FF Series : Snow Box [1]

Snow Box

by Cherry Hee

.

Kim Ki-Bum yakin tidak ada hal istimewa yang bisa diceritakan dari dirinya kecuali kenyataan bahwa dia lelaki berwajah tampan─percaya atau tidak, semua orang yang telah bertatap muka dengannya mengakuinya─ Dia tidak terlahir dari kalangan kaya atau tunawisma. Dia  tercukupi di dalam rumah sederhana yang pekarangannya ditumbuhi bunga fuji ungu. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa  dan ayahnya adalah seorang pekerja keras di sebuah pabrik percetakan buku tulis di kotanya.

Orang mengenal Ki-Bum sebagai anak yang terlalu diam di mana pun ia berada. Meski itu terdengar aneh, Ki-Bum hanya tidak suka berbicara apalagi di tempat di mana semua orang sudah berbicara─khususnya di kelasnya sendiri─ Akan terlalu berisik jika ia juga ikut berbicara, kecuali jika mereka bertanya padanya pendapat tentang sesuatu hal.

Ki-Bum adalah seorang siswa berjenis langka. Bagaimana tidak, dia selalu menyelesaikan tugas yang dibebankan guru pada hari itu juga. Mondar-mandir di perpustakaan selagi semua teman-temannya menghabiskan makan siang mereka. Ki-Bum akan menekuni tiap halaman buku dengan kening mengerut dan dengan rapi mencatat analisisnya di buku catatan. Dia jugalah yang pertama mengangkat tangan ketika gurunya melempar pertanyaan. Selain terlalu pendiam, Ki-Bum juga terlalu rajin.

Dalam kehidupan nyata, terkadang orang yang suka berbuat terpuji akan dianggap aneh. Mungkin karena keburukan sudah terlalu biasa bagi kebanyakan orang. Karena itu Ki-Bum tidak punya banyak teman, kecuali Lee Dong-Hae, kapten klub basket yang entah kenapa tingginya paling tidak terduga di timnya.

Dia memiliki wajah tampan─orang-orang pasti setuju jika mereka berdua berjalan bersama akan terlihat seperti dua pangeran─hanya saja tinggi tubuhnya paling buruk di tim basketnya. Dong-Hae sendiri tidak terlalu mengeluhkan masalah ini di depan umum pun di depannya, tapi percayalah Ki-Bum pernah melihat  sesuatu dari bahan karet yang Dong-Hae masukkan di sepatunya sebelum mereka berangkat sekolah bersama.  Tapi karena Ki-Bum teman yang baik atau karena memang terlalu pendiam, dia tidak bertanya atau berkomentar setelah memergokinya.

Kadang kala Ki-bum bertanya apa tidak ada pemain yang lebih tinggi yang bisa pelatih jadikan kapten di tim basket. Suatu ketika di sore hari ketika Ki-Bum diam-diam mengamatinya latihan di lapangan di bawah sengatan matahari musim panas, Ki-Bum akhirnya menemukan alasan itu. Dong-Hae terlihat menonjol meski tinggi tubuhnya di bawah rata-rata, dengan kaki pendek itu ia bergerak dengan gesit menggiring bola di tangannya. Dan dengan ajaib beberapa kali memasukkan bola ke ring dalam jarak lima meter. Saat itu Ki-Bum melihatnya dengan mulut terbuka nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selepas pertunjukkan hebat itu Dong-Hae berkumpul bersama kawannya. Bagaimana ia memperlakukan teman-teman timnya dan pelatih adalah sesuatu yang seharusnya wajar bagi Ki-Bum. Tapi ia masih saja terpukau. Dong-Hae adalah anak yang selalu bersemangat dan bersikap baik pada semua orang, itu alasannya pelatih membebankan pangkat kapten di pundaknya.

Selain wajahnya yang super tampan dan tinggi badannya yang mengerikan, sikap Dong-Hae di kelas berbanding terbalik seperti langit dan bumi dengan Ki-Bum. Anak itu lebih suka menghabiskan waktu berharganya yang seharusnya ia gunakan untuk mendengarkan penjelasan guru dengan tertidur. Tidak bisa dibilang tertidur karena Dong-Hae selalu sengaja meletakkan kepalanya ke atas meja kemudian menghadapkan wajahnya ke tembok─Dong-Hae selalu memilih tempat duduk dipinggir jendela─Jika sudah seperti itu Ki-Bum hanya akan menghela napas sambil menggeleng prihatin. Tidak ada yang dapat Ki-Bum lakukan setelah Dong-Hae meletakkan kepalanya di atas meja dan menutup matanya, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menyenggol perut Dong-Hae ketika guru sudah menatapi si tukang tidur itu dengan pandangan menusuk. Lalu Ki-Bum akan berbaik hati membisikkan jawaban tiap guru memberi pertanyaan mendadak padanya.

Seperti tidak cukup untuk tidur di jam kelas, Dong-Hae juga suka tidur di jam istirahat. Karena itu Ki-Bum dan Dong-Hae akan jarang terlihat bersama waktu istiarahat. Meski begitu Dong-Hae tetaplah teman terdekat dan terbaik Ki-Bum. Mereka selalu menjadi teman sebangku sepanjang masa sekolah mereka sampai saat ini. Kecuali di kelas lima SD saat Ki-Bum terpaksa duduk dengan Shin-Dong si tukang makan. Demi apapun Ki-Bum sendiri tak habis pikir lelaki itu selalu mengisi penuh tasnya dengan makanan dan menyembunyikannya sebagian di bawah meja. Melahap semuanya di jam-jam kelas secara diam-diam tanpa merasa kasihan dengan perutnya yang sudah menggelembung besar. Hingga sejak saat itu Ki-Bum hanya menerima Dong-Hae sebagai teman bangkunya.

Alasan lain Dong-Hae menjadi teman terbaik Ki-Bum karena anak pendek itu menjadi orang pertama yang selalu tahu perubahan hati Ki-Bum, meski bagi banyak orang ekspresi wajah Ki-Bum seperti itu-itu saja. Kau akan mengerti apa yang dimaksud itu-itu saja jika memperhatikannya setiap hari. Ki-Bum jarang tersenyum, berekspresi seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak banyak bicara. Jadi jelas, hanya orang yang berkemampuan khusus ‘pembaca isi hati orang lain’ lah yang dapat mengetahui perubahan hati Ki-Bum.

Tapi ternyata Tuhan menciptakan satu manusia sebodoh Lee Dong-Hae untuk mampu membaca isi hati Ki-Bum. Seperti disuatu hari, ketika Ki-Bum datang dan meletakkan tasnya dengan rahang mengeras. Detik itu juga Dong-Hae menyadari sesuatu telah terjadi dengan sobatnya dan dengan wajah penuh perhatian dia bertanya, “Apa kau baik-baik saja?”

Ki-Bum menoleh. Ada selang beberapa detik wajah Ki-Bum terperanjat seperti terkejut. Tapi harus diakui, ia tidak bisa berbohong di depan Dong-Hae. Jadi Ki-Bum mengambil napas dalam sebelum menjawab, “Kemarin sore ada seorang wanita yang datang ke rumahku dan menemui ayahku.”

“Siapa?”

“Aku tidak yakin siapa, tapi dari yang tidak sengajaku dengar, sepertinya mereka dulu pernah dekat.”

“Begitukah?” Dong-Hae memiringkan kepalanya sambil menyangga wajahnya dengan punggung tangan sedang sikunya menempel di meja. Keningnya mengerut samar sambil memajukan bibirnya beberapa mili. “Apa mereka seperti….”

“Mantan kekasih, sepertinya,” sela Ki-Bum, membuang muka ke samping untuk menutupi ekspresi geramnya di depan Dong-Hae.

“Apa yang dia lakukan di rumahmu? Bagaimana dengan ibumu?”

“Dia menyebut-nyebut uang. Aku tidak terlalu dengar dan peduli saat itu. Aku sudah cukup khawatir ketika melihat wajah ibuku yang murung di dapur. Saat itu ibuku yang membukakan pintu untuk wanita itu dan memanggil ayah begitu wanita itu bilang ingin berbicara dengan ayahku. Dan ibu semakin terlihat menyedihkan ketika ayah bilang ia ingin bicara empat mata saja dengan wanita itu. Jadi ibu segera pergi ke dapur dan terus mengiris bawang banyak-banyak sampai matanya berair. Sesuatu yang selalu ia lakukan setiap suasana hatinya memburuk.”

Mungkin bagi orang itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Ki-Bum ucapkan dalam sekali waktu dan perlu direkam sangking langkanya, tapi untuk Dong-Hae, mendengar cerita panjang Ki-Bum adalah sesuatu yang biasa.

Dong-Hae mengangguk paham setelah mendengarnya. Lalu seperti teman yang baik, ia menepuk bahu Ki-Bum dan berapalkan kata-kata menenangkan,

“Tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Aku mengenal ayahmu bukan pria seperti itu. Lagi pula ayah ibumu hampir tidak pernah berteriak satu sama lain, kan. Ayahmu pasti menyayangi ibumu. Ada atau tidak adanya wanita itu, Ayah ibumu akan tetap bersama.”

Dan Ki-Bum tersenyum kecil. Dong-Hae selalu berhasil membuatnya lebih baik. Selain ucapannya barusan, ajaibnya, dengan melihat wajah Dong-Hae saja pun Ki-Bum bisa lebih baik. Dong-Hae memang orang yang baik dan teman yang baik.

.

***

.

Pagi itu tahu-tahu salju sudah menumpuk di halaman rumah dan orang-orang sibuk menggaruk salju di sepanjang jalan. Semalam salju turun dengan derasnya. Udara semakin membeku  dan nyaris merayu Ki-Bum untuk tetap tinggal di bawah selimut tebal miliknya. Tapi suara berisik di balik pintu kamarnya membuat Ki-Bum tersentak bangun.

Seseorang menggedor pintunya dengan teratur selang satu detik. Siapapun pasti akan beranggapan suaru itu akan terdengar sepuluh kali lipat lebih menyebalkan dari dering jam beker. Dan pelaku kerusuhan di pagi buta itu tidak lain adalah temannya sendiri, Lee Dong-Hae. Anak itu sudah dianggap ibunya seperti anak sendiri sampai diijikan masuk ke kamar Ki-Bum jika saja Ki-Bum tidak sengaja mengunci pintunya. Membiarkan pintu kamarnya terbuka itu sama saja membiarkan Dong-Hae membangunkannya dengan menarik selimut dan berteriak memanggilnya tepat di samping telinga. Itu akan terdengar lebih menyebalikan, kan.

“Jam berapa ini? Kau sudah berisik saja?” Ki-Bum bertanya dengan suara serak khas orang bagun tidur ketika ia membuka pintunya.

Dong-Hae sudah berdiri di depannya dengan senyum selebar sungai Han dan secerah matahari di musim panas. Ia telah memakai seragam sekolahnya lengkap dibalik jaket jumper tebal selutut milik kakaknya yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Sekarang lelaki itu lebih mirip ikan hitam berkepala kecil dari pada seorang pangeran.

“Ya ampun kau belum mandi?!” Dong-Hae berdecak dan menggeleng sok tidak tahu bahwa Ki-Bum sesempurna apapun tetaplah anak lelaki pemalas di pagi hari.

“Biasa sajalah wajahmu itu. Kau sudah mengerjakan tugas fisikamu?”

Dong-Hae menggeleng dengan wajah polos. “Belum. Aku pinjam punyamu nanti ya. Sekalian kau jelaskan padaku. Aku masih belum paham.” Dong-Hae nyengir dan Ki-Bum hanya mengehela napas.

“Cepat kau mandi dan ganti baju sana, aku mau membantu ayah menggaruk salju di pekarangan.” Ki-Bum sudah paham bahwa ayah yang disebut Dong-Hae adalah ayahnya. Percaya atau tidak Dong-Hae yang terlalu ramah sampai-sampai memanggil semua lelaki beruban dengan panggilan ayah. Tidak terkecuali ayah Ki-Bum sendiri.

Ki-Bum akhirnya mengangguk patuh dan menurut saja lalu segera menyeret kakinya yang berat ke kamar mandi.

Teman-temannya sedang sibuk membicarakan rencana istirahat makan siang nanti untuk bermain bola salju di belakang gedung sekolah, ketika seorang guru masuk ke kelas dengan membawa seorang gadis. Topik segera terganti dengan bisik-bisik samar..

“Wah murid baru.”

“Manis ya.”

“Siapa namanya?”

Dong-Hae yang saat itu telah sibuk tertidur segera terbangun begitu Ki-Bum menyikutnya dari samping.

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Ibu mohon pada kalian untuk bersikap baik dan ramah padanya ya.” Ibu wali kelas yang terkenal dengan hati keibuannya itu dengan lembut mendorong bahu gadis itu untuk lebih maju ke depan kelas.”Ayo, perkenalkan dirimu.”

Anak lelaki di kelas segera menegakkan tubuhnya demi bisa melihat jelas wajah gadis baru itu, sedang anak perempuan menggerutu iri dengan pipi dan bibir si anak baru yang kemerahan dan tampak manis.

Ki-Bum sendiri masih tenang di mejanya. Dia masih mencoret-coret bukunya dengan rumus-rumus kimia. Tidak merasa tertarik sosok baru di depan, dan lagi pula, gadis itu tidak lebih cantik dari Song Hye-Kyo jadi ia bersikap biasa saja. Dan Dong-Hae, anak itu sama semangat dan antusiasnya dengan para lelaki di kelas.

“Hallo semua. Namaku Han Seul-Bi.”

Kelas ber-oh ria diantara kebisingan suara,

“Namanya lucu.”

“Artinya salju dan hujan. Pantas dia datang di saat hujan salju seperti sekarang ya?”

Beruntung wali kelas ekstra sabar menghadapi murid didiknya yang berisik. Setelah keadaan sedikit tenang Seul-Bi meneruskan perkenalannya. Menjelaskan bahwa ia pindahan dari Mokpo. Begitu mendengar nama daerah asalnya disebut telinga, Dong-Hae berdiri.

Menyenggol-nyenggol lengan Ki-Bum dan berbisik lirih, “Dia akan menjadi teman baikku,” ucapnya sebelum tersenyum lebar dan manis ke arah Seul-Bi yang tengah memandang balik ke bangku mereka.

.

***

.

.

Dapat ide dadakan terus langsung ditulis, buat cover dan dipost.

Wew, mendadak jadi rajin banget rasanya aneh ya hahaha

Trima kasih untuk modem yang sekarang entah kerasukan apa bisa secepat gini.. Jadi ga gemes waktu ngepost kkk~

Dan terima kasih untuk pembaca yang menyempatkan diri hadir di sini. Ditunggu chap ke-2 😉

Advertisements

6 thoughts on “FF Series : Snow Box [1]

  1. What? donghae nista bener eon rinciannya tp pinter juga lho sepatunya dikasih karet biar keliatan lebih tinggi haha 😀
    Yee, ada cewek juga langsung girang gitu *lirik donghae*

    Hajuh kepo nih, lanjutin eon. Tp ada perbaikan biasa tak luput dari typo, kurang titik pada awal cerita. Terus di paragraf kedua kalimat kedua atau ketiga spacenya kurang. Over all nice story ~^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s