Drabble-KyuHyun : Forceless

forceless

by Cherry Hee

Rabu kembali datang. Bagi Kyu-Hyun hari itu tidak lebih melelahkan dari hari-hari lainnya. Tidak ada yang istimewa dihari rabu jika saja mobil Kyu-Hyun tidak sempat menepi di pinggir jalan. Barang semenit dua menit matanya akan memperhatikan seseorang yang tengah sibuk dari dalam kafe mungil itu. Sesekali ujung bibir Kyu-Hyun akan terangkat tipis ketika mendapati orang di sana tengah tersenyum manis menghadapi pembeli.

Kyu-Hyun mendesah menyadari kelakuan bodohnya yang rutin ia lakukan di hari rabu ini−meski ada hari-hari lain di mana ia akan mencari kesempatan untuk melewati jalan ini−.

Siapa bilang artis ternama sepertinya tak memiliki cela. Dia bahkan mungkin terlihat lebih menyedihkan dari pemuda lain di luar sana. Dia tak lebih dari seorang pengecut. Pemerhati tanpa berani berucap apa-apa pada gadis yang ia suka.

Sejujurnya pernah dulu sekali Kyu-Hyun nekat masuk ke kafe itu. Duduk di sana dengan pelipis berpeluh. Gadis itu mendekat dan bertanya dengan suaranya yang lembut. Kyu-Hyun menjawab “Secangkir espresso hangat dan sandwich,” ujar Kyu-Hyun parau, membuat gadis itu terkikik pelan.

Ingin rasanya detik itu juga ia berlari keluar dan berteriak keras. Kedengarannya seperti orang gila, namun gadis itu memang telah merubahnya jadi orang gila sejak pertemuan awalnya. Hingga saat ini, tujuh tahun berlalu. Masih sama. Masih dengan Kyu-Hyun yang gila dan pengecut.

 

***

 

Pemuda jangkung itu berjalan gontai di lorong apartemen yang sepi. Matanya sudah berat dan hanya bayangan kasur empuknya yang kini menari di pikirannya. Jarum jam sudah melewati angka dua belas, yang berarti kafe itu sudah tutup. Yang berarti dia tak bisa melihat di mana energinya berada.

Kyu-Hyun menyipitkan matanya ketika lampu tengah dorm yang lebih terang dari lampu lorong apartemen masih menyala.

Hyung? Kau belum tidur?”

Seonggok pemuda lain yang sejak tadi menekuk kedua kakinya diatas sofa dengan sebungkus kripik, mendongak. Menatap miris pada wajah sang magnae yang tampak berantakan.

“Eum. Aku baru pulang dari jalan-jalan dengan Dong-Hae dan Hee-Chul Hyung,” jawabnya sambil meringis, mencoba membuat adiknya yang satu ini cemburu. Hari ini jadwalnya tak terlalu padat seperti Kyu-Hyun. Dan itu membuat Eun-Hyuk bisa sedikit meregangkan ototnya dengan berjalan-jalan. Meski pada malamnya ia akan meminta Sung-Min Hyung-nya yang baik hati untuk memijatnya karena terlalu lelah berjalan-jalan.

Kyu-Hyun mendesah pelan. Tepat saat itu matanya mendapati bungkusan besar berwarna coklat muda tergeletak di atas meja. Kyu-Hyun memungutnya sebelum memilih duduk di sisi Eun-Hyuk yang terus mengunyah dan menonton acara berita malam.

“Sweater baru?” Sweater berwarna abu-abu berbahan lembut itu terjulur keluar. Memperlihatkan gambar abstrak putih di mukanya. Sederhana namun tampak keren.

“Dari seorang fans ketika aku baru pulang. Sepertinya dia menungguku sejak tadi. Untung saja udara tidak terlalu dingin malam ini,” jelas Eun-Hyuk bersemangat membuat remah-remah kripik berhamburan dari mulutnya.

Kyu-Hyun berdecak, hyung-nya ini meski memiliki kamar paling rapi dan mengkilat, tapi dia tidak terlihat bersih dari penampilan aslinya.

“Heh. Ada yang tertarik dengan seorang fans nih sepertinya,” goda Kyu-Hyun.

“Dia cantik. Ah, bukan. Apa ya lebih tepatnya.. eum.. manis. Yeah, dia manis. Dan lembut.” Eun-Hyuk terkekeh malu-malu.

“Benarkah?”

“Kau akan setuju denganku jika melihatnya sendiri,” balas Eun-Hyuk cepat. “Sebenarnya ini tidak pertama kali dia memberikan sesuatu padaku. Ini kado yang ketiga.”

“Apa dia selalu mengikutimu?” Pikiran Kyu-Hyun sudah melayang tentang cerita dari mulut besar Hee-Chul. Hyung-nya itu pernah marah besar ketika hampir seminggu dibuntuti seorang fans yang terlalu antusias dengannya. Mengikuti ke mana pun Hee-Chul pergi. Meski mobil Hee-Chul mencoba menghilang dengan gesit di tengah lalu lintas kota Seoul. Namun sasaeng fans itu selalu bisa menemukannya.

“Tidak,” suara Eun-Hyuk menguapkan imajinasinya. “Aku hanya bertemu dengannya di depan dorm.”

Kyu-Hyun mengangguk mengerti.

“Oh iya. Minggu depan ada jadwal fanmeeting. Ku harap dia akan datang.”

“Haha. Berharaplah Hyung. Dan lihatlah di mana dia akan berbaris,” kata Kyu-Hyun dengan nada menantang.

“Tentu saja di barisanku. Dia akan meminta tanda tanganku,” balas Eun-Hyuk percaya diri.

“Aku akan mengambilnya darimu Lee Hyuk-Jae!” teriak Kyu-Hyun sebelum melengos masuk ke kamar. Dengan gesit menutup pintu sebelum remot tv yang Eun-Hyuk lempar mendarat ke pantatnya.

 

***

 

Matahari bersinar hangat pagi itu. Sehangat senyuman para member yang sudah berjajar rapi di depan ratusan fans yang siap berbaris menanti untuk bertatap muka dengan idolanya. Fanmeeting di mulai pukul sembilan, dan kerumunan fans semakin memberudak di salah satu mall ternama itu.

Dengan senyum yang terus mengembang mereka melayani satu persatu fans yang datang. Menyalami mereka lalu memberikan tanda tangan sambil sesekali bercanda.

Seperti biasa Kyu-Hyun melakukan pekerjaannya dengan baik. Tangannya sudah kaku pegal namun senyum itu masih ia perlihatkan seindah mungkin di depan penggemarnya. Tepat ketika ia mencuri waktu untuk minum, ia menengok meja Eun-Hyuk yang tepat ada di sampingnya.

Di tengah gemuruh para fans suara itu masih terdengar jelas di telinga Kyu-Hyun.

“Senang bertemu denganmu, Oppa.”

“Kita baru saja bertemu kemarin, kan?” suara Eun-Hyuk menyahut. Namun Kyu-Hyun mengabaikannya, matanya masih tertuju pada sosok gadis yang rambutnya terikat kesamping. Dari dekat wajahnya tak berubah, manis.

Eun-Hyuk terkekeh bahagia. Seperti tertampar Kyu-Hyun berpaling pada Hyung-nya. Suara umpatan tiba-tiba menghantui dirinya dan menggema-gema ditelinganya. Tujuh tahun dia menunggu waktu yang tepat dan kini gadis itu ada di sini, berdiri dalam barisan Eun-Hyuk. Tersenyum lebar pada pemuda bergusi ini. Yang benar saja! Dia akan maklum jika gadis ini memilih Si-Won, tapi tidak untuk Eun-Hyuk! Kyu-Hyun tak terima!

 

Gadis itu sudah selangkah meninggalkan barisan ketika tangannya di tarik seseorang. Dia menoleh dan terlonjak ketika menyadari pemuda jangkung itulah yang menariknya. Beberapa suara pekikan dari belakang terdengar berisik.

“Kau belum meminta tanda tanganku,” ujar Kyu-Hyun dengan raut datar. Lalu merebut note gadis itu dan menggoreskan tanda tangannya di sana. “Siapa namamu?”

Gadis itu terdiam sejenak. Lalu menjawab lirih, “Sae-Ra. Hwang Sae-Ra.”

Dengan seringai tipis Kyu-Hyun menjulurkan note kepemiliknya kembali. Kemudian berujar jelas, “Lain kali jangan berdiri di barisan Eun-Hyuk sebelum kau mendapat tanda tanganku.”

Kyu-Hyun menarik napas panjang melihat gadis itu tak kunjung menyahut. Jadi ia kembali berucap, “Aku akan datang ke kafe tempatmu bekerja. Kau harus ada di sana melayaniku. Oke?”

Sae-Ra membeku sebelum sedetik kemudian keningnya mengerut, menatapi lelaki di depannya sedang tersenyum aneh ke arahnya.

 

****

 

Lagi cuci gudang/? dan baru sadar banyak nian fanfics ‘tak ber ending’ -_-

Salah satunya ini. Akan diteruskan apa tidak? Silahkan bertanya pada rumput yang bergoyang..

Thanks for reading~  bye bye~!^^

Advertisements

10 thoughts on “Drabble-KyuHyun : Forceless

  1. Kkk gyu :v /pats/ kenapa ngga terima kl dia ada dibarisan hyuk? Dan maklum kl semisal dia ada di barisan siwon? Wkwk xD

    ini dilanjutkah? Kasian kyu udah nunggu 7tahun/? /tanya ke rumput yg bergoyang/ .__.

    • Karena seperti kata Ryeowook, Hyuk itu jelek. Ini kata Ryeowook yah lol
      Sebenernya cerita pendek ini aku cuplik dari kisah nyata mrk. Kyu ga terima kalau cew yang dia suka ada dibarisan hyuk hehe
      Ah iya. hutang banyak jadi lupa OTL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s