Series [2] Unstoppable

Unstoppable - Cover

by Cherry Hee

Eun-Hyuk tidak tahu sampai mana gadis itu berubah. Seberapa jauh jarak yang telah memisahkan mereka. Dan jurang sedalam apa yang membuat mereka terasa asing. Semenjak Eun-Hyuk memutuskan gadis itu, dia bertekad untuk menjaga hubungan mereka layaknya teman. Dia ingin gadis itu masih berada di sana, di tempat yang masih bisa Eun-Hyuk lihat. Namun ketika waktu berkata lain dan merubah gadis itu, tak banyak yang bisa Eun-Hyuk lakukan.

Keputusan Eun-Hyuk untuk melanggar janji ‘menjadi belahan jiwa Yoo-Jin selamanya’ datang tujuh tahun yang lalu, ketika Eun-Hyuk sudah mendapat posisi di grupnya Super Junior. Bukan karena ia telah meraih setitik mimpinya lalu bermaksud meninggalkan gadisnya. Eun-Hyuk bukanlah pria semacam itu. Dia hanya ingin melindungi gadis itu. Memberikan kesempatan untuknya lari, sebelum tekanan-tekanan lain mencekiknya. Bagaimana pun pekerjaan sebagai artis bukanlah hal yang mudah jika sudah disangkut-pautkan dengan sebuah hubungan. Eun-Hyuk tidak ingin gadis itu tersiksa nantinya.

Meski begitu Yoo-Jin mendengarnya sembari menangis tersedu-sedu malam itu. Di bawah lampu taman yang redup berbinar, pria itu melepasnya perlahan. Memberinya ruang untuk pergi menjauh. Mengabaikan setiap janji yang mereka buat.

Di masa trainee yang panjang lalu, Yoo-Jin lah yang setia menantinya di taman itu. Menunggu dengan sebekal makanan yang ia buat sendiri. Menyemangati Eun-Hyuk ketika pria itu menemukan titik jenuh dan lelahnya.

Lima tahun masa trainee dan Eun-Hyuk menemukan ‘akhirnya’. Ia mendatangani kontrak dalam sebuah group idol beranggotakan dua belas orang. Masih seperti mimpi. Namun mimpi indah itu berakibat buruk bagi Yoo-Jin. Eun-Hyuk menghianatinya. Meski bukan seperti itu maksud sang pria.

“Eun-Hyuk ah.”

“Ah, eomma.” Eun-Hyuk bergegas membuka matanya yang tadi terpejam, tapi tidak tertidur.

Eun-Hyuk turun dari mobilnya dan menemukan ibunya menenteng kantong belanja di kedua tangannya. Melihat ibunya kesusahan, Eun-Hyuk menggeleng sejenak lalu menyambar kantong belajaannya.

Eomma kenapa pergi tanpa Nuna? Eomma kan jadi kesusahan sendiri seperti ini,” gerutu Eun-Hyuk sedangkan tangannya sibuk memasukkan barang ke bagasi belakang mobilnya.

“So-Ra sedang ada acara setelah mengantar Eomma tadi. Lagi pula hari ini kau sedang kosong kan? Kenapa marah-marah seperti itu.”

“Aku tidak marah.” Menutup pintu bagasi dan berjalan menghampiri ibunya sambil cemberut. “Aku hanya kasihan dengan Eomma yang membawa barang sebanyak itu,” tuturnya sembari mengamit tangan kanan ibunya. Menuntunnya masuk ke dalam mobil.

“Ah sudahlah, tidak apa-apa.”

Audi putih Eun-Hyuk melaju pelan di jalanan Seoul yang renggang, ketika ibunya kembali bercerita. “Kemarin Dong-Hae datang ke TLJ.”

Eun-Hyuk melirik ibunya sekilas dan tersenyum membayangkan sahabatnya membuat kegaduhan di toko roti kecilnya itu. “Benarkah? Apa yang dia lakukan?”

“Hanya ingin bertemu dengan Eomma. Katanya dia merindukan Eomma haha.. Imut sekali anak itu.” Ibunya tertawa kecil.

Melihat ibunya tampak senang, Eun-Hyuk mengerucutkan bibirnya kesal, “Anakmu lebih imut Eomma.”

“Hahaha…. Ya ampun anakku. Kalian sudah dewasa, kan?” Tawa ibunya semakin meledak. “Oh ya. Dia juga menceritakan suatu rahasia pada Eomma.” Kali ini ibunya tersenyum menggoda. Eun-Hyuk terkesiap.

“Rahasia apa?”

“Dia sedang melakukan pendekatan kepada seorang gadis,” jawab ibunya bangga, seakan ia menjadi orang pertama yang tahu.

Diam-diam Eun-Hyuk mengambil napas pelan dan mengeluarkannya berat. Untuk pertama kalinya ia susah bernapas padahal tak ada suatu penyakit apapun yang besarang di tubuhnya.

“Wah. Kurasa gadis itu sangat beruntung mendapat cinta tulus seorang Dong-Hae.” Eun-Hyuk memaksakan senyum.

 

***

Tujuh tahun memang waktu yang lama. Tapi bagi Eun-Hyuk waktu tujuh tahun tidaklah cukup untuk menghapus bayangan gadis itu. Pencuri hatinya. Bagaimana pun ia memiliki kenangan tiga tahun bersama yang sangat berarti hingga mampu melewati tujuh tahun tanpa tidak memikirkannya.

Sempat Eun-Hyuk merasa menjadi pria paling kejam dan pecundang di dunia. Ia menyesal hingga dadanya sesak dan diam-diam menangis di tengah malam. Dan ketika rasa rindu itu semakin menyerang, Eun-Hyuk berubah menjadi sosok lain. Yang pendiam dan suka melamun. Seperti itulah Eun-Hyuk saat ini.

“Eun-Hyuk ah. Ya!”

Eun-Hyuk tersentak ketika suara Shin-Dong terdengar dekat dan keras. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, benar saja Hyung tambunnya itu sudah berdiri di hadapannya. Mulutnya mengatup dengan alis mengerut. Shin-Dong yang seperti ini tampak mengerikan. Eun-Hyuk sempat membayangkan Shin-Dong mirip sekali seperti banteng yang siap menyeruduknya.

Bulu kuduknya jadi meremang takut. “I-iya Hyung?”

“Apa yang kau lakukan? Kalau sedang ingin main-main keluar sana.” kali ini suaranya rendah namun terkesan dingin. Selucu apapun Shin-Dong, ia tak akan pernah main-main jika sudah waktunya untuk bekerja. Dan latihan adalah salah satu pekerjaan yang penting baginya. Apalagi sejak sang tetua Lee-Teuk tidak ada. Dia jadi pelatih dance selain Eun-Hyuk dan Dong-Hae bagi kawan-kawannya di grup. Tentu saja ia tak akan membiarkan Eun-Hyuk bermain-main di area mereka.

“Mungkin Eun-Hyuk sedang tak enak badan Hyung. Beri ia waktu istirahat saja dulu,” sahut si kecil Ryeo-Wook setelah yang diajak bicara justru menunduk tak minat menjawab.

“Iya. lebih baik beri dia waktu untuk mendinginkan otaknya. Lagi pula aku juga lelah. Ah.. punggungku.”

Hyung jangan mengeluh. Kau terlihat benar-benar tua seperti itu.” celetuk sang magnae Kyu-Hyun. Kangin yang mendengarnya langsung berpikir ingin melempar botol minuman di tangannya ke kepala Kyu-Hyun. Namun urung. Sebagai salah satu yang tua di sini ia harus bersikap sabar. Sesabar Lee-Teuk setidaknya.

“Istirahatlah Eun-Hyuk ah.” Sung-Min menepuk bahu Eun-Hyuk sambil menyodorkan sebotol air dingin pada adiknya itu. Namun Eun-Hyuk menggeleng dengan raut datar. Tatapannya kosong ketika ia meminta ijin untuk keluar sebentar.

Anggota yang lain tidak tahu apa yang terjadi padanya. Namun satu yang mereka pahami, Eun-Hyuk tampak mengerikan seperti ini. Dia lebih mirip zombi dari pada Eun-Hyuk si hyper active.

Hee-Chul memutar kepalanya keseluruh ruangan latihan. Tapi sosok yang dicarinya tak ada. Akhirnya ia memilih bertanya dengan wajah polos. “Oh. Ke mana Dong-Hae?”

Kyu-Hyun mendengus keras. “Hyung memang tidak perhatian atau buta? Sejak satu jam kita latihan Dong-Hae memang tidak ada.”

Dengan gesit Kyu-Hyun bersembunyi di belakang tubuh kecil Ryeo-Wook ketika Hee-Chul beranjak ke arahnya sambil bersiap dengan sepatu di tangannya.

***

“…tidak apa-apa. Selama ini aku selalu datang ke latihan. Membolos satu kali kupikir tak mengapa.”

Langkah Eun-Hyuk memelan ketika telinganya menangkap suara yang ia kenal. Eun-Hyuk bisa melihat pemuda itu berdiri menyandarkan bahu kirinya ke dinding. Posisinya memang membelakangi Eun-Hyuk, namun siapa yang tak akan mengenal seorang teman yang sudah sepuluh tahun hidup bersamamu.

Dong-Hae sedang berbicara dengan seseorang. Eun-Hyuk tidak bisa melihat siapa karena tubuh orang itu tenggelam di balik bahu kekar Dong-Hae. Hanya kepalanya yang masih dapat terlihat menyembul dari sana.

“Ah Oppa. Mentang-mentang sudah menjadi artis. Harusnya kau lebih rajin agar fansmu tidak kabur.” Suara kecil itu terdengar menyaut.

Seketika Eun-Hyuk benar-benar terhenti. Perlahan berjalan mundur, memilih bersembunyi di dinding tak jauh dari mereka. Eun-Hyuk tidak tahu apa yang ia lakukan. Tapi ia tidak bisa menahan untuk tidak menajamkan pendengarannya ketika di dengarnya suara riang Dong-Hae kembali terdengar.

“Fansku tidak akan kabur hanya karena aku salah menari.”

“Hahha.. Oppa percaya diri sekali.” Suara tawa mereka menggema di lorong yang cukup sepi itu. “Sudahlah Oppa latihan saja.”

“Kau yakin? Kau sudah tidak apa-apa?”

“Eum. Lihat. Wajahku sudah cantik seperti sedia kala kan? Jadi cepat-cepatlah pergi. Aku juga ada jadwal latihan sore ini.”

“Baiklah cantik. Aku pergi dulu, okey. Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu lelah.”

Eun-Hyuk memberanikan diri untuk sedikit mengintip dari balik dinding tepat ketika tangan Dong-Hae terulur ke depan. Mengelus kepala seorang gadis.

Eun-Hyuk mencelos dari tempatnya berdiri. Mereka memang tidak pernah bertatap muka sejak tujuh tahun yang lalu. Namun ia yakin. Gadis berwajah kecil dengan mata yang melengkung indah ketika tersenyum itu, tak salah lagi, Soo Yoo-Jin.

 

***

 

Musim gugur semakin larut. Hujan semakin sering datang. Ini lebih menyebalkan dari musim dingin karena selain mendatangkan dingin musim gugur juga menjatuhkan hujan dan Yoo-Jin benci hujan. Hingga ia harus terdampar di sini. Di depan lobi gedung SM menunggu jemputan seorang teman. Dengan bodohnya ia lupa membawa payung tadi pagi dan akhirnya tak mau merelakan dirinya basah diguyur hujan hanya untuk berlari menuju halte. Jadi ia memilih menyusahkan teman satu apartemennya. Lagi pula teman baiknya itu pasti tak keberatan menjemputnya dengan mobil.

Yoo-Jin kembali mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Mengerucutkan bibir ketika ia sadar sudah menghabiskan hampir satu jam untuk menunggu temannya itu. Harusnya tidak selama itu ia harus menunggu. Jarak apartemen dan gedung SM tidak terlampau jauh apalagi jika ditempuh dengan mobil. Apa ada macet di jalan. Tapi ini hampir tengah malam. Harusnya jalan sangat lenggang.

Gadis itu mendesah berat. Beranjak dari duduknya dan memilih berjalan ke depan sembari menghilangkan rasa jenuhnya. Ada baiknya dia melihat apa langit masih berawan gelap di sana dari pada duduk seorang diri.

Lantai depan basah karena tak terhindar dari siraman hujan. Dan itu membuatnya licin. Yoo-Jin beberapa kali mengelus dada karena selamat dari terpeleset, namun tiba-tiba ketika kakinya baru saja menginjak satu tangga di depan pintu masuk, tubuhnya terasa tumbang. Jantungnya nyaris copot. Sudah dibayangkannya sesakit apa ubin putih itu.

Selang beberapa detik ia baru sadar tidak ada yang terjadi pada dirinya. Alih-alih jatuh terduduk memalukan, tubuhnya terasa ada yang menahan. Ada seseorang di belakangnya. Ketika Yoo-Jin menengok bermaksud beterima kasih pada sang penolong, lidahnya mendadak kaku.

“Yoo-Jin ssi. Apa kau ada waktu sekarang?” tanya pria itu sambil tersenyum. Senyum masam.

Dan Yoo-Jin tak mampu menolaknya. Ia mengangguk pelan.

“Lama tidak berjumpa ya, Yoo-Jin ssi.”

Yoo-Jin hampir tersedak teh hijau hangatnya yang sedang ia nikmati. Entah kenapa suara dingin itu membuatnya gugup setengah mati hingga membuat cangkirnya berdenting kencang ketika ia menaruhnya di atas tatakan.

Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk bersama di kafe kecil dekat gedung SM. Duduk di pojok ruangan yang cukup privat untuk berhati-hati pada mata-mata yang mungkin akan menangkap mereka. Atau lebih tepatnya pada lelaki yang duduk di depannya. Eun-Hyuk.

“Ya. Bagaimana kabarmu?” Yoo-Jin mendengar suaranya sendiri seperti cicit tikus yang sedang diujung hidupnya karena racun. Mengerikan. Aura hangat yang dulu bisa membuatnya nyaman untuk tinggal lama-lama dengan lelaki itu kini berubah. Mungkin ini pengaruh dari ssi-nya. Tidak biasanya Eun-Hyuk memanggilnya seperti itu, yah meski mereka sudah lama tak berjumpa.

“Baik.” Eun-Hyuk sekali lagi lagi tersenyum tipis. Ikut mengambil cangkir ekspresonya dan menyeduhnya pelan.

“Jadi kau berhubungan dengan Dong-Hae?” ucapnya tenang langsung menusuk jantung Yoo-Jin.

Yoo-Jin terkesiap. Menyembunyikan kedua tangannya yang mulai dingin ke atas pangkuannya.

“Eum.” Mata lelaki itu terus mengawasinya hingga rasanya susah sekali sekedar untuk menelan ludahnya sendiri.

“Kalian sudah resmi jadian?”

Ingin sekali Yoo-Jin berteriak bahwa dengan siapa pun ia berhubungan bukan lagi urusannya. Dan kenapa ia harus mendapat tatapan tajam seperti seorang tersangka. Tapi lidah kelu Yoo-Jin malah berucap, “Ya.”

Diam-diam Eun-Hyuk meremas tangannya. Entah dia harus marah pada siapa. Pada gadis di depannya, Dong-Hae, atau pada dirinya. Semua ini salah. Kenapa ia harus memutuskan gadis ini. Kenapa harus Dong-Hae yang Yoo-Jin pilih. Kenapa Dong-Hae menjadi sahabat baiknya.

Di antara gemelut pertanyaan yang terasa memberontak di dadanya itu, tiba-tiba ponselnya berdering.

Eun-Hyuk memeriksa layarnya dan menemukan nama ‘Ikan Mokpo’ tertera di sana. Mendesah pelan sebelum mengangkat dengan nada biasa. “Eung?”

“Eun-Hyuk ah! Kau di mana? Aku baru keluar dari  gedung!”  Dong-Hae berteriak keras diantara gemericik air hujan yang kembali deras dan suara klakson mobil yang bersautan.

“Pulang saja dulu. Aku sedang ada urusan.”

“Kau tidak membawa mobilkan? Manager Hyung akan langsung pulang setelah ini. Kau tidak akan dapat jemputan. Di mana kau sekarang?”

“Biar saja. Biar saja aku naik kereta. Aku ada di kafe.”

“Kau gila? Hahahaha… Aku juga sedang dalam perjalanan ke kafe. Ayo bertemu. Aku akan mentraktirmu dan manager Hyung.”

“Aku sedang ada di kafe depan gedung SM. Kau akan ke sini.. Dong-Hae ya?” Eun-Hyuk meninggikan suaranya sembari melirik ekspresi Yoo-Jin. Seperti yang diduga, gadis itu langsung pucat setelah menyadari ia berbicara dengan kekasihnya.

Sekali-kali Eun-Hyuk ingin bermain dengan gadis ini. Tapi apa ia tega menyeret Dong-Hae ke dalamnya permainannya?

 

 

***

Note :

Hyuk kenapa jadi sedingin hujan disetiap ff yang saya buat yah ? Padahal ga ada maksud githu… #loh ‘=’

Saya berusaha meng-update blog setiap minggu ><

Dan ah.. kenapa ff yang berhasil saya buat belum ada cover sedangkan yang stuck sudah siap covernya ? -_-

Terakhir terima kasih bagi siapa pun yang membaca. Ada yang mau mereview agar saya tahu seburuk apa tulisan saya? 😉

Advertisements

11 thoughts on “Series [2] Unstoppable

  1. wooo… g nyanka ff cepet jg d update..
    aku kira yang bakal update duluan ff eunteuk.. aku senang.. hahahahah

    g pp cingu cover nya blom jadi jg
    yang penting tulisan nya*plakk

    ngbayangin mukanya hyuk yang dingin*mikirkeras
    kasian hyuk d sini*sini aku peluk hyuk
    itu hae udh jadian??
    hyuk mau main’n yoo jin? omigot jangan hyuk mainin aku aja*nglantur

    semangatt ya cingu…
    aku selalu menunggu ff mu.. hahaa

    cingu aku boleh minta pw ff kamu yang d pass g??

    • Sebenernya ni tulisan sudah selesai sejak kmren2 tp ragu buat nge-post..hehe

      aku masih bingung yoo-jin sebenerny bwt siapa, tp awalnya aku buat couple eunji~ :3
      tapi tak tega juga kalau liat muka polos2 minta d gamparnya hae kkk~

      aw! makasih

      itu bukan ff sih sebenernya. Cuma curhatan aku aja. Krn kemungkinan besar ada pembaca yang ‘berbahaya kalau tahu’ akhirnya aku protec XD

  2. Wah ini hyuk kasian banget ..
    Aq bingung harus mendukung yg mana ??

    Gimana ekspresi donghae klo tau hyuk laagi sama pacar’a di cafe ??
    Btw ini lanjutan’a mana lagii ?? Di tunggu looh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s