[Her Brother] Pagi Petang

kimheenim

Her Brother Series: Pagi Petang

Cherry Hee © 2014

.

            Saat itu jam menunjuk angka tujuh. Matahari sudah meninggi, suara kokok ayam pun telah berhenti. Tapi dia masih dengan lapis kain tidurnya, enggan bergeser dari tempat yang ia duduki. Pandangannya terlempar jauh lurus kererumputan yang tumbuh subur di pekarangan belakang rumahnya.

Tak ada alasan untuk ia bermalas-malasan seperti ini sebenarnya. Ada kelas yang dimulai satu jam lagi. Alih-alih mandi dan sarapan pagi, ia malah duduk termenung. Kalau boleh, ia hanya ingin duduk di sana sepanjang hari. Kalau ada yang bertanya untuk apa, dia akan menjawab, untuk menangisi hidupnya.

Langkah kaki mendekat dari arah belakang. Tanpa menoleh ia tahu siapa itu. Seorang lelaki lima tahun lebih tua darinya. Tubuhnya tinggi, tidak gemuk tidak pula kurus. Wajahnya.. ah, apa harus menjelaskan wajahnya. Ini bagian yang paling membuat iri. Wajahnya berada diantara tampan dan cantik. Tuhan menciptakannya nyaris sempurna. Meski begitu, kau pasti akan memujinya sebagai lelaki jantan jika sudah mengenalnya dekat. Ada sisi lain yang tidak kebanyakan lelaki lain miliki.

“Sedang apa kau di sini?”

Lelaki itu bersuara setelah mengisi kursi rotan lain di sampingnya. Secangkir teh yang dibawanya diletakkannya di atas meja, tepat ditengah-tengah keduanya.

“Kau tidak kuliah?”

Gadis itu menggeleng. “Malas.”

Sahut pendek itu membuat kakaknya mengerut dahi.

“Begini ya kelakuan adiknya Kim Hee-Chul?”

Gadis itu mendesah sekali. Menebak-nebak setelah ini lelaki itu pasti memuji-muji dirinya sendiri.

“Kau tidak lihat seberapa kerasnya aku bekerja? Kau tidak tahu seberapa sulitnya mencari uang? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu dengan wajah murung jelekmu tanpa ingat seberapa keras aku berkerja?”

Gadis itu mendesah lagi. Lebih terdengar seperti desah kesal tanpa penyesalan.

“Kau seperti pengangguran yang mempunyai banyak hutang,” celetuk Hee-Chul kali ini. Dibukanya tutup cangkir itu sampai aroma tehnya menyebar ke mana-mana.

“Memang.”

“Hah?! Kau berhutang? Pada siapa? Pada temanmu? Beraninya-”

“Bukan!”

“Lalu?”

Matanya masih menerawang lurus ke depan. Tak acuh pada sepasang mata yang mengawas menanti jawabnya.

“Kenapa? Ada masalah?”

Pertanyaan itu yang sebenarnya dinanti sejak tadi. Jika boleh ia mau menangis haru saat ini, tapi urung. Lelaki itu pasti akan mentertawainya dan harga dirinya tidak berarti lagi.

“Dia datang lagi.”

Beberapa detik hanya terdengar desau angin pagi yang berhembus. Sepertinya kakaknya tengah berpikir.

“Apa ini tentang Park Jong-Hyun? Atau Han Ah-Rin?”

Terkesiap tak mampu bersuara. Dia menoleh pada kakaknya yang memasang wajah tanya.

“Bagaimana kau bisa tahu secepat itu?” cicitnya masih tak percaya.

Well, kau pernah berkata sekali padaku. Dua makhluk itu yang paling kau benci, kan?”

Mulai saat ini ia harus menggaris bawahi bahwa ingatan jangka panjang kakaknya sungguh hebat. Lain kali ia harus berhati-hati untuk bercerita rahasia besar padanya.

“Yah. Ada beberapa kelas yang harus kulewati dengannya. Terpaksa melihat wajah memelasnya yang meminta maaf padaku.”

“Lalu bagaimana hubungannya dengan  Park Jong-Hyun?”

“Sudah berakhir. Dia bilang Jong-Hyun tidak sebaik yang dia dan aku pikirkan. Dia bicara seperti itu semudah ia meninggalkanku. Benar-benar tak tahu malu,” geramnya marah.

Kali ini Hee-Chul yang mendesah—ikut melempar pandang ke sekawanan burung-burung kecil yang sibuk melompat-lompat mencari makan di pekarangan.

“Kau tahu? Hal yang paling berat selain memberi maaf adalah meminta maaf.”

“Kau membelanya?!” raungnya tak terima.

“Hey, aku tidak membelanya. Ini sungguhan. Menurutku Ah-Rin bukan gadis semacam itu. Dia tidak sungguh merebut Park Jong-Hyung darimu. Dia hanya gadis polos baik hati yang terlena bujuk rayu pangeran idamanmu itu.”

“Jadi sekarang kau menyalahkan Jong-Hyun?!”

Hee-Chul meringis serba salah. Adiknya terlalu keras kepalanya. Sebuah sifat turunan darinya.

“Sepertinya kau perlu waktu untuk merenung kembali sayang. Bukan untuk menyalahkan ini itu. Tapi untuk mengoreksi dirimu sendiri. Apa yang telah kau lakukan dan apa saja yang membuat Tuhan menghukummu seperti ini. Semua ada sebab akibatnya. Bukan dari orang lain, tapi dirimu sendiri. Kau paham, kan?”

Gadis itu memberengut. Alih-alih protes ia hanya mengiyakan dengan suara yang lebih pelan dari desau angin.

“Lagi pula aku memang tidak menyukai Park Jong-Hyun.”

“Hey!”

Hee-Chul terkekeh riang. Wajah adiknya yang kesal terlihat seperti sebuah hiburan yang menyenangkan di awal pagi.

“Tenangkan dirimu dan minumlah teh hijau ini. Aku yakin harimu akan lebih menyenangkan dengan teh istimewa buatanku ini.”

Setelah terdiam beberapa detik, ia menghela napas panjang sekali. Lalu bercicit, “Eum, terima kasih.”

“Aw manis sekali!” pekik Hee-Chul sementaranya tangannya mengulur mengusap acak rambut adiknya.

“Hey!”

“Senang mendengarmu bisa mengucap terima kasih padaku.”

“Kau meledekku?”

Well, itu kenyataannya. Kau jarang mengucapkan terima kasih padaku, sayang.”

Lalu mereka terkikik keras bersama sampai suara tawa mereka mampu mengusir burung-burung kecil itu dari sana.

Pada kenyataannya Hee-Chul memang lelaki hebat. Kakak terhebat yang tiba-tiba bisa datang saat suasana hatinya mendung. Tanpa ia panggil pun diharapkan.

Meski kenyataannya lelaki itu juga punya sisi yang menyebalkan.

“Eh, bagaimana menurutmu tatanan rambut baruku pagi ini? Keren, kan? Aku yakin hari ini akan jadi hari yang hebat. Akan ada banyak gadis yang jatuh cinta padaku. Kau tahu? Kakakmu ini sangat populer di kantor.”

Sementara kakaknya mengoceh memuji-muji dirinya sendiri, ia menyeduh teh hijau itu pelan. Aroma khasnya menusuk hidungnya lembut. Seperti sebuah terapi, aroma teh itu pelan-pelan melunturkan kemarahannya.

Diantara rasa syukurnya memiliki seorang Kim Hee-Chul di sampingnya, ia juga berdoa, semoga paginya tak lagi petang.

.

***

Sengaja ga ngasih nama si adiknya sih :p

Dari kemarin-kemarin ngidam buat cerita pendek adik-kakak gini. Hehehe

Advertisements

9 thoughts on “[Her Brother] Pagi Petang

  1. hey.. mentang2 adeknya aku jadi disembunyiin gitu ya identitasnya XD *plak
    Aku berharap beneran punya kakak laki2 kaya kim hee chul, sayang aku cuma punya 2 sodara perempuan.
    Keren kak, penulisannya rapi dan ringan. dan aku suka genre ini 🙂 dilanjut kak nulis yang genre ini, aku fans nomer satunya *hehehe

    • aw hi elfira~
      beruntung donk km masih punya saudara, dari pd aku anak tunggal macam kangin dan ryeowook.. kesepian~ hahhaha
      krn aku juga cinta genre seperti ini aku buat lg deh lain kali 🙂
      makasih sudah berkunjung ke mari yah 😀

  2. Ah…. Nahkan… Bisa tenang baca tulisan eonni..
    Enak banget dibacanya, dan langsung berandai-andai
    seandainya dua masku mirip heechul gini huhu

    ah ya, aku numpang nyepam ya eon hehew

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s