Oneshot [Yesung] : Coffe Latte and You

Coffe Latte and You

by Cherry Hee

.

“Shin Naa-Ra.”

Mendengar namanya disebut, gadis itu menoleh dan mendapati pemilik kafe melambai, memintanya untuk mendekat.

Dengan berat hati Naa-Ra meninggalkan pekerjaannya yang semula membersihkan meja-meja kafe yang baru ditinggal pembeli. Jam sudah menunjuk angka dua belas lewat, semua pelanggan bergegas kembali ke rumah. Selain udara di luar mulai beku karena musim dingin yang segera tiba, mereka juga lelah terduduk berjam-jam di sini. Sebagian diantara mereka adalah gadis-gadis remaja penggemar pemilik kafe yang tampan. Naa-Ra baru sadar, bahwa pemilik kafe itulah salah satu daya pikat kafe ini. Pesonanya mampu menarik perhatian gadis-gadis atau bahkan bibi-bibi beranak tiga sekalipun.

Naa-Ra berjalan mendekat dengan hentakan yang kentara dan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya yang merah alami. “Ada apa?”

Jong-Woon sang pemilik kafe memicingkan mata, tak suka dengan nada dingin yang menusuk di sela pertanyaan singkat itu. “Kenapa semarah itu?” tanya Jong-Woon balik.

Meski gadis itu teman lama dan ‘dekatnya’ tapi bagaimana pun dia bos di kafe ini. Apapun yang diperintah bos  harus diikuti si anak buah. Jadi tidak bisa gadis itumenghormatinya.

Seakaan membaca pikiran Jong-Woon dari balik raut wajahnya yang berubah mengerut tak ramah, Naa-Ra menghela napas. Kemudian bergumam, “Aku Hanya tak suka diganggu ketika aku bekerja. Maaf. Jadi, apa yang kau butuhkan, Bos?” kata ‘bos’ di buat lebih keras, seakan menyampaikan bahwa dia masih ingat lelaki di depannya ini adalah bosnya.

Mata besar Naa-Ra masih memandang Jong-Woon, ketika lelaki itu tiba-tiba salah tingkah. Wajah manis gadis itu sedikit merusak tatanan fungsi otaknya hingga ia terlihat seperti manusia dungu. Selalu seperti ini. Jong-Woon yang keras bisa mendadak berubah konyol di depan gadi ini. Memang siapa gadis ini.

Sesaat sadar dengan rasa groginya, Jong-Woon berdehem sekali, kemudian mengalihkan pandangannya dari gadis itu ke sebuah mug yang mengepul di atas meja.

“Coba lihat ini.”

“Cappucino?” Naa-Ra mengerjap polos. Masih belum mengerti apa yang diinginkan bosnya.

“Bodoh. Sudah dua minggu kau bekerja di kafe ini tapi masih belum mampu membedakan mana cappucino, mana latte?”

Naa-Ra mendengus kesal, lalu buru-buru menanggapi. “Mana aku tahu! Cappucino dan latte kan hampir sama. Apalagi latte yangmasih polos seperti ini.”

Agak tak terima lelaki itu mengatainya bodoh. Jong-Woon memang seperti itu. Kasar, pemarah, keras kepala, dingin dan hal-hal yang tak enak lainnya. Hanya saja lelaki ini masih bisa mengendalikan emosinya yang mudah meluap. Semisal dia marah, dia Hanya akan menatap tajam pada orang yang membuat suasan hatinya buruk. Berujar dengan nada dingin yang jika diandaikan seperti pisau tajam yang menggores jantungmu atau yang lebih parah dia Hanya kan diam sambil mengawasi dari balik mata elangnya. Hal menyeramkan itu jutru membuatnya lebih elegan dan keren. Dari pada orang lain yang akan bertindak bodoh semisal membentak-bentak dengan nada tinggi atau menendang kursi seperti yang Naa-Ra sering lakukan saat marah.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Jong-Woon menggaruk belakang lehernya, bibir melengkung malu-malu.

“Apa?” Naa-Ra berujar singkat, meski dahinya mengerut penasaran.

Disisi lain agak heran dengan perubaHan sikap Jong-Woon yang express. Meski mereka pernah ‘dekat, tapi dia selalu takjub dengan bagaimana bisa lelaki ini cepat merubah suasana hatinya. Berbanding terbalik dengannya yang terlarut dalam kenangan buruk berminggu-minggu, hingga hampir membuatnya depresi. Naa-Ra jadi yakin, di saat dia berjibaku menghapus bayangan yang terlampau menempel di perasaannya, lelaki ini pasti sudah melupakannya dalam hitungan hari, atau bahkan jam, menit lebih parahnya. Memikirkan hal ini membuat suasana hati Naa-Ra memburuk. Dan ini pekerjaan yang sulit untuk mengganti suasana buruk jadi kembali normal. Apalagi penyebab perasaan buruknya itu sedang berdiri di depannya.

“Perhatikan oke.” Naa-Ra kembali memperhatikan tangan-tangan kecil itu mulai bergerak.

Awalnya Jong-Woon meraih gelas kecil bersisi lancip yang berisi susu. Lalu menuangkannya perlaHan ke atas milk-foam yang terlihat lembut menutupi atap mug putih merah jambu itu. Tersadar apa yang akan dilakukan Jong-Woon, Naa-Ra cepat-cepat berkomentar. “Kau akan membuat latte art?”

Mendengar nada tak percaya agak mencemooh, Jong-Woon mendesis tak suka. Mulutnya membuka ingin bersuara, namun ia kalah cepat dengan gadis itu yang kembali mencela, “Aku hanya tak percaya saja kau bisa membuat latte art. Membuat latte-nya saja kau tak bisa. Kau tak tahu takaran ekspreso dan milk-nya Jong-Woon-ssi.” Jong-Woon melirik dalam diam pada gadis yang kini terkikik di balik mulutnya yang tertutupi tangan.

Mencoba mengabaikan, Jong-Woon kembali sibuk pada mug latte dan susu di tangan kanannya. Dituangakannya perlaHan susu ke atas busa lembut itu, menarik garis dari ujung cangkir ke ujung lainnya. Terbentuklah garis panjang dengan ujung satu semakin menyebar seperti membentuk bulatan. Lalu menuangkan susu sekali lagi, di tengah gambar bulat itu. Dan terlihatlah gambar yang ingin dibuat Jong-Woon. Naa-Ra tak tahu, apa gambar itu sudah benar sesuai kaidah para bartender, namun bagi mata awamnya gambar itu nyaris sempurna.

“Bagaimana? Baguskan?” Jong-Woon tersenyum lebar sembari menepuk tangannya bangga.

Ryun-Hee mengangguk pelan, berusaha menaHan gelak tawanya melihat lelaki di sampingnya begitu bangga dengan buah karyanya. “Bagus.” jawabnya singkat.

“Bagus?” Jong-Woon mengerutkan dahi seakan sedang berpikir keras. “Tidak adakah kata yang lebih.. dari sekedar bagus?”

Jong-Woon menoleh, menatap si gadis dalam. Meski agak sedikit takut, Naa-Ra memberanikan diri balik menatap lelaki itu dari balik manik kecoklatannya.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kau tidak hanya sekedar pamerkan?”

Jong-Woon mencelos. Dia tidak pernah menduga gadis itu akan langsung bertanya tepat sasaran seperti ini. Naa-Ra sudah jauh dikenalnya sejak bangku SMA. Dia adalah gadis sederhana yang lebih senang mendengar curhatan teman-temannya dari pada mengutarakan isi Hantinya sendiri. Kelembutan serta kebaikannya meluluhkan hati Jong-Woon hingga pemuda itu berani mendekat dan menarik benang tak kasat mata yang membuat gadis itu semakin menempel padanya. Naa-Ra jatuh hati, rasa yang juga dialami Jong-Woon.

Maka mereka menjalin hubungan, layaknya pasangan lain, mereka tersenyum bahagia dan menangis kesal di waktu berikutnya. Tapi mereka tak benar-benar berpisah. Sampai Jong-Woon yang sudah cukup berpikir tentang kebahagiaan orang tuanya, berencana mencari pekerjaan ke kota Seoul. Jong-Woon merasa dia belum pantas untuk menjadi pendamping Naa-Ra. Gadis itu terlahir dari kalangan yang lebih tinggi darinya. Jong-Woon rendah dan seperti tersingkir. Meski Naa-Ra tak pernah memikirkan hal ini karena gadis itu mencintainya dengan sungguh-sungguh.

Mungkin Jong-Woon terlihat kejam, tapi dia tak punya pilihan. Sebagai anak yang paling tua, dia harus siap mengganti beban ayahnya untuk bekerja. Dan begitulah Jong-Woon, lebih memilih keluarganya dari pada gadis yang dicintainya.

Dua minggu lalu takdir kembali mempertemukan keduanya. Gadis itu mendatangi kafenya, meminta pekerjaan. Jong-Woon sempat mendengar dari Jong-Jin adiknya -karena Naa-Ra menceritakan kisahnya pada adiknya bukan dengan dia- bahwa keluarga Naa-Ra sedang dalam krisis. Restoran ayahnya dilanda gulung tikar sejak ayahnya mabuk-mabukkan karena terlalu merindukan istrinya yang meninggal.

Tentu saja saat itu Jong-Woon merasa dirinya berdosa. Bagaimana pun gadis itu pasti kesepian melewati penderitaan yang beruntut. Naa-Ra anak satu-satunya dikeluarganya. Dan sejak mereka menjalin kasih, Jong-Woon lah tempatnya bersandar setelah ibunya. Setelah dia pergi, lalu ibunya meninggal, Naa-Ra hanya tinggal bersama ayahnya yang terkenal bertempramen. Jong-Woon tak bisa membayangkan betapa tersiksanya gadis itu.

“Memang apa yang kau inginkan?” Jong-Woon balik bertanya.

Naa-Ra mengerjap beberapa kali. Lalu mendengus tanpa segera menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Aku akan menuruti satu permintaanmu.” Naa-Ra kembali mendongak, mencari senyum mengejek atau mata jenaka milik Jong-Woon. Tapi dia tak menemukannya. Nada serius itu seserius wajahnya, meski matanya lebih bersinar harap. Tapi apa yang diharapkan lelaki ini.

“Apa maksudmu?”

Jong-Woon menarik napas panjang lalu melepasnya hati-hati, seakan apa yang akan dikatakannya bergubungan dengan sesuatu yang sensitif. Dan benar saja sesuai dugaan Naa-Ra. “Apa kau ingin kembali padaku?”

Naa-Ra membelalak. Bukan topik sensitif ini yang ia tebak. “A-apa?” Naa-Ra nyaris kehilangan suaranya.

Sejak awal pertemuan mereka dua minggu yang lalu, Naa-Ra tak mau tahu apa mantan kekasihnya ini telah menambatkan hati pada gadis lain. Kehidupan keras yang sebelumnya ditanggung Naa-Ra sedikit banyak membuat sikapnya berubah. Ia menjadi gadis yang lebih kuat, tegar dan tak mudah percaya dengan orang. Sebisa mungkin dia juga menghapus kenangan masa lalunya, termasuk Jong-Woon. Baginya masa lalu Hanya akan membuatnya lemah. Dan begitulah Naa-Ra ketika bertemu dengan Jong-Woon. Gadis itu menganggap dua minggu lalu adalah pertemuan pertamanya dengan Jong-Woon, tanpa menghiraukan tiga tahun masa lalunya.

“Jika aku memintamu.. kembali padaku. Apa kau masih mau menerimaku?” Meski Jong-Woon terlihat sekali gugup, mata itu tetap menatap Naa-Ra. Penuh keseriusan dan harapan.

Hingga Naa-Ra yang pertama kali membuang muka, memutus kontak mata mereka. “Kenapa?” tertawa getir lalu melanjutkan suaranya yang mulai bergetar. “Kenapa harus aku? Kau tahu aku sudah Hancur. Kau tahu aku sudah menghapusmu dari pikiranku. Kenapa kau seenaknya datang lalu pergi. Dan sekarang kau memintaku untuk membuka pintu yang sudah ku tutup rapat?” ucap Naa-Ra tenang namun penuh emosi.

“Aku pergi bukan tanpa sebab. Aku menyiapkan diriku untuk menjadi lebih baik saat mendampingimu kembali.”

“Tapi kau tidak pernah menyuruhku menunggumu!” sentak Naa-Ra. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Membuat Jong-Woon tak taHan untuk memeluk dan mengucapkan kata menenangkan seperti yang dulu ia lakukan saat gadisnya menangis. Tapi jika gadis itu menangis karenanya, apa yang bisa si bodoh itu lakukan.

Mendengarkan gadis itu semakin terisak, Jong-Woon hanya mampu mengepalkan kedua tangannya. “Aku.. Aku Hanya tak ingin mengikatmu. Menunggu adalah hal yang membosankan, dan lagi aku tak tahu kapan akan kembali. Awal tahun ini, aku sudah yakin dengan diriku yang telah mapan. Aku mencoba menemuimu, tapi yang kudengar dari tetanggamu kau telah pindah dari Cheonan. Aku sempat frustasi, tapi aku masih yakin jika kita berjodod maka kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Aku berdoa dan berdoa, lalu kau datang tiba-tiba. Jadi katakan padaku, apa yang kau inginkan sekarang.”

Naa-Ra nyaris menangis keras saat mata setajam elang itu melembut. Dia tak terpancing dengan kemarahannya. Lelaki itu, dia masih sama. Lembut dan terlampau sabar menghadapinya.

Naa-Ra menggeleng sembari menundukkan wajahnya yang semakin basah. Ditengah isakannya dia berujar lirih, “Aku tak tahu.. Aku Hanya butuh.. tempat sandaran. Aku Hanya butuh.. teman.”

Seperti film-film kelabu yang tersusun dikehidupannya, gadis itu seakan melihat betapa bahagia ia dimasa kanak-kanaknya. Saat ayah ibunya masih menemani. Dia tumbuh seiring perekonomian keluarganya yang semakin meningkat, namun itu justru membuatnya semakin kesepian. Ayah ibunya terlalu sibuk. Lalu lelaki itu datang, membawa keHangatan sendiri. Mendengar dan menemaninya. Lelaki itu sudah seperti pohon teduh, yang sewaktu-waktu dapat Naa-Ra datangi.

Dan film itu berubah gelap, ketika Jong-Woon pergi. Takdir seakan kejam padanya hingga nyaris tak memberi ruang untuk Naa-Ra bernapas. Semua pergi dan hidupnya  kembali sendiri.

Perlahan Jong-Woon menarik tangan gadis itu. Membiarkan Naa-Ra menangis dalam dekapannya. Rasa sesak menyelimutinya, seakan ikut merasakan beban gadis itu. Tapi dia bersyukur, gadisnya telah kembali. Naa-Ra kembali dipelukannya, dan bertekad tak akan melepasnya untuk kedua kali. Jong-Woon akan melindungi gadis itu semampunya, selamanya.

***

            “Emh. Kau tidak benar-benar membuat latte ini sendiri kan?” tanya Naa-Ra setelah meyeruput latte yang sebelumya menjadi percobaan Jong-Woon.

Melihat bekas putih kecoklatan di atas bibir gadis itu, tangan Jong-Woon terulur menyekanya. Semburat kemerahan seketika tampak di kedua pipi gadis itu. Jong-Woon terkekeh sembari berujar, “Tentu saja tidak. Aku masih belum bisa membuatnya. Aku baru belajar latte art akhir-akhir ini. Dan kau orang pertama yang menikmati latte art hatiku.”

Mengabaikan seringaian menggoda Jong-Woon, Naa-Ra mendengus. “Kenapa belajar latte art sebelum bisa membuat lattenya?”

“Kupikir lattenya sudah lengkap.” Jong-Woon tersenyum penuh arti, membuat gadis itu memandangnya penasaran. “Ekspreso yang kental dan kuat melambangkan aku. Milk yang lembut setelah melewati proses panjang steam itu adalah kamu. Jadi, tinggal menghias latte art diatasnya dengan bahan cinta.” Jong-Woon berkedip, Naa-Ra terkikik malu. Lelaki itu tak bisa berhenti membuat pipinya bersemu.

Tanpa mereka sadari derap langkah dari belakang mendekat. “Jong-Woon Hyung. Apa kau tahu latte… Yak! Apa yang kau lakukan pada coffee latte ku!”

“Ups! Ayo, aku antar kau pulang!”

Naa-Ra yang belum mengetahui situasi hanya mengekor ketika Jong-Woon menariknya keluar dari kafe. Meninggalkan Jong-Jin bersama latte-nya yang nyaris habis. “Sial.”

 

***

 

Advertisements

8 thoughts on “Oneshot [Yesung] : Coffe Latte and You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s