Cermin : Hujan Di Gubuk Kecil

            by Cherry Hee

Malam belum terlampau larut, namun kesunyian sudah terasa mencekik. Tak ada kegiatan atau suara gaduh orang yang biasanya bergerombol di pelataran rumah. Sekadar berbincang tentang apa saja yang mereka lakukan seharian penuh dengan para tetangga. Tak jauh dari masalah kebun, hama, sampai masalah dapur. Kadang menyerempet pada cerita burung yang sedang beredar seperti siapa yang mau menikah dengan siapa. Atau siapa yang bertikai dengan siapa.

Hanya terdengar desir angin yang menderu kencang. Berkelok-kelok turun ke perbukitan. Jauh menembus hutan padat pepohonan. Berhelai-helai daun yang mengering dimakan musim kemarau menggelepar jatuh dari ketinggian. Mengotori lantai namun pada akhirnya menyebarkan kesuburan. Angin terus melaju ke bawah. Menyentuh aliran sungai yang menyulur panjang dari atas gunung lalu melewati pemukiman.

Jauh ke pinggir dari rumah-rumah kebanyakan, tepat di sisi sebuah anak sungai berdiri gubuk kecil sederhana. Terlampau mewah untuk dikatakan sederhana karena nyatanya gubuk itu hanya berlapis bambu tipis yang dianyam. Petak tiga kali tiga meter itu beratap daun rumbia yang dianyam sedemikian rupa untuk mampu melindungi dari panas sekaligus angin dingin seperti malam ini.

Gumpalan gelap awan telah terkumpul di atas sana. Menutupi binar bulan dan kerlip bintang. Setelah penantian panjang dimusim kemarau, hujan akhirnya segera datang. Tanaman padi, jagung, ketala serta ilalang telah menanti untuk dibasahi.

Namun itu semua membuat udara jauh lebih dingin dari malam-malam kemarin. Hingga sosok tubuh ringkih itu memilih untuk duduk di atas kasur kayunya sembari bergelung kain tipis. Guratan wajahnya yang termakan usia terihat kabur di bawah lampu minyak yang bersinar sayu.

Matanya meneliti lantai rumah yang berlapis tanah. Pandangannya kosong. Entah apa yang pikirkan. Mungkin masa mudanya yang masih terngiang membara di kepala. Atau masa bahagianya bersama sang suami yang telah lama pergi. Atau mungkin kisah manisnya bersama anak perempuan semata wayangnya.

Sebulir air turun menelusuri pipinya yang kisut. Bibirnya bergetar melafalkan doa-doa kecil untuk Tuhan. Dipanjatkan demi ketenangan suami dan anaknya di alam sana bersama rasa rindu dan sepi yang membuncah dalam dada.

Sebenarnya ia tak hidup seorang diri jika saja mbah Nah −begitu orang menyapanya− mampu mencegah cucu lelaki satu-satunya untuk tidak beradu nasib ke kota. Sepeninggal anaknya, mbah Nah bekerja keras mencari sejumput nasi untuk cucunya. Rela mehitami tubuhnya di bawah terik matahari dan menghirup tanah bebatuan. Menggerus satu persatu batu tiap harinya. Menelusuri hutan mencari apapun yang dapat ia jadikan makanan untuk cucunya. Semua itu ia lakukan sampai Arman tumbuh dan lulus sekolah dasar.

Mulanya Arman anak baik dan pengertian namun pergaulan belakangan merubahnya. Pemuda tinggi dan bertubuh kekar itu jadi lebih kasar. Sering tak pulang dan sekali pulang hanya untuk meminta uang.

Mbah Nah terbatuk. Suaranya teredam oleh desau angin di luar. Sepertinya hujan akan turun sangat deras. Mbak Nah hanya berharap rumahnya mampu berdiri hingga matahari timbul esok hari.

“Mbah.” Sayup terdengar suara diikuti derit pintu yang memang tak pernah mbah Nah kunci.

Sesosok gadis kecil dengan rambut terkepang dua menghampirinya. Ditangannya ada segelas teh yang mengepul ketika tutupnya dibuka.

“Ini ada teh hangat dari Ibu untuk Mbah. Diminum ya Mbah.” Ditaruhnya gelas itu ke atas meja kecil tak jauh dari jangkauan mbah Nah.

“Terima kasih Nis.” Mbah Nah tersenyum bahagia. Gadis itu adalah anak tetangga terdekatnya yang telah ia anggap cucunya sendiri. Perangainya yang hampir mirip dengan anaknya membuat mbah Nah sangat menyayanginya.

“Mau turun hujan. Cepatlah pulang sebelum kamu kehujanan nanti.”

Nis menggeleng beberapa kali membuat helai rambutnya bergerak lembut di dahinya. “Tidak. Nis mau menemani Mbah di sini dulu. Tadi Nis sudah minta ijin ke Ibu kog.”

Nis mengambil tempat di sisi mbah Nah. Dan mbah Nah dengan baik hati memberikan selimut tipis satu-satunya untuk gadis kecil itu.

Tetes hujan mulai turun. Rintiknya yang singkron membuat mbah Nah dan Nis terbuai. Perlahan sayup mata mereka mulai menutup. Tepat saat itu, pintu terbuka keras. Awalnya mbah Nah mengira angin mendobraknya. Tapi ternyata sosok pemuda bertubuh kekar di sana penyebabnya.

“Man? Kamu pulang?” Mbah Nah menyipitkan matanya. Beranjak pelan takut membangunkan gadis di sampingnya.

“Mana cincin kawin ibu?” sentak Arman cepat. Wajahnya mengeras menunggu mbahnya yang berpikir lamban.

Tak sabar pemuda itu segera membongkar sekotak koper kayu tua milik mbahnya. Isinya beberapa potong pakaian milik mbahnya, namun Arman juga tahu kalau tiap barang berharga juga tersimpan di sana. Tak ada lemari di gubuk tua itu. Pastilah koper kayu ini tempat penyimpanan barang berharga.

Senyum Arman melebar ketika berhasil menemukan satu-satunya barang mewah di gubuk itu.

“Mau kau apakan Man? Itu peninggalan ibumu satu-satunya.”

“Hah. Selama ini Mbah tidak pernah memberiku apa-apa kan? Bahkan Mbah pasrah saja Arman diejek teman-teman karena cuma lulus dari bangku SD. Harusnya dengan ini Arman bisa sekolah lebih tinggi lagi. Atau membeli makanan enak selain jagung kering!” Suara Arman meninggi. Menggugah sosok kecil yang masih terbaring.

“Man.” Mbah Nah membekap mulutnya mencoba menahan jerit tangisnya.

Tangan kirinya menahan Arman, namun pemuda itu langsung menyentak dan melengos pergi. Membiarkan pintu terbuka hingga udara dingin menusuk penghuninya.

Nis yang tersadar segera menutup pintu kembali. Gadis kecil itu belum mampu untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun dalam kepalanya ia yakin Arman adalah orang jahat.

Nis membantu mbah Nah berjalan kembali ke ranjang kayunya. Gadis kecil itu melilitkan selimut yang tadi sempat ia kenakan ke tubuh mbah Nah.

“Jangan menagis Mbah. Nis di sini kog.”

Mbah Nah tersenyum pedih. Tangannya yang gemetar terulur membelai surai hitam Nis. Mengangguk pelan masih dengan senyuman. “Iya. Masih ada Nis.” ujarnya dengan suara serak menahan tangis.

Keesokan harinya hujan masih turun. Dan mbah Nah kembali menangis ketika mendengar kabar cucu satu-satunya di temukan meninggal terjatuh di jurang tak jauh dari desa. Pemuda itu dibunuh setelah dirampok oleh sekawanannya sendiri.

 

 

***

 

Dari kemarin pengen banget ngangkat tokoh wanita tua kesepian. Mungkin karena lagi kangen sama si mbah yang baru pergi ya :’)

Pengen cerpen tapi hasilnya tak lebih dari 1000 kata. Ya udah terima aja kkk~

Cermin yang penuh kekurangan ini didekasikan untuk nenek tersayangku :’* sekaligus untuk tantangan dari author Dy .. ^^

Terima kasih sudah membaca~

Advertisements

2 thoughts on “Cermin : Hujan Di Gubuk Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s