Series [1] Unstoppable

Unstoppable - Cover

 

 

Terkadang, ketika kau sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, kau akan terus berusaha menjaganya. Begitulah aku sejak bertemu denganmu. Aku tidak bisa berhenti untuk terus bertemu denganmu.

Malam itu menjadi malam paling indah bagi Eun-Hyuk karena di jam sepuluh semua pekerjaannya telah selesai. Untuk pertama kalinya ia bisa menikmati kasur empuk sebelum tengah malam lewat. Tapi ternyata Tuhan sedang ingin bermain dengannya ketika bocah perajuk itu datang mendobrak pintu kamar. Menarik lepas selimut dan menggoncangkan tubuhnya dengan heboh.

“Eun-Hyuk ah… Eun-Hyuk ah… ireona~”

“Sireo.”

“Ireona palli~ Eun-Hyuk ah. Ya! Ireona!”

Terkejut, Eun-Hyuk bangkit dan berdecak mendapati makhluk penghuni dorm atas itu nyengir tak berdosa manatapinya.

Kajja temani aku jalan-jalan.” Kali ini Dong-Hae menarik turun Eun-Hyuk dari atas kasur.

Mwohaek?!” erang Eun-Hyuk sambil mengacak kesal rambutnya sendiri.

Pasalnya hari ini dia benar-benar lelah. Lelah dengan jadwal padat yang tiada henti sejak matahari belum sepenuhnya muncul. Lelah saat ia lagi lagi kalah dan mendapat hukuman membersihkan piring sisa makan siang teman-temannya. Dan kelelahan itu bercampur kesal saat Kyu-Hyun dengan sengaja menuangkan air di wajahnya ketika ia mencuri waktu istirahat untuk tidur. Jadi tidak ada waktu menutup mata sejenak dan itu membuatnya kesal setengah mati.

“Sebenarnya aku ingin mengajak Hee-Chul Hyung, tapi dia sedang sibuk dengan Hee-Bum.” ucap Dong-Hae sambil memajukan bibirnya. Sedangkah Eun-Hyuk yang telah duduk di kursi samping kemudi mendengus. Mengira-ngira ‘sibuk’ yang dimaksud adalah menonton drama picisan sambil mengelus kucing abu-abunya yang tidak jauh malas dengan pemiliknya. Dan Dong-Hae tidak cukup berani untuk mengganggu Hyung anehnya itu.

“Kalau Sung-Min Hyung masih latihan untuk drama musikalnya, Ryeo-Wook di Sukira. Kang-In Hyung sudah keluar terlebih dahulu dengan teman-temannya. Shin-Dong Hyung kencan dengan Na-Ri Nuna, Si-Won masih di Hongkong. Zhoumi ada pemotretan dan Henry masih ada rekaman, jadi tinggal kau yang masih tersisa.” Dong-Hae menoleh pada temannya dan sekali lagi tersenyum lebar sebelum menghidupkan audi hitamnya.

“Kau melupakan Kyu-Hyun.” balas Eun-Hyuk datar.

Lelaki itu menyandarkan kepalanya ke kursi dan mencoba menutup matanya kembali. Sangking tak bertenaganya ia menyerahkan kursi kemudi pada Dong-Hae. Meski ini terdengar sama saja menyerahkan hidupnya yang berharga pada lelaki-paling-payah-mengemudikan-mobil itu.

“Tapi Oh Tuhan, aku benar-benar ingin menutup mataku sekarang. Tapi tolong jangan kau tutup untuk selamanya.” pintanya dalam hati sebelum tidur.

“Hahaha. Kau bercanda? Aku tidak ingin mengajak anak setan itu.”

“Maksudmu kau tidak ingin anak itu membuatmu menangis?” gumam Eun-Hyuk.

“Eum?” Dong-Hae menoleh ke samping. Baru ingin membuka mulut untuk menanyakan apa maksud menangis itu, namun orang yang ditanya sudah lebih dulu jatuh tertidur. Dong-Hae hanya mengangkat bahu acuh. Tak masalah jika teman seperjalannya itu tertidur, ia sudah hafal jalan tempat yang ingin ia tuju.

***

Eun-Hyuk merasakan tubuhnya diguncang berkali-kali. Siapa lagi yang suka berbuat kekanakan seperti ini kalau bukan.. “Tsh! Lee Dong-Haek berhentilah! Aku sudah bangun!” Eun-Hyuk mendelik ngeri dan Dong-Hae dengan santai melengos turun terlebih dahulu.

Eun-Hyuk mendesah sembari mengusap wajahnya frustasi. Dong-Hae selalu seperti itu. Selalu melakukan apa yang ia ingin lakukan. Bukan masalah jika saja apa yang dia lakukan tidak mengganggunya. Namun Dong-Hae bukanlah Dong-Hae yang tidak akan mendapat apa yang ia inginkan. Dan Eun-Hyuk terlalu lemah untuk menolak wajah memelas Dong-Hae. Pada akhirnya Eun-Hyuk berpikir Ah, anak ini sedang kesepian saja dan hanya butuh seorang teman. Jadi Eun-Hyuk akan berbaik hati menuruti kemauan temannya satu ini.

Yang Eun-Hyuk dengar pertama kali ketika ia membuka pintu mobilnya adalah deburan ombak dan angin beraroma asin. Melebar-lebarkan matanya dan menatap tak percaya pada pemandangan di depan. Segera di kejarnya Dong-Hae yang sudah duduk di atas pasir.

“Di mana ini?” Eun-Hyuk ikut menjatuhkan pantatnya di samping temannya.

“Eurwangni Beach.”

“Aku hampir tak percaya kau bisa membawa mobil sampai ke sini Dong-Hae ya.” ujar Eun-Hyuk dengan nada mencela.

Dong-Hae masih mempertahankan wajah tenangnya. Memandang kagum pada gugusan bintang yang berkelip terang di ujung laut. Bulan malam ini hanya terlihat separoh, membuat deburan ombak lebih tenang. Meski angin laut di malam hari tak bisa diabaikan dinginnya.

Eun-Hyuk menekuk lututnya dan memeluk dirinya sendiri. Menggerutu pelan, “Kau tidak bilang akan ke pantai. Aku jadi tidak mempersiapkan jaket tebal.”

Dong-Hae terkekeh. Dilepasnya jaket hijau lumutnya. Lalu menyampirkannya ke bahu Eun-Hyuk.

Eun-Hyuk cepat-cepat menolak dan melemparkan jaket itu ke muka Dong-Hae. “Tapi aku bukan gadis, bodoh.”

“Aku tahan udara dingin. Tenang saja.” katanya lagi, lebih lembut.

Matanya menatap nanar pada ombak-ombak kecil yang bergulung-gulung bergantian. Tentu saja ia kuat dengan udara dingin. Bahkan melewati guyuran hujan dengan jaket berlapis satu ia tak apa-apa. Dia pernah melewati malam dingin itu di bawah lampu taman. Berharap dengan otak bodohnya gadis itu akan datang.

Tapi kesetiannya tidak terbalaskan. Orang yang ditunggunya tidak datang meski Eun-Hyuk yakin pesan singkatnya sudah terkirim tepat ke nomor gadis itu. Pada jam tiga pagi ia baru sadar. Gadis itu sudah berubah menjadi sosok lain. Bukan lagi So Yoo-Jin yang manis dan selalu manja padanya. Bukan lagi So Yoo-Jin yang selalu memanggilnya saat ia dalam keterpurukan. Gadis itu sudah menemukan rumahnya yang lain. Rumah yang mungkin lebih terang dan lebih nyaman dari Eun-Hyuk.

“Hey.” Suara di sampingnya melemparkannya kembali ke alam sadar.

Dong-Hae melempar ekspresi datar setengah kesal. “Aku mengajakmu ke mari bukan untuk meratapi nasibmu kau tahu?”

“Eum.” gumam Eun-Hyuk malas.

Tubuhnya merosot berbaring dengan tangan sebagai alas. Meski itu tak menghindarkan pasir-pasir itu menyentuh rambutnya yang baru ia cuci pagi tadi. Namun Eun-Hyuk tak peduli. Rasanya beban di punggunya sudah terlampau berat untuk ia bawa. Ia hanya butuh waktu sebentar untuk beristirahat dan bernapas. Dan semuanya memang serasa lebih ringan ketika  langit hitam nan jauh di sana terlihat lebih dekat. Dapat dilihatnya dengan jelas awan-awan terlihat samar beriringan dan beberapa kali menutupi sebagian bintang. Bulan yang berbinar malu-malu. Eun-Hyuk lupa kapan terakhir kali ia melihat pemandangan langit setenang dan seindah ini.

“Ah bagus sekali.” ucapnya lega. Dengan mata terpejam dibiarkan angin dingin itu menggigiti wajahnya.

“Berhentilah bersikap seolah kau tidak apa-apa.”

“Apa?” Eun-Hyuk hampir tak percaya nada datar itu keluar dari mulut Dong-Hae. Jika sudah seperti ini temannya pasti sedang berbicara masalah serius.

“Ke mana saja kau malam kemarin? Kau sudah tidak ada jadwal kan?” Eun-Hyuk tertawa pelan. Seserius apapun, wajah Dong-Hae tidak akan bisa berekspresi seram. Wajah tampan yang membuat Kyu-Hyun rela menggadaikan seluruh alat hitam berisiknya demi mendapat wajah itu masih sama. Masih lembut dan menenangkan.

“Tidak. Bukan apa-apa. Hanya ada urusan kecil.” balas Eun-Hyuk seadanya.

Sampai sekarang pun ia masih sulit menceritakan masalahnya pada orang lain. Tidak terkecuali Dong-Hae. Baginya masalah pribadi tetaplah pribadi. Hanya ia yang berhak menyimpan dan orang lain tak perlu tahu. Tidak peduli jika orang lain berbuat balik di mana ia akan menceritakan semua masalah padanya. Misalnya seperti orang di sampingnya ini.

“Jujur saja wajahmu terlihat mengenaskan pagi tadi. Aku hampir mencegahmu untuk latihan bersama hari ini.” ungkap Dong-Hae.

“Jangan berlebihan Dong-Hae ya. Aku baik-baik saja, sungguh.”

Dong-Hae menelengkan kepalanya. Mendengus mentertawakan Eun-Hyuk. Temannya itu tak berubah. Menyimpan semua masalahnya dengan baik. Meski tak sedikit ia memarahi Eun-Hyuk untuk lebih terbuka padanya atau siapa pun. Lelaki itu tak berubah sama sekali. Setidaknya Dong-Hae selalu tahu, di balik tawa Eun-Hyuk tersimpan rahasia pahit di dalamnya. Dong-Hae selalu tahu tiap Eun-Hyuk sedih, segembira apapun Eun-Hyuk saat itu.

Dong-Hae menghela napas. Menyerah untuk membuka paksa mulut Eun-Hyuk.

“Okey. Kalau begitu bolehkah aku menceritakan sesuatu padamu?”

Dong-Hae bertanya dengan mata berbinar terang seterang bintang-bintang di atas sana. Sepertinya ia sedang senang. Eun-Hyuk pun ikut tersenyum senang. “Eum. Ceritakan saja kawan.”

“Sebenarnya aku sedang dekat dengan seorang gadis.” ujarnya pelan sambil tersenyum malu-malu pada laut.

“Oh? Benarkah?” Eun-Hyuk bangkit dari tidur-tidurannya.

Setelah sekian lama Dong-Hae menutup diri sejak putus hubungan dengan pacar terakhirnya satu tahun yang lalu, akhirnya Dong-Hae menemukan kembali gadisnya.

Eun-Hyuk sangat mengenal Dong-Hae. Ia tahu lelaki ini tidak akan pernah mencoba-coba jika ia sudah bilang dia suka dengan gadis ini. Dong-Hae adalah dambaan setiap wanita di dunia ini. Dia tipe setia. Pria yang akan berlari untukmu jika kau menelponnya tengah malam hanya karena butuh jemputan. Pria yang justru akan membuka tangannya lebar-lebar jika kau sedang mengomel marah. Pria yang akan tersenyum dan mengangguk patuh jika kau sedang mengomentari kebiasaan buruknya.

Dong-Hae nyaris sempurna dalam hal percintaan jika saja dia tidak terlalu bodoh untuk dibohongi kaum wanita yang memanfaatkan kepolosannya. Jadi Eun-Hyuk harus memastikan, wanita seperti apa yang kali ini Dong-Hae dekati.

“Siapa? Artis? Apa dia satu agensi dengan kita?”

“Calon artis kurasa.” Dong-Hae terkekeh pelan.

Merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Setelah memencet beberapa kali ia segera mengulurkan ponsel itu pada temannya. “Lihatlah. Dia cantikkan?”

Eun-Hyuk menerimanya dengan wajah penasaran. Mengamati beberapa detik sebelum matanya mendelik kaget. Sulit dipercaya. Kenapa Dong-Hae hari ini memberikan banyak kejutan untuknya?

“So Yoo-Jin. Namanya So Yoo-Jin.”

Eun-Hyuk mendongakkan wajahnya. Berbalik menatap Dong-Hae. Sebisa mungkin menahan ekspresi terkejutnya dan tersenyum normal. “Eum. Dia cantik.”

 

 

***

 

Baaahhh~ Niat awal pengen buat ficlet friendship ringan tapi kenapa menyimpang ke jalan lain gini duuh~  T^T

Thanks for reading~ 😉

Advertisements

4 thoughts on “Series [1] Unstoppable

    • Aw~ Chingu orang pertama yang coment di ff aku~ kkk~
      Thanks for reading sebelumnya 😉

      Iya..harusnya aku tamatin dulu baru aku publish yah. Kalau series gini berasa punya utang haghaghag

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s