Special Oneshot Series : Let It Go

Let it go

by Cherry Hee

Masa lalu bukan untuk disesali, tapi untuk dipelajari.

.

.

“Kalau seperti ini terus, kemungkinan besar kita akan mati kelaparan Hyung.”

Hee-Chul balik memandang Eun-Hyuk dengan tatapan sedingin esnya. Membuat anak laki-laki itu begidik ngeri dan memilih untuk menyembunyikan diri di balik pungung Lee-Teuk.

“Jangan berlebihan. Kau bisa membeli makanan di kantin,” ucap Hee-Chul akhirnya, sembari meneruskan kegiatan memanjakan Heebum yang mendengkur damai di pangkuan. Kucing abu-abu itu hari ini terlihat lebih malas dari hari sebelumnya. Eun-Hyuk menebak itu karena semalam Hee-Chul memberinya makan terlalu banyak. Sedikit iri karena sebaliknya ia sedang kelaparan sekarang.

“Tapi makanan buatan Ryeo-Wook tidak tertandingi,” desah Dong-Hae yang duduk melipat dan memeluk kakinya ke dada. Beberapa kali perutnya berbunyi berteriak minta diisi. Sayang sekali uang saku untuk bulan ini mulai menipis.

Jarum pendek masih menunjuk diangka tiga. Ia harus bertahan setidaknnya sampai makan malam datang. Di asrama mereka, makan malam dan sarapan adalah menu wajib yang berarti tak perlu mengeluarkan biaya. Tapi lain ceritanya jika Ryeo-Wook sedang dalam keadaan normal, saat ini ia pasti sudah menikmati makanan ringan hasil eksperimen anak pendek itu.

“Kau memuji di saat yang tidak tepat. Dari kemarin ke mana saja kau?” balas Hee-Chul sarkatis.

“Aku selalu memujinya. Hyung saja yang tidak tahu.” Eun-Hyuk mengangguk, mengiyakan jawaban Dong-Hae.

“Aku sudah mencoba berbicara dengannya tadi. Tapi sia-sia,” ujar Kang-In.

Sung-Min yang duduk di sampingnya ikut bersuara, “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Hyung?” Menatapi sang ketua yang masih membisu seperti tengah berpikir.

Kening Lee-Teuk yang sejak tadi mengerut berangsur meghilang. Namun wajah cemas masih tersisa di sana.

Mendesah sekali sebelum balik bertanya, “Di mana Ye-Sung?”

Tepat setelah itu pintu dorm terbuka diikuti langkah pelan yang mereka kenal. “Aku pulang.”

Ye-Sung baru saja selesai latihan. Akhir-akhir ini ia sibuk dengan klub bernyanyinya karena beberapa minggu lagi ia akan mewakili sekolahnya disalah satu ajang bernyanyi se-provinsi. Nyaris tujuh jam ia tak berhenti latihan dan sekarang suaranya seperti tikus yang terjepit pintu. Menyakitkan. Ia harus segera pulih atau kesempatan mengikuti lomba kali ini tidak akan datang padanya.

Dan kini, di tengah kelelahan yang tak terbendung, tatapan aneh teman-temannya menyambut kedatangannya.

Satu alis Ye-Sung terangkat samar. “Ada apa dengan kalian? Kenapa menatapku seperti itu?”

Sebelum ada yang menjawab, ia mengangguk-angguk angkuh dan kembali berkata dengan suara serak, “Oh, kalian rindu padaku?”

“Jangan mempermalukan dirimu sendiri,” desis Hee-Chul. Ye-Sung langsung merengut tak suka.

Lee-Teuk cepat-cepat menengahi, “Ada apa dengan suaramu? Adik kesayanganmu sedang bermasalah saat ini. Mungkin kau bisa membantunya.”

“Adik kesayangan?” Ye-Sung terdiam sebentar. Mengabaikan pertanyaan pertama Lee-Teuk. “Ryeo-Wook?” tebaknya yang diangguki setengah temannya yang ada di sana.

“Ada apa sebenarnya?” gumam Ye-Sung pelan, terdengar seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Ia tak membuang-buang waktu lagi, kakinya segera melangkah ke kamar yang ia tempati bersama Ryeo-Wook.

.

.

Keadaan kamar gelap karena jendela sengaja ditutup rapat meski hari masih sore. Tidak ada suara apapun kecuali isak tangis di pojok salah satu tempat tidur yang menempati kamar kecil itu. Ye-Sung terduduk di pembaringan biru miliknya setelah sebelumnya melempar jas sekolahnya ke meja belajar.

Ini bukan pertama kalinya Ryeo-Wook mogok melakukan apapun termasuk memasak untuk teman-temannya. Ryeo-Wook adalah tipe anak yang mudah putus semangat. Sekali ia melakukan kesalahan maka ia akan menghukum dirinya sendiri dengan cara seperti ini. Menjauh dari kehidupan sampai ia lupa makan.

Di saat seperti ini, Ye-Sung tahu Ryeo-Wook hanya butuh teman. Sekedar mendengarkan dan akan lebih baik lagi merubah jalan pikir anak itu.

“Ryeo-Wook ah,” panggil Ye-Sung pelan.

Sebenarnya Ryeo-Wook lebih dekat dengan Lee-Teuk dibanding dirinya. Tapi karena ini juga kamarnya dan ia tak akan bisa tenang untuk tidur jika ada makhluk lain yang sedang mengurung di kamar yang sama dengannya, Ye-Sung merasa ia berkewajiban untuk mengurus Ryeo-Wook. Bagaimana pun Ryeo-Wook salah satu adik kesayanganya juga.

Hyung.” Ye-Sung sempat tak percaya, suara Ryeo-Wook terdengar tiga kali lebih mengerikan dari pada dirinya. Mungkin karena anak itu sudah terlalu lama menangis.

“Hey, kau cengeng sekali uh?” Ye-Sung tersenyum miring. Berharap Ryeo-Wook akan meresponnya. Namun anak laki-laki itu masih menyembunyikan kepalanya diatara kedua lututnya yang tertekuk.

“Kau mau menceritakan pada hyung apa yang terjadi um?”

Ye-Sung menunggu beberapa menit. Tak juga ada respon, Ye-Sung menarik napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan.

“Kau bilang kau anak satu-satunya dikeluargamu kan?” Ye-Sung berdehem sekali untuk kembali mengumpulkan sisa suaranya. “Hyung sempat berpikir jika hyung berada di posisimu, itu pasti sangat berat. Kedua orang tuamu hanya punya kamu sebagai harapan mereka.”

Ye-Sung berpaling dari kelambu yang menari ringan tertiup angin musim gugur, kembali memandang Ryeo-Wook yang masih membeku di pojok. Ia melempar senyum meski Ryeo-Wook tak melihatnya.

“Tapi hyung percaya kau bisa melakukannya. Karena Tuhan sudah mentakdirkanmu seperti ini.”

“Tidak! Aku bodoh Hyung!” elak Ryeo-Wook cepat. Anak laki-laki itu mendongak. Dalam keremangan senja Ye-Sung masih bisa melihat mata Ryeo-Wook yang memerah. Jejak air matanya telah mengering di kedua pipi, namun wajahnya masih kacau. Ye-Sung meringis, iba.

“Lebih dari setengah nilaiku buruk! Aku bodoh!”

Ye-Sung hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar kemarahan Ryeo-Wook. Ye-Sung sudah menerka-nerka apa sebab Ryeo-Wook berdiam diri seperti ini. Ia pikir anak ini kembali menangisi nasibnya yang malang karena tak punya kawan di kelas. Atau surat cintanya pada seorang gadis di asrama tetangga tidak kunjung terbalas. Ternyata ada persoalan konyol lainnya.

Ye-Sung membekap mulutnya, menahan tawa. Tapi Ryeo-Wook sudah terlebih dahulu melihatnya.

“Ish Hyung! Kau mentertawai kebodohanku?!”

“Bukan. Hmmpp.. bukan begitu.” Ye-Sung segera mendekat. Duduk di depan Ryeo-Wook kali ini mencoba kembali memasang senyum menenangkannya.

“Ryeo-Wook ah. Masa lalu itu bukan untuk ditangisi atau disesali, tapi untuk dipelajari.”

Ryeo-Wook mengangkat wajahnya, menghapus kasar sisa air matanya lalu kembali bersuara, “Maksud Hyung?”

“Jika nilaimu buruk, kenapa tidak mulai sekarang kau belajar untuk mempelajarinya?”

Ryeo-Wook menggeleng lemah. “Aku tidak akan bisa. Otakku susah memahaminya,” rengeknya.

Ye-Sung berdecak. Agak kesal juga menyadari adiknya yang satu ini begitu lemah.

“Hey, dengan siapa selama ini kau belajar? Kau belajar sendiri kan? Kenapa tidak meminta bantuan Ki-Bum?”

Meski Ki-Bum terlihat seperti manusia es yang beraura dingin dan jarang bicara, namun tidak ada satu pun yang meragukan kepintaran otaknya. Anak itu terlihat sekali giat belajar tiap kali ada kesempatan.

“Akhir-akhir ini Ki-Bum sibuk dengan klub dramanya. Jika dia pulang pun pasti akan langsung ke kamar dan tidur. Aku terlalu takut untuk mengganggunya,” gerutu Ryeo-Wook.

Ye-Sung mendesah sekali lagi. “Bilang saja kalian tidak terlalu dekat sampai kau enggan untuk meminta bantuannya.”

Ryeo-Wook terbelalak mendengar tuduhan Ye-Sung. Tidak suka sekali jika ia dipojokkan seperti ini. Cepat-cepat ia menyela, “Tapi aku memang jarang bertemu dengannya dan lagi aku tidak satu kelas dengannya.”

“Oke, lalu bagaimana dengan Kyu-Hyun?” Ye-Sung langsung teringat dengan anak jangkung penggila game itu. Siapa yang tidak mengenal Kyu-Hyun, satu-satunya anak yang sanggup naik kelas sampai-sampai ia menjadi magnae di kelasnya.

Berbeda dengan Ki-Bum yang terbiasa mengulang pelajarannya sampai ia bisa, Kyu-Hyun lebih mudah untuk menghafal. Anak itu sekali mendengar dan membaca, otaknya akan langsung merekam. Terlampau jenius.

“Eun-Hyuk hyung bilang akan memalukan jadinya jika aku bertanya pada orang yang lebih muda dariku.”

Kali ini Ye-Sung yang mendelik mendengar jawaban kelewat polos Ryeo-Wook. “Wow! Dan kau percaya begitu saja ucapan si bodoh itu?” Ryeo-Wook mengangguk sekali dan Ye-Sung langsung terpukau.

Suasana kamar tiba-tiba hening karena Ye-Sung mendadak terdiam. Sedikit membuat Ryeo-Wook gugup. Mengira ia telah melakukan kesalahan fatal yang membuat Ye-Sung marah.

Hyung?”

Tidak ada yang bisa bertahan dengan suasana mencekam seperti ini. Ye-Sung yang terdiam lebih menghanyutkan dari pada Ye-Sung yang cerewet. Ryeo-Wook tahu betul itu.

“Tidak ada yang salah jika kau belajar dari orang yang lebih muda darimu. Lagi pula Kyu-Hyun memang pintar kan? Kalau kau tidak ingin tertinggal darinya, setidaknya kau bisa sejajar dengannya. Dan salah satu caranya adalah belajar darinya.”

Ryeo-Wook menggerutu tak jelas. Mungkin sedang protes akan arti ucapan Ye-Sung yang seakan mengatakan Kyu-Hyun jauh lebih pintar darinya. Yah, tapi itu memang kenyataan.

“Bodoh bukanlah kesalahan. Tapi itu pilihan. Jika kau masih memilih jalan yang salah maka selamanya kau akan tetap seperti ini. Kau mengerti?”

Ryeo-Wook mengangguk-angguk paham. Beberapa detik kemudian bertepuk tangan heboh sembari berdecak kagum memandang hyung-nya.

“Woah Hyung kau benar-benar keren. Dari mana kalimat-kalimat barusan?”

Ye-Sung memicingkan matanya sembari mendengus. “Jangan dipikirkan. Sekarang waktunya makan. Ayo keluar.”

Melihat Ye-Sung yang lebih dulu melangkah keluar Ryeo-Wook cepat-cepat beranjak. Berlari menghampiri Ye-Sung dan menggodanya lagi. Teman-temannya hanya menatap aneh pada dua roommate itu.

.

.

Sampai di koridor pun Ryeo-Wook  tidak berhenti mengekor.

Hyung kau aneh sekali hehe…. Bagaimana bisa kau mengucapkan kata-kata keren itu?”

“Diamlah Ryeo-Wook. Malam ini biar aku yang mentraktir makanan tambahan. Siapa pun boleh menambah makanan.”

“Benarkah? Woheeyy.” Di belakang Dong-Hae dan Eun-Hyuk bersorak.

Diam-diam Lee-Teuk tersenyum kecil. Satu masalah hari ini terselesaikan. Dan mengingatkan dirinya untuk berterima kasih pada Ye-Sung nanti.

.

.

***

Sebenernya ini lebih kecurhatanku sih..  kkkk~

Sampai sekarang masih nyari2 nama yang pas untuk asrama mereka hehe

Thanks for reading guys~~~^^

Advertisements

8 thoughts on “Special Oneshot Series : Let It Go

  1. Huaahahahahha si Ryeowook polos banget…. ini percis kaya aku masa 😀 kalo ada nilai yang jelek langsung galau (curhat) ini cerita membangun buat pelajar tuh hehehehe dan si Eunhae tetep aja kadang-kadang aneh -_- hadehhh itu dua kapel kesayangan gak bisa apa jadi normal dikit (nyengir) okeh cukup, aku gak sengaja liat link di FB 😀 sampai jumpa cheery

  2. alasan-alasan ryeowook nangis sebelumnya xDDD ngga dibales? kesian xD /taboked/
    cie yesungie~ keceh ahh eon.. bodoh itu pilihan, nahh bener itu >< karna males jadi bodoh u,u /curhat/
    ditunggu kelanjutan oneshoot series ini ya 😀 fighting fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s