Oneshot : The Alley

by Cherry Hee

.

.

Lee Sung-Min melompat turun dari bus. Mengusap perutnya yang terasa penuh setelah menghabiskan satu gelas mie ukuran super jumbo seorang diri di kantin sepulang sekolah tadi. Terdengar rakus memang, tapi ia benar-benar kelaparan setelah bergelut dengan rumus-rumas aljabar dan barisan kata asing seharian penuh. Dan lihat apa yang telah ia perbuat pada perutnya sekarang. Terlihat buncit. Mirip seorang paman gemuk berkepala botak yang menjual manisan di depan sekolahnya. Hanya saja Sung-Min mempunyai wajah seperti bayi─Sung-Min percaya kata-kata ibunya kalau wajahnya masih mirip bayi─

Karena ia sudah lebih dari kenyang, Sung-Min hanya butuh tidur sekarang. Matanya sudah hampir tertutup ketika kakinya melangkah ke sebuah gang sempit menuju rumahnya. Akhir-akhir ini jam sekolah yang tidak tangung-tanggung ditambah pemadatan persiapan ujian yang hampir datang, Sung-Min baru terbebas setelah jam menunjuk angka dua belas. Sungmin mendesah lelah. Rasanya ia yakin matanya bisa menutup sampai besok sore.

Kakinya mendadak terhenti. Di bawah keremangan gang sempit itu, matanya menyipit pada bayangan hitam yang berdiri hampir menutupi akses jalannya─Sung-Min sempat mengutuk, gang ini sungguh sempit─

Sung-Min melongok pada telapak kaki sosok itu. Sung-Min yakin kaki itu menapak di tanah jadi ia membesarkan hatinya untuk melewati sosok itu dengan damai. Sekitar tiga langkah Sung-Min baru sadar sosok itu adalah seorang gadis kecil dengan rambut sebahu dan poni yang menjuntai menutupi dahi. Pakaiannya seperti seragam SD dan ia menenteng tas kepala rilakkuma. Gadis itu menunduk dan Sung-Min tidak bisa melihat mukanya dengan jelas.

“Paman.”

Sung-Min melebarkan matanya. Menengok ke belakang lalu kembali ke depan. Tidak ada siapa pun kecuali dia dan gadis itu. Jadi suara tadi..

“Paman.”

Sung-Min menyipitkan matanya. Bibirnya maju beberapa mili. Sulit dipercaya ada orang yang memanggilnya paman dengan wajah mirip bayi seperti ini.

“Ya? Kau memanggilku?” Sung-Min berusaha meramahkan suaranya ditambah dengan senyuman manis. Meski ia tahu gadis itu tidak melihat wajahnya─gadis itu masih menunduk─setidaknya ia bisa merayu anak itu nanti untuk tidak memanggilnya paman.

“Bisa mengikatkan tali sepatuku?”

“Ya?” Kedua mata Sung-Min mengerjap. Untuk persekian detik otaknya memikirkan apa yang barusan terdengar oleh telinganya.

Apa tadi dia bilang?

“Tolong ikatkan tali sepatuku.” Gadis itu kembali bersuara seakan tahu suara hati Sung-Min.

Masih keheranan, Sung-Min mendapati dirinya telah berjongkok di kaki gadis itu. Dengan telaten mengikat kedua tali sepatu yang tadi menjuntai tak karuan.

“Selesai.” Sung-Min menepuk kedua tangannya.

“Terima kasih Paman.” Setelah mengucapkannya gadis itu berjalan tenang melewatinya. Sung-Min belum sempat menyuarakan isi otaknya ketika gadis itu menghilang di balik belokan.

“Anak yang aneh.” Sung-Min memiringkan kepalanya. Baru teringat pada kasur empuk yang sudah menunggunya di rumah, lelaki itu kembali berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Rasa kantuknya sudah tak tertahankan.

.

.

“Kau bertemu hantu!” Dong-Hae berteriak histeris setelah menyimpulkan kisah singkat Sung-Min semalam.

“Yang benar saja.” Eun-Hyuk mendengus. Menyipitkan matanya menatap wajah Dong-Hae yang menurutnya bodoh itu. “Tadi Sung-Min bilang kaki anak itu menapak ke tanah, kau dengar tidak?”

“Tapi apa kalian tidak pernah mendengar cerita tentang seorang gadis yang mati mengenaskan di gang itu?” Dong-hae bertanya dengan wajah polosnya seperti biasa, tapi tidak berhasil menenangkan kemelut hati Sung-Min yang semakin memburuk setelah mendengar penuturannya.

“Benarkah?” Eun-Hyuk menegakkan duduknya. Dia selalu tertarik dengan semua hal yang berhubungan dengan hantu, sebenarnya.

“Dari yang pernah kudengar, gadis itu diambil paksa keperawanannya oleh lima preman sekaligus. Setelah itu dia tusuk beberapa kali sebelum mayatnya di buang ke gang sempit itu. Kalian tidak pernah mendengarnya?”

Eun-Hyuk dan Si-Won menggeleng sedang Sung-Min semakin membisu.

“Identitas gadis itu tidak diketahui atau mungkin dirahasiakan,” imbuhnya.

“Kedengarannya cukup seram,” ucap Eun-Hyuk.

“Mungkin anak yang kau temui memang gadis biasa yang sedang butuh bantuan dan kau tidak sengaja lewat di sana Sung-Min. Jangan terlalu dipikirkan.” Si-Won yang duduk di sampingnya bersuara. Berbanding terbalik dengan kedua temannya, lelaki itu mencoba menenangkan.

Sung-Min mengangguk namun raut wajahnya masih ragu. Kalau diingat-ingat wajah gadis itu putih pucat. Meski di sekolah ini banyak gadis yang sama putih dan pucatnya, tapi gadis itu berbeda. Seperti ada aura seram yang mengelilinginya. Sung-Min bergidik. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang.

“Kenapa dengan wajahmu?”

Sung-Min menoleh mendapati Eun-Hyuk yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. “Kau takut ya? Apa nanti perlu kami antar kau sampai ke rumah?”

Sung-Min berdecak mendengar nada mengejek Eun-Hyuk. “Tidak perlu.”

Tangannya meraih kamus tebal yang tadi sempat ia abaikan. Kalimat terakhir yang Sung-Min dengar sebelum kembali tenggelam di dalam kamus bahasa Inggrisnya adalah..

“Semoga Tuhan melindungimu Sung-Min.”

Dan kedua temannya mengamini ucapan Si-Won sambil setengah tertawa.

.

.

Cerita horor dari Dong-Hae masih tengiang di telinga ketika Sung-Min melangkahkan kakinya yang terasa berat menuju gang sempit itu. Sung-Min mendengus, mengejek dirinya sendiri yang bernyali ciut. Sejak kapan ia takut pada hantu. Sung-Min tidak pernah memikirkan hal-hal seperti ini tiap ia melewati gang sempit ini selama hampir sepuluh tahun. Karena ia memang selalu memakai jalan ini setiap pulang sekolah. Ada jalan lain yang lebih terang dan ramai, hanya saja Sung-Min terlalu lelah untuk berjalan memutar.

Sung-Min kembali meyakinkan dirinya ketika matanya menangkap bayang pendek itu lagi dua meter dari tempatnya berdiri. Bingung ingin berbalik dan berjalan memutar atau meneruskan langkahnya dan bertatap muka dengan makhluk yang sekarang mirip hantu gadis kecil itu, Sung-Min masih diam berpikir di tempat.

“Paman.”

Sung-Min nyaris melompat ketika gadis itu memanggilnya.

“Ya?”

“Bisa bantu aku mengikatkan tali sepatuku?”

Sung-Min tidak tahu ia harus tertawa atau menangis ketika teringat fakta bahwa tidak ada hantu yang meminta bantuan hanya untuk mengikatkan tali sepatunya. Dan jelas Sung-Min bisa menyentuh sepatu itu memang nyata dan memastikan dari jarak terdekat kalau-kalau gadis itu melayang.

Tapi tidak. Jadi kesimpulannya, gadis itu anak manusia.

“Sudah.” Sung-Min mendesah puas.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.” Sung-Min tersenyum kecil. Kembali berjalan melewati gadis itu tapi sesuatu yang dingin menahan tangannya.

Kepala Sung-Min mendadak kaku untuk menoleh ke belakang.

“Paman. Paman kenal dengan kak Hiruma Yukito?”

“Hiruma?” Kali ini Sung-Min berbalik ketika mendengar nama itu. Tiba-tiba sekelebat bayang gadis kecil dengan pipi kemerahan di wajahnya yang putih pucat terlintas dalam benaknya.

“Dia.. dia temanku saat masih di Taman Kanak-kanak dulu. Kenapa? Apa kau kenal?”

Gadis itu mendongak dan mengangguk. Seketika Sung-Min tersadar, mata bulat gadis itu mengingatkannya pada Hiruma.

“Aku Yumi Yukito, adiknya.”

“Benarkah? Senang bertemu dengamu Yumi.” Sung-Min tersenyum lebar, menggoyangkan tangan Yumi yang masih menempel dipergelangan tangannya.

“Bagaimana dengan kabarnya sekarang? Kudengar ia pindah ke Hokkaido ya? Sejak ia pindah aku tidak lagi mendengar kabarnya.”

Raut gadis itu berubah sedih sebelum menjawab, “Kak Hiruma sudah meninggal.”

“Apa? Meninggal?” Sung-Min membulatkan matanya, masih tak percaya.

“Kata ibu ia meninggal dibunuh dan mayatnya dibuang tak jauh dari sini. Malam itu ia datang ke mari untuk bertemu dengan Paman sebelum pulang ke Hokkaido.”

Bibir Sung-Min merapat. Terkesiap pada apa yang baru ia dengar.

Dalam kenangannya Hiruma memang cukup dekat dengannya dulu. Gadis itu periang dan banyak bicara. Teman yang selalu bisa menghibur dirinya yang dulu terkenal cengeng. Sung-Min tidak menyangka Hiruma akan pergi di hari di mana ia ingin bertemu dengannya.

“Aku ke mari untuk mengatakan rahasia kak Hiruma.”

“Rahasia apa?”

“Kak Hiruma menyukaimu. Aku merasa harus mengatakannya setelah berkali-kali bermimpi hal yang sama. Di mimpiku kak Hiruma bercerita dengan bahagia kalau dia pernah mengenal seseorang berhati malaikat yang bernama Lee Sung-Min. Kak Hiruma juga mengatakan itu saat ia akan pergi menemuimu.”

Sung-Min tidak tahu harus menjawab apa. Seperti ada air segar yang mengguyur tubuhnya dan angin sejuk yang menterbangkan tubuhnya, Sung-Min hanya tersenyum kecil.

“Terima kasih. Terima kasih sudah menyampaikannya padaku Yumi.”

Yumi mengangguk polos. Gadis itu masih belum mampu mengartikan apa yang barusan ia katakan. Tangannya terangkat ringan sebelum melempar ucapan selamat tinggal dan berbalik meninggalkan Sung-Min.

Baru satu meter Yumi berjalan ia kembali berbalik pada tubuh Sung-Min yang masih terpaku di tempat. “Oh ya Paman. Terima kasih sudah mengikatkan tali sepatuku. Aku benar-benar tidak bisa mengikat tali sepatu. Terima kasih dan kumohon jangan katakan rahasia ini pada siapa pun oke?”

“Oh.. oke.”

Mendengar jawaban suara lirih Sung-Min, kaki pendek Yumi terus berjalan sampai ke ujung lorong lalu menghilang. Meninggalkan Sung-Min yang mendongak memandangi langit yang sedang terang bulan.

“Terima kasih sudah menyukaiku Hiruma. Aku juga menyukaimu,” bisiknya pada langit dengan bibir melengkung kecil.

.

.

😀

Makasih sudah membaca~

Advertisements

8 thoughts on “Oneshot : The Alley

  1. Jadi itu yang di ceritain Donghae beneran?
    Ko ngeri ya, waktu Donghae cerita. Padahal bacanya pagi-pagi.

    eh, kalau yang di ceritain Donghae bener. Berarti hiruma dibunuh waktu masih Tk? Diperkosa lima preman? Astaga.

    Yumi ko lucu ya. Berkeliaran tengah malam buat minta tolong iketin tali sepatunya.

  2. Hahh~ kirain min beneran ketemu hantu (˘o ˘”)

    Yuki-nya lucu deh 😀
    Aku juga ga bisa ngiket talisepatu smpe klas 2 smp ._.
    Psst.. Jgn bilang” eaah 😀

    Ehh, tapi beneran tuh eonn yg dibunuh itu hiruma??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s