Flashfiction : A Little Girl

Little_Match_Girl_Color_by_Bluepen

(Little_Match_Girl_Color_by_Bluepen)

“Kenapa di sini sendiri?” Suara itu terdengar lagi. Suara asing yang membuat sekujur tubuhnya merinding, memaksanya makin merapat ke dinding.

“Kamu benar-benar sendirian di sini?” 

Tidak! Ia tidak boleh melihat wajah itu. Mungkin orang itu sedang memasang seraut senyum merayu, tapi ia tak akan tertipu. 

“Hei, anak kecil. Paman bertanya padamu.” Ia berjengit. Tangan itu baru saja menjulur menyentuh kulit lengannya.

“Pergi! pergi!” geramnya tertahan. Tangan kecilnya mengepal erat-erat, matanya pun masih terpejam kuat-kuat.

“Anak aneh.” Gerutuan itu menghilang bersama derap langkah kaki menjauh.

Orang-orang itu—pemasang senyum palsu. Ia benci—benci sekali mulut-mulut tak dapat diam itu. Saling berbisik demi bicara cela yang lain. Pencuri-pencuri bagi yang satu dari yang lain. Pembunuh kejam melebihi binatang.

Keras dunia merubah mereka jadi saling memangsa. Dirinya yang tak berdaya pun tak luput jadi korbannya.

Tidak! Ia tak mau lagi tertipu.

Yang ia butuh sekarang hanya ibu. “Ibu.. Ibu.. jangan tinggalkan aku di daerah asing ini. Aku cari Ibu, tapi tak ketemu-ketemu. Di mana kau, Ibu? ”

Sore itu langit kelabu. Gemuruhnya terdengar dari jauh. Orang-orang bermantel hitam hilir mudik memenuhi jalan—melangkah terburu-buru.

Tidak seperti orang-orang itu, bajunya sendiri tipis compang-camping. Ketika angin menerpa, tubuhnya menggigil.

Di bawah atap sebuah pintu, sambil menekuk lutut, ia sabar menunggu. Berharap langit mau menurunkan sang ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s