Ficlet [EunHae] : We!

eunhhaae

“Apa gunanya kau tanpa aku.”

Ada benarnya juga, dia bukan apa-apa tanpa Eun-Hyuk. Tapi Eun-Hyuk tanpa Dong-Hae juga apa enaknya, pikirnya bangga.

***

 

 

“Aku pulang!” seru Dong-Hae dengan senyum lebar seperti biasa. Senyum polos yang seakan hidupnya lancar tiada halangan. Senyum yang kata si bungsu Kyu-Hyun seperti penyakit menular. Dong-Hae selalu bisa membuat orang murung berubah tersenyum jika dia memasang senyum polos itu dengan wajah kekanakannya.

Kakinya yang tak terlampau panjang itu melangkah ke ruang tengah. Tak ada siapa pun di sana kecuali si tuan pemilik kucing abu-abu, Hee-Chul. Lelaki itu sedang menikmati nasi gorengnya yang mana Dong-Hae berpikir bahwa itu tidaklah mungkin  buatan tangan hyung-nya sendiri. Mungkin si koki Ryeo-Wook berbaik hati ke sini atas panggilan Hee-Chul yang tengah kelaparan.

Hee-Chul tampak sangat santai malam ini. Dengan piyama bermotif beruang ia menikmati sepiring nasi goreng dan drama picisan beserta kucing malas itu dipangkuannya. Siapa pun tak punya nyali untuk mengganggu Hee-Chul yang seperti ini. Kecuali satu orang.

“Hyung!” Dong-Hae meletakkan jaket musim dinginnya sembarang, lalu berhambur ke sisi Hee-Chul. Merampas paksa Heebum untuk ia taruh dipangkuannya sendiri.

“Dari mana saja kau?” Hee-Chul masih tampak tenang. Ia bahkan tak bereaksi apa-apa ketika Heebum mengeong protes karena telinganya dijadikan mainan adiknya itu. Jika saja yang melakukannya Kyu-Hyun atau Eun-Hyuk, Hee-Chul akan langsung melempar mereka jauh-jauh sambil mengumpat keras.

“Makan malam dengan Eomma dan Dong-Hwa Hyung.”

“Oh. Aku ke sini ingin menghabiskan pergantian tahun baru dengan kalian tapi dorm malah senyap seperti ini. Sial sekali aku.” gerutu Hee-Chul cepat hingga beberapa nasi berhamburan dari mulutnya.

“Kenapa tidak pindah ke lantai bawah. Mungkin di sana lebih ramai.”

“Sama saja. Mereka pergi entah ke mana dan tinggal Ryeo-Wook yang sibuk membersihkan dorm.”

Dong-Hae menghela napas sebelum membalas lirih. “Payah sekali.”

Pasalnya ia juga berniat untuk berkumpul dengan para member di dorm di malam pergantian tahun ini. Karena itu ia pulang lebih awal sembari menunggu member berkumpul. Bukan karena ia tidak suka tinggal di rumah. Hanya saja melihat beberapa hari ini member lebih sibuk dengan jadwal individunya membuat intensitas pertemuan mereka jarang. Dong-Hae ingin mereka kembali berkumpul bersama. Tapi sepertinya di malam special ini agak susah mewujudkan keinginannya.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja Hyung,” celetuk Dong-Hae setelah beberapa saat diam berpikir.

“Malas,” dengus Hee-Chul singkat.

Dong-Hae mencibikkan bibir. Ia sadar hyung-nya satu ini susah dirayu dan ia juga bukan perayu yang handal. Jadi ia memilih mengajak member lain.

Dirogohnya ponsel hitam miliknya dari saku lalu disentuhnya layar itu beberapa kali. Nada sambung terdengar dari ujung. Tak lama kemudian suara tenor khas Ryeo-Wook terdengar. “Ada apa Hyung?”

“Ryeo-Wook ah. Ayo jalan-jalan!” ajaknya sumringah.

***

Dong-Hae menghela napas berat seraya meniti lorong apartemen yang cukup sepi. Hampir tengah malam, orang-orang pasti sedang bersenang-senang di luar. Berbeda dengan nasibnya. Semua member telah ia hubungi namun masing-masing sudah punya rencana dengan siapa-mereka-menghabiskan-pergantian-tahun-baru.

Dong-Hae agak menyesal kenapa ia tak membicarakan ini dengan mereka di malam sebelumnya. Setidaknya mereka bisa menyempatkan waktu untuk berkumpul. Semenjak Lee-Teuk pergi menunaikan tugas wajibnya, Dong-Hae bertekad untuk menjaga kekompakan teman se-grupnya. Seperti yang Lee-Teuk pinta sebelum pergi. Kali ini ia merasa gagal.

“Hai!” Seseorang berseru padanya.

Dan di ujung sana, sesosok lelaki yang rambutnya dicat biru melambai dengan senyum lebar ke arahnya. Sepertinya ia tidak jadi kesepian malam ini. Dong-Hae pun ikut tersenyum.

“Apa?!” Eun-Hyuk kembali berseru dan baru tersadar bahwa ia sudah berada di tempat parkir. Lelaki pendek itu yang sudah menariknya paksa.

“Ayo kita jalan-jalan. Menunggu matahari pertama tahun ini di sungai Han sepertinya menyenangkan.” ucap Dong-Hae sekali lagi. Kali ini ia mengutarakan di mana tempat yang ia impikan di otaknya. Dan Eun-Hyuk balas menatapi dengan raut seperti kau-sudah-gila.

“Dong-Hae ya. Ini musim dingin.”

“Aku tahu.” Tidak menghiraukan ekspresi Eun-Hyuk saat ini, ia menyodorkan kunci mobilnya pada kawannya itu.

Salah satu hal yang paling menyenangkan keluar bersama Eun-Hyuk seperti inilah. Ia tak perlu repor-repot berbaik hati mengajukan diri untuk mengendalikan kemudi. Karena jika ia melakukannya Eun-Hyuk  pasti akan memasang wajah kau-mau-cari-mati?

“Haish menyebalkan.”  Meski dengan menggerutu Eun-Hyuk menurutinya. Jika itu Eun-Hyuk, maka tidak akan ada penolakan. Dong-Hae senang dengan fakta itu.

Mobil berhenti di perempatan jalan, menunggu lampu merah padam. Tepat saat itu Dong-Hae tak sengaja menemukan sebuah kedai makanan tak jauh dari pandangannya.

Seperti ada lampu 5 watt yang tiba-tiba menyala di atas kepalanya ia tiba-tiba berujar heboh. “Ayo kita beli ddukbokkie[1]!”

Eun-Hyuk memutar bola matanya malas lalu menjawab, “Mana dompetmu?”

“Uh?” Yang ditanya memasang wajah sepolos yang Dong-Hae bisa. Mungkin gadis-gadis di luar sana akan mengatainya imut dengan mata lebar seperti itu. Tapi bagi Eun-Hyuk, Dong-Hae persis seperti idiot. Dan idiot ini selalu lupa atau memang pura-pura lupa membawa dompetnya setiap mereka pergi. Tapi mungkin ia lebih bodoh dari Dong-Hae karena selalu terjebak dalam perangkap yang sama.

Eun-Hyuk yang sudah lelah akhirnya menyerah untuk keluar dari mobil dan membeli ddubokkie. Membiarkan Dong-Hae yang berteriak ingin membeli sendiri ddubokkienya. Eun-Hyuk mengendikkan bahu tak acuh. Ia tak akan mungkin membiarkan lelaki itu membelinya sendiri, karena ia tidak hanya akan membeli ddubokkie tapi semua yang ia lihat akan ia beli. Tidak peduli jika yang digunakan adalah uang hasil jerih payah Eun-Hyuk.

“Padahal aku juga ingin hoddeok[2],” gumam Dong-Hae yang masih setengah kesal dengan Eun-Hyuk yang hanya membeli ddubokkie untuk porsi satu orang.

“Jangan banyak bicara jika meminjam uang dari orang lain.” Ucapan Eun-Hyuk itu langsung membungkam mulut Dong-Hae. Meski lelaki itu masih mencibir pelan dengan bibirnya yang mengerucut.

Mobil menepi. Jalan masih lenggang dan taman di dekat sungai Han juga tak berpenghuni. Tidak heran memang. Manusia gila mana yang keluar pagi buta di tengah musim dingin seperti ini kecuali jika kau berpikiran layaknya anak lima tahun─yang beranggapan dengan melihat aliran sungai badan akan terasa hangat─.

Eun-Hyuk mendengus ketika menyadari anak lima tahun itu kini berada di sisinya. Sedang memandangi sungai Han dengan wajah kagum. Dong-Hae sudah seperti manusia gua yang tidak pernah keluar dari sarangnya, dan sekali keluar ia memandangi semuanya dengan penuh keheranan.

Dan tindakan kekanakan itu diikuti dengan pernyataan konyol Dong-Hae seperti, “Eun-Hyuk ah! Lihat! Kota jadi sedikit horor kalau di lihat dari sini.”

Eun-Hyuk pun menjawab datar. “Mukamu lebih horor Hae.”
“Ayo kita main bola salju!”

Berikutnya secara membabi-buta Dong-Hae melempari apa saja yang ada di bawah kakinya. Untung saja di sana hanya ada gundukan salju, bukan bongkah batu yang bisa memecahkan kepala Eun-Hyuk. Agak berlebihan, tapi ya, Dong-Hae bisa melakukan apa saja yang ia mau tanpa berpusing-pusing apa itu akan membahayakan orang lain. Yang pasti hampir semua benda yang bersentuhan dengannya akan rusak, termasuk badan orang.

“Oke stop stop! Aku lelah.” Eun-Hyuk mengangkat tangan pasrah. Napasnya terengah-engah. Mungkin karena faktor usia. Ia masih ingat dulu waktu kecil ia selalu menunggu musim salju. Musim di mana ia bisa bermain sepanjang hari di pekarangan rumah dengan salju.

“Satu kali lagi.” Sebuah bola salju itu tepat mengenai pipi kiri Eun-Hyuk. Si pelaku hanya menyengir puas.

“Aku lelah. Kita duduk saja.”

Melihat raut Eun-Hyuk yang berubah kusut berhasil meluluhkan hatinya. Dong-Hae akhirnya ikut terduduk di samping Eun-Hyuk. Membiarkan angin pagi yang beku menusuk kulit hingga nyaris mematikan persendian mereka jika saja mereka tak memakai jaket tebal yang berlapis.

“Kenapa harus ke tempat ini? Kenapa tidak di kafe yang hangat bodoh?” kata Eun-Hyuk setelah beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya.

“Kafe terdengar biasa. Tapi di sini.. lihat. Sungguh luar biasakan?”

“Maksudmu luar biasa dingin?” sela Eun-Hyuk kesal. Sesekali tangannya menggosok-gosok, berharap itu bisa sedikit menghangatkan dirinya.

“Hehe.. maaf. Aku hanya agak menyesal telah melalaikan janjiku pada Lee-Teuk Hyung.”

Eun-Hyuk mengerutkan kening. “Janji yang mana?”

“Janji menjaga para member. Hari ini seharusnya kita rayakan bersama. Tapi entah mereka ada di mana sekarang. Aku gagal mengumpulkan mereka.”

Suara tawa kecil Eun-Hyuk terdengar. Membuat Dong-Hae yang sejak tadi menunduk, mendongak heran.

“Harusnya aku yang merasa bersalah karena akulah yang dipercaya Lee-Teuk Hyung sebagai leader sementara,” ucap Eun-Hyuk sembari menerawang jauh ke seberang sungai.

“Mungkin sebagian orang berpikir tugasku hanya sebatas memimpin kalian di setiap wawancara. Atau orang yang mengaba-aba ditiap perkenalan kita. Tapi tidak untukku. Aku seperti menanggung berton-ton beras dipunggung.” Eun-Hyuk berhenti sebentar. Mentertawai perkataannya yang terdengar berlebihan. Sepertinya virus berlebihan Lee-Teuk ikut tertular didirinya.

Mendengar Eun-Hyuk mengungkapkan masalahnya membuat Dong-Hae tersenyum lembut. Menepuk bahu kawannya itu pelan. “Kalau begitu biarkan aku membantumu.”

Eun-Hyuk mendengus diantara rasa gelinya. Dong-Hae yang seperti ini terlihat lebih tenang dan melankolis. Eun-Hyuk berharap ia tidak membuat temannya ini menangis. Semua orang tahu Dong-Hae sangat cengeng. “Sebenarnya aku sudah cukup terbantu dengan para member. Mereka semakin dewasa sekarang.”

Dong-Hae mengangguk setuju.

“Kupikir ELF juga sudah dewasa. Mereka sudah tidak lagi mengikuti kita kalau kita jalan keluar.”

“Hahaha iya juga. Awalnya aku pikir mereka sudah tidak suka dengan kita lagi. Tapi ternyata mereka hanya mencoba memahami privasi kita.”

Dong-Hae tersenyum tipis memikirkannya. Diantara kehilangan dan perpisahan yang mereka lewati, ternyata masih ada kebahagiaan yang mereka dapat. Memiliki fans yang semakin tahu batas mana yang tidak boleh mereka loncati. Dan para member yang semakin erat dan saling mengerti. Mungkin ini adalah buah atas kebersamaan yang mereka pupuk bertahun-tahun.

Semua itu tak luput dari tangan Lee-Teuk sang ketua. Pria itu sukses memimpin adik-adiknya. Meskipun dia terpaksa kehilangan beberapa member.

Dong-Hae mendesah. Tersenyum kecut ketika menyadari ia merindukan saat dulu di mana member berjumlah lengkap.

Melihat keadaan yang mulai syahdu dan mata Dong-Hae yang sudah berair Eun-Hyuk cepat-cepat bersuara. “Apa yang kau inginkan tahun ini?”

“Eum.” Dong-Hae memiringkan kepalanya berpikir. “Menonton film dengan Eun-Hyuk. Makan bersama Eun-Hyuk. Jalan-jalan ke Lotte World dengan Eun-Hyuk. Belanja bersama-”

‘Tunggu tunggu. Kau menginginkanku? Apa di otakmu hanya ada aku?” tanya Eun-Hyuk dengan nada terkejut yang dibuat-buat.

Dan Dong-Hae mengangguk polos. “Kau sih akhir-akhir ini sibuk sendiri. Sering membatalkan janji kita untuk keluar.” ucap Dong-Hae sembari merenggut.

“Haish. Kalau begitu carilah wanita yang bisa kau ajak kencan. Usiamu sudah tak muda lagi Dong-Hae ya.”

“Kau pikir kau masih muda?” sela Dong-Hae tak mau kalah.

“Oh sorry. Sejujurnya aku sedang dalam masa pencarian jodoh.” Eun-Hyuk terkikik mendengar jawabannya sendiri.

“Baguslah. Kalau begitu aku mencari pacar setelah Eun-Hyuk bertemu dengan jodohnya. Lalu kita akan menikah bersama-sama.”

“Apa maksudmu?” Eun-Hyuk menatapi kawannya geli.

“Maksudku kau menikah dengan wanitamu, aku dengan wanitaku! Kan sudah kubilang aku ingin kita bersama sampai kakek-kakek, iyakan?”

“Hah. Kedengarannya seru. Bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita nanti.”

“Tidak mau!” seru Dong-Hae keras. “Aku tidak mau keturunanku nanti semakin pendek sepertimu.” lanjutnya.

“Kau pikir kau tidak pendek apa?!”

“Oh lihat! Matahari sudah terbit!” Dong-Hae berdiri lalu bergegas menyiapkan kameranya untuk memotret momen yang menurutnya menarik itu.

“Ayo kita ambil foto bersama. Kemari.” Sebelum Eun-Hyuk sempat memprotes lelaki pendek itu sudah menarik lengannya. Menyerahkan kameranya pada Eun-Hyuk agar kawannya itu yang mengambil gambar. Akan sangat buruk hasilnya jika ia yang melakukannya. Ia sadar sebagian foto yang ia ambil tak terlihat baik dan jelas. Jadi lagi-lagi biar Eun-Hyuk yang melakukannya.

“Apa gunanya kau tanpa aku.” gumam Eun-Hyuk yang dibalas tawa riang Dong-Hae.

Mereka mengambil beberapa gambar. Sebagian lagi meminta bantuan seorang paman yang lewat disekitar mereka.

Hari itu memang Dong-Hae belum beruntung mengumpulkan teman-temannya. Tapi dia bersyukur karena orang itu di sisinya. Kawan baiknya sepanjang masa. Ada benarnya juga, dia bukan apa-apa tanpa Eun-Hyuk. Tapi Eun-Hyuk tanpa Dong-Hae juga apa enaknya, pikirnya bangga.

Mereka kembali duduk di pinggir aliran sungai yang tenang itu. “Dong-Hae ya. Bagaimana kalau kita menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Sung-Min Hyung.”

Diam sejenak sebelum binar-binar di mata mereka saling bertemu. “Ide bagus! Aku akan menghubungi semua member. Kalau seperti ini mereka tidak akan menolak. Kau pintar sekali. Biarkan aku menciummu.”

“Apa?” Melihat bahaya yang akan menyerang Eun-Hyuk cepat-cepat beranjak dan menjauh dari lelaki itu.

“Ciuman pertama tahun ini. Biarkan aku memberikannya padamu.”

“Jangan gila Dong-Hae. Menjauh!”

“Aku menyayangimu Eun-Hyuk ah.” sahut suara riang Dong-Hae.

“Hentikan!” Teriak Eun-Hyuk kesetanan.

Dong-Hae yang seperti ini mirip orang mabuk yang bodoh. Mengerikan. Memaksa Eun-Hyuk untuk berputar, berlari sejauh mungkin dari jangkauannya. Dari kejauhan mereka tampak seperti anak-anak berbalut jaket tebal yang sedang bermain kejar-kejaran.

Jauh dari tempat itu, di ruang santai dorm yang sepi.

“Haish. Anak itu tidak menjawab.” Dilemparnya secara sadis ponsel hitam ke meja nakas. “Bagaimana ini Heebum. Harusnya tadi kusetujui saja ajakan ikan itu.” Hee-Chul mengerut dibalik selimutnya. Sambil memeluk erat satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di sana.

 

 

***

Note :

[1] Makanan snack yang populer di Korea, terbuat dari ikan, telur rebus, ditambah saus pedas yang sedikit manis.

[2] Mirip dengan pancake. Rasanya manis dan biasa dinikmati di musim dingin.

 

Oh… kenapa dua orang cunguk ini lagi yang gentangan di otakku?? -___-

padahal dalam proses pembuatan ff leeteuk loh.. Hah! *lempar eunhae ke sungai han*

=____=’

Advertisements

14 thoughts on “Ficlet [EunHae] : We!

  1. aku datang lg cingu…
    hahahag
    merasa terpanggil kalo ada ff nya eunhae..
    hahaha

    aku nunggu ff mu yang Unstoppable tp gpp terbayarr ko ama ff ini…
    ff nya bagus cingu..
    aku sukaa…
    hahahah…
    ayooo banyakin.ff eunhae nya*plakkk..maksa

    pokok nya d tunggu Unstoppable nya loh

    • hhahahah thanks dear ;~; /terhura
      aduuhhh pdhal minggu itu rencana mau nyelesein ff leeteuk kog yang keluar malah mrk.. dan dalam satu hari itu aku malah nulis eunhae huhuhuh

      thanks udah baca.. ^^
      aku coba konsen ke unstoppable tp ky nya ada gangguan …leeteuk dan hyuk maksa pengen di tulis XD

  2. ahh… baru bacaaa;;;—;;;
    maaf eonni;-;
    ini kereeen;;;–;;; donghae asdfghjkasfldaak donghae forever kid, ah eunhae foerever kid;—;
    dan apa itu “Kau pintar sekali. Biarkan aku menciummu.” puahahahahahahahaahah xDDDDDDD
    keren pokonya eon;-;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s