Fanfiction Henry : Trap [chap 1]

– Trap –

by Cherry Hee

Summary :

Ketika cinta yang tak sopan datang tiba-tiba.

Dan ketika hati telah menerimanya,

tapi cinta yang diterimanya salah!

Hingga dia harus terperangkap dalam cinta yang membingungkan

bad summary ye -__-

*sebenernya masih pengen di simpan di folder ‘ff belum kelar’ tapi sayang juga kalau ninggalin blog terlampau lama xD

untuk judul sepertinya harus diganti :/ ‘Trap agak umum sekarang ya. Karena itu belum ada cover ff nya ūüôā

Selamat menikmati~

 

Chapter 1~

 

KESEPULUH jemarinya menekan-nekan tuts piano, menghasilkan nada berirama yang memenuhi ruangan. Kedua matanya tertutup menikmati setiap nada yang ia buat. Nada lembut sarat akan kesepian, berbaur dengan kesunyian. Henry, pemuda yang sedang  memainkan pianonya itu sekarang memang sedang kesepian.

Henry baru saja kembali dari Kanada setelah menyelesaikan kuliahnya. Sedang menikmati liburan dan mencari informasi untuk melanjutkan studynya ke salah satu universitas yang telah ia pilih saat tiba-tiba kakaknya menelpon dan memintanya pulang. Pemuda berkulit putih dan berambut pirang itu pun langsung terbang ke Seoul, tempat keluarganya tinggal. Ia memang sudah rindu dengan keluarganya, jadi tak ada alasan untuk menolak permintaan kakaknya. Meski ia sendiri belum tahu kenapa kakaknya memanggilnya.

Tapi sayang tak ada penyambutan atau pelukan hangat seperti yang ia harapkan. Rumah itu sepi sama seperti saat ia pergi tiga tahun yang lalu. Hanya ada beberapa pelayan rumah yang hilir mudik mengerjakan tugasnya masing-masing. Membuat Henry sedikit menyesal akan keputusannya pulang.

Henry masih menikmati permainan musik kesepiannya saat pintu ruangan mewah itu terbuka. Seseorang pemuda lain yang lebih tinggi dari Henry masuk dan tersenyum saat mendapati saudaranya sudah berada di sana.

“Ah mochi-ah. Permainanmu semakin baik saja ya,” ucapnya lalu bertepuk tangan keras memberi¬†aplause¬†pada permainan Henry yang memukau. Meski itu hanya permainan sederhana, Lee Teuk tidak yakin ia bisa memainkan piano sesederhana itu. Ya, karena dia buta nada.¬†

Henry segera tersadar dan tersenyum saat tahu kakaknya sudah berdiri di sisinya.

“Lee Teuk¬†hyung.” Lalu dipeluknya erat kakaknya itu. Tanpa kata-kata dan hanya dengan pelukan itu Henry seakan memberi tahu bahwa ia sangat merindukan kakak satu-satunya itu.

Hyung¬†kemana saja. Aku hampir kembali pulang ke Kanada kalau saja¬†hyung¬†tidak segera pulang,” ujarnya sambil cemberut menatap Lee Teuk. Ia selalu seperti ini jika sudah berhadapan dengan kakak atau ibunya. Sifat manjanya akan keluar. Mengingat ia sebagaimagnae¬†di keluarga, jadi ini wajar.

“Maaf ya.¬†Hyung¬†benar-benar sibuk seharian ini.¬†Eomma¬†dan¬†appa¬†sedang pergi ke jepang. Rumah jadi sepi, deh.” Lee teuk ikut terduduk di samping Henry, berhadapan dengan piano. Setelah melonggarkan dasi dan melepas dua kancing kemeja putihnya, tangannya gatal untuk ikut menekan tuts tuts piano putih itu.

“Kenapa tiba-tiba hyung memintaku untuk pulang?” tanya henry sambil memperhatikan kakaknya yang sedang memainkan lagu sumbang.

Lee Teuk terkekeh pelan lalu menoleh ke Henry yang masih saja cemberut menatapnya. “Kenapa? Apa¬†hyung¬†mengganggu liburanmu?”

“Tidak mengganggu, tapi sangat mengganggu.,” desah Henry. ” Ck, sudahlah katakan saja apa¬†hyung¬†yang inginkan dariku? Jika¬†hyung¬†memanggilku untuk mencarikan seorang wanita cantik di luar sana maaf-maaf saja. Aku tak mau.”

“Untuk apa¬†hyung¬†memintamu mencarikan seorang¬†wanita, kalau¬†hyung¬†saja tahu kau tidak punya kekasih sampai sekarang. Haha..” Lee Teuk tertawa pelan mendengar pernyataan adiknya yang menurutnya konyol. Membuat henry tak bisa menahan untuk meninju bahunya.

“Katakan saja apa maumu!” erang henry kesal.

“Oke oke, Henry.¬†Hyung¬†punya satu permintaan padamu.” Lee Teuk menghentikan permainan pianonya. Lalu menoleh dan menatap Henry yang duduk di sisinya. Raut wajahnya terlihat serius, hingga Henry menyipitkan matanya memikirkan hal terburuk yang akan Lee Teuk minta darinya.

“Hyung ingin kau bekerja di perusahaan.” Seketika mata sipit Henry melebar.

Apa-apaan. Bekerja di perusahaan adalah pekerjaan terburuk yang tidak pernah ia inginkan. Henry tahu posisinya sebagai anak pemilik perusahaan besar di Korea, membuatnya was-was mempersiapkan dirinya jika sewaktu-waktu ia juga dibutuhkan di perusahaan. Tapi Henry tidak pernah sekali pun menginginkan posisi itu. Bahkan posisi apapun  yang akan ia dapat di sana.

Hyung. Kenapa?”

Lee Teuk mendesah berat. Ia sudah menebak ekspresi apa yang akan Henry tunjukkan jika ia mengutarakan permintaanya ini. Penolakan. Jelas adiknya akan langsung menolaknya.

Lee Teuk menghela napas panjang lalu mencoba menjelaskan, “Kau sudah besar Henry.¬†Hyung¬†yakin kau bisa melakukannya. Kau tahu kan kalau¬†hyung¬†tidak pantas berada di posisi ini.¬†Hyung¬†bukan anak-”

“Hyung!” henry cepat-cepat menyela ketika tahu apa yang ingin¬†hyung-nya katakan.

“Henry. Dengarkan¬†hyung¬†dulu. ” sinar mata Lee Teuk yang tadi terlihat tegas kini melembut. Lee Teuk seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja untuk mengatakan itu. Karena ini kenyataannya, “Pada kenyataannya hyung bukan anak kandung¬†appa.” ucapnya pelan.

Lee Teuk menunduk sejenak. Sekeras apapun ia mengatakan baik-baik saja, ternyata ada sebersit rasa sakit saat dia  mengucapkan kata itu. Mungkin karena itu keluarga Lau tidak pernah mengungkit masa lalunya. Dia sadar keluarga Lau sudah baik hati menampungnya dan memberi kasih sayang penuh.

Pada awalnya ia hanya anak kecil kumuh yang sedang kedinginan di depan gerbang keluarga Lau. Dia tak tahu siapa namanya, asal-usulnya, dia lupa segalanya karena sebuah kecelakaan telah merenggut ingatannya.

Anak kecil malang itu sempat tinggal di rumah penolong pertamanya, tapi bukan rasa belas kasihan yang ia dapat namun justru penyiksaan. Anak itu dipaksa bekerja siang malam demi mendapat selembar uang untuk memenuhi kebutuhan si penolongnya. Hingga akhirnya anak itu berhasil kabur dan bertemu dengan Tuan Lau yang tidak ragu untuk mengangkatnya sebagai anak. Nyonya Lau juga menerimanya dengan tangan terbuka karena ketika itu ia juga sedang mendambakan anak kecil.

Dan sejak saat itu ia hidup sebagai Lee Teuk. Nama Lee Teuk yang berarti special. Bagi Tuan dan Nyonya Lau, Lee Teuk memang hadiah special dari Tuhan untuk meramaikan rumah mereka yang masih sepi anak.

Hyung,” panggil henry pelan melihat kakaknya yang masih saja tertunduk diam. Henry sendiri tak pernah mengungkit masalah ini karena Henry tidak pernah suka. Apapun masa lalu Lee Teuk, Henry menerimanya. Ia justru bersyukur keberadaan Lee Teuk di sampingnya. Lee Teuk sebagai kakak yang dewasa dan selalu bisa membimbingnya.

“Henry.” Lee Teuk kembali menyunggingkan senyum yang selalu meyakinkan Henry kalau Lee Teuk orang yang sangat baik dan perhatian.

“Henry sudah cukup besar untuk mengganti posisi hyung. Henry kan anak pintar jadi henry akan cepat belajar lalu bisa mengganti posisi¬†appa,” ujar Lee Teuk sambil mengusap-usap pelan rambut adiknya. Hal yang sama yang selalu dilakukan ibunya saat menenangkan Henry kecil yang sedang sedih.

“Tapi¬†hyung! Aku tidak pernah menginginkan bekerja di perusahaan. Selama ini aku percaya¬†hyung¬†sudah baik di perusahaan dan melanjutkan posisi appa. Aku bahkan tidak marah jika¬†hyung¬†mengambil semua aset perusahaan. Justru aku akan marah jika¬†hyungterus membelai kepala ku seperti ini. Aku bukan anak kecil lagi!” kata henry kesal sambil menjauhkan tangan Lee Teuk dari kepalanya.

Lee Teuk mendesah berat. “Ck! Apa yang kau katakan.¬†Hyung¬†tidak akan mengambil apapun yang awalnya sudah menjadi milikmu. Selama ini¬†hyung¬†hanya merawat sambil menunggu waktumu untuk melanjutkannya.”

“Tidak tidak,” Henry beranjak dari duduknya. Memilih menjauh dari tatapan kakaknya. Semua hal buruk sudah terlintas dibenaknya saat ini. Seperti film buram yang tiba-tiba mengganggu film kehidupan indahnya saat ini.

Bekerja di perusahaan lalu dipaksa berhenti memainkan pianonya. Itu adalah film buram yang kini mengintainya.

Hyung¬†tahu musik adalah mimpi dan keinginanku selama ini. Cukup ijinkan aku bermain piano,¬†hyung¬†sudah mengabulkan keinginan terbesarku. Di situ lah posisi yang paling nyaman dan yang paling kuinginkan,” ucap henry menggebu sambil menunjuk tempat duduk Lee Teuk sekarang. ”

Hyung¬†mengerti Henry, tapi- ”

“Ya. Ku pikir¬†hyung¬†orang yang paling memahamiku dan mengerti semua keinginanku. Tapi ternyata tidak.” Henry sadar raut wajah Lee Teuk terlihat antara sedih dan kecewa. Namun tidak membuat Henry mencabut kata-katanya kembali.

“Aku tidak suka. Dan jangan menyuruhku melakukan hal yang tidak ku suka. Apalagi menyuruhku menjauh dari hal yang ku suka.” setelah mengucapkannya dengan tegas Henry pergi keluar. Langkahnya lebar dan menghentak.

Kini Henry benar-benar marah padanya. Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang, karena Lee Teuk tahu benar bagaimana adiknya. Henry memang keras kepala. Ia harus sabar-sabar menunggu saat itu tiba. Saat ia harus kembali menuggu celah untuk memaksa adiknya.

***

Henry melajukan Audi merahnya di jalanan sore kota Seoul. Beberapa kali mengumpat keras sambil memukul kemudinya. Perasaannya sungguh sedang tidak baik saat ini. Ia tidak pernah menyangka kalau kakaknya menyuruhnya melakukan hal mustahil semacam itu. Dia tak pernah ingin dan tak pernah bermimpi bekerja di sana. Apa kakaknya tidak tahu dia jauh-jauh belajar ke Kenada juga untuk mengejar cita-citanya sebagai pianis.

Sepertinya ia harus pergi ke suatu tempat untuk mencari hiburan sore ini. Yang pasti tempat itu bukan di rumahnya. Di tengah rencana Henry akan ke mana dia, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Henry melirik sekilas lalu memutuskan mengambil ponselnya yang tergeletak di samping kursi kemudi.

Membaca pesan singkat sambil mengendari mobil memang berbahaya, tapi apa peduli Henry. Ia sedang berada di dunia yang gelap saat ini. Dunia penuh amarah. Dan amarahnya semakin menjadi ketika mendapati pesan pendek dari kakaknya. Sungguh pendek namun cukup membuat Henry mengerang keras.

Datanglah ke kantor besok jam 8 pagi. Tidak ada kata penolakan Henry!

“Sial!” erang Henry lagi.

Audi merahnya meluncur semakin cepat. Secepat debaran dadanya yang mengeras seakan ingin meledak saat itu juga.

Henry berhenti tepat di depan gedung kecil minimalis bertingkat tiga . Sebuah papan terpajang di atas pintu masuk bertulis Shin’s Friends Dance Studio. Namun Henry belum juga beranjak dari mobilnya. Ia masih duduk di sana, mencoba meredakan gejolak amarahnya yang masih juga belum reda.

Henry adalah sosok yang ceria dan selalu bersemangat melakukan hal apa pun yang ia kerjakan. Karena ia selalu mengerjakan yang ia suka. Tapi dia akan berubah mengerikan saat dilarang melakukan apa yang ingin di kerjakannya. Apalagi diperintah melakukan sesuatu yang tak ia suka.

“Aku harus tenang,” katanya pelan pada dirinya sendiri. Di tariknya napas panjang lalu dihembuskannya perlahan. “Semua akan baik-baik saja Henry. Semua akan baik-baik saja. Lagi pula kau belum dengar pendapat¬†appa, kan.” katanya lagi. Kini sambil menatap ramah pada bayangannya di depan kaca mobil yang tergelantung di atas kemudi.

Tepat saat itu sebuah objek mengalihkan perhatiannya. Sosok yang berdiri di depan mobilnya dengan sekeranjang bunga ditangannya. Kepalanya menoleh ke kanan kiri lalu menyeberangi jalan menuju toko kecil penuh bunga. Henry mengernyit saat sosok yang di perhatikannya itu berhenti di depan toko cantik itu. Membungkuk dan mengulurkan setangkai bunga mawar merah muda pada anak yang sejak tadi sudah menunggunya di sana. Dari tempatnya, Henry bisa melihat gadis itu tersenyum kecil ketika anak kecil itu tertawa bahagia lalu berlari pergi dengan ceria.

Dan dahi Henry semakin mengerut saat tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Diam-diam memperhatikan senyuman gadis itu. Yang entah kenapa ia suka.

“Hah? Apa yang kau lakukan Henry? Bahkan dia tak lebih menarik dari gadis-gadis pirang di Kanada,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pipinya. Tak ingin semakin terbuai, Henry keluar dari mobilnya. Bersiul-siul pelan sambil melangkah ringan ke gedung Shin’s Friends Dance Studio. Mencoba mengabaikan getar halus yang masih tersisa dihatinya.

***

Pagi itu suasana hati Henry masih buruk namun tidak seburuk kemarin. Henry bertekad untuk menyelesaikan masalah ini. Setidaknya dia bisa mencoba bernegosiasi dengan kakaknya. Meski kemungkinan kecil akan diterima begitu saja. Well, Henry tetap harus mencoba. Atau, bisakah ia bekerja dengan tidak menghentikan kegemarannya untuk bermusik.

Henry duduk tenang di dalam mobil audi putih kakaknya. Perjalanan menuju kantor mereka terasa sunyi dan dingin. Beberapa kali Leeteuk melirik Henry yang terus saja menatap ke luar jendela tampa bersuara apa-apa. Bukan keadaan yang biasa bagi kakak beradik ini. Lee Teuk sengaja melarang Henry untuk membawa mobil sendiri. Khawatir adiknya akan kabur mungkin. Meski hari ini Henry tidak seliar kemarin, dia justru lebih was-was melihat Henry yang berubah menjadi pendiam seperti ini.

Henry mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Mereka baru sampai dan Leeteuk langsung mendapat telepon bahwa semua karyawan sudah berkumpul. Menunggu pertemuan mereka hari ini, sesi perkenalan Henry sebagai anak pemilik perusahaan.

Sebagai orang yang hampir buta soal dunia bisnis, Henry tidak akan langsung diangkat dijabatan tinggi. Dia akan menjadi karyawan biasa sembari belajar perlahan. Dengan begitu Lee Teuk berharap Henry tahu bagaimana memimpin perusahaan dari kalangan yang terbawah sampai tinggi sekalipun.

Henry mengikuti langkah kakaknya yang sesekali tersenyum ramah saat karyawan-karyawann menyapanya. Menjadi pemimpin perusahaan diusia muda dan masih ‘sendiri’ membuat kakaknya menjadi sasaran empuk para¬†yeojya.

Henry berhenti untuk menunggu pintu lift terbuka saat tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sempat mencuri pehatiaannya kemarin. Gadis itu mucul di kantor ini. Dia berdiri tak jauh dari pintu masuk. Mengobrol dengan beberapa rekannya.

Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Henry. Apa yang dia lakukan di sini. Apa dia bekerja di sini. Dan Henry berkesimpulan kalau semua ini benar, dia akan sekantor dengan gadis itu.

Tiba-tiba ada sebuah semangat yang mendorongnya untuk melangkah yakin di prusahaan ini.  Henry sendiri tak mengerti kenapa. Kenapa gadis itu bisa merubahnya dalam waktu sekejap. Daya tarik apa yang dimilikinya hingga ia bisa mengenyampingkan mimpi bermusik yang ia idamkan.

“Henry. Apa yang kau lihat? Ayo masuk,” panggil Lee Teuk yang sudah lebih dulu masuk ke lift.

Henry mengangguk patuh lalu masuk ke lift.

Matanya masih tertuju pada gadis di sana. Satu hal yang Henry tahu, ia ingin lebih mengenal gadis itu.

***

tbc

Advertisements

2 thoughts on “Fanfiction Henry : Trap [chap 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s