The Happiness (EunHae)

The happiness

Tittle              :  The Happiness

Cast               :  Lee Dong Hae

                          Lee Hyuk jae

Genre             :  Friendship, angst

Rating            :  G

Length           :  Oneshoot

Author           : Sunflowelf_

Jangan terkecoh judulnya, baca ulang genrenya 🙂

oO—Oo

 

 PAGI itu masih sama. Masih dengan sinar hangat matahari yang mengelilingi kabut. Masih dengan deburan ombak dan burung-burung putih bergerombol di atas riak-riaknya. Masih dengan angin yang berderu mengisi pantai yang masih kosong.

Dan seperti kemarin-kemarin, dua anak itu datang berdempetan, Lee Hyuk Jae dan Lee Dong Hae.

Mereka berjalan beriringan di jalan setapak di bibir pantai menuju sekolah. Salah satu diantaranya semangat berceloteh keras bahkan suaranya mengalahkan cicit burung pantai yang berjumlah ratusan.

“Kau tahu Hyuk, Dong Hwa Hyung sungguh pintar menangkap ikan! Dia mendapat ikan sekeranjang besaaaaar sekali.” Dong Hae mengangkat tangannya, membentuk lingkaran besar ㅡsebesar yang ia mampu dengan lengan pendeknyaㅡ di depan dada.

“Dia membuatku kenyang dengan ikan-ikan itu. Hahahaha…” Tawa Dong Hae menggema ringan di balik bibir tipisnya. Namun sesaat kemudian tawa itu memudar. Manik hitam menawannya menyipit, menelisik raut muka anak di sisinya.

“Hyuk. Ada yang salah.. dengan ucapanku?” tanya Dong Hae hati-hati.

Hyuk Jae menoleh perlahan, membuatnya dramatis. Wajahnya menekuk, keruh. “Kau selalu lupa dengan kawanmu jika sudah berdua dengan ikan, Dong Hae-ya. Apa kau sadar?”  ucap Hyuk Jae lamat-lamat. Menunggu reaksi Dong Hae yang tak lama kemudian menunduk dalam setelah sebelumnya mendelik terkejut.

“Maaf,” gumamnya pelan, sarat akan penyesalan.

Melihat Dong Hae seperti anak kecil yang ketahuan keluar rumah di saat hujan turun, membuat Hyuk Jae tak sanggup menahan tawanya lagi.

“Hahaha… Ya ampun Dong Hae-ya. Aku hanya sedang bercanda. Kau bodoh sekali.” Masih dengan tawa yang kentara mendapati Dong Hae menghela napas lega.

“Sungguh? Kau tidak marah padaku?” Mata Dong Hae meredup, masih belum puas dengan jawaban yang baru ia dengar.

Hyuk Jae mendesah menyadari bahwa kawannya ini memang terlalu bodoh untuk ditipu. Seperti menenangkan anak kecil, Hyuk Jae pun mengalungkan lengannya ke bahu kawannya, seraya berujar mantap, “Iya, aku sungguh bercanda, bodoh.”

Dong Hae kembali tersenyum cerah dibuatnya tak terlalu peduli julukan ‘bodoh’ itu terdengar lagi. “Kalau begitu datanglah nanti sore. Kita akan membakar ikan bersama,” katanya sambil mengalungkan lengan pada bahu kawannya yang hampir setinggi dirinya ㅡjika saja Hyuk Jae tidak memakai sepatu yang telah dipasang bantalan didalamnyaㅡ.

“Sungguh?”

Dong Hae mengangguk. “Setelah kita bermain di pantai sepulang sekolah,” tambahnya.

“Tentu!” seru Hyuk Jae bersemangat.

Dan mereka pun berjalan  masih dengan mengalungkan lengan kebahu yang lain. Bercoloteh sepanjang jalan. Tertawa disela-selanya. Seakan hari esok tiada ujung dan tak mampu memisahkan mereka dalam ikatan erat. Seerat persaudaraan.

***

“Hey kalian!” salah satu teman kelas mereka datang. Berseru kencang memecahmoment tenang mereka ㅡkarena masing-masing sibuk dengan manga ditanganㅡ.

Hyuk Jae mendongak kesal. “Jangan berteriak Shin Dong. Kau mengganggu kami.” gerutu Hyuk Jae.

Pemuda bertubuh tambun itu mengedikkan bahu tak acuh. “Lihat apa yang kau sebut mengganggu ini.” Shin Dong menyodorkan selembar kertas kuning ke atas meja mereka.

Hyuk Jae melirik tak minat. Namun seketika matanya melebar saat mendapati huruf-huruf terbesar yang berderet di barisan teratas. Lalu membaca lamat-lamat tiap jengkal hurufnya, “Audisi pencarian bakat dance.”

“Uh?” Dong Hae meletakkan manganya untuk ikut melongo memandangi selembar kertas kuning itu.

“Dong Hae-ya. Ini kesempatan kita. Kita harus ikut audisi ini.” ujar Hyuk jae penuh minat. Mata Hyuk Jae yang berbinar menatap balik raut wajah kawannya yang datar.

Masih belum mengerti kesempatan yang dimaksud Hyuk Jae, Dong Hae mengerjap. “Maksudnya?”

“Lihat. Kasihan sekali aku punya teman bodoh seperti dia.” Adu Hyuk Jae pada Shin Dong, yang membuatnya terbahak-bahak geli.

“Ini ajang menari. Kesempatan kita untuk ke Seoul.” Hyuk Jae masih sabar menjelaskan. “Di sini disebutkan kalau kau terpilih, kau akan mendapat pelatihan di Seoul lalu debut menjadi seorang artis. Ini impian kita Dong Hae-ya!”

“Benarkah?” Baru paham dengan pembicaraan yang dimaksud kawannya, matanya pun berbinar terang. “Ah hebat! Kita harus ikut Hyuk! Kita harus memenangkannya dan pergi ke Korea bersama!” seru Dong Hae kesetanan, lalu memeluk Hyuk Jae erat.

Shin Dong menggeleng mendengar ucapan ringan itu. Anak itu bersorak seakan yang diucapkannya barusan adalah sesuatu yang mudah diraih dan diwujudkan.

“Jangan senang dulu. Kalian akan melawanku dan ratusan anak di kota ini. Bahkan di kota-kota lain,” ujar Shin Dong sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Dong Hae yang mendadak tergugu lemah.

***

Dua pasang kaki itu beriringan bersama. Meninggalkan bekas tapak kaki di pasir yang beberapa saat akan terhapus oleh ombak yang bergelombang lamban.

Sore itu mereka baru pulang dari bermain sepak bola dengan teman-teman sekelas mereka.

“Hyuk Jae-ah.” Dong Hae bergumam. Kepalanya menunduk seraya memperhatikan butir-butir pasir yang ia lewati.

“Eum?”

“Kau yakin kita akan menang?” kali ini memandang kawannya. Tatapannya sarat keraguan. Entah ke mana semangat membara yang tadi ia tunjukkan. Dong Hae memang seperti ini. Moodnya mudah berubah, semudah telinganya yang mendengar gagasan positif atau pun negatif dari orang lain tanpa ia pikir terlebih dahulu.

“Asal kita kerja keras untuk latihan. Aku yakin bisa.” katanya meyakinkan.

“Eum, kurasa ya.” Hyuk Jae memutar bola matanya mendapati kawannya yang sekarang lebih tenang. Cepat sekali dia terpengaruh.

“Berjanjilah padaku Hyuk. Kita tidak akan menyerah, apapun yang terjadi. Kita pasti bisa menjadi dancer terkenal.”

Hyuk Jae mengangguk patuh. “Tapi bagaimana kalau salah satu dari kita saja yang terpilih?” ucapnya kemudian.

“Tetaplah pergi karena itu mimpi kita. Meski hanya salah satu dari kita yang sukses, yang lain akan tetap bangga.”

“Aku setuju.” Hyuk Jae menepuk bahu Dong Hae.

Senyum mereka mengembang indah, seindah senja sore itu. Matahari berukuran raksasa yang berwarna merah kemuning itu tampak tertelan diujung samudra. Warnanya terbias bak lukisan yang membayang di laut.

Hyuk jae yakin bahwa mimpi-mimpinya akan terwujud. Ini adalah mimpinya. Mimpi Dong Hae sahabatnya. Mimpi mereka. Asal mereka mau berusaha. Karena pasti ada sebuah hasil ditiap usaha.

“Yak! Kita lupa dengan acara kita!”

Hyuk Jae menoleh santai ke kawannya yang tiba-tiba berteriak kesal. “Acara apa?”

Dong Hae mengerang sambil memukul pelan dahinya. “Acara membakar ikan!”

“Oh, bagaimana kalau kau saja yang aku bakar. Kau kan ikan,” kelakar Hyuk.

“Yak! Kau juga ikan.”

Hyuk Jae menjulurkan lidahnya tak peduli. Kakinya segera berlari menghindari pukulan liar Dong Hae. “Hey jangan lari!”

Mimpi mereka akan kuat, sekuat persahabatan mereka.

***

Dong Hae tidak bertemu dengan Hyuk Jae sejak ia lahir. Saat itu usianya enam tahun ketika Hyuk datang sebagai anak pindahan dan menetap tak jauh dari rumahnya. Yang ia dengar saat itu, keluarga Hyuk suka berpindah-pindah rumah karena mereka tidak memiliki tempat tinggal.

Hal itu sedikit banyak membentuk karakter Hyuk Jae  menjadi sosok keras dan penutup. Hyuk kecil sadar bahwa ia tidak akan lama tinggal di tempat itu, hingga ia berpikir tidak perlu beramah tamah atau berusaha mencari teman. Dia hanya takut kehilangan. Takut merasakan sakit jika dia harus meninggalkan sesuatu yang sudah ia sayang.

Hingga Hyuk Jae kecil bertemu dengan seorang anak tetangga yang berusaha mendekatinya. Anak itu mengikutinya entah ketika dia pergi atau sepulang sekolah. Dia menempel pada Hyuk seakan Hyuk adalah ibunya. Berulang kali anak lelaki itu merengek, “Aku ingin menjadi temanmu. Bisakah kita berteman? Aku kesepian. Kumohon.”

Sifat keras kepala Hyuk Jae luluh di suatu pagi. Ketika pertama kalinya ia melihat anak itu menangis sesenggukan di depan rumahnya yang ramai. Satu keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.

Awalnya Hyuk mengira kalau dia bertahan disamping anak itu karena kasihan. Namun perlahan rasa kasihan itu terkikis, ketika dia menyadari dia butuh teman seperti Dong Hae.

Dia selalu mencari Dong Hae ketika anak itu tak ada di sisinya. Dia mendatangi rumah Dong Hae ketika anak itu tidak menghampirinya untuk mengajaknya pergi ke sekolah bersama. Hyuk Jae bahkan rela menunggui Dong Hae yang sedang sakit sepulang sekolah.

Hal yang Hyuk Jae sangat syukuri bahwa kedua orang tuanya tak pindah lagi. Mereka memilih menetap di kota kecil itu. Bekerja sebagai pelayan layaknya penduduk kebanyakan. Dan sejak saat itu Dong Hae dan Hyuk Jae menempel layaknya saudara.

***

“Dong Hae-ya. Ayo kita latihan.” Hyuk menghampiri kawannya yang duduk di depan kelas, sedang memandang lapangan dengan wajah dungunya. Dong Hae masih diam tak merespon meski Hyuk Jae sudah menepuk bahunya keras.

“Kenapa kau?” Akhirnya Hyuk Jae mengikuti arah pandang Dong Hae ke lapangan yang penuh dengan anak-anak kelas lain yang sedang berolahraga. Menelisik satu persatu dari sejumlah anak di sana. Namun Hyuk Jae mendesah, ia tidak menemukannya.

“Jadi, siapa yang kau perhatikan?”

“Gadis yang mamakai ikat kepala merah di sana.” Dong Hae bersuara sambil menunjuk pada gadis di ujung lapangan yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.

“Oh, dia murid baru. Pindahan dari kota.”

“Kau mengenalnya Hyuk Jae-ya?!” tanya Dong Hae dengan suara yang lebih keras dari yang Hyuk Jae kira.

“Eum. Shin Min Ah namanya. Dia kelas 2-1.” Hyuk mendesah ketika melihat senyum bodoh Dong Hae melebar.

Lalu pemuda itu menoleh menatapnya. “Kau bisa membantuku Hyuk Jae-ya.” lebih terdengar seperti nada perintah dari pada meminta.

Hyuk Jae pun menggerutu, “selalu seperti ini. Memang apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyuk jae setengah hati yang di balas pelukan penuh semangat oleh temannya.

Ini adalah pertama kalinya Dong Hae yang lugu jatuh cinta. Bertahun-tahun Hyuk Jae mengenalnya ia tahu betul bahwa Dong Hae bukan tipe lelaki yang berani mengutarakan perasaannya langsung pada orang yang dituju. Dong Hae terlalu malu.

Meski sebenarnya Dong Hae cukup populer di sekolahnya. Siapa yang tidak mengenal wajah polos dan tampan Dong Hae. Baik hatiㅡdan sedikit bodoh jika Hyuk Jae menambahkanㅡ. Jujur saja, Hyuk Jae iri. Tapi siapa yang akan tega menyakiti sosok rendah hati itu. Pemuda itu yang telah mengenalkannya akan arti persahabatan.

Hari demi hari yang melelahkan berlalu. Mereka terus bergulat dengan waktu-waktu yang menguras tenaga demi persiapan terbaik dihari audisi. Mempelajari setiap gerakan bersama dan saling mengoreksi satu sama lain. Meski salah satunya tidak terlalu bisa berpikir. Dong Hae masih kasmaran.

“Jadi bagaimana?”

Hyuk Jae menghela napas pelan. Sepenuhnya dia tahu apa yang dimaksud Dong Hae. Tentang surat cinta dari Dong Hae pada Min Ah, dan dia lah yang menjadi tukang pos dadakan. “Tidak bagaimana bagaimana.”

Dong Hae berdesak kesal, “ck… Apa dia mengatakan sesuatu?”

“Tidak.”

“Apa kata-kataku kurang manis ya?” Dong Hae mengusap-usap dagunya, berpikir. Membuat Hyuk Jae mendengus jenuh.

“Kalau terlalu manis justru dia akan kabur darimu. Kurasa tipe gadis seperti Min Ah tidak suka hal-hal semacam itu. Kau hanya perlu bertemu dengannya lalu mengungkapkan persaaanmu dengan tulus. Itu akan lebih berarti.”

Dong Hae menggeleng keras. “Kau gila? Bagaimana kalau dia menolakku?”

“Kau tidak akan tahu sebelum mencoba Dong Hae-ya.” balas Hyuk Jae selagi tangannya sibuk menggores-gores gambar abstrak di pasir.

“Eum, aku akan mengatakannya setelah pengumuman ajang ini.”

“Huh?”

“Jika aku menang, aku akan mengatakannya,” ungkap Dong Hae dengan senyum lebarnya penuh percaya diri.

“Ide bagus.”

***

Satu bulan berlalu, tepat satu minggu sebelum ajang itu diadakan, Dong Hae tidak muncul. Hyuk Jae kelimpungan dibuatnya. Dia sudah mencoba menengok Dong Hae di rumah, tapi tiap kali Hyuk Jae datang, bibinya selalu beralasan, Dong Hae sedang tidur, Dong Hae sedang beristirahat, Dong Hae tidak bisa diganggu. Hyuk Jae hampir menyerah.

Hyuk Jae termangu ketika gurunya menjelaskan di muka kelas. Suara gurunya hanya masuk ke telinga kanan, lalu keluar dari telinga kiri, semua tampak samar. Sedangkan pikirannya terus melayang memikirkan kawannya. Hari ini adalah hari penentuan. Selesai jam terakhir nanti seluruh siswa akan berkumpul di aula sekolah, beberapa menjadi penonton dan yang lain berpartisipasi mengikutinya.

Hyuk Jae sudah yakin persiapannya matang, bahkan hari-hari di mana Dong Hae menghilang dia masih mendorong semangatnya untuk terus latihan dan latihan. Namun semangatnya itu menguap hari ini. Sosok yang ia percaya sebagai salah satu sumber semangatnya masih tak muncul juga.

Hyuk kembali mendesah, menghempaskan punggungnya kesandaran kursi ketika bel pelajaran terakhir berbunyi. Ini saatnya. Mungkin raga Dong Hae tidak terlihat, tapi tiap suku kata penuh semangat milik Dong Hae masih ia dengar jelas di hatinya. Dia harus bisa, dia harus menang, demi kawannya Dong Hae, demi masa depannya.

“Eun Hyuk-ah, apa cita-citamu nanti?” Dong Hae menoleh ke samping kekawannya yang ikut berbaring dengannya di atas pasir. Tengah sibuk menggambar langit senja dengan jari-jari kecilnya. Selagi pikiran Dong Hae kembali melayang pada guru yang mengulas bab cita-cita esok tadi. Dan hal yang paling menyenangkan bagi anak kecil seusia mereka adalah berimajinas ‘akan jadi apa aku nanti.’

“Penari,” jawab Hyuk Jae pelan karena seluruh perhatiannya terpusat pada gambar tak kasat matanya.

            “Eum? Kenapa?” Dong Hae kini ikut memperhatikan jemari Hyuk Jae yang bergerak-gerak pelan di angkasa.

            “Aku.. tidak tahu.”

Dong Hae mendesah pelan, belum puas dengan jawaban temannya. Dan bukan Dong Hae namanya jika tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Karena itu dia bertanya kembali, “apa ada yang menyuruhmu?”

            “Tidak.” Hyuk Jae berhenti sejenak, menunggu reaksi temannya yang banyak bicara. Namun anak itu diam, masih memperhatikan dan menunggu ceritanya.

            “Kau tahu, aku terlihat keren saat menari,” ucapnya sambil terkekeh.

“Oh, yang benar saja. Kalau begitu aku juga ingin menjadi menari!”

            “Kenapa?” Hyuk jae balik bertanya.

“Aku ingin terlihat lebih keren dari Hyuk Jae.” Dan mereka pun tertawa.bersama.

            “Ya, Hyuk Jae-ah. Apa yang kau lukis sejak tadi?”

“Dong Hae dan Hyuk Jae selamanya.” jawab Hyuk Jae yang dibalas cekikikan Dong Hae.

            Senja itu mereka menterbangkan sebuah bintang tertinggi di langit. Berharap bahwa suatu saat bintang itu dapat mereka raih kembali. Mungkin bukan bintang terindah yang pernah ada, tapi mereka berjanji akan mengambilnya bersama. Dan kebersamaan itu lah yang akan membuat segalanya indah. Asal Dong Hae tetap di sisi Hyuk Jae. Dan Hyuk Jae di sisi Dong Hae.

 

 

***

 

            Hyuk Jae mengingat kembali senja kala itu. Menanamnya ke dalam hatinya yang bertalu-talu. Kakinya melangkah tegap ketika namanya terpanggil. Menarik napas dalam dan menghembuskannya kuat sebelum naik ke atas panggung. Ratusan pasang mata mengawasinya termasuk juri yang duduk dibarisan depan.

Ketakutan itu tidak akan muncul jika tidak dicipatakan. Karena itu Hyuk Jae berusaha untuk tidak menciptakan ketakutannya sendiri. Dia kembali berdoa dan yakin bahwa semua akan berjalan sesuai rencananya. Dia hanya perlu melakukannya seperti saat latihan. Saat tak ada pasang mata mengawasinya. Karena Hyuk Jae tidak butuh pengawas untuk membuat gerakannya sempurna.

Musik dimainkan, dan tubuh Hyuk Jae pun terhentak. Bergerak seirama nada. Matanya tajam bersama ekspresi wajahnya yang meyakinkan. Sebagian dirinya menghilang terganti dengan sosok Hyuk Jae lain. Hyuk Jae yang satu ini mampu menarik berpasang-pasang mata untuk memperhatikannya.

“Wow! Kau keren Hyuk Jae-ah.” Shin Dong yang telah menantinya di ujung panggung menepuk pundaknya penuh kekaguman.

“Apa Dong Hae tidak datang?” tanya Hyuk Jae mengabaikan ucapan Shin Dong sebelumnya.

“Barusan dia datang.”

Hyuk Jae mengerjap tidak percaya. Awalnya Hyuk Jae sudah putus harapan dengan hilangnya Dong Hae yang satu minggu lalu, meski sebenarnya dia masih menginginkan kawannya itu akan muncul dihari penting ini. “Be-benarkah?”

“Eum. Dia baru saja mengambil nomor tadi. Dia juga sempat melihat pertunjukkanmu, Hyuk Jae-ah.” Hyuk Jae bernapas lega. Setidaknya masih ada harapan Dong Hae akan memenangkan ajang ini dengannya. Dia yakin Dong Hae bisa melakukan yang terbaik, seperti apa yang dia lakukan.

‘Tapi Hyuk, wajahnya.. agak berbeda.” nada Shin Dong pelan dan terdengar tidak yakin. Hyuk Jae pun mengernyit. “Maksudmu?”

“Entahlah. Kau lihat saja nanti sendiri.”

Kini mereka kembali menatap panggung yang diisi peserta lain. Sedang Hyuk Jae masih penasaran dengan yang dikatakan Shin Dong. Entah kenapa, tiba-tiba perasaannya kalut. Hyuk Jae berdoa untuk kawannya itu, semoga Dong Hae bisa melakukan yang terbaik.

Beberapa saat kemudian nama Dong Hae disebut. Pemuda itu naik ke panggung dengan langkah pelan. Dan benar saja, ada yang berubah dengan Dong Hae yang Hyuk kenal. Dong Hae yang sedang berdiri di panggung itu lebih pucat dan.. dingin.

Tiba-tiba darah Hyuk berdesir. Entah karena takut atau khawatir.

Dong Hae bergerak, bersama iringan musik yang menderu-deru. Semua gerakan benar, sesuai dengan yang mereka pelajari. Namun ada yang berbeda di sana. Dong Hae terlihat lebih pelan… atau lemah.

“Dong Hae-ya, kau ke  mana saja?” Hyuk Jae segera menghampiri Dong Hae setelah pertunjukkannya selesai.

Dan yang pertama kali Hyuk Jae lihat adalah senyum tipis Dong Hae yang mencoba menenangkannya. “Tidak ke mana-mana, Hyuk. Aku hanya butuh istirahat.” Tersenyum lagi, seakan kehilangannya selama satu minggu bukanlah apa-apa.

“Kau sakit? Apa kau tidak tahu aku mencarimu selama tiga hari? Aku datang ke rumahmu tapi bibimu selalu menjawab kau tidak ingin diganggu. Apa kau tahu aku mengkhawatirkanmu, huh?” Hyuk Jae tak sadar jika nada bicaranya meninggi lebih dari yang ia inginkan.

“Maaf. Aku sungguh tidak apa-apa,” balas Dong Hae tenang, sambil tersenyum kecut. “Bagaimana menurutmu pertunjukkanku tadi?”

“Lemah tak bertenaga,” jawab Hyuk Jae jujur. Agaknya dia masih marah pada kawannya yang seenaknya hilang dan muncul.

Beberapa hari setelahnya, keadaan kembali normal. Mereka kembali bergurau seperti biasa. Namun wajah Dong hae yang pucat masih belum menampakkan kesembuhan. Bahkan tubuh Dong Hae menyusut hingga membuatnya kurus. Sesekali Dong Hae juga meminta ijin ke belakang saat di kelas, di mana itu sangat jarang dilakukan Dong Hae sebelumnya.

Hingga pagi itu menjelang, ketika anak-anak bergerumul di depan papan pengumuman. Hyuk Jae segera menarik Dong Hae, ikut bergabung dengan kerumunan itu.

“Wuah, pengumuman anak-anak yang lolos.” seru Hyuk Jae girang. Meski ada nada khawatir disela-selanya. Dong Hae yang dibelakang ikut berjinjit, mengintip kertas yang tertempel itu dibalik bahu Hyuk Jae.

“Aku lolos.” Dong Hae tersenyum mendengar suara Hyuk, sedikit nada tak percaya disela-selanya. Dong Hae membuka mulut ingin mengucapkan selamat pada kawannya itu tepat ketika didengarnya suara lemah Hyuk lagi. “Namamu tidak ada Hae:”

Hyuk berbalik, dengan wajah sarat kekecewaan. “Kau tidak lolos.”

Yang diajak bicara hanya tersenyum tipis, dengan lirih menjawab, “tak apa Hyuk.” Lalu berjalan lebih dulu ke kelas mereka.

Seharian itu Hyuk tidak melihat senyum Dong Hae lagi.

“Kau marah padaku?” Hyuk berteriak keras pada sosok yang berjalan di depannya.

“Apa aku terlihat marah? Tidak.” Dong Hae berhenti untuk menunggu Hyuk, sambil memandang jauh ke lepas pantai dengan mata sayu.

“Lalu? Ada apa denganmu?” Hyuk mendesah frustasi. Dia benar-benar tak mengerti perubahan sikap Dong Hae, semenjak hilangnya satu minggu sebelum audisi. Dia bahkan tak lagi melihat tawa lepas Dong Hae, kejahilan Dong Hae pada teman-teman kelasnya. Tak ada keceriaan yang terpancar dimatanya. Hyuk hampir tak mengenal Dong Hae.

Dan jika Hyuk Jae boleh jujur, kekalahan Dong Hae karena kesalahan dirinya sendiri. Dia masih ingat bagaimana Dong Hae begitu buruk menari padahal itu adalah audisi.

“Kau menyesal sekarang? Uh?” Hyuk masih meninggikan suaranya. Kekesalan pada kawannya yang tidak tampil sebaik mungkin di audisi itu membuatnya kecewa.

Dilihatnya Dong Hae yang masih memandang laut, Hyuk kembali bersuara. “Apa yang kau lakukan satu minggu itu?”

“Ya Lee Dong Hae!”

“Bukan urusanmu!” Dong Hae mendelik marah.

Sesaat Hyuk terkesiap. Tubuhnya menegang karena tak pernah dipikirnya Dong Hae berteriak.

Dong Hae berteriak padanya?

Sepanjang mereka berkenalan Dong Hae bahkan tak pernah meninggikan suaranya..

Hyuk ingin balik berteriak, memaki anak di depannya. Namun suaranya tercekat ditengah tenggorokan. Alih-alih berucap lirih. “Apa maksudmu?”

“Pergilah. Pergilah Hyuk. Dan jangan memikirkanku.” Dong Hae berbalik menjauh tampa menoleh pada kawannya yang membeku menatapnya.

“Apa kau marah karena aku terpilih?!” teriak Hyuk kalap. Genangan di pelupuk matanya sudah mengalir. Dia belum siap dengan keadaan ini. Dong Hae yang tiba-tiba marah dan membentaknya. Teman yang sepuluh tahun yang sudah menemaninya tiba-tiba berubah menjadi sosok lain yang dingin.

Sebelumnya, Hyuk Jae percaya bahwa Dong Hae bukanlah orang yang suka bersikap kasar dengan siapa pun. Anak itu bisa sopan kepada orang yang lebih tua dengannya, dan sangat sayang pada adik kelas atau anak-anak kecil di desa.Dia bisa ramah dengan semua orang.

Bagai hilang arah, kini Hyuk Jae tak lagi bisa mengenal Dong Hae. Anak ramah penuh senyum itu menghilang.

Kaki Dong Hae terhenti. Sedikit berpaling ke belakang masih tidak mau bertatap muka dengan Hyuk. “Jika kau berpikir seperti itu, terserah. Pergilah Hyuk.”

Bayangan Dong Hae perlahan menjauh dan menghilang, bersama desir risau angin pantai. Hari itu hari terakhir Hyuk melihat Dong Hae.

***

“Semua sudah siap?” tanya ibu Hyuk Jae sambil memperhatikan anaknya dari ambang pintu kamar.

“Eum. Aku yakin sudah tidak ada yang tertinggal,” ucap Hyuk sambil memikul tas ranselnya dan sebuah tas besar di tangan kanannya.

Ini hari yang Hyuk Jae tunggu. Dia akan pergi ke kota impiannya, menjemput cita-citanya. Ada semangat yang kembali membuncah setiap dia mendengar kota itu. Meski ia tahu jalannya masih panjang.

Tapi di tengah luapan keharuan itu, sisi terdalam Hyuk berbisik risau. Bagaimana keadaan Dong Hae sekarang?

Hyuk Jae merasa bodoh karena berhari-berhari setelah pengumuman dan kelulusannya dia tak juga menurunkan egonya, demi menemui Dong Hae. Dia membiarkan Dong Hae menjauh tanpa sebab yang jelas. Dia membiarkan semua terjadi tanpa berusaha mencari titik temu.

Hyuk Jae ingat benar, diwaktu lain Dong Hae mendekatinya setiap dia marah. Mendekatinya dan berucap maaf berkali-kali sampai Hyuk Jae tertawa sebal. Tapi sekali lagi dia bukan Dong Hae. Dia tak bisa mengabaikan egonya, dan karena itu Hyuk merasa buruk sekali.

Setelah mendengar doa-doa yang ibunya berikan tanpa Hyuk minta, Hyuk memberanikan diri. “Bu, jika ada apa-apa dengan Dong Hae hubungi aku segera ya.”

“Ya, pasti.” ibunya tersenyum lembut sembari mengusap kepalanya.

Mobil yang Hyuk Jae tumpangi melaju tenang di jalanan pinggir pantai. Termangu memandang ke luar, sedikit berharap waktu dapat di putar ulang. Dia memang ingin pergi menaruh harap lebih besar pada cita-citanya. Tapi tidak seperti ini. Tidak dengan berjalan tanpa Dong Hae di sisinya.

Namun sekeras apapun dia meminta, waktu tak akan kembali. Hyuk masih dalam egonya, di samping kemarahan pada perubahan Dong Hae.

Tanpa disadari Hyuk Jae sosok lain tengah memperhatikannya dari semak-semak di bawah pohon. Memandang laju mobil yang semakin menjauh dengan raut muka tak terbaca.

***

“Apa yang paling kau inginkan nanti Hyukie?” Dong Hae kecil bertanya sambil mengobok-obokkan tangannya pada kumpulan ikan-ikan mungil. Air pasang, mereka bisa bermain bebas lebih jauh dari bibir pantai.

            “Bahagia.”

            “Apa kau tidak bahagia sekarang?” Dong Hae mengerucut memandangi temannya yang sekarang ikut sibuk mengganggu ikan sepertinya.

            “Aku bahagia sekarang. Karena itu aku ingin bahagia seterusnya.”

            “Benarkah?” Dong Hae tersenyum cerah. “Kalau aku.. aku ingin disamping Hyukie saat sedih. Hidup tidak akan bahagia seterusnya, itu kata ibuku. Dan teman yang paling baik adalah teman yang selalu ada di setiap duka. Aku ada disampingmu. Panggil aku kalau kau perlu, oke.”

            Hyuk Jae tersenyum tipis. “Terima kasih,” gumamnya tulus.

 

 

 

***

 

Napasnya mendadak tercekat ketika di lihatnya laut yang berkelap-kelip di bawah sinar matahari siang. Pantai berpasir putih itu kembali ditemuinya setelah hampir tiga tahun tak ditapakinya.

Gadis di sisinya tahu raut tegang Hyuk Jae yang tak tenang. Hingga tangannya merambat dan mendarat lembut di atas jari-jari panjang itu. Pemilik jari itu pun terkejut sejenak, namun pada akhirnya dia tenang setelah mendengar suara lembut dari kekasih yang kini bersandar dibahunya.

“Semua akan baik-baik saja, Oppa.”

“Ya, Shim Min Ah.”

Butuh beberapa jam untuk memantapkan dirinya berjalan ke rumah Dong Hae, kawan lama yang telah ia tinggal. Dia tak pernah lagi berhubungan dengan anak pecinta ikan itu semenjak ke Seoul dan debut sebagai artis setelah satu tahun masa trainernya. Dia baru dua tahun menjadi seoang artis namun pesona seorang Lee Hyuk Jae yang ternyata bukan hanya pandai menari namun juga menyanyi bahkan berakting membuat ketenarannya melejit. Kini semua tahu siapa Lee Hyuk Jae. Namun tak seorang pun memahami, ada segores luka lama di hati terdalam Hyuk Jae.

“Bibi, apa Dong Hae ada?”

Wanita yang kini sudah berwajah keriput dengan helai-helai rambut putih dikepalanya itu terperangah mendapati seorang artis berdiri di depan pintu rumahnya. Sejenak dia kagum pada perubahan sosok Hyuk Jae.

Dengan senyum lembut keibuan yang Hyuk Jae tak pernah lupa, bibi Dong Hae membelai lengan Hyuk Jae. “Kau semakin tampan, nak.”

Hyuk Jae menggaruk belakang kepalanya, merasa tersipu.

“Apa aku bisa menemui Dong Hae, Bi?” pinta Hyuk Jae sekali lagi.

Entah raut apa yang kini ditunjukkan bibi Dong Hae padanya, yang pasti itu bukan raut yang diinginkan Hyuk Jae.

“Dong Hae.. Kau tidak bisa lagi menemuinya, Nak.” suara itu terdengar lirih dan tidak mengenakkan bagi Hyuk Jae. Ada firasat aneh yang tiba-tiba terlintas dibenaknya. Namun dia mencoba menepis itu.

Masih dengan senyuman, Hyuk Jae kembali berucap, “Apa dia tidak tinggal di sini lagi? Begitukah?”

“Dong Hae.. Dong Hae meninggal satu minggu yang lalu, Nak. Leukimia.. Dia menderita Leukimia.” suara beliau lebih mirip seperti racauan tak jelas, karena kini wanita itu tersedu-sedu menangis. Pipinya kembali basah setelah berhari-hari yang lalu dia terus menangisi keponakan kesayangannya.

Dan pemuda di depannya terdiam. Berdiri kaku meski kakinya terasa ingin tumbang.

Seperti sebagian dirimu diambil paksa secara tiba-tiba. Seperti sebuah pukulan yang menghantam namun kuat. Hyuk Jae merasa sesak. Matanya memerah meski butiran bening itu ditahannya diambang pelupuk matanya.

“Dia meninggalkan ini untukmu. Bacalah, Nak.” kata Bibi setelah mengambil sesuatu dari dalam kamar Dong Hae. Sebuah surat.

Hyuk Jae menerimanya dengan tangan gemetar.

Setelah susah payah mengeluarkan suara hanya untuk memohon diri pergi dari rumah bibi Dong Hae, Hyuk Jae berjalan pelan menyusuri pantai. Digenggamannya masih ada surat bersampul biru laut itu.

Dihirupnya dalam-dalam aroma laut yang ia rindukan. Matanya ikut menutup perlahan ketika hembusan sejuk angin laut menyapa tubuhnya. Dan suara deburan ombak itu semakin kentara ditelinganya. Persis seperti yang dikatakan Dong Hae.

“Kalau kau ingin mendengar nyanyian laut, kau harus menutup matamu, Hyukie. Suaranya akan jelas sampai ketelingamu. Percayalah.” ucap Dong hae disuatu pagi dengan senyum secerah matahari.

 

“Dong Hae.” tangan Hyuk kembali bergetar ketika membuka surat itu.

Terbesit diotaknya bahwa ini semua hanyalah drama lelucon yang coba Dong Hae mainkan untuk menyambutnya. Dan menemukan kata-kata mencemooh di surat itu.

Tapi tidak. Tidak ketika dia mendapati rangakaian tulisan tangan Dong Hae. Senyum tipis Hyuk Jae mengembang, ketika menyadari tulisan itu masih sama. Masih urakan namun terlihat tulus.

            Hello Hyukie^^

 

Sebaris sapaan singkat itu seakan menampar Hyuk Jae ke masa lalunya. Hyuk Jae pernah memarahi Dong Hae memanggilnya seperti itu karena mereka sudah dewasa. Itu terdengar kekanakan.

Ku harap kau sudah menemukan kehagiannmu di sana, karena aku selalu mendoakanmu di sini.

Dan wow! Kau keren sekali di televisi. Aku tidak pernah melewatkan acaramu barang sekali pun, kau harus tahu itu. Aku juga membeli album-albummu. 😀

 

Hyuk terkekeh samar membayangkan senyum lebar Dong Hae yang selalu mampu membuatnya tersenyum juga.

Namun kekehan itu hanya terdengar beberapa detik saja, setelah matanya membaca barisan bawah Dong Hae.

Ku harap aku bisa hidup lebih lama agar aku bisa mendengar album-albummu nanti.

Aku selalu menunggumu di tepi laut setiap pagi dan sore. Aku tak tahu perbuatan bodoh apa yang kulakukan ini, tapi ini satu-satunya yang bisa kulakukan untuk mengobati kerinduanku pada kawanku.

Ya! Mungkin kau akan mentertawaiku, tapi aku memang merindukanmu, Hyuk.

 

Sesak itu kembali datang, menghimpit dada Hyuk Air mata yang sejak tadi ditahannya, mendesak lalu mengalir pelan di atas pipinya.

Aku tidak pandai berucap, kau sangat tahu itu, kan?

Tapi sungguh, percayalah padaku. Aku bahagia ketika kau mendapat kebahagianmu. Karena dengan itu, kau tak lagi membutuhkanku.

Teruslah berbahagia Hyuk. Aku akan sangat senang jika kau mau melakukannya untukku.

 

Isak Hyuk semakin menjadi. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia kendalikan. Tubuhnya remuk, terhimpit oleh rasa penyesalan. Hyuk Jae terduduk di pinggir pantai. Membiarkan celananya jinsnya basah diterjang ombak-ombak kecil.

Hyuk Jae merutuk ditengah isaknya. Sadar akan sebagian kebahagiaannya yang telah hilang. Dong Hae adalah sebagian kebahagiaan itu. Namun sekeras apa pun dia meminta pada Tuhan dengan hati tulus dan linangan air mata, Dong Hae-nya tak akankembali. Kebahagiannya tak mungkin lengkap lagi.

The End

Hip hip… hurray~~~ \(^o^)/

Ada yang kurang atau cacat difanfic ini?? Saya siap menerima komentarnyaaah 🙂

Advertisements

6 thoughts on “The Happiness (EunHae)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s