Fanfiction//Oneshot: A Little Story in Autumn

A little story in autumn

Title              :  A Little Story in Autumn

Cast              :  Cho Kyuhyun,

                        Jung Miran,

                        Cho Henry,

                        and other cast

Genre            :  Romance, sad, family

Rating            :  T

Length           :  Oneshot

Author           : Cherry Hee

Disclaimer    : Cast 100% milik Tuhan. Author hanya meminjam nama tanpa ijin .-.


Fanfic lama yang aku buat untuk lomba ff di salah satu page Sparkyu. Dari pada blog lumutan tak terjamah, so aku share ff ini yah. Aku edit sedikit, jadi maaf kalau masih ada kesalahan. Kkkkk~

 -= Original by me =-

Sebuah mobil mewah baru saja berhenti didepan pekarangan rumah sederhana. Rumah kecil tapi nyaman itu memiliki pekarangan luas berumput hijau dan terhias indah oleh berbagai macam tanaman hias.

Seorang anak melompat keluar saat sang ayah membuka pintu mobilnya.

“Hiyey! Ahirnya sampai dirumah kakek.” serunya sambil melompat-lompat lucu. Anak kecil berpipi bulat itu berlari menghampiri kakek neneknya yang telah menunggu di beranda. Adegan pelukan antara dua generasi berbeda itu terasa hangat dan bahagia bagi siapapun yang melihatnya.

Tapi tidak dengan yang dirasakan seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya terpasang datar bahkan mungkin sedang kesal. “Kenapa harus liburan kesini?” ucapnya

“Kyuhyunie. Jangan seperti itu. Bukankah sudah ibu jelaskan kalau dongsaengmu ingin kerumah kakek.” jelas sang ibu. Wanita berwajah lembut itu tanpak sabar menghadapi anak sulungnya yang tengah kesal.

“Itu kan mau mochi! Bukan keinginanku eomma. Aku ingin ke pantai!”

Si bungsu yang namanya tengah disebut-sebut, merenggut kesal menatap hyungnya.

“Ya Hyung! Namaku bukan mochi.” Henry mengembungkan pipi bulatnya. Kedua tangannya memeluk kaki neneknya, pikirnya meminta pembelaan dari sang nenek.

“Kyuhyunie mau ke pantai?” kata kakek. “Tak jauh dari sini ada danau kecil. Kau bisa bermain air di sana sama seperi di pantai.” Kyuhyun terdiam sejenak. menimbang pendapat kakeknya.

Sebenarnya Kyuhyun tahu keberadaan danau itu karena sebelumnya ia sudah beberapa kali kemari. Sedikit banyak ia tahu keadaan lingkungan desa kakeknya. Kyuhyun sendiri selalu senang tiap liburannya dihabiskan di sini. Udaranya yang lebih segar dari pada di kota, dengan warna hijau yang lebih mendominasi. Sejuk rasanya jika dipandang mata.

Tapi itu saat Henry belum lahir. Setelah si bungsu lahir hidupnya berubah. Kyuhyun merasa keluarganya lebih mempedulikan adiknya. Hampir semua keinginan adiknya dikabulkan, sedangkan keinginannya dinomor duakan. Tak jauh berbeda dengan ayah-ibunya, Kyuhyun juga merasa kakek-neneknya sama saja.

Kyuhyun mendengus kesal. Matanya tak lepas dari Henry yang kini terduduk senang dipangkuan sang kakek. “Baiklah aku pergi.”

“Kyuhyun. Sapalah kakek dan nenekmu dulu. kamu baru saja sampai, Kyu.” kata pria berkacamata, tuan Cho.

“Nanti saja.” Tak ingin mendengar teriakan lebih ayahnya, Kyuhyun bergegas melangkah pergi  meninggalkan keluarganya.

“Anak itu,” desah ibu.

“Tak apa. Dia memang masih muda. Kakek dulu juga seperti itu. Hahhahaha.” Pria berusia lebih setengah abad lebih itu tertawa histeris mengingat masa mudanya.

“Kakek pernah bercerita kalau dulu dia pleman di sekolah!” seru Henry dengan logat cadelnya. “Nenek, pleman itu apa sih?” tanyanya dengan wajah lugu.

“Kangin.” nenek melempar tatapan tak percayanya pada kakek. Bisa-bisanya suaminya itu menceritakan hal buruk pada cucu kecilnya.

Tak lama kemudian keluarga yang tengah berkumpul itu larut dalam kebahagian dan kebersamaan.

***

Danau itu terlihat berkilau di bawah cahaya matahari sore. Langit yang cerah dengan semburat merah matahari sore. Awan-awan kecil yang berjalan perlahan tercermin dipermukaan danau. Pepohonan  berjajar disekelilingnya. Dedaunan yang telah berubah warna merah kemuning sesekali terjatuh berserakan di sekitar danau. Sebuah pemandangan indah dari musim gugur.

Kyuhyun menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Musim gugur yang sejuk rasanya memang nyaman. Meski ia sendiri  lebih senang dengan musim dingin. Namun seindah apapun pemandangan disini, sejujurnya ia tak suka kesepian. Dia memang memiliki keluarga yang bisa menemaninya, tapi jika memilih bersama mereka rasanya tak jauh berbeda dengan keadaannya sekarang. Ia sering merasa kesepian diantara mereka. Entah kenapa. Mungkin karena lagi-lagi keberadaan Henry. Adiknya yang berwajah imut itu mencuri seluruh perhatian keluarganya. Begitulah yang dirasakan Kyuhyun. Dengan wajah hampir frustasi, Kyuhyun mendudukan dirinya di pinggir danau.

Matanya memandang jauh ke danau dan mulai tenggelam oleh pikirannya. Sampai suara kemriak air terdengar tak jauh dari tempatnya duduk. Kyuhyun mendongak menatap sosok pembuat suara itu. Seorang anak perempuan tengah menggoyangkan tangannya kedalam air danau. Menghasilkan gemericik air yang lumayan mengganggu ketenangan Kyuhyun.

Mulut anak itu bergumam tidak jelas, membuat Kyuhyun semakin penasaran. Akhirnya ia terdorong dengan rasa ingin tahunya. Mendekati anak perempuan itu dan bertanya, “Apa yang kau lakukan?”

Anak itu tersentak kaget. Ia segera mendongak menatap siapa orang yang mengajaknya bicara tiba-tiba. “E-eh!”

Kyuhyun meringis, agak lucu melihat wajah terkejut perempuan imut di depannya. Kyuhyun dapat melihat jelas, gadis itu memang imut. Bibir merah cherrynya tidak tipis tidak pula tebal. Matanya agak sipit dengan kelembutan yang memancar dari kedua manik coklatnya.

Gadis itu malu ketika mendapati Kyuhyun terus menatapnya.

Tak kunjung mendapat jawaban. “Apa aku menggaggumu?” tanya Kyuhyun lagi.

“Ah, tidak.” Gadis itu kembali mengaduk-aduk air danau. Seperti memanggil ikan.

“Apa yang kau lakukan?” kali ini Kyuhyun benar-benar penasaran. Ia pun ikut duduk disamping gadis itu.

“Aku mencari Melo-ku.”

Dahi Kyuhyun mengerut, tak paham. “Huh?”

“Melo. Kura-kuraku.” ulangnya. Kali ini sambil menatap Kyuhyun. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Dia hilang. Hiks… ”

Kyuhyun tergagap. Baru pertama kali ini ia menghadapi orang yang menangis. Bukan pertama kali juga, karena sebelumnya ia sering membuat adiknya menangis. Tapi ini kasus ynag berbeda. Perempuan yang menangis.

“Te-tenanglah. Aku akan membantumu. Apa yang bisa ku lakukan?”

Tangannya menghapus jejak air mata dipipi kemerahannya, sebelum bergumam. “Tadi aku bermain dengannya di sini. Lalu tiba-tiba… Dia jatuh dan hilang.” matanya memandang kosong ke dalam danau. Terlihat putus asa. Mungkin yang dipikirannya hewan peliharaannya itu tidak akan kembali.

“Oke. Aku coba mencarinya kedalam.” tanpa menunggu Kyuhyun segera melepas sepatu dan jaketnya. Menyisakan baju biru miliknya. Ia tak bisa melepas seluruh pakaiannya atau dia akan mati kedinginan. Musim gugur meski sejuk tetap saja dingin.

“Apa yang kau lakukan?” anak perempuan itu mencoba mencegah, tapi sayang Kyuhyun sudah lebih dulu terjun kedalam sungai.

Sejak kecil saat usianya sekecil Henry, Kyuhyun sudah pandai berenang. Ia memang gemar berenang. Di waktu senggang ia lebih memilih berenang dari pada olahraga lain yang menguras keringat dan tenaga. Hingga sekarang usia Kyuhyun yang hampir menginjak tujuh  belas tahun, sudah beberapa mendali ia kantongi dari hobinya ini.

Air danaunya cukup jernih untuk Kyuhyun bisa membuka matanya dan melihat kedalam sungai. Ia berputar di sekitar pinggiran danau. Seingatnya ia tak melihat anak perempuan itu saat kakinya menginjak tempat ini. Berarti anak itu tak lama kehilangan kura-kuranya di sini. Hewan itu pasti masih berenang disekitar tempatnya.

Tak lama kemudian matanya mendapati benda mungil melayang tak jauh darinya. Kyuhyun berenang mendekat. tangannya segera menangap hewan bertempurung kecil itu.

“Ini,” Kyuhyun mendapati wajah gadis itu berseri dan tersenyum lebar membuatnya juga ikut tersenyum. Gadis itu cepat-cepat meraih kura-kuranya dari tangan Kyuhyun.

“Melo. Kau membuatku khawatir. Jangan pergi lagi ya,” Kyuhyun terpaksa menahan tawanya saat mendapati anak itu berbica ke-kura-kura kecilnya.

“Kau harus menjaganya dengan baik, agar dia tidak kabur lagi darimu.” ucap Kyuhyun akhirnya. Dari pada ia tertawa dan takut anak didepannya tersinggung.

Anak itu mengangguk imut. “Eum. Aku pasti akan menjaganya. Terima kasih ya.” Kyuhyun terdiam memandang mata bulat itu menyipit saat tersenyum. Smile eyes. Manis, tanpa sadar Kyuhyun memuji dalam hati.

“Bajumu basah,” katanya. Melihat Kyuhyun terduduk disampingnya sambil memeluk lututnya sendiri. Ini musim gugur, pasti dingin sekali. Dia jadi merasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Hehehe.” Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya. Merasa aneh ada orang asing yang mengkhawatirkannya. “Oh ya. Siapa namamu?”

Terdiam dan ragu sejenak. Lalu menjawab. “Jung Miran.”

“Ah. Miran. Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Senang bertemu denganmu Miran.” Kyuhyun dapat melihat semburat merah dipipi Miran saat ia melemparkan senyumannya pada teman barunya itu.

Tak butuh waktu lama untuk mereka saling mengenal. Dari apa yang diceritakan Miran Kyuhyun tahu bahwa gadis itu tinggal tak jauh dari danau. Danau itu sendiri adalah tempat favorit Miran. Ia sering menghabiskan waktu bermainnya disini bersama kura-kura kecilnya, Melo. Dan Miran ternyata seusia kyuhyun.

Mereka berdua terlihat menikmati waktu sore yang hampir habis, tergantikan gelapnya malam. Kyuhyun bisa mendengar suara binatang malam yang mulai terdengar. Tapi dia sama sekali tak ingin meninggalkan teman barunya.

“Sudah malam. Sebaiknya kamu pulang Kyu.” ucap Miran.

“Huh. Malas.” desah Kyuhyun. Mengingat keluarganya yang tidak mengenakkan menurut Kyuhyun.

“Kenapa? Ada masalah?” Miran memiringkan kepalanya. mencoba mencari tahu sesuatu yang disembunyikan laki-laki disisinya.

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” Kyuhyun sekali lagi tersenyum, menenangkan.

“Baiklah aku pulang. kau juga harus pulang sekarang. nanti ayah ibumu mencarimu.”

Mendengarnyna, Miran tersenyum tipis.

“Baiklah. Kau jalan dulu.”

“Benar? Kau harus segera pulang ya.” kata Kyuhyun.

“Iya,” jawab Miran.

***

Dengan berat hati Kyuhyun pulang. Mau tak mau ia harus mengahadapi keluarganya. Yang diharapkah Kyuhyun hanya, malam ini berlalu lebih cepat agar ia bisa bertemu dengan Miran esok. Tanpa disadarinya ia mulai merindukan gadis itu. Entah kenapa kesepian dan kejenuhan lepas begitu saja ketika ia menghabiskan waktu bersama Miran saatu itu. Bahkan ia mudah untuk tertawa saat bersamanya. Kyuhyun bukanlah anak yang mudah mendapat teman baru hanya dalam sekali tatap. Ia sangat menyeleksi siapa yang ingin ia ajak berteman. Namun untuk gadis yang pertama kalinya ia temui itu. Ada sebuah perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Yang dia ingin hanya terus mendengar suaranya atau sekedar menatapnya. Yang terpenting gadis itu berada disisinya. Itu cukup.

“Kyuhyunie, ayo sarapan.” panggil nyonya Cho.

Kyuhyun menyambar sepatunya dan tanpak tergesa-gesa memakainya. “Aku mau pergi sebentar eomma. ”

“Tapi kau belum sarapan.”

Kyuhyun telah melangkah kedepan pintu dan berseru pada eommanya yang sibuk didapur, “Nanti saja eomma!”

Kyuhyun sudah sampai ditempat tujuannya. Bolak-balik ia memutar kepalanya untuk mencari keberadaan gadis itu. Matanya terus berkeliling berharap ia bisa bertemu dengannya lagi. Kyuhyun mendesah, kenapa ia begitu bodoh kemarin malam. harusnya ia bilang kalau hari ini mereka harus bertemu lagi di sini.

Dalam keputus asaan tiba-tiba matanya terpaku pada sosok yang berjongkok tak jauh darinya. Sosok bertubuh mungil itu tanpak imut mengenakan switter putih-merah dan  topi rajut merah. Baju yang sama dengan yang Kyuhyun lihat kemarin.

“Miran,” panggilnya pelan, takut jika gadis itu terkejut kembali seperti kemarin.

Miran menoleh, senyumnya mengembang kala ia bertatap pandang dengan Kyuhyun. Menghasilkan rasa yang aneh dihati Kyuhyun. “Kyu.”

“Apa yang kamu lakukan?”

Miran mengerucutkan bibirnya. “Melo hilang lagi. Sepertinya ia sedang jalan-jalan dibalik semak-semak ini. Kau mau membantuku Kyu?”

Kyuhyun berdecak heran. Gadis yang baru dikenalnya ini ternyata agak ceroboh. Untuk kedua kalinya ia kehilangan kura-kura kecilnya. Tapi tak apa. Itu berarti kesempatan untuk bersama dengan Miran akan lebih lama. “Tentu aku akan membantumu.” ucap Kyuhyun bersemangat.

Tanpa terasa mentari sudah tenggelam. Cahaya sore perlahan terganti oleh cahaya bulan yang memantul sayu ke bumi. Seperti yang dikatakan kawannya, Jong Woon. Bahwa Hari tak terasa jika bersama dengan orang yag special. Kyuhyun baru menyadari itu benar.

“Kyu.”

Kyuhyun terkesiap mendengar suara Miran yang begitu lirih. Berbeda sekali dengan beberapa waktu lalu, saat mereka asyik tertawa. “Ya?”

“Siapa yang pertama kali yang kau ingin buat bahagia didunia ini?”

Kyuhyun menoleh menatap gadis yang duduk disampingnya. Wajah manis itu terlihat berkilau damai dibawah sinar bulan.

“Entah,” gumam Kyuhyun. Lebih sibuk untuk melihat wajah Miran yang terasa menenggelamkannya.

“Kalau aku memilih keluarga.” ucap Miran pelan tapi cukup membuat Kyuhyun tersentak. Sekelebat bayangan adiknya yang manja mencari perhatian mengusik pikirannya. Dan dirinya yang dibiarkan begitu saja ketika kedua orang tuanya lebih sibuk mengurusi adiknya.

“Kenapa harus mereka?” sahut Kyuhyun yang tanpa sadar meninggikan suaranya.

“Bagiku keluarga sangat penting. Ayahku sudah meninggal saat aku masih dikandungan. Jadi aku hidup dan dibesarkan oleh seorang ibu. Dia sangat cantik dan penyabar. Ia selalu menguatkan hatiku disaat aku sedih karena merindukan ayah. Padahal aku tahu kalau ibu lebih menderita karena ia harus menanggung bebannya sendiri tanpa orang yang mendampinginya. Ia begitu tegar.”

Kyuhyun terpaku mendengar suara Miran yang semakin pelan. Hatinya bisa meraba, mencari tahu apa yang selama ini dirasakan gadis itu seorang diri dengan ibunya. Hidup tanpa ayah. Kyuhyun tak pernah membayangkannya.

Selama ini Kyuhyun memang tidak pernah kekurangan materi. setiap dia meminta sesuatu, kedua orang tuanya akan senantiasa mengabulkan secepat mungkin. Kenyamanan dan kemewahan itu tak pernah berhenti dalam hidup Kyuhyun karena ayahnya yang bekerja keras membangun bisnis perusahaan. Perusahaan milik kakek, ayahnya ibu yang dulunya masih kecil dan terlihat bukan apa-apa menjadi berkembang luar biasa saat dikelola oleh ayahnya. Ayahnya memang orang yang rajin. Meski beberapa kali Kyuhyun menemui ayahnya pulang larut malam dengan wajah lelah dan mengantuk.Tak sekali pun Kyuhyun mendengar keluhan dari sang ayah.

Tapi sesuatu masih mengusik perasaannya. “Tapi mereka tidak menyanyangiku.” ucap Kyuhyun.

Miran menoleh dan menatap wajah Kyuhyun. “Kenapa bicara seperti itu.” katanya heran.

“Kau tahu, tidak ada orang tua yang membenci anaknya atau tidak sayang pada anaknya. Yah, kecuali orang tua yang sudah gila.” Miran tersenyum lebar. “Tentu kedua orang tuamu tidak seperti itu. Mereka menyayangimu. Hanya saja kau tak menyadarinya. Kau hanya belum bisa merasakannya, Kyu.”

Miran tersenyum lembut melihat Kyuhyun tak meresponnya. “Rasakan dengan hatimu. Lihatlah apa saja yang selama ini mereka berikan untuk mu. Bukan dengan mata, tapi dengan hati.”

Kyuhyun mendesah pelan.

“Sebenarnya kau tak pernah sendiri, hanya saja kau selalu merasa dirimu sendiri. Karena itu kau mudah kesepian.”

Kyuhyun masih belum bergeming. Ia terdiam dan tenggelam dalam pikirannya.

“Hyung!” panggil sebuah suara tak jauh dari suaranya.

Kyuhyun menoleh dan mengernyit sambil melindungi matanya dari cahaya senter yang mengarah padanya.   “Apa yang kau lakukan disini Kyuhyunie. Ini sudah malam,” sahut sosok lembut yang berdiri disamping pemilik suara cempreng tadi.

“Eomma.”

“Ayo pulang. Kakek, nenekmu khawatir menunggu dirumah.”

Kyuhyun terdiam sejenak melihat wajah ibunya yang lelah. Sepertinya ia sudah merepotkan ibunya kali ini. Kyuhyun segera sadar, ia tak sendiri di sini. Ia ingin mengenalkan teman barunya pada ibunya.

“Eomma. kenalkan ini Mi-” Kyuhyun membeku ditempatnya. Matanya berkeliling mencari gadis yang seharusnya masih duduk disampingnya.

“Ayo pulang Kyuhyunie.” Nyonya Cho menarik tangan Kyuhyun agar anaknya itu segera berdiri. Tanpa menghiraukan gumaman Kyuhyun. “Oh ya Henry. Nanti hubungi ayahmu ya. Mungkin ayahmu masih mencari Kyuhyunie ditempat lain.”

“Oke eomma.”

***

Kyuhyun hampir tak bisa tidur semalaman. Bukan karena ayahnya yang tak berhenti menceramahinya karena keasyikan main dan pulang sampai petang, tapi karena hatinya yang sedikit kecewa dengan menghilangnya Miran yang tiba-tiba. Jika dipikir gadis itu kadang aneh. Dia bisa muncul mendadak tanpa Kyuhyun sadari, begitu juga saat pergi.

Kyuhyun berlari ke danau secepat yang ia bisa. Tidak berbeda dengan hari kemarin ia sama sekali tak menyentuh sarapan paginya. Dengan napas yang terengah-engah Kyuhyun sampai di danau. Tak ada sosok yang dicarinya disana.

“Miran! Kau ada dimana!” panggilnya. Berharap gadis itu mendengarnya lalu muncul didepannya.

Kyuhyun berkeliling dari satu sisi ke sisi lain di danauu itu. Masih belum menemukan bayangan gadis itu. “MIran” gumamnya pelan. Frustasi kenapa gadis itu tak muncul juga. Matahari sudah meninggi, peluh Kyuhyun semakin membasahi tubuhnya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Miran pernah menceritakan bahwa ia tinggal tak jauh dari danau ini. Kyuhyun bisa mencari rumah terdekat dari sini dan berharap Miran masih ada disana. Kyuhyun megangguk mantap dan mulai melangkahkan kakinya.

Kyuhyun terpekur diam dibalik pintu masuk sebuah rumah kecil di depannya. Bangunan rumah tradisional itu terlihat lebih kecil dan sederhana dari milik kakeknya. Namun sama dengan rumah kakeknya, rumah itu terlihat rapi menandakan pemiliknya merawatnya dengan sangat baik.

Tidak salah lagi. Kyuhyun sudah mencari rumah terdekat dari danau. Dan bangunan inilah yang paling terdekat.

Kyuhyun mendongak kedalam, memastikan tidak ada yang bisa ia sapa. Ragu, ia melangkah lebih dalam ke pekarangan rumah. dan berhenti didepan pintu geser yang terbuka.

“Permisi.” panggilnya.

Tak butuh waktu lama setelah Kyuhyun memanggil-manggil pemilik rumah, sesosok wanita keluar dari dalam rumah.

“Maaf. Bisa saya bantu?” ucap wanita itu. Kyuhyun terpaku memandang wanita itu. Matanya yang bulat mengingatkannya pada Miran. Tak diragukan lagi, Wanita ramah ini adalah ibunya Miran.

“Bisa saya bertemu dengan Miran, Ahjuma.” ucap Kyuhyun langsung.

Raut wajah wanita itu berubah terkejut. Namun ia mencoba untuk tetap mempertahankan senyumannya. Meski sekarang agak sedikit dipaksakan.

“Miran? Apa kamu temannya Miran, nak?”

Kyuhyun mengangguk dengan senyum mengembang. “Ya, Ahjuma. Apa Miran ada di rumah?”

Ibu Miran terdiam sejenak. Menarik napasnya yang terasa berat. “Miran.” lirihnya namun masih bisa didengar Kyuhyun. “Dia sudah meninggal… Seminggu yang lalu.”

Entah bagaimana rasanya. Kyuhyun seperti dihantam sesuatu yang berat saat suara pelan itu melewati indera pendengarannya.

“Tidak… Kemarin saya… Di danau,” Kyuhyun mulai meracau tak jelas dengan pandangan lelah namun penuh pengaharapan.

“Ya. Dia tenggelam di danau yang berada tak jauh  dari sini. Dia meninggal saat sudah ditemukan,” ucap ibu Miran dengan tenang. Meski hatinya bergemuruh tiap mengingat nasib anak semata wayangnya. Setidaknya ia tak harus menangis didepan anak asing yang baru dilihatnya. Ia harus kuat.

Kyuhyun manatap ibu Miran. Ada raut duka yang tergambar tipis di wajah itu, Kyuhyun tidak bisa memungkirinya. Apa yang diucapkan wanita didepannya bukan main-main. Lagi pula kabar kematian tidak pantas untuk di jadikan bahan lelucon.

Kyuhyun menunduk. Lelah. Hanya itu yang bisa ia deskripsikan. Semua perasaannya mengumpul memenuhi rongga hatinya. Banyak hal yang masih ingin ia sampaikan. Banyak kisah yang masih ingin ia bagi dengan gadis itu. Dia masih ingin mendengar suara lembut namun berhasil membuat hati Kyuhyun melompat tak karuan.

Dan seperti pukulan telak, bagaimana ia bisa bersama Miran jika gadis itu meninggal seminggu yang lalu. Terakhir kali mereka bertemu kemarin. Sejak dua hari yang lalu saat mereka bertemu, tidak ada yang aneh dengan Miran. Kecuali. Gadis itu muncul dan menghilang dalam waktu yang tak terduga. Gadis itu memakai pakaian yang sama dengan saat pertama mereka bertemu.

“Ahjuma. Bagaimana ciri-ciri Miran disaat terakhir kalinya? Maksudku, pakaiannya. Apa yang ia pakai hari itu?” desak Kyuhyun.

Wanita itu terdiam dan merenung. Masih lekat diingatannya saat gadis kecilnya itu berpamitan untuk bermain dengan kura-kura kesayangannya. Gadis itu terlihat manis dengan rambut hitamnya yang terkepang dua, dan poni yang pas di wajahnya. Swetter merah dan topi rajutan buatannya menambah kemanisan anaknya. “Dia memankai swetter putih merah dan topi rajutan merah pekat, Nak.”

Kyuhyun terduduk lemas. Semua harapan untuk bertemu dengan gadis itu hilang. Semua hanya akan menjadi harapan yang tak pernah ia dapatkan.

***

Kyuhyun berjalan pulang sambil menenteng sebuah kotak besar di kedua tangannnya. Itu adalah kandang yang berisi kura-kura kecil milik Miran. Ibu Miran bercerita bahwa ia baru beberapa hari membelikan kura-kura itu untuk Miran. Sekedar untuk mengalihkan perhatian anaknya yang akhir-akhir itu terus bertanya tentang ayahnya. Ibunya hanya tak ingin anaknya terlalu dalam bersedih mengingat ayahnya yang tak pernah ia temui.

Dan idenya berhasil. Miran kembali ceria dengan Melo, kura-kura kecilnya. Meski gadis kecil itu sempat khawatir bagaimana jika kura-kuranya berumur panjang dari pada dirinya. Siapa yang akan mengurus kura-kuranya. Untuk ibunya, pasti sangat melelahkan jika wanita yang ia sayangi itu mengurus peliharannya. Miran hanya berharap jika ia pergi dari dunia ini, ada orang baik yang mau mengurus Melo-nya. Dengan seperti itu, ia akan tenang di alam sana.

Kyuhyun menghela napasnya pelan. Mengingat semua yang pernah ia lalui dengan gadis itu. Hatinya masih merasa hangat namun kali ini bukan kehangatan yang indah dan nyaman. Yang tertinggal hanya kesakitan. Tapi Kyuhyun masih berusaha tegar. Ia bersyukur Tuhan memberinya kesempatan dalam pertemuan tak terduga dengan gadis itu. Pertemuan bagai mimpi namun dapat dirasakan nyata oleh Kyuhyun.

Kyuhyun membuka pintu rumah dan mendapati ayah, ibu, adik, kakek dan neneknya berjajar sambil memasang tersenyum lebar menyambutnya. Aneh.

“Ada apa dengan kalian?”

“Hiyey!” Henry melonjak senang.

“Saengil chukahamnida Kyuhyun!” teriak mereka serempak.

“Anak ku sudah tumbuh semakin dewasa ternyata.” Ujar Nyonya Cho dengan wajah gembira.

“Ia baru saja menginjak tujuh belas tahun. Bagaimana bisa di sebut dewasa.” Sahut sang kepala keluarga yang ditanggapi tawa hangat dari yang lain.

“Wah wah. Hyung semakin tua saja. Hahahaha… Eh eh. Kog menangis sih, Hyung. Hyung sudah tua, ga malu apa kalau menangis didepan ku.” ricuh si magnae. Membuat Kyuhyun gatal untuk menangkap adiknya dan menggelitiki sampai anak itu minta ampun.

Kyuhyun teringat. Sebenarnya ia tak pernah sendiri. Sebenarnya mereka memperhatikannya dan menyanyanginya. Ada keluarganya yang selalu terbuka untuk menerima luka dan keluh lelah darinya. Ada keluarganya yang selalu mengisi harinya dengan canda tawa yang menghangatkannya di musim yang sejuk ini. Ia bersyukur memiliki itu semua.

The end..

Advertisements

4 thoughts on “Fanfiction//Oneshot: A Little Story in Autumn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s