Oneshoot [RyeoWook] : Silent Love

Silent Love     

by Cherry Hee

Summary: Lima tahun saling mengenal tidak selamanya membuat mereka saling mengerti. Ada kalanya salah satu dari mereka akan melukai yang lain. Atau tanpa sadar, mereka saling melukai satu sama lain.   

Ryeo-Wook kembali memutar tubuhnya ke sisi kanan tempat tidurnya, lalu berguling ke kiri. Balik ke kanan dan seterusnya berulang-ulang sampai dia lelah sendiri. Diliriknya jarum jam dinding yang terpasang di atas pintu kamarnya, menunjuk tepat diangka dua belas. Tengah malam dan dia masih belum bisa menutup matanya dengan damai.

            Tidak akan damai selama pikirannya melayang kembali kesatu minggu yang lalu. Kepada bayang-bayang seorang gadis yang selama hampir lima tahun menemaninya, melewati hari berat di masa SMP dan SMA-nya. Ya, nyaris lima tahun jika saja dia tidak merencanakan untuk pindah esok hari.

            Sebagai anak tunggal yang kedua orang tuanya telah berpisah dan hidup sendiri di negeri masing-masing, Ryeo-Wook terus memikirkan hal ini. Ibunya tinggal di Jepang dan akan segera pindah dengan keluarga barunya di Amerika. Sedangkan Ryeo-Wook sejak berusia lima tahun tinggal bersama ayahnya yang ekonominya lebih mencukupi ketika itu. Seperti bumi yang selalu berputar, kini kehidupan ayah Ryeo-Wook berubah susah. Perusahaan tempatnya bekerja hampir mengalami kebangkrutan dan sedang dalam masa pemulihan sekarang. Di sisi lain ibu Ryeo-Wook segera menikah dengan pria berkebangsaan Amerika. Sebagai ayah yang baik, ayah-Ryeo-Wook menyarankan agar anaknya mengikuti ibunya ke Amerika. Selain kehidupan yang lebih tercukupi, masa depannya juga akan lebih gemilang di sana.

            Bagaimana pun Ryeo-Wook terlalu berat untuk meninggalkan ayahnya yang tinggal seorang diri di Korea. Meski di sini masih ada paman dan bibinya yang baik, namun perekonomian keluarga mereka juga tidak lebih baik dari keluarga Ryo-Wook. Apalagi setelah ayahnya hampir di keluarkan dari perusahaan. Ryeo-Wook tak tega. Namun setelah melewati satu hari penuh kemuraman bersama gadis itu, Ryeo-Wook memutar pikirannya untuk cepat-cepat meninggalkan Korea. Hidup jauh dan tenang dari sosok yang kini berubah menyeramkan di pikirannya, sepertinya adalah pilihan terbaik.

           

***

            “Ryeo-Wook-ah!” suara gadis itu teramat semangat memanggil teman dekatnya yang sedang sibuk mencari buku di sela-sela rak sempit perpustakaaan sekolahnya.

            Suara melengking tinggi itu membuat beberapa siswa mendelik tak suka padanya, termasuk orang yang ia panggil.

            “Hwang Ji-Hyun! Apa yang kau lakukan?!” pekik Ryeo-Wook tertahan sembari menarik Ji-Hyun kesampingnya seakan menyembunyikan gadis itu dari tatapan tajam para siswa.

            Gadis berhidung mancung itu menyengir polos, masih dengan wajah berseri-serinya. Ryeo-Wook menyipitkan matanya menatap rupa gadis yang konon mirip dengannya itu. Cukup banyak yang bilang kalau mereka kembar, sampai menimbulkan kekisruhan karena sebagian mempercayai Ryeo-Wook dan Ji-Hyun berjodoh. Pernah dengar kalau orang berjodoh maka wajahnya tak jauh beda satu sama lain, kan? Mungkin itu terdengar kolot, tapi tidak setelah mulut lebar Hee-Chul yang mengemukakan statemen itu. Sama sekali tak penting, tapi sebesar apapun Ryeo-Wook mengabaikan godaan teman-temannya itu, semakin berderu tak tenang juga jantungnya.

            Ryeo-Wook mendengus dan berbalik, kembali menyibukkan dirinya dengan buku-buku tua. “Ada apa? Kenapa wajahmu senang begitu?”

            “Yah aku memang senang. Sangat senang! Kau tahu, setelah beberapa hari aku memikirkannya, ku pikir aku memang mencintainya.”

            Suara penuh riang itu mendadak membuat awan gelap di atas kepala Ryeo-Wook yang sewaktu-waktu bisa turun hujan. Dan Ryeo-Wook tak lagi bisa melanjutkan kosentrasinya mencari tugas yang dibebankan gurunya di kelas pagi tadi. Dia hanya membolak-balikkan tanpa satu kalimat pun masuk ke dalam otaknya. Masih berusaha sedikit mengabaikan gadis itu yang kini menatapnya dengan mata berbinar.

            “Benarkah?” gumam Ryeo-Wook setengah hati, masih memilih untuk tidak bertatapan balik dengan Ji-Hyun.

            “Ya. Aku selalu ingin.. dia berdiri di sampingku, hingga aku bisa melihatnya kapan pun yang aku mau. Mendengarkanku, ketika aku butuh pendengar. Menguatkanku ketika aku terjatuh. Dia orang yang cocok untuk melakukan hal-hal yang kubutuhkan itu. Sampai aku sadar, dia lah yang kubutuhkan. Aku selalu ingin berada di sampingnya. Bagaimana menurutmu, Ryeo-Wook-ah?”

            Seperti ada batu tak kasat mata yang menghimpitnya kelewat erat, mempersingkat helaan napasnya, Ryeo-Wook merasa sakit mendengar kata-kata teman dekatnya itu. Sakit yang tak mungkin disembuhkan oleh resep dokter. Karena sakit itu lebih menyerang ke perasaannya.

            “Bagus.”

            Ji-Hyun memajukan bibirnya dengan jawaban singkat Ryeo-Wook. “Cuma itu responmu?” ucapnya dengan kesal.

            “Lalu, jawaban apa yang kau inginkan memangnya?” balas Ryeo-Wook ikut kesal. Gadis di depannya ini tidak menahu soal perasaannya. Apa selama ini tak terlihat dari wajah Ryeo-Wook? Perhatiannya? Kurang apa dia selama ini. Lagi pula lelaki mana yang lebih sabar menerima gadis ajaib macam dia.

            Gadis yang selalu terlampau dalam meggunakan perasaannya. Jika dia sedih dia akan menangis tiada henti sampai Ryeo-Wook sendiri tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghiburnya. Jika kebahagian sedang sial menemuinya, maka gadis itu akan berteriak heboh layaknya orang yang sedang mendapat lotre. Masih jelas dalam ingatan Ryeo-Wook gadis itu berseru di ruang kelas ketika namanya terpilih sebagai pemilik nilai sempurna diulangan biologi. Dan parahnya, dia tidak sepenuhnya senang karena mendapat nilai terbaik di kelas tapi lebih kesebab bahwa dia sudah mampu mengalahkan Ryeo-Wook.

            “Harusnya kau menyemangatiku. Mendukungku. Atau kau suruh lelaki bodoh itu untuk mengakui bahwa dia memang suka padaku.” sungut Ji-Hyun penuh emosi.

Ryeo-Wook nyaris tertawa jungkir balik jika dia tak mengingat sedang berada di mana ia. Dengan senyum mencemooh, Ryeo-Wook megomentari perkataan Ji-Hyung yang terdengar konyol di telinganya itu. “Kau pikir lelaki mana yang menyukai gadis sepertimu, Ji-Hyun ssi. Kau lucu sekali. Hahaha….”

            Ryeo-Wook terus terkikik geli tanpa menyadari Ji-Hyun sudah angkat kaki dari hadapannya dengan mata berair.

            Lima tahun saling mengenal tidak selamanya membuat mereka saling mengerti. Ada kalanya salah satu dari mereka akan melukai yang lain. Atau tanpa sadar, mereka saling melukai satu sama lain.

 

            Sepanjang hari itu Ji-Hyun menghindar dari Ryeo-Wook. Sesuatu yang tidak biasa bagi Ryeo-Wook. Ketika kelas kosong karena beberapa guru sedang menghadiri rapat, kelas jadi terlihat lebih lenggang. Sebagian siswa masih tinggal di dalam, karena hujan semenjak pagi tidak membiarkan mereka keluar. Sebagian lagi duduk bergerumul di lorong-lorong atau berkeliaran dari kelas ke kelas.

            Dan Ryeo-Wook yang perasaanya sedang mendung semendung langit kala itu memilih untuk tertidur di atas lipatan tangannya di meja. Memojok dan menjauhkan dirinya dari teman-teman kelasnya. Agak aneh memang melihat Ryeo-Wook yang selalu tersenyum ramah tiba-tiba ditemukan mengasingkan diri. Jika ada yang bisa disalahkan, maka gadis itu yang pertama harus dituduh, pikir Ryeo-Wook.

            Dari tempatnya yang berada di sudut kelas, Ryeo-Wook masih bisa memperhatikan gadis itu sedang mengrobol dengan teman-temannya. Tidak semuanya gadis, beberapa ada anak lelaki. Dan gadis itu seperti biasa, bercerita dengan penuh semangat membuat orang disekitarnya tak kuasa menolak ceritanya. Lalu tertawa bersama seperti orang yang sudah akrab. Seperti tidak ada beban dalam hidupnya.

            Ryeo-Wook mendengus. Ji-Hyun selalu seperti itu. Dia bisa terlihat ramah dan dekat dengan siapa saja. Membuat Ryeo-Wook beberapa kali memikirkan kembali seperti apa keberadaannya di hati gadis itu. Apa seperti mereka yang membuatnya tersenyum lalu tertawa? Yang selalu mendengar ceritanya?

            Sebenarnya Ryeo-Wook sedikit berbangga hati tiap kali mengingat bahwa Ji-Hyun pernah menceritakan masalahnya dengan ibunya. Gadis itu menangis sesenggukan dan membuat Ryeo-Wook tak tahan untuk tidak memeluknya. Membisikkan kalimat yang dapat menenangkannya. Dan berujar bahwa semua akan baik-baik saja. Ketika itu Ryeo-Wook hanya tak suka melihat Ji-Hyun si gadis terlampau periang, menangis menyedihkan di depannya.

            Dan rasa kasihan itu mendorongnya untuk lebih memperhatikan Ji-Hyun, yang mungkin tiba-tiba kembali menangis. Tapi perlahan Ryeo-Wook sadar, dia sudah terlalu lama memperhatikan gadis itu dari kejauhan, sampai ia akan merasa asing jika gadis itu tak ada dijangkauan matanya. Ryeo-Wook hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.

            “Hi Ryeonggu!” suara  dan tepukan keras di bahunya membangunkan Ryeo-Wook dari alam setengah sadarnya.

            “Hee-Chul hyung.”

            Lelaki berkulit putih bersih yang membuat para gadis iri itu tersenyum lebar. Ryeo-Wook tak asing lagi dengannya. Hee-Chul adalah seniornya yang menempati lantai tiga. Hampir seisi sekolah kenal dengannya. Entah karena tingkahnya yang konyol atau lebih cocok disebut gila. Atau karena dia sering berjalan dari lorong kelorong. Yah, seperti orang yang tak ada kerjaan. Dan Ryeo-Wook mengenalnya karena mereka sama-sama anggota klub musik.

            Bibir Hee-Chul yang sejak tadi tertarik lebar, kini menyempit. Seperti sedang berpikir, ia mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke dagu. “Ada masalah apa?”

            Dahi Ryeo-Wook mengerut. Dalam hatinya ia heran bercampur kesal kenapa kakak kelasnya satu ini terlalu ingin tahu urusan orang lain. “Maksud Hyung?”

            Hee-Chul segera mengambil tempat di sisi Ryeo-Wook sambil menepuk bahu Ryeo-Wook sok ramah. “Katakan pada hyung. Jika Hyung mampu, pasti akan Hyung bantu.”

            Ryeo-Wook menggeleng. Menceritakan masalahnya dengan orang ini sama saja membeberkan perasaannya pada seisi sekolah. Bisa gila ia jika ada gosip macam-macam menyerangnya lagi.

            Seakan tahu pikiran Ryeo-Wook, Hee-Chul terkekeh pelan, “Tenang saja. Aku akan merahasiakannya dari yang lain. Ini rahasia kita berdua.”

            Ryeo-Wook mendengus, masih menganggap lelaki di sampingnya ini sedang bergurau.

“Apa ini ada hubungannya dengan Ji-Hyun?”

            “Apa?” Ryeo-Wook memandang Hee-Chul seakan sunbae-nya itu hantu penunggu toilet lantai bawah. Horor sekali. Bagaimana lelaki ini bisa tahu segalanya. Jangan-jangan dia bisa membaca pikiran. Atau masalahnya tercetak jelas dari guratan ekspresinya sekarang. Ryeo-Wook segera meraba wajahnya.

            “Hey hey. Jangan gugup dulu. Sudah kubilang ini rahasia kita berdua.” ucap Hee-Chul sembari kembali terkekeh. Mengibaskan poni rambutnya, lalu menatap Ryeo-Wook penuh arti.

            “Kau menyukainya kan? Lalu sekarang apa masalahnya?”

            Seperti ada batu yang berusaha masuk ditenggorokan Ryeo-Wook, sekali lagi tebakan lelaki ini benar. Sialan, umpat Ryeo-Wook dalam hati. Pada akhirnya ia menyerah untuk sedikit menyerahkan masalah ini pada Hee-Chul. Kalau dipikir-pikir masalah ini harus segera dikeluarkan, jika tidak rasanya akan segera meledak saja. Oke ini terlalu jauh. Dan semua ini gara-gara gadis itu. Ryeo-Wook jadi sedikit berlebihan.

            “Dia.. menyukai seseorang.” kata Ryeo-Wook lesu. Matanya tak teralih dari gadis yang sekarang berputar di kelas, sedang mencari tempat untuk tidur sepertinya.

            “Wow. Lalu, kau mundur begitu?”

            “Mungkin. Lagi pula, aku akan pergi dari sini, Hyung.” Ryeo-Wook tersenyum menyedihkan, membuat Hee-Chul mendengus tak tahan.

            “Kau akan pergi begitu saja meninggalkannya tanpa mengungkapkan perasaanmu? Apa kau bodoh?”

            “Sepertinya ya. Ya, aku bodoh. Tapi setidaknya aku mundur sebelum dia menolakku mentah-mentah Hyung. Sudah kukatakan dia menyukai orang lain. Mana mungkin aku maju ke dalam perang yang jelas-jelas sudah telihat kekalahannya?”

            “Apanya yang jelas? Bodoh.” Hee-Chul beranjak dari duduknya dengan wajah mengeruh. Berbeda jauh dengan awal ia datang tadi.

            “Semua belum jelas sebelum kau mengungkapkannya. Berhentilah jadi orang bodoh, Ryeo-Wook ah. Sudahlah, aku butuh istirahat untuk mengurus kalian. Bye.” Ryeo-Wook menatap kosong pada Hee-Chul yang melengos pergi. Ucapan Hyung-nya tadi membuatnya semakin tidak tenang.

            Tapi hidup terus berputar, dan ia harus memilih. Pilihannya sudah bulat.

 

***

            “Tidak ada yang tertinggal?”

            Ryeo-Wook memasukkan mp3 player-nya ke saku celananya lalu menatap balik pada ayahnya yang memandangnya penuh haru. Matanya terlihat memerah. Meski semua ini atas saran sang ayah sendiri. , Ryeo-Wook adalah satu-satunya anak yang ia miliki, jadi Ryeo-Wook sangat mengerti jika ayahnya agak berat melepasnya. Ryeo-Wook jadi tahu seberapa besar ayahnya menginginkan ia sukses kelak. Kesadaran itu membuat Ryeo-Wook seakan tertampar, ia juga ingin menangis.

            “Ayah. Aku berjanji akan sering mengirim surat. Aku akan bekerja di sana, dan sering mengirim uang untuk Ayah.” Ryeo-Wook mengusap pelupuk matanya kasar di balik pelukan hangat sang ayah.

            “Jangan terlalu mengkhawatirkan Ayah. Kau harus belajar yang rajin dan menjadi pria ynag lebih baik dari Ayah. Mengerti?” Ryeo-Wook mengangguk, dan kembali memeluk ayahnya untuk terakhir kalinya.

            Pagi ini, satu minggu setelah pernyataan Ji-Hyun bahwa dia menyukai seseorang, Ryeo-Wook memilih untuk pergi menjauh dari gadis itu. Selama ini dia terlalu berharap. Dan keesokannya Ryeo-Wook tak ingin terlalu larut pada harapan kosongnya itu. Ia menerima kenyataan setelah mendapat pesan singkat bahwa gadis itu akan mengutarakan perasaannya di depan seluruh penghuni sekolah. Gila memang. Ryeo-Wook jadi penasaran, siapa orang yang membuat gadis itu lebih gila seperti itu. Hee-Chul?

            Mobil tua milik bibi Ryeo-Wook melaju pelan diantara gang-gang. Jalanan tampak basah pagi itu karena sedari malam turun hujan sampai sekarang. Seakan langit ikut berkabung dengan duka yang Ryeo-Wook rasakan.

            Senyum Ryeo-Wook mengembang tipis ketika mobil melewati taman kecil, tempatnya bermain dengan gadis itu. Sore hari setelah mereka lelah melewati sepanjang pagi dan siangnya di sekolah, mereka selalu datang ke sini. Bermain ayunan dan menceritakan berbagai hal yang tak jarang membuat mereka larut dalam tawa. Senang rasanya mengenang kembali masa itu. Meski itu hanya kenangan, Ryeo-Wook sungguh bersyukur, ia megenal gadis ajaib semacam Ji-Hyun.

            Tiba-tiba seisi penumpang termasuk Ryeo-Wook terlompat ke depan, saat mobil berdecit karena direm mendadak.

            “Ya ampun! Gadis gila macam apa dia! Berhenti seeanaknya dan nyaris tertabrak!” suara bibinya memekik-mekik kesal diabaikannya ketika tahu siapa yang ada di depan sana. Ji-Hyun, gadis itu tidak se-senti pun memundurkan sepedanya dari muka mobil. Ryeo-Wook segera turun.

            “Apa yang kau lakukan?” ujarnya cepat. Perasaannya campur aduk, antara kesal, senang, bersyukur, dan tak percaya.

            “Apa yang aku lakukan?! Harusnya aku yang mengatakannya Ryeo-Wook ssi! Apa yang kau lakukan?!” gadis itu memekik. Mengabaikan rambutnya yang telah kuyup tersiram air hujan. Sepertinya dia mengendarai sepedanya dari sekolah. Benar-benar gila.

            Ryeo-Wook tersenyum tipis, terlalu tenang menghadapi gadis yang napasnya hampir putus itu. “Maaf, jika aku tidak mengatakannya langsung padamu. Tapi aku sudah menitipkan surat pada Hee-Chul Hyung. Kau tahu sendiri aku tidak pintar berucap atau memelas agar kau mau melepaskan temanmu ini untuk pergi ke Amerika dan-“

            Tubuh Ryeo-Wook hampir rubuh ketika gadis itu menubruknya keras. Jantungnya pun nyaris meloncat, mendengar tangis meledak dari bibir gadis itu.

            “Bodoh bodoh bodoh! Kau mau pergi sebelum aku bilang kalau aku menyukaimu? Bodoh! Kau mau mencampakkanku begitu saja?” ujarnya lirih di balik dekapan Ryeo-Wook.

            “Ap-apa?”

“Orang yang kusukai itu kau Kim Ryeo-Wook! Bukalah matamu!” setelah memukul dada Ryeo-Wook, gadis itu mengerang melepas diri dari dekapannya.

            Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya, Ryeo-Wook tertawa geli. Dia terus tertawa tanpa menghiraukan gadis yang kini sudah berhenti menangis dan mengerut kesal.

            “Kau anggap ini lucu. Apa maksudmu uh?”

“Sungguh.. Hahaha.. Maaf, aku memang bodoh, Ji-Hyun.” sambil tertawa bahagia Ryeo-Wook kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Terus mentertawakan kebodohannya.

            Mereka hanya butuh sedikit membuka perasaannya sampai yang satu menyadari akan kebodohannya. Kebodohan karena sudah bersembunyi dari cinta yang selama ini telah mengintai.

            “Aku juga mencintamu, Ji-Hyun.”

 

 ***

sekitar satu hari yang ku butuhkan dari membuat rancangan sampai proses penulisan. Untuk ide sudah cukup lama aku ingin membuat tema “Falling in Love with friend” kkkk~

Tahu lah, ff ini terinspirasi dari lagu itu beserta duo penyanyinya xD

Wait~ Mungkin kelihatannya saya seperti Ryeo-beige shipper.. Memang sih hahahaha. Tapi tenang aja Ryeowook stan, aku bisa memahami perasaan kalian kog 🙂 /sok ngerti

xD

Karena itu aku tidak menggunakan Hwang Jin-Seon atau beige di ff ini. Lagi pula aku bukan shipper yang berhip-hip hura dan memuja-muja setiap moment yang mereka buat. Aku cuma bersyukur Ryeowook punya teman wanita yang baik seperti beige unni. Dan agak geli juga tiap Heechul menggoda mereka. Dibeberapa waktu mereka memang terlihat kembar xD

Wowowow please Ryeo stan jangan timpuk saya. Saya lebih nge-shipper Ryeowook dengan ryeosomnia kog 😀

Dan terakhir terima kasih atas kunjungannya ke ff membosankan dan terlewat pasaran ini ~~^^

Jika ada yang berbaik berkomen saya terima dengan suka cita 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Oneshoot [RyeoWook] : Silent Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s