempat jatuh hati pada seorang gadis yang dulu pernah ia beri boneka bunga matahari. Sayangnya Dong-Hae harus patah hati karena gadis itu kini sudah menikah dengan lelaki lain, dan di konser kemarin gadis itu mengajak suaminya. Dan lelaki di sampingku menceritakannya dengan tawa lepas seakan derita hyung-nya adalah lelucon baginya.

Beberapa menit kemudian kami terhenti di depan sebuah bangunan apartemen. Aku mendongak wajah ketika ia membuka pintu mobil untukku.

“Kau bercanda? Untuk apa kau bawa aku ke mari?”

“Sudah kubilang aku tidak akan berbuat macam-macam. Jadi diam dan ikuti saja.”

Aku mengernyit sambil memandangi gedung tinggi itu.

Menyadari aku tak kunjung bergerak dari sana, ia berbalik dan berdecak sebal. “Ayo.”

Kami naik ke lantai tujuh. Dan aku baru sadar, entah apa yang ada di otak lelaki itu hingga ia bisa menarikku sampai di depan pintu ini. Apa selama ini ia diam-diam membeli apartemen di sini? Dengan siapa ia tinggal? Apa yang ia mau dariku untuk datang ke apatemennya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berdatangan di kepalaku, sampai tiba-tiba pintu itu terbuka. Seorang wanita dengan senyum hangat yang kukenal berdiri menyambut kami. Dengan wajah penuh tanya aku mendongak mendelik ke lelaki di sisiku.

Dia mengajakku untuk bertemu dengan ibunya?!

“Ibu…” Rasanya ingin kutampar wajahku saat mendengar suaranya yang dibuat imut.

“Ah anakku.”

Dan adegan peluk-cium antara anak ibu itu pun terjadi di depanku seperti sebuah mimpi.

Selepas memeluk anaknya, ibu Kyu-Hyun berbalik menatapku ramah. “Apa ini Sae-Ra yang kau ceritakan itu?”

“Untung ibu masih ingat,” balasnya sedang aku  tersenyum kaku.

“Saya teman Kyu-Hyun, Hwang Sae-Ra. Bibi apa kabar?” Aku membungkuk padanya sampai selanjutnya ia buru-buru memelukku.

“Senang akhirnya Kyu-Hyun membawamu ke sini. Anak itu sering menceritakan tentangmu pada ibu. Ayo masuklah. Ibu sedang membuat makanan kesukaan Kyu-Hyun. Semoga kau suka juga ya. Ayo, ajak masuk dia Kyu.”

Aku tertawa kecil menanggapinya. Apa yang bisa kulakukan?

Ketika ibu Kyu-Hyun masuk terlebih dahulu meninggalkanku dan Kyu-Hyun yang menutup pintu, lelaki itu berbisik dengan jelas di telingaku. “See? Sekarang kau percaya aku tidak sedang main-main, kan?”

Terdiam, aku hanya melempar pandang bunuh-aku-Cho-Kyu-Hyun. Lantas lelaki itu tertawa sebelum mengedipkan mata dan menghilang ke dapur menemui ibunya.

Sepertinya dia benar, kami akan menjadi pasangan paling tidak romantis sedunia. Tapi dengan caranya ia selalu bisa membuatku jatuh cinta. Begitu pun sebaliknya.

Ah, lelaki itu sudah membuatku gila.

***

.

Note :

Selesai sampai di sini jangan minta sequel hehe 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Twoshot [2] : The Way I Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s