Special Oneshot Series: Magnae Problem

group hug

  by Cherry Hee

Lee-Teuk memijat tengkuknya pelan. Beberapa kali memukul bahunya yang kaku. Rasanya seluruh tubuhnya remuk dan merindukan kelembutan kasur putihnya yang telah menanti di kamar. Seharian ini ia tengah disibukan mengurus siswa baru. Kebetulan Lee-Teuk terpilih sebagai ketua panitia penerimaan siswa baru. Selain mengetuai berpuluh-puluh kepala di asrama dan ditambah tugas ini, pekerjaannya menjadi setumpuk lebih tinggi dari biasanya.

Lee-Teuk memasukan kunci kamarnya ke lubang pintu. Dia selalu membawa cadangan kunci mengingat dirinya selalu pulang lewat tengah malam. Karena tak ingin mengganggu tidur para juniornya, ia mengalah untuk membawa kunci cadangan sendiri.

Lee-Teuk baru menapaki ruang tengah untuk berjalan menuju kamarnya ketika matanya menangkap sesosok yang tergelepar di lantai beralas karpet merah.

“Dong-Hae?” Lee-Teuk menyipitkan matanya untuk memastikan lelaki yang tengah bergelung selimut putih miliknya itu memang Dong-Hae, adik kelas sekaligus teman sekamarnya.

Hyung,” Dong-Hae bangkit dengan selimut masih memutari tubuhnya. Suaranya serak dan dibawah pencahayaan remang-remang Lee-Teuk masih dapat melihat wajah Dong-Hae memucat.

Segera pemuda itu menyalakan lampu ruang tengah lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Dong-Hae.

“Siapa yang menyuruhmu tidur di lantai huh? Kau tahu sendiri tubuhmu tidak sekuat kelihatannya jika musim dingin sudah datang kan?”

Dong-Hae mendesah. Menepis tangan Lee-Teuk lalu berjalan menjauh. Kembali duduk di lantai kali ini dengan mulut mengerucut.

“Aku tidak apa-apa Hyung. Aku menunggumu. Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.”

Alis Lee-Teuk menyatu. Entah kenapa perasaannya menjadi tak enak. Pasti terjadi sesuatu. Seharian ini ia tak sempat menengok asramanya. Hal apa lagi yang terjadi saat ia meninggalkan mereka selama satu hari penuh ini.

“Ada apa?”

“Kyu-Hyun kabur.” Dong-Hae mendongak menatap teman sekamar yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu. Wajahnya nampak sedih melihat kakak lelakinya itu mendesah berat sembari memijit keningnya.

“Kangin Hyung dan Jong-Woon Hyung sedang mencarinya saat ini,” imbuh Dong-Hae.

“Apa sudah dilaporkan ke pengurus asrama?”

Dong-Hae menggeleng lemas. “Belum. Kami tidak berani. Terlalu beresiko bagi Kyu-Hyun. Kata Kang-In Hyung, karena Kyu-Hyun sudah berkali-kali kabur ia pasti akan dapat hukuman berlipat-lipat dari sebelumnya.”

Lee-Teuk mengangguk paham.

“Baiklah. Hyung akan mencarinya. Kau kembalilah ke kamar dan ambilah obat di dapur. Badanmu demam. Kalau tidak tahu mana obat demam tanyakan pada Ryeo-Wook.”

“Ya ya ya baiklah.”  Dong-Hae mengangguk-angguk mendengar ucapan panjang lebar Lee-Teuk. Benar-benar sudah mirip dengan kakaknya Dong-Hwa. Cerewet, namun itu yang membuat Dong-Hae percaya Lee-Teuk sosok kakak yang perhatian.

Hyung pergi dulu.”

Derap sepatu Lee-Teuk terdengar jelas di koridor asrama yang sunyi. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang berani berkeliaran di jam malam seperti ini kecuali ia punya nyali untuk bertemu penghuni gaib asrama ini atau setidaknya pengurus asrama dan berakhir hukuman tidur di gudang.

Salah satu peraturan asrama adalah larangan untuk berkeliaran di jam lebih dari sebelas malam. Harus ada alasan khusus jika pengurus asrama berhasil menangkapmu. Karena itu Lee-Teuk berjalan hati-hati. Beberapa alasan sudah ia persiapkan di kepalanya. Yang utama saat ini menemukan Kyu-Hyun terlebih dahulu. Tak peduli jika nanti ia ikut dihukum. Anak itu harus secepatnya ia temukan.

Dua bayang lain bergerak mendekat ke arahnya. Lee-Teuk berhenti ketika mereka tepat berdiri di hadapannya.

Hyung.” Kang-In sedikit terkejut menemukan Lee-Teuk dengan wajah memucat cemas.

“Kalian sudah menemukannya?” tanya Lee-Teuk cepat.

Kang-In dan pemuda lain di sampingnya menggeleng dengan wajah tertunduk.

“Kami belum menemukannya. Memang terakhir kali Hyung menemukannya di mana?”

“Aku menyerah mengurusnya,” sela Yesung sembari mendesah berat.

“Sudahlah kalian cepat kembali ke asrama. Ini sudah larut malam. Pastikan yang lain juga sudah ada di kamarnya. Hyung yang akan mencari Kyu-Hyun.”

“Tapi Hyung-”

Lee-Teuk menepuk bahu Ye-Sung sebelum berjalan melalui mereka. Mengabaikan panggilan Kang-In.

Lee-Teuk segera mengarahkan kakinya menuju halaman belakang asrama. Sebuah taman yang sesungguhnya tak terawat. Salah satu pegawai kebun terajin telah meninggal. Sampai saat ini belum ada yang menggantikan. Sedang pegawai lainnya sudah memiliki bermeter-meter taman lain yang harus diurus. Atau mungkin alasan takut dengan penghuni gaiblah yang membuat mereka enggan berlama-lama di sini.

Jauh ke belakang taman terdapat sungai kecil yang mengalir tenang. Airnya cukup jernih dan tempat yang cocok untuk bersantai. Hanya saja gosip liar tentang hantu itu membuat tempat ini tak sepopuler taman depan asrama yang ditumbuhi pepohonan sakura.

Lee-Teuk terus menapaki tanah basah taman belakang. Udara terasa lembab kala itu. Sisa-sisa musim dingin masih terasa meski salju telah berhenti turun.

Pemuda berlesung pipi itu bergerak hati-hati diantara semak-semak. Menajamkan pandangannya ketika kilau sungai sudah terlihat dari jangkauan matanya.

Matanya kian menyipit ketika ditangkapnya sosok hitam yang duduk di pinggir sungai. Lee-Teuk berjalan mendekat.

“Kyu-Hyun.” Lee-Teuk memanggilnya pelan agar tak mengejutkan Kyu-Hyun yang tengah melamun, mungkin.

“Kapan kau mau tidur? Ini sudah malam. Kau tidak mengantuk?”

“Bukan urusanmu.”

Lee-Teuk tak menghiraukan nada datar Kyu-Hyun dan memilih untuk berdiri tak jauh dari pemuda kurus itu. “Mau Hyung temani?” ucapnya lagi.

Hyung tahu sulit bagimu untuk menerima tempat baru ini. Tapi jika saja kau bisa membuka sedikit dirimu, mungkin kau akan berteman baik dengan Ryeo-Wook dan Kibum yang hampir seumuran denganmu.”

“Tahu apa kau?” desis Kyu-Hyun. Matanya menatap tajam ke arah Lee-Teuk sekilas. Tak ada aura bersahabat dari sana.

Sedang pemuda berlesung pipi itu diam-diam mendesah pelan. Dia tahu tak ada seorang pun yang mau mendekati Kyu-Hyun yang sudah terkenal sebagai patung dingin. Sejak pemuda itu datang satu tahun yang lalu di kamar dormnya, Lee-Teuk sudah merasa kalau Kyu-Hyun berbeda dari yang lainnya. Selain karena ia lebih muda satu tahun meski satu angkatan dengan Ryeo-Wook dan Ki-Bum −dikarenakan Kyu-Hyun loncat kelas− Kyu-Hyun terlihat lebih pendiam. Ia bahkan tak bicara satu patah pun di minggu pertama.

Semua penghuni sudah mencoba menyapanya namun pemuda itu selalu menghindar. Sering keluar dorm dan baru kembali setelah lewat tengah malam. Lee-Teuk lah orang yang pertama berhasil mendapat respon dari Kyu-Hyun. Meski itu hanya sebuah jawaban singkat tapi itu sudah berhasil mengulum senyum di bibir Lee-Teuk.

Dari segala sisi buruk orang memandang Kyu-Hyun, Lee-Teuk yakin salah satu adiknya ini punya sesuatu yang ia sembunyikan. Ada alasan dibalik semua perbuatannya selama ini. Lee-Teuk belum tahu apa itu, dan ia tertarik untuk mengetahuinya. Bagaimana pun ia tak bisa membiarkan Kyu-Hyun seperti ini terus menerus.

“Mau bercerita sesuatu pada Hyung?”

Kyu-Hyun menoleh. Memandang balik sinar lembut dari mata Lee-Teuk dengan tatapan tajam bagai elangnya. Terlihat sekali ia tak suka.

“Bukan urusanmu,” geramnya. Sekejap kemudian kakinya melangkah meninggalkan Lee-Teuk.

Lee-Teuk tertegun sebelum berbalik memandang punggung Kyu-Hyun menjauh. “Tak masalah jika kau belum mau bercerita pada Hyung. Tapi sekarang sudah waktunya tidur. Dan tugaskulah untuk memastikan semua penghuni dormku telah ada ditempat tidurnya.”

Kyu-Hyun berhenti sejenak, mendengarkan.

“Pulanglah.”

 

“Kyu….” Kepala Sung-Min menyembul dibalik pintu yang seperempat ia buka. Takut-takut jika penghuninya terganggu. Meski ia juga penghuni kamar itu, tapi semenjak berbagi kamar dengan pemilik nama itu, dia tak betah lama-lama di kamar jika bukan untuk tidur.

“Ada tamu yang menunggumu di ruang tunggu.”

Kyu-Hyun yang sejak tadi sibuk dengan buku-bukunya mendongak sebentar. Memungut jaket hitam selututnya sebelum berjalan melalui Sung-Min dengan aura seramnya.

“Anak itu. Auranya lebih mengerikan dari Ye-Sung Hyung,” gumam Sung-Min sambil menggosok tengkuknya yang entah kenapa bulu kudunya meremang.

 

Kyu-Hyun melihat seorang lelaki paruh baya dengan potongan rambut belah poni yang sudah ia kenal telah duduk di sana. Ketika mendekat, sudut matanya tak sengaja menangkap sosok Lee-Teuk duduk di sisi lain sofa merah panjang itu. Berbincang serius dengan seorang wanita bermantel abu-abu. Tapi Kyu-Hyun terlalu angkuh untuk menyapanya. Jadi pemuda jangkung itu melalui Lee-Teuk begitu saja.

“Ada apa?” Kyu-Hyun memandang malas pada lelaki itu.

Yang ditanya berdiri sebelum membungkuk hormat. “Ada yang ingin saya bicarakan pada Tuan Muda. Duduklah terlebih dahulu Tuan.”

“Aku tidak punya banyak waktu,” balas Kyu-Hyun membuat lelaki di depannya bergerak resah.

“Tuan Besar menginginkan Anda untuk pindah-”

“Sudah kubilang aku ingin di sini! Apa mereka tidak dengar? Jangan pernah lagi menggangguku hanya untuk menyuruhku pindah. Karena aku tidak akan mau.” Kyu-Hyun baru akan selangkah meninggalkan pesuruh ayahnya itu sebelum lelaki itu kembali berujar cepat.

“Tapi Anda satu-satunya penerus perusahaan.”

“Omong kosong,” desis Kyu-Hyun. Matanya berkilat marah, tapi pemuda itu masih bisa  mengendalikan emosinya yang bergemuruh untuk tidak menonjok apapun yang kini di dekatnya.

“Apa wanita itu sedang bersandiwara sekarang? Dan menyuruh ayah untuk mengutusmu ke mari? Jika ia berniat untuk menguasai semua, aku tidak peduli. Bahkan jika ayah benar-benar mempercayainya dan mengangkat anak kesayangannya itu untuk memegang perusahaan, aku tak peduli.”

Kakinya kembali melangkah. Kali ini sang pesuruh hanya menunduk pasrah.

Lee-Teuk mendengarnya meski tak berani mendongak untuk menatap raut wajah Kyu-Hyun. Ia tahu anak itu memang sudah bermasalah sebelum masuk ke asrama.

Nuna, katakan pada ibu aku baik-baik saja di sini. Dan terima kasih atas kuenya. Aku pergi dulu. Ada urusan yang harus kuselesaikan.”

“Tunggu Jung-Soo!” Lee-Teuk beranjak dan berjalan cepat, menghiraukan panggilan kakaknya.

 

“Kyu-Hyun ah! Kyu tunggu!” Lee-Teuk yakin suaranya sudah keras di koridor yang tidak penuh itu. Tapi Kyu-Hyun tak kunjung berhenti atau sekadar menoleh. Sambil setengah berlari Lee-Teuk segera menyamai langkah lebar Kyu-Hyun.

“Tunggu sebentar.”

Pemuda jangkung itu menoleh dengan raut datar seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda. Lee-Teuk menyadarinya, sinar mata itu berubah. Sinar itu mengingatkannya pada ibunya yang sedang tersenyum tapi dengan mata yang menyembunyikan tangis. Tapi Lee-Teuk tidak ingin secepat itu bertanya, jadi ia berujar, “Ayo ikut aku ke taman. Aku baru saja mendapat kiriman kue. Aku tidak ingin kau menolak. Asal kau tahu kue ini akan segera lenyap jika sudah masuk ke dorm,” ucap Lee-Teuk setengah berbisik.

“Jadi ayo ikut aku.” Lee-Teuk menarik lengan Kyu-Hyun begitu saja, tidak menghiraukan cibikan bibir Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun mendapati dirinya duduk di bangku kaya di bawah pohon sakura. Salah satu pohon sakura terbesar di sekolah ini. Sinar matahari belum sepenuhnya tinggi karena masih dipenghujung pagi. Dan udara yang sedikit menggigil, membuat hanya beberapa anak yang sedari tadi berlalu lalang di taman ini. Celoteh burung pun masih jarang terdengar. Hanya ada suara teratur air mancur yang tak jauh dari tempat mereka berada.

“Ambilah.” Kyu-Hyun mendongak sejenak. Ragu menerima segelas kopi yang masih mengepul dari tangan pemuda berlesung pipi itu.

Lee-Teuk tersenyum, memilih duduk di samping Kyu-Hyun dan meletakkan dua gelas kopi itu di samping Kyu-Hyun.

“Akhirnya aku bisa duduk di sini juga.” Lee-Teuk membuka suara. Beberapa detik hening kembali karena ia sibuk menghirup lama-lama udara pagi yang dirindukannya.

“Semenjak aku dipilih jadi ketua asrama, aku sibuk mondar-mandir ke sana sini sampai-sampai tidak sempat datang ke tempat ini. Dulu aku sering ke sini bersama anak-anak.” Lee-Teuk tersenyum kecil. Matanya menerawang pada burung kecil yang sibuk membangun sarang di atas pohon.

“Lain kali aku ingin mengajak mereka lagi. Tapi sekarang aku bersyukur tidak sendiri di tempat ini.” Lee-Teuk menoleh pada sosok yang sedari tadi sibuk memandang ke sekeliling. Tak menghiraukannya. Tapi senyum Lee-Teuk masih terpatri di sana. Ia sungguh bersyukur Kyu-Hyun tidak menolaknya. Meski anak itu tak membuka suara sama sekali.

“Kau tahu Ryeo-Wook dan Ki-Bum sering bertanya tentang keadaanmu. Mereka belum banyak mengetahui tentangmu kerena itu mereka tertarik padamu.”

Kyu-Hyun masih terdiam.

“Kyu-Hyun ah, jika saja kau bisa membuka dirimu sedikit saja, kau akan tahu bahwa mereka anak-anak yang baik. Ki-Bum memang sedikit pendiam, tapi dia penjaga rahasia yang baik. Kau bisa bercerita apapun padanya dengan aman. Dia juga pintar. Kupikir kalian cocok belajar dan berdebat bersama. Dan Ryeo-Wook, sebenarnya dia tidak sepolos yang terlihat. Tapi dia bisa diandalkan untuk menjadi seorang teman.”

“Ada saat di mana kau harus berbagi bersama masalahmu pada orang lain. Mungkin mereka tak bisa membantumu menyelesaikannya. Tapi setidaknya ada tempat untukmu bersandar sejenak. Mereka anak-anak yang baik dan akan selalu mau meminjamkan bahunya untukmu.”

Kyu-Hyun menoleh. Menatap Lee-Teuk tak percaya. “Hyung.”

Lee-Teuk terperanjat. Senang bukan kepalang, untuk pertama kalinya anak itu bersuara hari ini.

Tapi mendengar kata-kata selanjutnya,  Lee-Teuk sedikit tertampar.

“Kau sok tahu.” Yah, setidaknya Kyu-Hyun sudah mulai mau berbicara padanya. Jadi Lee-Teuk hanya tertawa menanggapinya.

“Oi! Hyung!”

Keduanya menoleh pada dua anak lain yang berjalan ke arah mereka.

Anak bertubuh gempal yang tadi memanggilnya kembali membuka mulut, “Sedang apa Hyung di sini? Kami menunggumu sejak tadi.”

“Sarapan sudah siap!” lanjut anak yang lebih pendek di sampingnya.

“Oh sudah berkumpul semua?” Yang ditanya mengangguk.

“Ayo Kyu-Hyun. Kita sarapan.”

Untuk beberapa saat Kyu-Hyun tak bersuara, hanya menatapi keduanya. Lee-Teuk yang memperhatikannya sudah tak sabar. Ia menarik tangan Kyu-Hyun, memaksa anak itu berdiri dan mengikutinya.

 

Sampai di salah satu koridor dekat dorm, Seorang anak jangkung dan kurus menghentikan mereka.

“Chang-Min, ada apa?”

Hyung. Aku sedang mencari seorang anak yang bernama eerr…” Changmin mengecek sekali catatan kecil yang ia bawa. “Ah, Cho Kyu-Hyun.”

Yang namanya di sebut gelagapan karena mereka serentak menatapinya.

“Seseorang menunggumu di ruang tunggu,” kata Chang-Min lagi.

“Aku tak mau turun lagi,” celetuk Kangin. Mengingat mereka telah naik ke lantai empat dan harus kembali turun ke lantai dasar. Terlalu pagi untuk menguras keringat.

“Oke, biar kuantar. Ayo.”

 

“Apa perlu kutemani?” Lee-Teuk menengok ke dalam ruangan itu dari jendela. Terlihat seorang lelaki berumur sekitar setengah abad tengah menunggu. Lelaki itu gemuk, dengan mata sipit yang terbingkai kacamata. Raut wajahnya tampak tegang. Entah mengapa firasatnya mengatakan Kyu-Hyun akan mendapat masalah lagi.

“Tidak perlu. Hyung tunggu saja di sini.”

Setelah meyakinkan Lee-Teuk ia akan baik-baik saja, Kyu-Hyun mendorong pintu ruang itu. Melangkah santai mendekat ke ayahnya yang tampak murka. Tapi Kyu-Hyun sudah terlalu biasa. Jadi ia memasang wajah tak bersalahnya.

“Begitukah cara ayah mendidikmu?” Tuan Cho bangkit dari duduknya. Memandang nyalang pada putranya.

“Aku tidak suka cara Ayah mengurusi urusanku. Jadi beginilah aku.”

Ayah Kyu-Hyun menggeram tak suka. Kedua tangannya mengepal. Jika Lee-Teuk berpikir wajah tak berekspresi Kyu-Hyun paling menyeramkan, sepertinya ia harus berpikir ulang setelah melihat raut wajah ayah Kyu-Hyun saat ini.

“Ayah tak perlu repot-repot datang ke mari hanya untuk menyuruhku pergi dari sini. Ibu yang sudah mendaftarkan aku ke mari. Dan kewajibanku untuk belajar dengan baik. Jadi bisakah Ayah membiarkanku tenang di sini?”

Mulut Tuan Cho segera terbuka membalas jawaban kurang ajar dari anaknya, tapi Kyu-Hyun lebih cepat bersuara. “Urusi saja wanita Ayah itu dan anaknya. Aku tak masalah jika pada akhirnya Ayah menyerahkan semua harta Ayah padanya. Kekayaan Ayah bukan segalanya bagiku jika aku sudah memiliki seorang ibu dan kakak di sampingku.”

Dan saat amarah Tuan Cho yang sudah berada di ubun-ubun tak lagi dapat ditampung, tangan kanannya terangkat cepat menampar wajah anak lelakinya. Kyu-Hyun sedikit meringis merakan pipinya berdenyut panas.

Suasana menegang.

Sedang Lee-Teuk yang sejak tadi memperhatikan  akhirnya ikut masuk. Ia cepat-cepat mencegah ketika tangan besar itu kembali melayang ke pipi Kyu-Hyun.

“Tunggu Tuan Cho.”

Ayah Kyu-Hyun menoleh. Masih dengan wajah penuh geramnya yang membuat Lee-Teuk bergidik takut. Tapi ia bisa bernapas lega karena tangan itu sudah mulai turun.

“Kalau boleh, saya ingin berbicara pada Anda,” kata Lee-Teuk pelan. Mencoba sesopan mungkin.

“Siapa kau?”

“Saya ketua asrama sekaligus teman sekamar Kyu-Hyun. Saya ingin berbicara empat mata dengan Anda sebentar.”

Tuan Cho bergeming tak menjawab. Tapi lelaki itu segera duduk kembali. Memijit keningnya pelan, tapi ia sedikit terlihat lebih tenang saat ini.

“Dan karena Kyu-Hyun belum memakan sarapannya serta kelas akan dimulai sebentar lagi, ijinkan ia untuk kembali ke dormnya Tuan. Teman-temannya sudah menunggu untuk sarapan bersama.”

Tuan Cho tak segera merespon tapi pada akhirnya ia mengangguk samar. Dengan perasaan tak menentu Kyu-Hyun menurut keluar. Ia hanya berharap Lee-Teuk tak macam-macam dan masalahnya cepat selesai. Sungguh ia lelah dengan hidup yang ia lakoni selama ini. Semenjak ayah dan ibunya bercerai hidupnya sudah tak karuan. Ditambah kedatangan wanita baru dikehidupan ayahnya, ia tak lagi betah tinggal seatap dengan ayahnya. Lalu memilih hidup bersama ibu dan kakaknya. Sejak saat itu Kyu-Hyun menutup diri dari semua orang. Dia lebih pendiam dan lebih sibuk dengan komputernya.

“Ah, Kyu-Hyun sudah datang!” seru Ryeo-Wook yang pertama kali melihat Kyu-Hyun berjalan lesu melewati mereka. Semua orang sudah berkumpul di meja panjang itu. Berderet rapi di depan makanan yang sudah berjejer siap disantap. Tapi Kyu-Hyun tidak terlalu berselera pagi ini.

“Aku mau bersiap ke kelas saja.”

Anak yang paling tinggi diantara mereka membalas. “Ey, Lee-Teuk Hyung akan marah pada kami jika kau melewatkan makan bersama lagi.”

“Lagi pula kami sudah kelaparan menunggumu sejak pagi. Kau tidak bisa menolak begitu saja,” anak tergemuk menjawab dari sudut meja.

Yang lain mengangguk setuju. Seorang anak yang terdekat dari Kyu-Hyun mendekat. Tangannya melingkar ke bahu Kyu-Hyun dan menariknya ke slaah satu kursi yang kosong. Diam-diam Kyu-Hyun meilirik tangan itu. Dasar tangan kecil sok akrab, batinnya kesal.

“Kau harus makan sekarang,” paksa si tangan kecil.

Kyu-Hyun menghela napas. Sebelas lawan satu, tentu dia yang harus mengalah pada akhirnya. Dengan malas ia meraih sendoknya, diikuti kawan-kawannya yang mulai ramai memperebutkan makanan.

“Lee-Teuk Hyung sudah pulang!” teriak Ryeo-Wook sekali lagi.

Lee-Teuk tersenyum lebar mendapati Kyu-Hyun tengah makan bersama dengan yang lain. Ia segera bergabung, duduk di kursi paling ujung yang sudah mereka persiapkan.

“Apa yang kau lakukan Hyung? Sepertinya senang sekali,”

“Ah Eun-Hyuk ah, kau selalu bisa menebak isi hatiku.”

“Aku pun bisa Hyung. Itu terlihat jelas dari caramu tersenyum,” sela seseorang berwajah kekanakan yang duduk di samping Eun-Hyuk.

“Baiklah-baiklah. Aku hanya merasa senang Kyu-Hyun sudah lebih dekat dengan kita sekarang.”

Serempak semua menoleh pada pemilik nama terakhir yang Lee-Teuk sebut.

Dan Kyu-Hyun hanya memandang kikuk kawan-kawannya. Sepertinya setelah ini ia harus meberondongi Lee-Teuk dengan sejuta pertanyaan.

 

“Apa? Hyung berhasil menenangkan ayah Kyu-Hyun?” mata sipit Kang-In terbelalak tak percaya setelah mendengar cerita sang ketua dorm.

“Sudah kubilang Lee-Teuk Hyung punya mantra untuk mendekati orang-orang khusus seperti Kyu-Hyun dan ayahnya.”

“Kau terlalu mengada-ada Sung-Min ah,” Lee-Teuk terkikik pelan. “Aku hanya mengatakan apa yang kutahu dan kurasakan. Tentu dengan sopan,” imbuhnya.

Tanpa seorang pun tahu, seseorang tengah menguping di balik pintu kamarnya. Sepertinya ia tak jadi berniat menanyai Lee-Teuk setelah ini. Ia harus berterima kasih padanya. Pada hyung terhebatnya, Lee-Teuk.

 

 ***

Setelah sekian lama tidak menulis 2000kata lebih *^*/

Rencananya ini akan menjadi oneshot series yang tiap seriesnya berganti tokoh yang bermasalah/?

Ditunggu oke! Makasih sudah membaca yaa ~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s