Oneshot : Pengganggu Malam

with siwon5

Pengganggu Malam 

by Cherry Hee

.

.

Api perapian meliuk-liuk semakin kencang ketika angin malam menerobos di sela jendela kayu. Suara angin mendesah-desah di luar, meriuhkan dedaunan dan ranting-ranting pohon. Gesekan kayu dari rumah-rumah reot pun terdengar sampai seberang jalan. Desa itu terlihat suram sejak satu jam yang lalu. Musim hujan akan segera tiba dan angin yang menebar hawa dingin membuat orang-orang malas untuk keluar sakadar berbincang seperti biasa.

Pun yang dilakukan Lee Hyuk-Jae, membungkuk khusyuk di meja belajarnya. Di bawah sinar lilin yang redup, tangannya menggores-gores tinta di atas perkamen. Di sampingnya masih ada tiga lembar perkamen yang menunggu.

Rumah malam itu begitu sepi. Ibunya berada di desa tetangga untuk bekerja, sementara ayahnya pergi ke hutan mencari anggrek liar untuk dijual di kota. Hyuk-Jae berharap keduanya akan kembali besok. Ia tak mau sendiri di musim buruk seperti ini. Bukannya takut pada bayang-bayang tak kasat mata─karena dia bukan anak penakut─, tapi sendirian dan kesepian bukanlah pilihan yang tepat, karena itu akan membuatnya semakin kedinginan.

Dalam kosentrasi penuh, Hyuk-Jae terperanjat nyaris melompat jatuh dari kursinya ketika kakinya tersenggol sesuatu yang geli.

“Choco,” desah Hyuk-Jae ketika melihat anak anjing miliknya mengosok-gosok kepala di kakinya.

“Kau lapar? Apa tadi aku lupa memberimu makan?” Hyuk-Jae beranjak ke sisi ruangan. Membuka lemari kayu pendek tempat ia menyimpan sepotong daging asap sisa. “Bahkan aku sendiri lupa untuk makan,” katanya sementara tangannya sibuk mengiris, membagi dua daging itu.

Niat awalnya ia ingin makan bersama dengan ibu atau ayahnya yang mungkin pulang malam ini. Mereka selalu membawa sesuatu tiap pulang. Dan daging asap ini bisa menjadi tambahan yang mengenyangkan. Tapi sepertinya malam ini hanya ini yang ia punya.

Hyuk-Jae meletakkan potongan yang lebih kecil di piring lalu meletakkannya di dekat kaki Choco. Anjing kecil itu menyalak lemah.

“Hanya itu yang kita punya malam ini Choco. Jangan protes,” sahut Hyuk-Jae yang mengartikan suara Choco sebagai protes atas makan malamnya.

Setelah menuangkan minum dari ketel yang baru diangkatnya dari perapian ke gelasnya, Hyuk-Jae baru saja akan memakan separo daging asap dan sepotong rotinya ketika pintu rumahnya diketuk tak sabaran.

“Huh? Jam berapa ini?” Hyuk-Jae melongok. Menyeret kakinya mendekati pintu.

Raungan angin semakin terdengar mengerikan ketika ia membukakan pintu.

“Hai Hyukie!” Seorang anak berwajah tampan tersenyum lebar di depan pintu.  Sama sekali tak peduli pada geram angin liar yang mengibar-ngibarkan mantel selututnya.

“Choi Si-Won?”

“Tak perlu menyebut nama lengkapku seperti kita tidak berteman baik saja.” Si-Won menepuk bahu Hyuk-Jae keras lalu masuk ke dalam tanpa diminta.

“Oh, maaf kalau aku mengganggu acara makan malammu─dan belajarmu,” katanya setelah melihat sepiring makanan yang belum tersentuh dan bergulung-gulung perkamen di seberang ruangan.

“Tak masalah,” ucap Hyuk-Jae setengah hati. Perutnya bergetar lapar saat matanya melirik iri pada Choco yang masih mengunyah nikmat daging asapnya.

“Aku ke mari untuk meminta bantuanmu sebenarnya.” Hyuk-Jae kembali memandang Si-Won yang sedang berdiri mengoreksi perkamennya. “Tapi ternyata kau sudah membuatnya ya. Apa aku boleh menyalin pekerjaanmu?”

“Oh─Ya tentu.” Hyuk-Jae menggigit bibir. Sadar betul siapa Si-Won.

Choi Si-Won bukan anak biasa─seperti itulah orang-orang menyebutnya. Dia anak kepala desa, orang terkaya di desa. Rumahnya merupakan bangunan paling tinggi. Sepuluh kali lipat lebih besar dari gubuk reot miliknya.

Hyuk-Jae memang tidak pernah menginjakkan kaki ke sana tapi mendengar dari cerita ibunya yang pernah bekerja sebagai pelayan di rumahnya, keluarga Choi memiliki semua hal yang Hyuk-Jae impikan. Kasur empuk terbaik, kamar mandi termewah, lampu-lampu terang yang menggantung di langit-langit dan berpiring-piring makanan terenak yang selalu tersaji di meja makan. Ibunya memamerkan semua itu tanpa merasa kasihan pada Hyuk-Jae yang menetes-netes air liur.

Tapi pada akhirnya ibunya menambahkan, “Apa kau ingin semua itu?”

“Tentu Bu!”

“Maka kau harus menjadi anak pintar dan bekerja keras demi masa depanmu,” balas ibunya dengan senyum lembut.

Hyuk-Jae mengangguk kecil lalu balik bertanya, “Apa ibu juga ingin?”

Telapak tangan ibunya yang hangat mengusap kepalanya pelan sebelum kembali berujar, “Selama kau hidup bahagia dengan penuh rasa syukur, itu adalah harta paling indah bagi ibu melebihi seisi rumah megah itu.”

“Malam ini ayahku lembur di balai desa. Menyebalkan sekali.” Suara Si-Won membangunkan lamunannya. “Dan ibu belum pulang dari acara pestanya. Aku kesepian,” gerutunya.

“Benarkah?” Dalam hatinya Eun-Hyuk mencibir, hal apa saja yang tidak bisa Si-Won lakukan di rumahnya? Bahkan ada berpuluh-puluh pelayan yang siap sedia menyanggupi keinginannya. Sungguh berbeda dengan nasibnya sendiri. Tapi tuan muda Choi ini mengeluh di depan mukanya yang tidak punya apa-apa.

Apa dia sedang menghinanya?

Hyuk-Jae mendadak memasang wajah keruh.

“Ya ampun, ini banyak sekali. Tanganku pegal. Apa kau bisa membantuku Hyukie?” Si-Won mendongak dari meja belajarnya. Memandangnya dengan mata bulat merajuk.

“Baiklah.” Hyuk-Jae terpaksa melanjutkan tulisan Si-Won yang belum setengah halaman. Keterlaluan, geramnya dalam hati.

Jam seakan berputar alot ketika Si-Won melanjutkan keluhannya. Tentang protesnya pada cat dinding kamarnya yang baru. Ceritanya pun menyebar ke masalah sekolah sampai pada cinta bertepuk sebelah tangannya dengan teman satu kelas mereka. Hyuk-Jae tidak menyela. Hanya sesekali menyahut singkat “Begitukah?” “Oh.” “Aku turut prihatin.”

Wah, sudah tengah malam.” Si-Won melempar pandang ke jendela ketika sayup-sayup di luar sana terdengar dentang jam raksasa yang berdiri di tengah-tengah desa. Suaranya menyebar ke seluruh penjuru.

“Yeah,” sahut Hyuk-Jae dengan raut harusnya-kau-pulang-sekarang, tapi ternyata Si-Won tidak melihat wajahnya.

“Aku keluar sebentar.” Si-Won beranjak meninggalkan Hyuk-Jae yang masih sibuk mengerjakan contekannya.

“Tinggal lima baris lagi,” desah Hyuk-Jae menenangkan dirinya sendiri.

Tepat ketika ia berhasil menambah huruf terakhir di perkamen itu dan bernapas lega, pintunya di ketuk-ketuk. Membuat Hyuk-Jae menggerutu, “Kenapa tidak masuk saja.”

Dan benar Choi Si-Won yang mengetuk pintu untuk kedua kalinya. Masih dengan senyum lebar.

“Selamat ulang tahun Hyukie!”
Hyuk-Jae membeku, berganti memandang wajah Si-Won lalu turun tepat ke kedua tangannya yang menenteng sepiring besar kalkun panggang. Itu adalah kalkun terbesar yang pernah Hyuk-Jae temui!

Sekitar lima orang berdiri di belakang Si-Won masing-masing membawa sepiring makanan yang membuat mata Hyuk-Jae semakin membulat kagum.

“Apa kau mau membiarkan tanganku semakin pegal memegang ini.”

“Oh─oh maaf,” sahutnya parau. Hyuk-Jae mundur memberi jalan pada Si-Won dan pelayan-pelayannya.

Sambil memperhatikan mereka menata piring-piring itu di meja makannya yang kecil, Hyuk-Jae akhirnya menemukan suaranya, “Apa ucapan ulang tahun ini juga termasuk sogokanmu atas salinan tugas-tugas itu?”

Tawa Si-Won meledak terbahak-bahak. “Bukan-bukan. Sungguh, aku memberikan ini karena kau adalah teman baikku. Terima kasih sudah mau mendengar semua ceritaku dari dulu sampai sekarang Hyukie. Jujur saja aku malu padamu. Kau tidak pernah mengeluh sedikit pun.”

Hyuk-Jae mengulum senyum kemudian memandang Si-Won penuh haru. “Terima kasih.”

Lalu tersadar, bahwa semua yang Si-Won miliki tidak pernah bisa mengobati rasa sepi anak itu. Si-Won kesepian, dan dia butuh teman.

.

.

Happy bday Hyukhyuk dan Captain Choi! 😀 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s