Twoshot : The Way I Love You

The Way I Love You

The way i love him is different with you all love him….

 

Kata banyak orang, Cho Kyu-Hyun adalah pria dengan wajah dan pesona nyaris sempurna. Hidungnya mancung, alisnya tegas, matanya yang sekali dipandang, orang akan langsung tahu jika dia punya pesona seorang artis. Sekali lagi bahwa itu semua kata orang. Agak beda denganku yang sudah sering melihatnya dari jarak dua langkah.

Aku mengenalnya—tentu saja, semua orang kampus kenal dia. Kami satu kelas dalam beberapa mata kuliah, tapi kami nyaris tak pernah berbincang akrab sekalipun sekadar saling sapa. Dia orang sibuk, aku paham itu. Jadi aku tak menyalahkannya jika beberapa kali ia datang terlambat atau pergi terburu-buru setelah kelas berakhir.

Jika ditanya sejak kapan kami dekat, maaf aku tak terlalu ingat. Tahu-tahu dia sering mengirimiku pesan demi bertanya tugas apa saja yang profesor bebankan dihari ia tak masuk. Tidak masalah dan aku sama sekali tidak keberatan untuk memberitahunya, hanya saja lelaki jangkung itu mengirimiku pesan tengah malam! Waktu di mana aku sudah terlelap dalam mimpi. Dan lebih menyebalkan lagi jika aku tidak segera membalas pesannya, ia akan menghubungiku. Terus membuat ponselku menjerit dan bergetar sampai aku mengangkatnya. Kadang aku menyesal mengenalnya.

Aku banyak dengar gadis-gadis memujinya. Benar-benar gila. Lelaki pembual nomor satu di dunia itu bagiku tak lebih dari seorang pembual. Di acara makan bersama yang satu kelas kami adakan, beberapa kali dia datang. Dan mulutnya itu hampir membuat telingaku meledak dengan kebisingannya. Tanpa alasan dia memuji Yae-In, salah satu gadis tertua di kelas kami, dan memanggilnya ‘Kakak cantik’ dengan suara dibuat-buat manis. Nyaris membuatku muntah di depannya—kebetulan saat itu aku duduk di seberang mejanya dan bisa saja aku muntah di depannya.

Pembual itu gemar memuji para gadis cantik. Hari kemarin pun dia juga sempat melayangkan pujian entah sebenarnya candaan atau ungkapan hati, bahwa ia akan jadi lelaki beruntung jika punya kekasih secantik dan sepandai Jae-Mi. Tapi sayangnya Jae-Mi sudah bertunangan dengan kekasihnya. Dia mengatakan itu dengan berani mungkin karena ia sudah dekat dengan tunangan Jae-Mi, jadi ia tak perlu takut dihajar sampai babak belur.

Dan malam ini saat jam sudah berdentang sepuluh kali, lelaki itu tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu rumahku—setelah memencet bel rumah secara membabi-buta. Rambutnya berantakan, sama sekali berbeda dengan yang biasa kulihat di televisi. Ia baru saja melepas maskernya hingga aku bisa melihat wajahnya yang kusut tanpa make-up. Matanya sayu seperti habis bangun tidur. Mungkin ia baru tertidur dari perjalanan jauh ke sini.

“Hai Sae-Ra. Boleh aku minta bantuanmu untuk beberapa tugas yang belum bisa kukerjakan?”

Aku masih terkejut, memandanginya dengan mulut terbuka. Seperti saat ia tahu nomor ponselku tanpa pernah memintanya padaku, aku heran bagaimana ia tahu alamat rumahku.

“Oh, oke.”

“Boleh aku masuk? Di sini dingin sekali.” Ia menggosok-gosok tangan lalu memeluk lengannya sendiri.

Dengan gerakan kaku aku membukakan pintu. Membiarkan lelaki itu masuk dan langsung mendengarnya berkomentar bahwa rumahku sungguh berantakan.

“Aku bekerja membantu pamanku membuat kerajinan,” balasku sambil memperhatikannya memegang-megang kain perca, kapas dan benang, bergantian.

“Wah, imut juga.” Dia menarik salah satu gantungan kunci berbentuk teru-teru bozu dengan wajah seperti anak kecil yang terkagum pada mainan asing. Salah satu ekspresi yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

Setelah berbasa-basi sebentar—ia meminta maaf karena sudah menggangguku di jam malam—kami melanjutkan belajar. Karena tak ada kursi, kami terduduk berhadapan di depan meja. Mulai mengajarinya jika ia bertanya. Tidak sulit menjelaskan ini-itu padanya. Sampai-sampai aku nyaris tidak bicara, membiarkannya sibuk menekuni tiap baris soal seorang diri.

Di sela-selanya, saat setelah ia menyeruput setengah coklat hangat yang kubuat, ia kembali bersuara, “Kau tahu ini hari apa Sae-Ra?”

“Hari Minggu?”

Ia mendengus, seperti tengah mengejek.

Lalu aku teringat. “Hari senin, ini sudah lewat tengah malam!” sahutku, sengaja meninggikan kata ‘tengah malam’.

Ia mendongak sekilas. Memandangku dengan raut sulit dibaca.

“Ada apa memangnya?”

“Tidak. Bukan apa-apa. Boleh aku meminjam kamar mandimu sebentar?”

“Yeah. Kau bisa masuk ke sana lalu lurus ke lorong kanan, kau akan menemukan kamar mandinya di ujung kiri. Rumah ini kecil kau tak akan sulit menemukannya.”

Dia mengangguk kemudian menghilang di belokan. Wajahnya tidak seramah saat ia datang. Aku mengangkat bahu acuh. Peduli sangat dengan orang yang kurang ajar bertamu di tengah malam. Jika aku bukan orang sabar, aku akan langsung menendangnya dua jam lalu saat ia datang.

“Hei! Kau penggemar kami?!” Aku terperanjat. Ia sudah kembali dan kini raut wajahnya berubah lagi. Cepat-cepat duduk di depanku lalu memandangku antara kagum dan tak percaya.

Aku paham arah ke mana ia berbicara, tapi aku lebih memilih balik bertanya padanya, “Siapa?”

“Super Junior! Kau penggemar Super Junior, kan? Aku melihat kamarmu ditempeli poster-poster muka kami.”

Aku nyengir, sedikit malu. Seperti habis kata-kata aku tak tahu harus menjawab apa.

“Kau penggemar.. tapi tak tahu ini hari apa?” ucapnya lamat-lamat, seperti meragu.

Beberapa detik aku melongok, tak bersuara. Kulirik kalender yang terpajang di atas meja—oh hari ketiga di bulan februari.

“Oh, maaf. Aku lupa.”

“Lalu?” Ia masih memandangku dengan penuh antusias.

“Lalu? Apa?”

“Ya ampun. Kau mungkin satu-satunya penggemar beruntung yang menghabiskan malam istimewa dengan idolanya. Kau tak mau mengucapkan sesuatu untukku?” Keningnya berkerut, tampak kecewa.

“Oh—ya. Tapi di twitter ada jutaan penggemarmu yang sudah mengatakannya. Apa gunanya suara kecil dariku.”

Dia terbelalak. Lebih terkejut dari saat ia menyadari aku salah satu penggemarnya.

“Aku jadi ragu kau penggemarku,” ungkapnya sambil meluruskan lutut. Baru sadar sejak tadi ia duduk tegak terlalu tegang. “Jangan-jangan kau memang penggemar tapi benci padaku?”

Aku mengangkat bahu. “Terserah jika kau berpikir begitu.

“Bahkan tidak ada ekspresi senang saat aku bertamu ke mari,” gumamnya dengan muka keruh.

“Maaf Tuan Cho, kau bertamu tengah malam. Bahkan tidak ada orang gila yang mau diganggu tengah malam,” sahutku dingin.

“Tapi aku—aku idolamu.”

“Tak peduli,” selaku cepat.

“Aku terkejut setengah mati saat melihat poster-poster itu, kau tahu? Selama ini tiap kita bertemu kau tidak pernah menunjukkan antusiasmu sama sekali.” Dia mengatakannya dengan menggebu-gebu, mengabaikan lembar-lembar tugasnya. Sepertinya ia tidak terima dengan sikapku selama ini.

“Memang aku harus apa? Menjerit-jerit memanggilmu di depan teman-temanku?”

Mulutnya kembali terbuka tapi detik selanjutnya tertutup lagi. Sedikit tergagap ia bersuara lemas, “Sudahlah.. lupakan saja.” Lalu menyambar penanya dan kembali mencoret-coret bukunya dengan wajah terluka.

Sedang aku memilih membisu. Apa yang harus kukatakan untuk menjelaskan masalah rumit ini padanya. Ini bukan yang pertama kalinya, sejujurnya. Aku selalu bisa menjawab mulut-mulut penggemar lelaki itu yang mengolok-olokku sebagai pengkhianat dan semacamnya—hanya karena aku tak pernah mengucapkan selamat padanya di tanggal ketiga bulan februari. Hanya karena aku tidak pernah memujinya tampan alih-alih jerawatan. Dan hanya karena aku tidak pernah meneriaki namanya di konser. Aku selalu punya balasan. Tapi di depan lelaki yang sekarang memasang wajah terluka setelah menyadari kelakuan salah satu penggemar tak pentingnya ini, aku tergugu ragu.

“Jika kau masih berpikir aku benci padamu, kau keliru Tuan Cho,” ucapku hati-hati. Tapi ia terlihat tak peduli dan terus sibuk di balik bukunya.

“Sebenarnya ini tahun ketiga aku tidak mengucapkan selamat padamu di tanggal tiga,” lanjutku. Ia berjengit tanpa memandangku. “Kau pernah dengar perbedaan tipis antara benci dan suka? Mungkin aku berada dikeduanya.”

“Aku tak paham maksudmu,” balasnya dingin. Menolak mendongak dari bukunya.

“Kau tidak bisa mengataiku sebagai pembencimu dengan alasan remeh seperti itu.”

 

“Remeh? Dengar ya, aku tidak pernah menganggap ucapan selamat dari penggemarku sebagai sesuatu hal yang remeh,” sentaknya tiba-tiba membuat jantungku mencelos turun.

Ekspresi geramnya sama sekali tak main-main, tapi aku masih berharap ia sedang akting.

“Aku tahu­­—maksudku. Maksudku bukan seperti itu. Kau tidak bisa menyebutku sebagai salah satu pembencimu hanya karena masalah itu. Aku tidak pernah melewatkan konsermu, musikalmu, acaramu dan apapun itu yang ada hubungannya denganmu. Aku tidak pernah melewatkan namamu dalam doaku. Hanya karena aku tidak pernah memujimu dan mengucapkan selamat di hari ulang tahunmu, kau tidak bisa menyebutku pembencimu Tuan Cho.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Sekarang seluruh perhatiannya sudah tertuju padaku. Tatapannya tak berubah, masih tajam seperti tengah menodongkan senjata padaku.

“Sudah kukatakan aku berada diantara benci dan suka. Dan perasaan ini tumbuh khusus padamu. Jangan tanya mengapa, karena bahkan di dalam mimpi pun aku seperti ini,” jawabku putus asa.

“Sulit dipercaya.” Dia berdecak pelan sambil menggeleng-geleng kepala. “Aku jadi penasaran.”

Sebelah alisku terangkat. “Ada yang ingin kau tanyakan? Kau masih belum paham dengan penjelasanku?”

Dia mengangkat tangan lalu mengibas-ibasnya cepat. “Bukan—bukan begitu. Aku cuma penasaran kalau aku punya kekasih seajaib kamu.”

“Hah?” Aku mendelik. “Jangan bercanda dengan urusan cinta Tuan Cho. Itu sama sekali tak lucu.”

“Aku tidak bercanda.” Rautnya sama-sama terkejut.

“Tidak, aku tidak percaya pada mulut pembual sepertimu.”

“Mulut pembual?”

“Kau sudah memuji lebih dari seribu wanita! kau pikir aku tak tahu itu?”

“Hah?” Berkerut kening, ia terpekur sebentar.  Kemudian menyahut lagi, “Semua lelaki normal juga pasti akan melakukan hal sama sebelum dia menemukan pasangan hidupnya. Merayu setiap wanita,” kilahnya membuatku geram.

“Kalau begitu teruslah jadi perayu dan pembual.”

“Untuk apa? Aku sudah menemukan yang cocok sekarang.” Dia mengedip genit.

Tanpa dapat kutahan aku meraih salah satu gulungan soal-soal dan memukulnya pelan tepat ke mukanya.

“Kau memukul idolamu!”

“Aku benci muka merayumu itu. Lagi pula sudah lama aku ingin melakukan itu sejak aku melihatmu membual sewaktu makan bersama dengan teman-teman kelas kita. Maaf.”

“Ah!” Seringainya mengembang. “Kau cemburu!”

“Bodoh!” erangku tak terima membuat tawanya meledak seketika.

“Mau tahu apa yang kupikirkan sekarang? Kita akan menjadi pasangan paling tidak romantis sedunia,” ucapnya dengan senyum sumringah.

Aku hanya diam menatapnya dengan pandangan apa-kau-gila?

“Jadi kau mau, kan?” Ia mengerling genit.

“Tidak!”

“Kau sadar siapa yang kau tolak?”

“Aku tidak peduli.”

“Sulit dipercaya Hwang Sae-Ra menolak ajakan kencan Cho Kyu-Hyun, idolanya sendiri!”

“Cepat selesaikan tugasmu dan keluar dari sini. Aku mau tidur!” Wajahku mungkin sudah memerah sekarang. Lantas aku buru-buru beranjak dan pergi ke dalam kamar, pura-pura mengambil sesuatu.

Beberapa menit kemudian aku baru bisa bernapas lega. Aku telah mengusir Cho Kyu-Hyun. Sambil memegang dada yang naik-turun seperti habis lari jauh, aku menerka-nerka cacian apa yang akan aku dapat jika penggemar lelaki itu tahu diriku mengusir seorang Cho Kyu-Hyun? Tapi aku mencoba tak peduli. Malam semakin larut yang kubutuhkan sekarang hanyalah berbaring di kasur dan melupakan segala hal tentang lelaki itu.

.

***

Note :

Sepertinya akan menjadi series baru karena akan sangat aneh jika mereka langsung jadian. LOL

2 chapter mungkin cukup 🙂

Sebenarnya ini tersimpan cukup lama di draftku. Tapi mendadak kepengen kuselesaikan setelah mendapat cacian agak berlebihan dari fansnya kyu. Sikap Sae-Ra ke Kyu di sini sebenernya adalah sikapku ke Kyu. Hahaha

Tak perlu bayangkan aku bertatap muka dengan Kyu(karena aku sendiri tak sanggup membayangkannya). Kalian hanya perlu membayangkan, betapa tak romantisnya mereka ini. Kkkk~

Thanks for reading ~ n_n

 

Advertisements

12 thoughts on “Twoshot : The Way I Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s